Cetak Biru Masyarakat: Rekayasa Sosial yang Mempesonakan plus Membahayakan

Saya ingin membangun sebuah alat atau bangunan, atau apapun juga. Dengan segala imajinasi dan pengetahuan serta ilmu yang saya punyai saya memikirkan apa yang ingin saya bangun atau buat tersebut. Mulai dari bahan-bahan mentah, sampai ke rancangan detil tiap bagian yang ada di dalamnya. Misalnya saya ingin membangun rumah. Maka semen, pasir, batu, bata, kayu, besi, kapur, dan masih banyak hal yang lainnya saya pikirkan dan saya rencanakan. Kemudian saya mulai membangun sket atau gambar arsitekturnya. Dari mulai ruang-ruang yang pengen saya bangun, sampai jendela maupun bentuk atap seperti apa yang ingin saya pasangkan. Kesemuanya itu kemudian saya dokumentasikan dalam sebuah kertas. Orang sering menamai hal ini sebagai sebuah cetak biru.

Anda ingin membangun sebuah perusahaan? Anda ingin membangun jaringan bisnis? Anda ingin membangun restorant? Anda ingin membikin motor? Anda ingin membangun jembatan? Anda ingin membangun sekolah? Anda ingin melakukan surgery (operasi)? Anda ingin membuat pesawat terbang? Anda ingin…? Anda ingin…? dan Anda ingin yang lainnya? Semua musti dituangkan dalam sebuah cetak biru. Logis bukan? Masuk akal bukan? Sungguh sebuah perencanaan yang benar-benar dapat dihandalkan. Hampir semua para profesional menggunakan cetak biru sebelum membuat sesuatu. Bahkan setelah cetak biru kadang masih perlu dibuat satu imajinasi lagi. Sebuah replika yang mendekati aslinya namun dalam bentuk yang kecil dan sederhana. Replika pesawat. Maket sebuah gedung pencakar langit. Dan masih banyak replika yang lainnya. Anda terpesona dengan cetak biru dulu maupun replika dulu sebelum kemudian terpesona dengan yang aslinya.

Namun saya disini akan membicarakan atau berpendapat bahwa sebuah cetak biru tersebut apabila diterapkan dalam masyarakat merupakan sesuatu yang sangat membahayakan. Saya siap untuk mengakui dan sangat mendukung cetak biru tersebut dalam hal hal yang telah saya sebutkan seperti membangun sekolah, universitas, rumah sakit, maupun hal-hal yang lainnya. Namun saya kemudian disadarkan bahwa model cetak biru tersebut sangatlah mengerikan apabila kemudian diterapakan dalam masyarakat. Dan anda tentunya sadar dengan sejarah. Cetak biru-cetak biru masyarakat dalam sejarah manusia selalu mendatangkan tragedi kemanusiaan.

Gak sabar menyimak kelanjutannya serta argumen-argumen selanjutnya… Mohon sabar menunggu… To be continued…

Iklan

9 Responses to “Cetak Biru Masyarakat: Rekayasa Sosial yang Mempesonakan plus Membahayakan”


  1. 1 Thamrin Kamis, 24 Mei 2007 pukul 10:53 am

    Pertamax….. :)
    Yah jelas beda Mas, tidak bisa menerapkan cetak biru seperti yang kita buat untuk benda mati, bagi manusia yang merupakan mahluk hidup dan selalu berubah dari waktu ke waktu. Sebagai guideline mungkin bisa….

    Mungkin bisa… mungkin juga tidak…

  2. 2 anas Kamis, 24 Mei 2007 pukul 2:04 pm

    Keduaxxx, *ngamanin posisi* komen belakangan. makasih udah mampir ke tempatku duluan.

    sama sama

  3. 3 jurig Kamis, 24 Mei 2007 pukul 4:18 pm

    ayo dong diterusin … penasaran nih …

    sabar aja ya

  4. 4 grandiosa12 Kamis, 24 Mei 2007 pukul 5:49 pm

    untuk manusia; perencanaan (cetak biru) mesti lebih bijak dan mempertimbangkan semua aspek. *halah ngomong apa aku ini*

    semua aspek?? wah tambah mustahal kali!!

  5. 5 Bachtzia Kamis, 24 Mei 2007 pukul 7:12 pm

    kapan lanjutnatnya ditunggu…..!!!

    yang sabar ya

  6. 6 peyek Kamis, 24 Mei 2007 pukul 10:34 pm

    komen nunggu kelanjutannya! hehehehe

    he he he silahkan menunggu ya.. maaf tidak menyediakan kopi maupun susu… :d

  7. 7 deking Jumat, 25 Mei 2007 pukul 12:23 am

    Sepertinya cetak biru masyarakat bagus juga tetapi seperti apa yg disampaikan Bung Roffi, kita harus mempertimbangkan banyak aspek
    Selain itu cetak biru masyarakat itu sebaiknya bersifat terarah tetapi masih relatif terbuka

    hmm gitu ya…?

  8. 8 Catshade Jumat, 25 Mei 2007 pukul 9:59 am

    Cetak biru itu, sama seperti pisau, hanyalah alat bantu. Kalau yang membuat bertujuan baik, ya hasilnya baik. Kalau yang membuat bertujuan buruk, ya hasilnya juga buruk. Kalau yang membuat nggak berpengetahuan, hasilnya bisa jadi bencana. Tapi memang sepertinya orang-orang yang mau membuat ‘cetak biru masyarakat’ (baca: politisi) itu banyak yang di golongan kedua dan ketiga ya :D

    mikir2… masak sih.. mungkin juga ya…

  9. 9 Taufik Arbain Banjar Sabtu, 10 November 2007 pukul 8:50 am

    Cetak biru dalam sama halnya dengan rekayasa sosial, tetapi bagaimanapun faktor forecasting mesti diperhitungkan. Jangankan cetak biru buat sosial masyarakat, bikin jembatan aja perhitungkan derasnya arus sungai yang sekarang mulai kuat akibat penebangan pohon, apalagi komunitas masyarakat. Ada faktor tak terduga muncul. he he he salam kenal aja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: