Bagaimana Buku-buku How To atau Kaifa Bekerja?

Buku merupakan jendela dunia. Entah berapa kali saya mendengar, membaca semboyan ini. Bahkan dalam beberapa kejadian atau peristiwa, buku merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidikan. Semakin banyak buku yang terbit semakin berhasil upaya pendidikan kita. Beberapa kali saya juga mendengar, buku merupakan sumber kepintaran atau bahkan kecerdasan. Semakin banyak anda membaca buku semakin pintar anda atau semakin cerdas anda. Iklan atau media promosi yang mengkampayekan membaca buku entah sudah berapa kali dilakukan. Singkat kata, buku itu sumber ilmu. Mari membaca buku. Semakin banyak orang membaca semakin cerdas bangsa tersebut.

Saya tidak akan membahas baik buruk atau keuntungan dalam membaca buku. Saya juga tidak akan mengkampanyekan kepada anda untuk membaca sebanyak mungkin buku. Saya tidak menyarankan juga kepada anda untuk banyak-banyak membaca buku. Disini saya ingin membahas bagaimana sebuah buku dari aspek persuasifitasnya. Bagaimana isi buku bisa “menggerakkan” seseorang. Bagaimana sebuah buku mampu mengubah perilaku orang. Apapun yang saya tuliskan berikut ini, hanyalah merupakan pandangan atau pemahaman saya yang terlepas dari aspek benar atau tidak sesungguhnya.

Buku-buku jenis How to atau Kaifa pada dasarnya merupakan buku yang bersifat persuasif. Ia memiliki tujuan untuk mendorong atau mengajak seseorang melakukan sesuatu. Dengan demikian sebisa mungkin pertama kali yang dilakukan oleh buku tersebut adalah mengajak atau menunjukkan bahwa apa yang dibicarakan di dalam buku tersebut adalah sebuah kebenaran. Pembaca buku minimal harus diajak untuk mempercayai isi buku tersebut. Dan kemudian secara perlahan atau cepat diajak untuk mengikuti petuah-petuah atau anjuran-anjuran yang di dalamnya.

Karena buku bekerja sebagai sebuah ide yang pasif (Buku tidak mampu memberikan jawaban-jawaban secara spontan pada setiap pertanyaan yang terlontar dipikiran pembaca), dengan demikian buku di sisi pembaca merupakan sebuah ide yang sudah “mati”. Artinya adalah argumentasi-argumentasi di dalamnya merupakan sesuatu yang tidak bisa di koreksi secara langsung mengikuti perkembangan yang ada. Memerlukan buku terbitan baru atau edisi revisi tentunya untuk membuat buku itu up to date. Disamping itu buku bersifat pasif karena ia tidak meminta anda untuk membacanya. Jika anda pengen menyingkirkannya dari hadapan anda, anda cukup mengabaikan atau bahkan mencampakkannya ke tong sampah. Buku tidak akan marah atau mengadu ke Komnas HAM. Jika ada yang marah mungkin adalah orang yang memuja-muja buku tersebut. Bukunya sendiri sih, diam seribu bahasa. Ya nggak?

Nah dengan demikian sebuah aspek persuasifitas yang muncul di dalam buku sebenarnya merupakan ide yang mengalir di dalam pembaca itu sendiri. Pembaca digiring untuk mempercayai setiap hal yang dibicarakan di buku tersebut. Kalau perlu bukti bukti ilmiah yang tak terbantahkan pada saat itu ditunjukkan untuk membuat si pembaca percaya. Jika itu masih kurang buku bisa mengutip sesuatu yang sebelumnya telah menjadi kepercayaan sang pembaca. Contohlah kutipan buku-buku suci. Dengan mengutip beberapa kalimat atau paragraf dari “kebenaran suci tak terbantahkan” sang penulis buku berusaha untuk menyakinkan pembaca agar apa yang ditulis di buku tersebut adalah benar. Bisa juga sebuah buku bisa sangat bekerja aspek persuasifitasnya hanya karena sang penulis buku tersebut adalah seseorang yang sangat “dipuja”. Segala macam ucapannya adalah kehendak dewa. Maka buku yang ditulisnya pun menjadi seperti buku yang suci dan benar. Petunjuknya mustilah dilaksanakan.

Nah setelah mendapatkan “hati dan pikiran” pembaca, sekarang tinggal mengarahkan sang pembaca untuk bertindak seperti apa. Terserah sang penulis untuk mengarahkan atau memotivasi sang pembaca tersebut. Bahkan jika perlu sang penulis tidak hanya mengarahkan, tetapi menyuruh, memerintah sang pembaca. Bak robot yang tak bernyawa sang pembaca kemudian mengikuti anjuran sang penulis tersebut.

Namun apa lacur. Pembaca bukanlah robot yang mengikuti setiap perintah dari sang penulis buku tersebut. Ia adalah seorang pembaca yang aktif. Ia memiliki kepercayaan dan pengalaman yang sering bertolak belakan dengan apa yang dinyatakan sang penulis. Ia bisa berontak. Namun demikian tidak jarang juga pembaca yang mengikutinya. Buku bisa memerintah untuk membunuh, meledakkan diri dan sebagainya. Wow betapa hebat sebuah buku tentunya.

Bagi yang cukup sering membaca buku yang sifatnya psikologis persuasif, Buku jenis ini sifatnya seperti Dopping. Semisal Bukunya Steven Covey dengan 7 Habbitnya. Dengan demikian buku-buku jenis ini juga bisa dipergunakan untuk membangkitkan mood atau motivasi kita. Tidak ada yang salah dengan buku seperti ini. Buku-buku persuasif pada dasarnya secara psikologis bekerja dengan cara cognitive attack or cognitive struck. Ia menyerang atau menembak atau bekerja dalam pemikiran anda dan kemudian keyakinan-keyakinan anda. Dan kemudian secara kognitif pula ia memberikan perintah-perintah kepada anda. Dan tentunya buku bekerja dalam perintah bahasa-bahasa yang kita kenali.

Namun segalanya sesungguhnya bekerja di dalam Otak kita. Motivasi yang hadir dan menjadikan berubahnya sebuah perilaku sesungguhnya bekerja dalam diri kita. Input dari luar merupakan sesuatu yang sifatnya seperti pematik korek. Ia hanya memicu. Yang berubah adalah diri kita sendiri. Buku adalah benda. Ide didalamnya juga merupakan benda. Yang menjadikan ide itu mengalir dan hidup adalah diri kita. Entah itu disadari ataupun tidak. Dalam terminologi Freudian ide buku tersebut mungkin bekerja seperti Superego.

Salam penuh ketakmengertian.

Haqiqie Suluh

Iklan

3 Responses to “Bagaimana Buku-buku How To atau Kaifa Bekerja?”


  1. 1 kurtubi Kamis, 7 Juni 2007 pukul 4:54 pm

    Jadi Anda ingin mengatakan bahwa buku berjenis kaifa itu adalah sebuah stimulus act or no, nya tergantung kita? (benar gak)
    memang buku2 ini laris untuk orang2 sibuk atau so sibuk karena singkat praktis dan mudah dicerna.. namun kadang2 budaya yang dilontarkannya berbeda. kebanyakan buku2 kaifa itu terjemahan dari sono… makanya saya jarang membaca hanya yang pernah ku baca adalah karya2 Edward de Bono.. kaifanya menyentil otak… bagaimana menurut kang Suluh… suluhilah aku… :)

    he he he… yang saya maksud kaifa itu bukan penerbit kok… cuma jenis aja… saya gak bisa menyuluhi :(

  2. 2 Rein Senin, 30 Juli 2007 pukul 1:51 am

    Iya, memang mungkin sebagai stimulus act. Tapi bagi saya itu lebih cenderung pada bacaan inspiratif.
    Btw, sesuai dengan yang dikatakan Covey, ya itu tergantung manusianya. Mau milih yang mana, bertindak atau tidak. Jadi karena sifatnya itu makanya saya bilang inspiratif. Bebas, tidak memaksa.

  3. 3 Rein Senin, 30 Juli 2007 pukul 1:52 am

    Iya ga sih??
    Kuperdi nich.. Inferior Complex abisss.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: