Kehendak Bebas Manusia (Human Free Will): Apakah Sebuah Ilusi Realitas?

Saya disini siap untuk mengakui bahwa dalam banyak hal menyangkut tubuh kita yang kita miliki, seperti halnya wujud-wujud materiil lain, adalah objek yang mungkin bagi observasi dan pengalaman, dan karenanya merupakan objek mungkin bagi pengetahuan empiris, ada dalam ruang dan waktu, mengikuti proses sebab-akibat. Dan Oleh sebab itu, saya juga tidak menyangkal bahwa tubuh kita, baik itu kulit, mata, daging, otak dan lain sebagainya tunduk pada proses sebab-akibat yang menjadi perhatian dari ilmu fisika, kimia, biologi dan jenis pengetahuan yang lain. Kita tidak mungkin lari dari proses itu. Tapi bukan hal ini yang ingin saya bahas. Saya akan menangguhkan pembahasan mengenai aspek determinisme tubuh kita untuk saat ini. Lain waktu mungkin akan saya bahas. Saya ingin mempertanyakan satu hal disini, “Apakah Kehendak Bebas (free will) hanyalah ilusi?”

Setidaknya ada satu alasan kenapa saya begitu menolak determinisme membabi-buta. Yang saya maksud adalah keyakinan diri bahwa sesungguhnya kita dalam keseluruhan merupakan diri yang tunduk pada proses sebab-akibat atau determinisme sehingga keyakinan atau mungkin kemungkinan adanya kehendak bebas, yang berarti juga kemungkinan adanya pilihan-pilihan bagi kita, adalah sebuah ilusi realitas. Setidaknya ada satu alasan (ada beberapa alasan lain yang tidak saya bahas kali ini) kenapa saya dengan sangat yakin dan percaya diri menolak determinisme. Alasan berikut merupakan alasan yang muncul dari sisi moralitas manusia.

Jika determinisme benar, maka tidak ada seorang pun dari kita yang dapat “menahan diri” atau “mengontrol diri” atau “mengendalikan diri” atau “mengekang diri” untuk melakukan sesuatu yang telah kita niatkan. Dan karena tidak adanya penahanan diri maka konsep mengenai baik dan buruk, benar dan salah menjadi tidak berlaku bagi perilaku manusia. Adalah keliru jika kita menilai seseorang dengan predikat baik atau buruk ketika melakukan sesuatu. Kita tidak bisa menilai bahwa korupsi itu merupakan perbuatan buruk atau salah. Kita tidak boleh menyanjung atau memuji seseorang karena melakukan sesuatu.

Dengan tidak adanya konsep “menahan diri”, karena segala sesuatunya ditentukan, maka tidak ada juga yang namanya tanggung jawab. Seorang pria tidak boleh dihukum bersalah karena memperkosa seorang wanita karena pada dasarnya dia melakukannya sudah alami dan tidak ada konsep tanggung jawab atau penahanan diri. Seorang pria tidak boleh diberi hadiah atau penghargaan karena tindakan melindungi alam sekitarnya dari kerusakan atau menolong orang kecelakaan. Demikian seterusnya.

Konsep-konsep tentang perilaku manusia seperti “keharusan melakukan sesuatu”, seharusnya dia begini bukan begitu, tidaklah ada dalam determinisme. Konsep keadilan, kebajikan, kewajiban, dan kebaikan pun hilang dalam khasanah determinisme. Suara hati atau hati nurani hanyalah sebuah ilusi realitas. Hak milik merupakan ilusi.

Setiap orang yang mengaku dirinya menganut determinisme, jika dia memang benar-benar jujur dan konsekuen dengan kepercayaanya ini, harus menghapuskan segala konsepsi tentang perilaku manusia diatas, dan tentunya juga harus menghapus setiap aktivitas, tatanan dan institusi manusia. Jika seseorang mencuri barang darinya, jika seseorang membunuhnya, jika seseorang menamparnya, jika seseorang menghina dan melecehkannya, jika seseorang tidak memberi dia makan ketika dia kelaparan, jika seseorang tidak menolong ketika dia butuh bantuan, Ia musti tidak menuntut balik. Tidak ada moralisme di determinisme. Konsep kemanusiaan atau sebuah perilaku manusiawi hilang ditelan bumi. Dan selama saya hidup tidak pernah saya menjumpai orang yang seperti ini, walaupun dia mengaku seorang yang menganut determinisme.

Bagi saya determinisme tidak mungkin benar.

Salam Yakin

Haqiqie Suluh

Link tulisan seputar kehendak bebas:

01. Filsafat Kehidupan: Penggalan Cerita Silat “Sepasang Pedang Iblis”…
02. Behaviorisme: Ketika Darwinisme Masuk Wilayah Psikologi
03. Hanya Pengen Nulis
04. Teks, Seni, dan Kita
05. Tercipta dari Ketiadaan vs Tercipta dalam ketakberhinggaan…
06. Melantur Tak Jelas
07. To Magee; A Great Thank from Me
08. Pesan Tubuh kepada Kesadaranku; Upaya Penyegaran Jasmaniku
09. Gelora Tanyaku di Kala Pagi: Tentang Muasal Hidup dan Emosi
10. The First: My Journey to the Present World


Iklan

14 Responses to “Kehendak Bebas Manusia (Human Free Will): Apakah Sebuah Ilusi Realitas?”


  1. 1 Master Li Jumat, 15 Juni 2007 pukul 4:38 pm

    Free Will kadang dibatasi oleh norma-norma, terutama norma agama. :)

    hmm… bukan itu maksud saya kok…

  2. 2 Nayz Jumat, 15 Juni 2007 pukul 8:17 pm

    Saya masih bingung dengan kehendak bebas , Apa ya ?
    hehe…

    sama mas or mbak… saya juga masih sering bingung… gak tah kenapa juga… :(

  3. 3 chiket Jumat, 15 Juni 2007 pukul 8:37 pm

    determinasi/indeterminasi bukan inti permasalahan,sumber problemnya adalah ‘ketergantungan’ terhadapnya!

    bukan masalah ya? wah bagi saya masalah loch mbak or mas chiket… he he he.. klo bagi anda ketergantungannya ya…? maksudnya? eh jangan dijawab ding… entar saya gak mudeng lagi… :(

  4. 4 chiket Sabtu, 16 Juni 2007 pukul 8:22 pm

    yang perlu diperhatikan adalah ‘reaksi apa yang akan kamu timbulkan jika segalanya tidak sesuai seperti apa yang kamu inginkan..harapkan..yakinkan..(eh bukan) yakini’.

    ayo dong mbak or mas… buat artikel yang lengkap… biar saya yang bodoh dan gak ngerti akan diri dan dunia ini bisa tambah wawasan dan pemahaman :D

  5. 5 karimata Jumat, 29 Juni 2007 pukul 2:20 am

    terus terang saya belum baca tulisan berjudul provokatif persuasif ini. tapi saya yakin isinya timbul dari sebuah keyakinan dan kehendak diantara pikiran juga perasaan si penulis. saya, anda, kita semua adalah kelindan satu sama lain yang bernama kehendak. tapi sayangnya masing-masing kemanusiaan kita dibatasi oleh kesadaran yang berbeda-beda.kok saya jadi bingung dengan omongan saya sendiri ya.huaaha ha ha ha.tapi percayalah Tuhan mengijinkan kita sebebasbebasnya menggunakan kehendak. cuma manusianya aja enggak bijak. gitu. kitalah kehendak itu. yang berhak bebas, tapi gak telanjang dimuka umum.

    semoga mau membaca… kalau mampir lagi :D

  6. 6 joyo Minggu, 22 Juli 2007 pukul 1:01 am

    Hi Qie…
    Saya setuju dg mu bahwa manusia memiliki kehendak ‘bebas’, tapi bebas disini terbatas, terbatas disini adalah terbatas pada manusia itu dengan dirinya sendiri dan hubungan antara dengan sesamanya. konsep2 seperti baik buruk, pengendalian diri, kewajiban dll, sejauh ini yg saya tau hanya dimiliki manusia. Bisa dikatakan kehendak bebas itu milik manusia dalam dunia ‘kecil’ manusia, dan kenyataannya pilihan kita, manusia, selalu terbatas oleh kemanusiaan kita sendiri.

    Saya memilih dan berkehandak karena saya sadar :)

    Salam harmoni

  7. 7 laksita Jumat, 27 Juli 2007 pukul 10:47 am

    kehendak bebas…….ohk???gak bebas sama sekali nihk….ketekan lah…tertindas lah…terdampar lah….hehehe….hehehe milih aza sendiri…mutusinnya dipikir sendiri aza…efeknya ya ditanggung aza sendiri…so..kayaknya sihk bukan ilusi tapi reality…bener nihk….teralami..sungguhan..

    mbak coba baca lagi tulisan saya secara menyeluruh…. kehendak bebas apa yang saya maksudkan dalam tulisan saya ini…

  8. 8 Rein Senin, 30 Juli 2007 pukul 2:15 am

    saya sich oke-oke aja. memang dalam determinisme kayaknya ga ada etika. tapi kenapa ya filsuf yang merumuskan konsep ini juga berusaha merumuskan etika?? apa gunanya. hehehe lupa namanya. udah tua.. n klise.
    tapi walaupun saya setuju dengan gagasan determinisme, saya juga setuju bahwa ada sebuah kesadaran yang mampu membuat kita memiliki jarak dengannya. jadi dalam arti bukan determinisme absolut. hanya usaha untuk berada dalam posisi kesadaran itulah yang perlu dicapai. iya ga sih?? ah, mudah-mudahan bisa saya pastikan..

  9. 9 D2MQ Minggu, 27 April 2008 pukul 9:38 am

    Menurut saya, pembahasan kehendak bebas dan atau kemutlkan suatu ketetaptan bagian dari filsafat. Dan filsafat khususnya filsafat islam telah terjadi distorsi pemikiran para sejarahwan islam. Disini saya tidak bermaksud membahasnya karena saya bukan orang yang faham betul akan hal ini. Kalo Boleh disarankan, bagi yang sedang mencari penyelesaian, silahkan baca buku yang berhubungan dengan ini, berjudul DUA WAJAH TUHAN. Judulnya “ngeri” kelihatannya, tetapi isinya Insya Allah mengungkapkan kebeneran. Yang insya Allah, Allah menuntun penulisnya berniat lurus.

    salam
    d2MQ

  10. 10 Suluh Minggu, 27 April 2008 pukul 8:57 pm

    @atasku: boleh pinjam bukunya? atau mungkin masnya mau ngasih ke saya? coba mas kasih review apa isinya… jangan cuma ngasih tahu coba baca buku ini, disitu ada jawabannya.. itu seperti mengatakan tuh di dalam karung ada kucingnya… padahal saya belum melihat anda mendiskripsikan kucing itu kek apa, bahkan tidak tahu apa benar anda membawa karung dan telah tahu isinya itu kucing… hindari menjawab pertanyaan dengan gaya seperti itu mas… kecuali anda menyarankan seseorang untuk buat referensi tugas…

  11. 11 D2MQ Senin, 28 April 2008 pukul 8:48 am

    Baik mas suluh,
    Buku tersebut merupakan Terjemahan dari kitab al-amru baina amrain (perkara diantara dua perkara). Secara general buku tersebut menjelaskan keyakinan dua “mazhab” dalam mensikapi takdir, yaitu mazhab “determinisme/keterpaksaan” dan “berkehendak bebas”. Keduanya menggunkan dalil al-quran sebagai dasar.
    Dalam determinisme, berkeyakinan bahwa semua yang terjadi ini mutlak karena telah ditakdirkan oleh Allah baik bagus maupun jelek, baik ke surga maupun ke neraka. Jadi seolah olah manusia “dipaksa” untuk nerimanya dan upaya untuk memperbaikinya tidak bepengaruh. Dan ini sudah dipastikan mendustai maha adilnya Tuhan.
    Kebebasan berkehendak, berkeyakinan semua yang terjadi pada dirinya, adalah sebagai akibat dari hasil kehendak dan usaha orang tersebut semata, berpendapat tidak ada campur tangan tuhan, karena menurut pendapatnya, Tuhan hanya bertugas menciptakan dan setelah itu selesai. Dan ini sudah mendustai akan maha kuasa tuhan.
    Sehingga para shalihin yang menilai terdapat kesesatan keduanya, menggunakan firman Allah dengan sepenggal, maka penengah al-amru baina amrain diperlukan untuk “berusaha” meluruskannya. Maksudnya, yang terakhir ini mengatakan Benar bahwa semua takdir telah ditetapkan oleh Allah dan bersifat rahasia, tetapi kehendak manusia dalam perjalannya tetap akan bergantung dari kehendak Allah. Artinya manusia berkehendak, dan Allah berkehendak maka terjadilah, serta manusia berkehendak, tetapi Allah tidak, maka tidak terjadilah demikian juga kalau Allah berkehendak terhadap sesuatu, maka terjadilah, walau tidak dikehendaki oleh manusia. Karena dengan keyakinan, Allah maha mengetahui yang ghaib dan yang seharusnya.

    Mas Suluh, sebelumnya saya mohon ma’af, saya bukan orang filsafat, jadi kalau dirasa saya tidak berkompeten untuk bicara disini, tidak apa-apa dan terima kasih telah diterima commentnya. Pembaca di blog mas suluh, sudah pasti dari beberapa kalangan, termasuk kalangan awam seperti saya, sehingga saya berfikir tidak salah kalau saya “menyampaikan” sesuatu yang menurut saya benar. Dan dalam buku tersebut “mencoba/berusaha” untuk menyampaikan suatu solusi tengan dengan mengacu kepada Al-Quran sebagai sumber kebenaran.

    Sekali lagi mohon ma’af dan terima kasih
    salam
    D2MQ

  12. 12 Suluh Selasa, 29 April 2008 pukul 3:34 pm

    @D2MQ:

    Keduanya menggunkan dalil al-quran sebagai dasar.

    dari penjelasan masnya… saya sebenarnya sudah tidak ingin berkomentar panjang lagi.. karena titik tolaknya masih berpegang pada apa yang mas rasa dan yakini sebagai “kebenaran suci tak terbantahkan” sedang saya titik tolaknya berbekal dari “apa yang saya alami dan coba pahami” walau kadang buku atau kitab yang anda rasa dan yakini sebagai “kebenaran suci tak terbantahkan” juga ikut memperngaruhi dan mengilhami saya…

    Saya masih menganggap dan merasa bahwa determinissme dan kehendak bebasa dalam pemikiran filsafat masih menemukan jalan buntu… keduanya sering kali bisa menjelaskan sesuatu yang “sama-sama” berkerja di dunia fenomena alias alam tempat kita mengindra dan memahami, namun ketika dikontraskan atau berusaha dileburkan ternyata keduanya berada dalam kutub yang berlawanan alias antinomi, hal ini sama persis dengan proses waktu yang tak terhingga atau waktu yang muncul dari ketiadaan: sama sama tidak terpahami…

    Dari pemaparan masnya, terimakasih telah memberikan saya gambaran singkat…

    Salam kenal…

  13. 13 Peniel Kamis, 27 Agustus 2009 pukul 11:37 am

    Senang bisa jumpa bacaan semacam ini di internet. Terima kasih untuk sumbangsihnya. Tuhan berkati.


  1. 1 Takdir dan Kehendak Bebas « Sains-Inreligion Lacak balik pada Selasa, 25 September 2007 pukul 11:15 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: