Kritik Atas Penalaran atau Pemikiran Induktif (Induksi)

Saya pernah membahas sedikit kritik atas penalaran induktif ini lewat tulisan saya mengenai falsifikasi. Disini saya akan sedikit mengulang kembali apa yang telah saya bahas mengenai kritik atas penalaran Induktif.

Penalaran induktif seperti yang pernah saya tuliskan dihasilkan dari sejumlah kasus-kasus spesifik atau khusus yang memiliki kaitan satu-sama lain sehingga bisa ditarik satu atau beberapa buah kesimpulan yang bersifat lebih luas atau umum. Namun demikian ada beberapa kritik yang menjadi salah satu serangan paling kuat terhadap cara berfikir ini.

Kritik Pertama. Sebagaimana telah saya bahas, penalaran induktif bukan merupakan prediksi yang benar-benar akurat. Induktif bisa dihasilkan karena pengulangan-pengulangan secara terus menerus. Misalkan seekor ayam diberi makan oleh pemiliknya sedemikian sehingga ayam tersebut setiap kali pemiliknya mendekat selalu tahu bahwa saat itulah ia akan disuguhi makanan yang akan mengenyangkan dirinya. Dengan demikian ayam (secara instingtif atau behavioristis) memiliki pengetahuan atas suguhan makanan yang akan dimakan lewat kasus pembiasaan yang diulang ulang. Ayam sampai pada kesimpulan bahwa majikan datang sama dengan makanan datang. Ini merupakan kesimpulan umumnya.

Namun suatu ketika majikan datang dan sang ayampun mendekat. Bukan makanan yang di dapat oleh sang ayam tapi tebasan pisau yang meneteskan darah dilehernya. Majikan datang sama dengan maut. Dengan demikian kesimpulan umum bahwa majikan datang sama dengan makanan menjadi sebuah pengetahuan yang salah dan menjerumuskan sang ayam itu sendiri.

Tidak beda dengan hal ini adalah kepercayaan kita atas terbitnya matahari dari timur. Karena setiap hari matahari selalu saja terbit dari timur (walaupun mengalami pergeseran sedikit kearah utara atau selatan), hal ini tidaklah menjadikan kesimpulan bahwa matahari selalu terbit dari timur merupakan sebuah kebenaran mutlak. Tidak menutup kemungkinan suatu saat matahari bisa terbit dari barat, utara atau selatan.

Disini terdapat satu bukti rasional bahwa penalaran induktif bisa jadi menghasilkan kesimpulan yang berbahaya dan salah kaprah. Pengetahuan kita yang bersumber dari penalaran atau pemikiran induktif bisa jadi salah. Bukan makanan yang datang melainkan kematian. Demikianlah seperti contoh sang ayam.

Kritik kedua. Penalaran induksi seringkali dikaitkan dengan sebuah korelasi atau hubungan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap dua buah kejadian yang berbeda. Hasil-hasil kesimpulan secara induksi juga dikaitkan dengan kausalitas sebuah kejadian. Karena sedemikian sering kejadian A diikuti oleh kejadian B, maka diambil kesimpulan bahwa kejadian A merupakan penyebab kejadian B. Hutan yang gundul menyebabkan banjir. Pengeboran lumpur Lapindo menyebabkan luapan lumpur. Dan sebagainya-sebagainya.

Sekarang simak contoh berikut. Dua buah jam dihadapkan di depan anda. Salah satu jam tersebut pada setiap perputaran satu jam akan berdering, tetapi jam satunya lagi tidak. Nah ketika jam A yang tidak berdering itu menunjukkan jam 12 maka sedetik kemudian diikuti oleh dering jam B. Demikian sampai berpuluh-puluh maupun berjuta-juta kali. Apakah bisa diambil kesimpulan bahwa jam A mengakibatkan jam B berdering?

Kemudian lewat sebuah penelitian induktif (ini imajinasi saya) diketahui bahwa terdapat korelasi nyata yang menyatakan setiap kali seekor domba kencing di Depan Graha Saba Pramana UGM, maka Daerah UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) akan kebanjiran. Apakah kesimpulan ini bisa dikaitkan dengan proses kausalitas?

Inilah yang menjadi kritik kedua atas penalaran induktif. Penalaran induktif memang membantu kita dalam memahami, memprediksi, dan mengontrol sesuatu. Namun tidak semua hal bisa dipercaya dengan melakukan penalaran induktif. Penalaran induktif sekarang ini masih sering digunakan sebagai salah satu pengetahuan yang “ilmiah” dalam persoalan-persoalan kehidupan. Baik itu kesehatan, biologi, psikologi dan sebagainya. Contoh nyata dari aplikasi penalaran induktif adalah penelitian-penelitian yang bersifat statistikal yang mendasarkan pada sampel-sampel.

Salam Penuh Ragu dalam Ketidakmengertian

Haqiqie Suluh

Iklan

10 Responses to “Kritik Atas Penalaran atau Pemikiran Induktif (Induksi)”


  1. 1 Fadli Senin, 18 Juni 2007 pukul 12:11 pm

    Yaah beginilah, pada dasarnya dunia itu tidak sesederhana logika matematika.
    Contoh yang paling terkenal :
    A –> B
    B –> C
    .:. A –> C
    Bagaimana mungkin kita menyelesaikan persoalan yg kompleks dengan pola itu.
    (maaf rada-rada ga nyambung)

    gak ngerti saya mas…

  2. 2 fertobhades Selasa, 19 Juni 2007 pukul 11:59 pm

    kritik ketiga : :)
    penalaran induktif sering dipakai dalam ilmu pengetahuan. kita tidak bisa untuk mengetahui SEMUA aspek dari sesuatu yang ingin kita ketahui dan kita mengatakan bahwa suatu sampel tertentu adalah perwakilan dan sama dari semua.
    misalnya, kita meneliti sifat-sifat kuman amoeba dari sampel tertentu, tetapi karena kita tidak bisa meneliti SEMUA amuoeba di dunia ini, maka kita mengatakan bahwa sifat2 amoeba itu dimana saja di dunia ini adalah apa yang kita teliti itu saja.

    semua amoeba di satu ruang dunia dan tentunya amoeba di masa lalu dan masa depan… wah tambah parah ya?

  3. 3 peyek Rabu, 20 Juni 2007 pukul 8:54 pm

    mirip-mirip generalisasi ya

  4. 4 ndarualqaz Kamis, 21 Juni 2007 pukul 12:25 am

    kekekeke, habis baca ni tulisan aku tambah gak mudeng, yang jelas semakin membuat aku yakin bahwa ilmu statistik bukan ilmu yang penting, dan aku bakal mengusulkan statistik dihapus dari kurikulum kampusku….

    ngomong soal kambing kencing, bisa betul kok, kalo kmbing seluruh jojga di kumpulin dan disuruh kencing bareng setelah disuruh minum air lima galon tolong jangan di praktekkan, bisa2 didemo sama pecinta hewan.

  5. 5 Nayz Kamis, 21 Juni 2007 pukul 6:11 pm

    gak mudeng aku…levele udah tinggi banget

    tinggi langit kali :D

  6. 6 mrtajib Kamis, 28 Juni 2007 pukul 9:08 pm

    kritik yang pertama sya paham,

    tetepi

    kritik yang kedua, saya pusing:

    1. tentang dua jam yng berdering …. (berakhiran….NG)
    2. tentang kambing kencing.. (berakhiran NG juga, he he he)

    wah piyo yo….

    kok aku dadi jendel (goublok) banget sih….

    Tapi, walau membaca tulisan ini, aku jendel banget, tidak bisa diambil kesimpulan membaca tulisan lainnya, aku jendel….

    *hik hik hik…..kabur……*

  7. 7 asdar Kamis, 27 November 2008 pukul 12:54 pm

    Anda perlu membedakan penalaran induktif dng behavioristik..Mengambil ksimpulan dr penalaran induktif dimungkinkan jk kasus-kasus khusus sbg premis menunjukkan hubungan yg tdk independen..kasus 2 jam yg berdering berasal dr 2 proses berbeda dan slng bebas. kasus ayam yg berujung maut..itu adalah behavioristik, ayam tidak bernalar..(diduga dlm behavioristik, kurang melibatkan penalaran)…Perhatikan contoh:
    Soeharto pasti mati
    Soekarno pasti mati
    semua manusia pasti mati
    Maka Haqique pasti akan mati

  8. 8 Suluh Kamis, 27 November 2008 pukul 6:22 pm

    @asdar: yup induksi sebenarnya cenderung psikologisme behavioritik… nah inilah kelemahan induksi..

    sukano mati dulu, suharto mati dulu, manusia mati, saya akan mati… ini kesimpulan induktif… nah hal ini sama dengan kemarin dikasih makan, kemarin dulu dikasih makan, tiap hari dikasih makan, besok dikasih makan.. ini kesimpulan induktif juga…

    Nah seberapapun banyak dikasih makan, kita gak bisa mengatakn besok juga akan dikasih makan… karena bisa jadi besok disembelih, lusa disembelih, or ditelantarkan.. dll

    sama halnya matahari terbit dari timur… dulu, kemarin, dst, lalu kita mengambil kesimpulan bahwa matahari akan selalu sampai kapanpun terbit dari timur..

    tetaplah ada kemungkinan bahwa matahari bisa terbit dari barat, selatan utara, dsb..

    Inilah kritik untuk penalaran induktif yg lemah secara metodologis (antara manusia mati, tiap hari dikasih makan, matahari terbit dari timur, semua sama proses penarikan kesimpulannya) tetapi benar / kuat secara psikologis behavioristik.. dengan demikian bisa dikatakan induktif mendekati or sama dengan psikologis behavioristik..

    Nah karena dicampuri psikologis itulah makan induktif jadi “kepercayaan” padahal sesungguhnya induktif lemah secara metodologis… saya percaya pasti akan mati (ini psikologis behavioristik)… besok pasti saya dikasih makan (ini psikologis behavirostik)…

    Intinya kepercayaan pada induktif lebih bersifat pada psikologis dibanding pada penalaran logika…

    Metodologi Pengetahuan jika masih saja mengandalkan induktif hanya akan masuk ke wilayah psikologis… Terutama dalam sains, ini jelas sebuah kemunduran… so mari kita kurangi berinduktif ria sebagai sebuah metodologi sains, kita perlu beralih ke yang lebih kredible secara metodologis…

    walaupun demikian psikologis behavioristik aka induktif tetaplah sebuah proses pemikiran yang pragmatis dan perlu…


  1. 1 Berfikir Induktif « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Senin, 18 Juni 2007 pukul 11:15 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: