Behaviorisme: Ketika Darwinisme Masuk Wilayah Psikologi

Masih teringat masa-masa kecil kita sewaktu kita disuruh oleh orang tua kita untuk melakukan sesuatu dan ketika kita berhasil melakukannya kita diberi penghargaan atau hadiah? Masih teringat ketika kita melakukan tindakan yang tidak disukai oleh orang tua kita dan kemudian kita diberi hajaran atau hukuman. Atau bahasa kerennya dalam istilah keagamaan, “ Jika kamu patuh surga adalah ganjaranmu, dan jika kamu ingkar maka neraka adalah hukumanmu!”. Atau kalau di kantor dan perusahaan istilah reward and punishment menjadi kata representasional dari hal ini.

Apakah pemaparan saya diatas ada kaitannya dengan sesuatu yang ingin saya bahas disini? Kelihatannya memang tidak. Behaviorisme kok dikait-kaitkan dengan surga dan neraka, reward dan punishment, apa gak salah nulis bung? Apalagi ada kaitannya dengan Darwinisme segala?

Setidaknya behaviorisme melakukan hal yang sama pada apa yang dilakukan oleh orang tua maupun perusahaan kita. Walaupun tidak sama persis kejadiannya. Behaviorisme lahir dari dunia binatang. Behaviorisme muncul ketika psikolog Rusia, Ivan Pavlov, melakukan percobaan “ilmiah” dengan seekor anjing. Karena sifatnya yang ilmiah maka sesuatu percobaan tersebut haruslah sebisa mungkin objektif dan musti bisa diukur. Dengan demikian segala sesuatu yang sifatnya subjektif seperti, apa yang terlihat (persepsi), apa yang terasakan (sensasi), apa yang terpikirkan, apa yang terasakan dihati (emosi), hasrat, tujuan, dan sebagainya sejauh mungkin disingkirkan dari segala macam percobaan. Behaviorisme lebih merupakan ilmu jiwa (psikologi) yang tidak memiliki jiwa.

Pavlov menghidupkan lampu dihadapan anjing percobaannya yang sedang kelaparan. Anjingnya tidak berliur (Lah mang harus berliur ya?). Kemudian dibawakannya daging dihadapan anjing percobaannya. Tentu saja anjingnya mengeluarkan liur tanda pengen makan karena sudah ngebet kelaparannya (Logis kan?). Selanjutnya, lampu dinyalakan dan setiap kali lampu menyala, daging dihidangkan di depan sang anjing. Anjingpun mengeluarkan liurnya. Demikian sampai berulang kali. Sekarang, lampu dinyalakan, namun daging tidak dihidangkan. Wow! Anjingnya mengeluarkan liur! Menarik bukan? (Dalam referensi yang lain, saya menemukan bahwa stimulus yang diberikan oleh Pavlov pada anjingnya bukan lampu, tetapi bunyi garputala, mana yang benar saya tidak tahu, atau mungkin kedua-duanya benar?)

Menurut behaviorisme, kepribadian kita hanyalah kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan kita yang diulang ulang terus menerus. Behaviorisme juga bekerja dalam ranah stimulus-respon seperti ini. Dan sayangnya, percobaan pada binatang tersebut kemudian diterapkan pada manusia. Karena behaviorisme menitik beratkan pada proses pembiasaan maka ini sangat mirip dengan teori evolusi darwin. Darwinisme muncul di dunia psikologi.

Segala macam tingkah laku kita hanyalah kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan kita. Kita hanyalah produk dari lingkungan tempat tinggal kita. Kita tidak mampu mengarahkan diri sesuai dengan kehendak kita. Kita adalah hasil dari pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan oleh lingkungan kita. Kita adalah produk material dari situasi-situasi yang melingkupi kita. Eh, saya jadi teringat dengan Marx. Konsep behaviorisme ini sangat mirip dengan konsep Material Historisnya Marx bukan?

Berikut ini saya kutip dari seorang tokoh kaum behavioris Amerika John B. Watson (1878-1958) mengenai aliran psikologi ini,

Pendek kata, semboyan kaum Behavioris adalah,’ Berilah saya seorang bayi dan keleluasaan untuk membesarkannya, maka saya buat ia mampu memanjat dan menggunakan kedua belah tangannya untuk mendirikan bangunan-bangunan dari batu dan kayu; akan saya jadikan ia pencuri, penembak atau pecandu narkotika. Kemungkinan untuk membentuk seseroang ke segala arah hampir-hampir tidak ada batasnya’.

Sadar atau tidak sadar, mau tidak mau, kita memang melakukan apa yang dilakukan oleh kaum behavioris. Semboyan, Bisa karena biasa, mengindikasikan bahwa pembiasaan atau pelaziman memang merupakan proses yang bisa dihandalkan dalam membentuk sesuatu. Anda tidak usah berusaha menyangkal apa yang dikatakan oleh kaum behavioris. Behavioris memang telah gagal dalam menjelaskan emosi-emosi kita, motif-motif kita, hasrat kita, pemikiran kita, kehendak kita, cinta kita, dan masih banyak lagi. Namun sesungguhnya kita secara sadar juga sering melakukan tindakan pelaziman. Kaum olahragawan (atlet) selalu mengandalkan latihan yang terukur dan sistematis secara terus menerus untuk memperoleh ketrampilan tertentu atau untuk memperoleh prestasi tertentu. Pengalaman-pengalaman yang menjadikan seseorang menjadi lebih mengerti dan handal dalam sebuah bidang juga merupakan salah satu dari proses pelaziman.

Surga dan neraka, reward and punishment, juga merupakan salah satu dari proses pelaziman atau pembiasaan demi memperoleh tujuan tertentu. Konsep behaviorisme walaupun telah banyak dikritik karena menghapus jiwa, masih saja dilakukan di dunia modern ini. Reward and punishment masih ada dalam setiap perusahaan, maupun institusi-institusi. Dan negara pun melakukannya (penjara dan medali). Surga neraka masih merupakan sumbangsih yang paling besar untuk menjaga atau mengarahkan umat untuk tidak melakukan sesuatu maupun untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak TUHAN. Darwinisme sesungguhnya hadir di dalam agama maupun di perusahaan dan institusi bahkan negara. Kita tidak mungkin menyangkal hal itu. Kaum behavioris memang benar, tapi tidak seluruhnya benar.

Behaviorisme bekerja dengan sistem asosiatik dari proses stimulus-respon. Seekor binatang akan lari jika dia menerima ancaman bahaya. Dia tahu ada bahaya karena dia telah membiasakan diri dengan hal itu dari hasil pengalamannya. Anda lari ketakutan ketika melihat ular didepan anda karena anda tahu ular itu berbahaya, walaupun sering anda tidak tahu apakah benar ular itu berbisa atau tidak Bayi yang melihat ular berbisa mungkin tidak akan setakut anda. Inilah hasil dari behaviorisme. Namun saya sadar bahwa diantara stimulus dan respon saya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh binatang atau hewan yang lainnya. Dan diantara stimulus dan respon saya tahu bahwa saya memiliki: KEHENDAK BEBAS. Saya bisa MEMILIH.

Namun demikian kita patut berterimakasih atas wawasan dan informasi yang telah dilakukan oleh kaum behavioris ini, walaupun wawasan yang kita terima hanyalah sebagian kecil dari apa yang hendak kita ungkapkan dari kemanusiaan kita. Behaviorisme hanya membahas salah satu wajah manusia dari wajah-wajah manusia yang lainnya yang tak terkenali.

Sekian.

Eh, ada yang terlewat dari pembahasan behaviorisme ini, yaitu tentang gila atau neurosis menurut madzab behavioris, yang sering disebut sebagai “neurosis eksperimental”. Mungkin ada yang ingin menjelaskan atau membahasnya sebelum nanti saya tuliskan atau posting? Berkaitan dengan anjing lagi loch. He he he. Monggo dipersilahkan. Saya tunggu.

Salam penuh makna

Haqiqie Suluh

Iklan

9 Responses to “Behaviorisme: Ketika Darwinisme Masuk Wilayah Psikologi”


  1. 1 chiket Selasa, 5 Juni 2007 pukul 7:44 pm

    hmm…’kehendak bebas’mu itu masih ilusi bagiku. ‘Pilihan’ hanya membedakan antara yang punya kuasa dan yang tidak.’Pilihan’mu itu masih realita yang terkondisi…he..he..persis sperti anjingnya pavlov..belum terbebaskan.

    syukurlah kalau itu masih ilusi bagi chiket… mungkin chiket mau membagi sesuatu pemahaman yang lebih baik pada saya… saya tunggu ya..

  2. 2 chiket Rabu, 6 Juni 2007 pukul 8:03 pm

    hmm..mungkin saia menyebutnya dengan kebebasan yang tak terkondisi.Bukan dalam arti ‘bebas’ dalam melakukan/memilih sgala ‘keinginan’,tapi ‘bebas’ dari segalanya…he..he..bahkan dari ‘keinginan’ itu sendiri.Selama masih ada ‘ego’ dalam diri,’jiwa’ tetap belum terbebaskan dari realita yang terkondisi!

    ayo tulis yang banyak bahas yang yang lebih mendalam… di posting di blog tentunya… ditunggu chiket.wordpress.com nya…

  3. 3 chiket Sabtu, 9 Juni 2007 pukul 9:01 pm

    ha..ha..ga ah..

    kenapa kenapa kenapa?? Tanya saya :(

  4. 4 chiket Selasa, 12 Juni 2007 pukul 8:45 pm

    karena saking simplenya…hal itu ga perlu dijelaskan..he..he..

    mbak or mas chiket yogyanya di daerah mana? atau sekitar yogyanya daerah mana nich? saya juga daerah sekitar djogja loch :D..

  5. 5 chiket Rabu, 13 Juni 2007 pukul 6:29 pm

    oh..saia di jakal (jalan kaliurang)..so..whats up?

    wah lumayan deket dengan kampung saya di lereng merapi :D

  6. 6 Anonim Rabu, 20 Juni 2007 pukul 7:54 am

    Membaca tulisanmu aku teringat Jogja, tempat di mana semuanya terasa manis. Teman saya dari sumatra sampai bilang kalau di Jogja nggak cuma buah2an yg dibuat manisan, tetapi juga ayam, tahu, dan juga tempe bacam.

  7. 7 Rein Senin, 30 Juli 2007 pukul 2:20 am

    anjingnya koq mau ya jadi bahan percobaan.. ga ada pilihan untuk tidak mau kali ya.

  8. 8 ferguson Kamis, 15 Oktober 2009 pukul 6:51 pm

    well memang behaviorist ini merupakan aliran yang mencari jawaban dari ketidaklengkapan jawaban mengenai jiwa manusia, mereka tidak puas dengan hanya berdasarkan penjelasan ego, drive.. dan penjelasan psikoanalisis ;ainnya…dimana??? seberapa adanya.

    behavioris bertanya, mana dimana, jika jiwa itu ada, dan jika ada seberapa adanya atau seberapa besarnya?? yang merupakan hasil dari munculnya pandangan materialisme. mereka ingin melihat tanpa ragu akan segala sesuatunya.
    maka segala sesuatu, perilaku manusia haruslah dapat dipecah dalam unit-unit yang terpisah. untuk dibuktikan dalam kondisi eksperimen yang terkontrol.


  1. 1 Kehendak Bebas Manusia (Human Free Will): Apakah Sebuah Ilusi Realitas? « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Jumat, 15 Juni 2007 pukul 8:17 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: