Falsifikasi Popper (Falsifiabilitas): Batas antara Sains dan Nonsains

Anda tentu mengenal dalam fisika sosok yang merupakan pengilham revolusi industri pada beberapa abad yang lampau. Sampai-sampai seorang Paus (pemimpin salah satu umat terbesar di dunia) mendendangkan sebuah pernyataan yang telah sering dikutip:

Alam dan hukum-hukum Alam tersembunyi dalam kegelapan; Tuhan pun berfirman,” Jadilah Newton!” Dan semuanya menjadi terang benderang.

Sains newtonian telah memberikan kontribusi yang teramat banyak dalam memahami dan menyingkap dunia bagi kita dengan derajat keakuratan atau kepastian yang sangat menakjubkan selama beratus-ratus tahun. Bahkan sampai saat inipun sains newtonian masih terus diajarkan di sekolah-sekolah kita, mulai dari SD sampai Universitas. Sistem tata surya kita, gerakan gelombang laut, revolusi dan rotasi bumi maupun bulan, sampai orbit planet yang belum diketahui keberadaannya mampu disingkap oleh sains newtonian.

Selama beratus-ratus tahun sains newtonian telah diverifikasi sampai beribu-ribu kali bahkan berjuta-juta kali. Seluruh industri dan transportasi di dunia menggunakan sains newtonian untuk membangun dunia selama ini. Dengan demikian telah berkali-kali sains newtonian menunjukkan prediksi dan kebenarannya.

Apa lacur. Kita kemudian mengetahui bahwa sains newtonian, walaupun telah dibuktikan dan diverifikasi berjuta kali selama lebih dari 200 tahun ternyata belum sepenuh atau belum benar-benar diverifikasi secara konklusif dan menyeluruh dan bahkan dalam beberapa hal keliru.

Ketika Einstein mengumumkan Teori Relativitas Khususnya yang kemudian disusul dengan Teori Relativitas Umumnya yang dalam hal ini Teori Einstein tidak selaras denagn Fisika Newton yang sebelumnya telah diterima di dunia selama beberapa ratus tahun sebagai fakta yang bersifat benar dan tak tergoyahkan, kita kemudian tercengang dan bertanya,” Siapakah yang benar diantara keduanya?’. Eksperiment-eksperiment kemudian dilakukan untuk menentukan manaka diantara keduanya yang lebih mendekati kebenaran. Dan anda tahu apa hasilnya bukan? Dalam setiap eksperimen-eksperimen, ternyata bukti-bukti empiris menyatakan bahwa teori-teori Einstein lebih mendekati kebenaran dibandingkan dengan Teori Newton.

Kita kemudian disadarkan bahwa, hukum hukum alam yang menjadi pengetahuan kita merupakan karya dari pemikiran kita. Kitalah yang memaksakan hukum-hukum alam dalam pikiran kita untuk bekerja dalam realitas alam itu sendiri. Dengan demikian hukum newton juga merupakan karya newton. Hukum newton merupakan sebuah karya manusiawi. Dia tidak abadi. Sebagaimana saya juga merasa yakin bahwa hukum einstein cepat atau lambat akan mengalami revisi atau perbaikan.

Disini kemudian dapat disimpulkan bahwa verifikasi tidaklah cukup untuk menentukan hukum-hukum sainstifik. Bahkan dalam banyak hal teori-teori sainstifik tidak dapat diverifikasi, namun demikian ia masih bisa difalsifikasi, dengan demikian ia masih bisa di uji.

Meskipun seberapa banyakpun observasi tidak mungkin dapat memverifikasika sebuah teori atau hukum saintifif, ia bisa difalsifikasikan. Contoh yang diberikan dalam falsifikasi yang sering dikutip adalah pernyataan berbentuk seperti “semua A memiliki sifat x”. Semua angsa berwarna putih dianggap sebagai sebuah pernyataan benar. Kita bisa mengobservasi sebanyak mungkin angsa-angsa berwarna putih untuk menunjukkan bahwa pernyataan itu benar, namun hanya dengan satu observasi tunggal bahwa ada angsa berwarna hitam, maka pernyataan semua angsa berwarna putih merupakan sebuah pernyataan salah. Dengan demikian ini menyingkirkan segala upaya pemahaman dengan cara statistikal.

Jika sebuah teori yang dapat menjelaskan segala sesuatu yang terjadi, apa pun itu, teori tersebut haruslah berarti bahwa semua observasi yang dilakukan secara empiris harus 100 persen mendukung atau membuktikan kebenaran teori tersebut. Jika dalam observasi tersebut ada 1 bukti saja bahwa teori tersebut tidaklah benar maka teori tersebut tidaklah dapat dikuatkan lagi. Jika teori tersebut tidak mampu dilakukan falsifikasi seperti diatas maka teori tersebut tidaklah bersifat saintifik. Dengan demikian untuk bisa sebuah teori dianggap bersifat saintifik teori tersebut haruslah bisa diuji secara empiris, dan karena satu-satunya pembuktian yang benar-benar logis adalah mungkin ada dalam falsifikasi maka hanya pernyataan-pernyataan yang secara empiris bisa difalsifikasilah yang merupakan pernyataan saintifik. Dengan demikian falsifiabilitas (falsifiability) merupakan kriteria batas demarkasi antara sains dan nonsains. Setidaknya inilah yang dikemukakan oleh Popper.

Revolusi saintifik ini selaras dengan paradigma bahwa pengetahuan merupakan hasil karya manusia dan hanya eksis dipikiran manusia. Dunia sesungguhnya eksis secara independen dari manusia. Kitalah yang membentuk pengetahuan. Pengetahuan dengan demikian lebih merupakan hasil dugaan dan prediksi kita atas dunia yang eksis diluar diri kita. Dengan adanya pengalaman baru, maupun observasi baru serta penemuan baru kita kemudian merevisi dan memperbaiki pengetahuan kita. Sebuah teori kemudian dapat digantikan oleh teori baru yang lebih akurat dan informatif.

Walaupun sebuah teori nampaknya merupakan sebuah teori yang benar dan tak tergoyahkan (misal api itu panas atau yang lebih besar dan informatif seperti teori relativitas umum), kita tidak akan mampu memastikan secara logis, teori tersebut maupun pernyataan tersebut secara pontensial akan selalu bisa difalsifikasi.

Hal ini mengingatkan saya pada kelemahan dari berfikir induktif. Walaupun kita tahu bahwa selama kita hidup matahari selalu terbit dari sebelah timur, tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat matahari bisa terbit dari utara, barat, atau selatan. Layaknya seekor ayam yang tiap pagi hari diberi makan majikannya, sehingga setiap kali majikannya mendekat ia akan berfikir bahwa makanan datang, namun suatu ketika majikannya bukannya memberi makan tapi malah memberikan tebasan pisau dileher sang ayam. Betapa mengerikan! Eh, ini ada hubungannya dengan falsifikasi enggak ya? Ah gak tahu saya.

Beberapa teori yang diklaim sebagai bersifat saintifik semisal teori marx maupun psikoanalisis pada dasarnya tidak dapat difalsifikasi. Walaupun kekayaan informasi maupun wawasan yang dibawanya sedemikian besar namun kedua teori tersebut menurut Popper bukanlah teori yang bersifat saintifik. Mereka lebih mirip sebagai pseudo sains. Penerimaan atas kedua teori tersebut lebih berdasarkan pada keyakinan, dengan demikian lebih bersifat ideologis dibandingkan saintifik. Bagi anda yang belum begitu mengenal kedua teori tersebut anda bisa mempelajarinya dengan seksama dan cobalah renungkan apakah benar teori tersebut bisa difalsifikasi atau tidak. Silahkan anda buktikan sendiri?

Falsifikasi juga lebih mengedepankan pada paradigma kausalitas, dengan demikian pengetahuan yang sifatnya probabilistik seperti teori ketakpastian heisenberg tidak termasuk teori yang bisa difalsifikasi dengan demikian menurut Popper ketakpastian heisenberg maupun teori probabilitas kuantum tidak bersifat saintifik. Anda bisa memperdebatkan hal ini. Tapi saya tidak akan mendiskusikannya disini. Sains menurut Popper dengan demikian berdiri atas hukum kausalitas dengan demikian musti deterministik. Falsifikasi sangat menunjukkan bahwa sains mustilah deterministik. Popper berdiri berdampingan dengan Einstein dalam permasalahan ini.

Ah, saya juga gak begitu mengerti. Jika ada yang lebih bisa memahami falsifikasi Popper mohon dikoreksi tulisan saya ini.

Salam Penuh Ketakmengertian

Haqiqie Suluh

Iklan

18 Responses to “Falsifikasi Popper (Falsifiabilitas): Batas antara Sains dan Nonsains”


  1. 2 kurtubi Sabtu, 2 Juni 2007 pukul 6:58 pm

    Waah ada ilmu baru buat santri… yang selama ini hanya berkutat dengan teori keagamaan (ideologis?).
    Teori sains bukankah memang berbeda dengan teori sosial? karena banyaknya unsur yang melatar belakangi. Dengan demikian benarkah jika ideologi tumbuh berbagai macam derivasinya, sementara sains condong dan lebih mengerucut pada tokoh tertentu seperti Issac Newotn dan Einstein? tapi ternyata dari tulisan Anda, yang alamipun bisa berubah suatu ketika… hmmm sebuah keraguan memang bisa melahirkan ilmu baru… nice posting…

    no comment aja ha…

  2. 3 kangguru Minggu, 3 Juni 2007 pukul 12:15 am

    kalo harus 100% rasanya sampe sekarang Theory of Everything yang di buru orang pun belum tentu mendapatkan everything kayaknya, cuman ya science emang di uji dengan falsifikasi, CMIIW
    Thx untuk info nya

    Bagi saya TOE hanyalah kemustahilan… kausalitas sebenarnya hanyalah keyakinan… demikian pula kehendak bebas… kausalitas vs kehendak bebas selama belum bisa di atasi saya rasa kok mustahil TOE itu…

  3. 4 Roffi Minggu, 3 Juni 2007 pukul 7:56 am

    sains itu proses, ruang kesalahan selalu ada apalagi yang memprosesnya manusia, maka itu sains akan selalu berkembang hingga mencapai titik everything is known, alias kiamat kali?

    mosok nganti kiamat sih mas… ah… kok ra yakin aku :)

  4. 5 Catshade Rabu, 6 Juni 2007 pukul 12:35 am

    Nanya (berhubung saya awam fisika)…bukannya katanya teori Newton masih relatif (no pun intended) benar dan aplikatif untuk fenomena sehari-hari ya?
    Tentang teori Freud dan ketidakmauannya untuk difalsifikasi, beberapa tahun belakangan ini sudah ada penelitian2 neuroscience (yang mestinya lebih bisa difalsifikasi) yang mendukung beberapa aspek dari teori Freud. Menurut saya ia serupa seperti Newton, ilmuwan radikal yang memiliki keterbatasan dalam lingkungan di mana ia berada dan masa di saat ia hidup. Seandainya mereka lahir di abad 21 ini, mungkin ilmu yang mereka cetuskan akan jauh berbeda dari apa yang mereka hasilkan di abad2 lalu.

    iya saya tahu kok soal itu dan saya pikir itu bukan difalsifikasi namun lebih tepat diverifikasi.. :) … coba pelajari teori frued secara keseluruhan khususnya yang membahas mengenai LIbido… anda akan tahu maksud saya…

  5. 6 lovepassword Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 10:27 am

    Bila ada pernyataan :
    Semua angsa putih bisa difalsifikasi

    Apakah menurut anda pernyataan :

    Setiap ciptaan pasti ada penciptanya juga bisa difalsifikasi ???

    Artinya bisakah pernyataan di atas kita anggap benar sebelum ada bukti yang menunjukkan kalo itu salah ???

    Sekedar minta urun rembug mas Suluh, soalnya saya sedang ngobrol di blog lain mengenai falsifikasi model Thomas Aquinas, bukan falsifikasi mungkin tetapi ide dasarnya saya rasa masih sangat2 mirip.

    Saya sangat sadar bahwa logika di atas masih cukup riskan karena bisa menimbulkan kesalahpahaman mengenai Tuhan sebagai Causa Prima. Cuma sementara saya masuk dalam batas ciptaan itu dulu.

    SALAM

  6. 7 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 12:56 pm

    @lovepassword: Pernyataan yang belum bisa di salahkan or dibenarkan brarti tidak bisa difalsifikasi dan jelas tidak bisa dibenarkan juga tidak bisa disalahkan (itu hanya ide bagian dari bermacam2 ide).

    Falsifikasi Popper memang berawal pada ide bukan pada fakta induktif. Jadi semua ide bisa jadi merupakan sebuah potensi teori, entah itu ide agama, sosial, ideologi, khayalan atau apapun.

    Soal cipta mencipta itu sama ma soal sebab akibat :) . Itu dogma :) atau bisa jadi postulat.

    Bahan bacaan:

    https://haqiqie.wordpress.com/2007/09/18/antara-tuhan-dan-alam-sebuah-renungan-filsafat/
    https://haqiqie.wordpress.com/2008/03/04/memikirkan-kembali-tentang-postulat-aksioma-atau-asumsi-awal-kita/
    https://haqiqie.wordpress.com/2007/08/24/agama-matematika-fisika-dan-segala-keyakinan-atau-pemahaman-kita-jejak-jejak-dogma/

  7. 8 lovepassword Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 1:25 pm

    So kesimpulannya ? Apakah anda mau ngomong :

    Setiap ciptaan pasti ada penciptanya sama sekali tidak bisa difalsifikasi ?

    Bedanya dimana dengan pernyataan : setiap angsa pasti berwarna putih.

    Saya tahu itu masuk sebab akibat.

    Bila ada gelas di atas meja lalu kita berpikir bahwa pasti ada orang/makhluk lain yang meletakkan gelas itu, apakah itu masih logis atau nggak logis dari sudut padang ilmu logika. Meskipun kita sama sekali nggak melihat siapa yang meletakkannya ?

    link yang 3 itu saya intip dulu yah

    SALAM

  8. 9 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 1:31 pm

    @lovepassword: Lebih tepatnya, walaupun cipta mencipta itu bisa diverivikasi tetapi menurut saya, itu tidak bisa difalsifikasi brarti bukan pernyataan saintifik (alias pernyataan non sains). Bukan membuktikan itu benar (verifikasi), tetapi bisakah kita membuktikan itu salah (falsifikasi.

  9. 10 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 1:35 pm

    semua angsa itu putih bisa difalsifikasi. Sedang cipta mencipta, hanya bisa diverifikasi atau dogmatik. Kita gak bisa memfalsifikasi bahwa sesuatu itu tidak ada pencipta (nol -tidak ada cipta mencipta-itu tak bisa difalsifikasi, sebagaimana ketakberhinggaan -cipta mencipta- juga tak bisa difalsifikasi).

    Cipta mencipta sedikit berbeda dengan sebab akibat. Cipta mencipta membutuhkan sesuatu terbit dari kehampaan, sedang sebab akitabat membuhtuhkan sesuatu yang eksis dalam ketakberhinggaan. dalam sains cipta mencipta bukanlah landasan empiris. Itu cuma egoistik psikologis manusia. Contoh anda msuk dalam sebab akibat bukan cipta mencipta.

    sebab akibat masih merupakan landasan pokok dari falsifiksi (postulatnya falsifikasi), sebab akibat tidak bisa difalsifikasi karena itu bagian dari pondasi atau postulat atau premis atau aksioma sains falsifikasi itu sendiri. Sebagaimana Falsifikasi itu hanya ditujukan dalam ranah empiris sains deterministik (sebab akibat).

  10. 11 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:00 pm

    kutambahin. semua angsa putih itu hanyalah sebuah penyederhanaan pemahaman falsifikasi. pada prateknya pemahaman falsifikasi dalam saintifik empiris, “semua angsa putih” digantikan oleh “pernyataan-pernyataan saintifik deterministik aka sebab akibat aka kausalitas” (bukan cipta mencipta).

    Sejauh yang saya pahami falsifikasi ditujukan untuk dunia empiris sains, bukan yang lain. Demi membedakan mana yang sains dan bukan sains. Tetapi kadang banyak orang yang mencampuradukkannya.

  11. 12 lovepassword Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:20 pm

    Sejauh yang saya pahami falsifikasi ditujukan untuk dunia empiris sains, bukan yang lain. Demi membedakan mana yang sains dan bukan sains. Tetapi kadang banyak orang yang mencampuradukkannya

    Yah saya rasa semua orang bisa pake Mas Suluh. Bahkan ini ternyata diikutkan dalam konsep Ketuhanan maupun konsep Atheisme juga. Hi Hi hi.

    Jadi dalam bahasa lebih netral apakah masih boleh ngomong gini :

    Adanya gelas itu karena pasti ada penyebabnya

    Adanya alam semesta juga pasti ada penyebabnya ?

    Yang difasifikasi mungkin bukan satu demi satu seperti itu
    tetapi pernyataannya gini :

    Segala sesuatu pasti ada penyebabnya.

    Malah tambah luas ya ? Tetap nggak bisa difalsifikasi ?

    Oh ya, sekedar info Mas Suluh, dasar konsep saya ini dari buku Menalar Tuhan karya Franz Magnis Suseno. Tentu bisa saja saya yang salah tangkep dan selalu bisa saja ada yang salah. Saya belum membaca bukunya Popper secara langsung jadi sori ya kalo masih banyak tanya.

    Maksudku : kalopun teorinya Popper itu ditujukan untuk dunia empiris sains, apakah tidak ada ruang untuk memasukkan itu ke dalam wilayah lain, misalnya debat agama vs atheis. Masalahnya kalo menurut pengamatanku yang terbatas ini, kedua pihak juga sama2 pake.

    SALAM MAS Suluh

  12. 13 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:40 pm

    Sejauh pengetahuan saya tentang falsifikasi, justru untuk membedakan mana yang bentuk pernyataan agama or atheis atau yang non sains dengan sains, maka falsifikasi itu di lahirkan. dan jelas titik utamanya ya sains empiris. Pembuktian salahnya juga menggunakan sains empiris. Tuhan jelas tidak bisa disalahkan dengan sains empiris.

    Contoh anda itu induksi mas. Salah satu yang di kritik habis2 oleh popper. SEdang contoh kedua jelas gak bisa difalsifikasi, lah wong itu dogma falsifikasi juga. Segala sesuatu sebab akibat itu malah jadi pondasi pokok dari sains mas. Artinya sains mengambil dogma bahwa segala sesuatu itu ada penyebabnya sebagai benar secara dogmatik.

  13. 14 affah Rabu, 18 Februari 2009 pukul 11:05 am

    ngg.. kalo menurut saya… soal agama dan filsafat mah ga akan ada nyambung2nya…. satunya agama yang penuh dogma yang satu selalu mencari kebenaran yang paling bener, bertanya dan terus bertanya.. beda cabangnya

    gabisa buat nyambungin antara agama dan ateis…

    kalo filsafat sama ateis yaaa…. nggak tau ya.. hehehehe….

  14. 15 wong bagus Sabtu, 13 Maret 2010 pukul 10:10 am

    pelajaran ini menginspirasi kita agar bagaimana tidak terfalsifikasi di hadapan Sang pencipta. hanya dengan satu cara berupaya merangkul erat keberadaan-Nya


  1. 1 Kritik Atas Penalaran atau Pemikiran Induktif (Induksi) « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Senin, 18 Juni 2007 pukul 10:59 am
  2. 2 Tidak ada Kecuali atau Anomali dalam Falsifikasi Popper « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Senin, 25 Juni 2007 pukul 9:17 am
  3. 3 Sedikit Pemahaman Tetang Falsifikasi: Memfalsifikasi Membedakan Pernyataan Tunggal « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Senin, 3 November 2008 pukul 7:37 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: