Pertanyaan Ontological Eksistensial: Apakah Sebuah Kesalahan Kategorian?

Saya tahu dan saya benar-benar mengalami sesuatu yang saya namakan “ontological fuzziness”. Ontological Fuzziness merupakan sebuah ketakmampuan pemahaman dan ketakmengertian atas kenyataan akan eksistensi sesuatu. Ontological Fuzziness adalah sebuah perasaan atau mungkin pemahaman yang campur aduk atas pertanyaan siapakah dia, apakah dia, apa itu, siapa itu dan pertanyaan-pertanyaan sejenis.

Sampai saat ini pun saya sadari bahwa saya tidak mampu menjawab pertanyaan paling simpel atas keberadaan diri saya: Siapakah saya? Usaha-usaha saya untuk mengatasi pertanyaan eksistensial tersebut selalu saja sampai pada ketakmengertian dan ketakpahaman. Saya tidak pernah bisa mengerti siapakah diri saya sesungguhnya. Saya tidak pernah bisa mengerti secara keseluruhan atau holistik “Apa dan Siapa diri saya sesungguhnya”. Memang saya akui bahwa setiap langkah yang saya ambil untuk menjawab pertanyaan “ontological eksistensial” ini saya merasa bertambah wawasan-wawasan. Akan tetapi saya merasa juga bahwa dengan semakin bertambahnya wawasan akan eksistensi diri saya, saya juga merasa bahwa saya sesungguhnya tidak tahu apa-apa.

Dengan menyadari bahwa menangani sejenis pertanyaan di benak saya yang semakin menjurus pada “ontological fuzziness”, saya kemudian bertanya balik atas pertanyaan saya. Apakah pertanyaan tersebut telah sampai pada kesalahan kategorian? Apakah sesungguhnya pertanyaan itu sendiri yang salah dan dengan demikian mengandung arti bahwa pertanyaan tersebut sampai pada ketakterjawaban? Apakah pertanyaan saya itu seperti saya menanyakan berapa jumlah sudut sebuah warna? Atau berapa volume sebuah segitiga? Ah saya tidak tahu..

Salam Penuh Ketakmengertian

Link Tulisan Terkait:
01. Problem Utama Eksistensi Manusia
02. Kehendak Bebas Manusia Apakah Sebuah Ilusi Realitas?
03. Saya Masih Balita: Tolonglah Diri Saya untuk Menjadi Dewasa

Iklan

12 Responses to “Pertanyaan Ontological Eksistensial: Apakah Sebuah Kesalahan Kategorian?”


  1. 1 rlanang Senin, 25 Juni 2007 pukul 10:29 pm

    Aneh rasanya, saya menyadari bahwa saya eksis tapi tidak mengerti ke-eksistensi-an saya. Rumit dan buntu,itu yang pernah saya rasakan, dan akhirnya saya memilih untuk diam dan menggamati.

    ngrasa aneh juga ya gil ? ah hidup memang aneh kok menurut saya :eek:

  2. 2 Herianto Jumat, 29 Juni 2007 pukul 3:50 pm

    Orang arab bilang :
    “Man arofa binafsih waman arofa birobbi”
    : Siapa yang tak mengenal dirinya maka juga tak akan mengenal Tuhannya.
    Menurut saya juga, orang2 yg tak mengenal Tuhan (atheis) juga gara2 gagal mengenal dirinya.
    Makanya materi2 : Ma’rifatunnas (mengenal manusia), Ma’rifatuLLah (mengenal Allah), dstnya, sangat besar manfaatnya untuk juga dikunyah2, selain materi2 falsafah made in manusia.
    Demikian menurut saya.

    wah mas herianto juga sudah mengenal dirinya ya… selamat selamat… tidak ada komentar selain rasa salut dan sanjung pada semua orang yang mengenal dirinya sendiri…. termasuk mas herianto ya tentunya… bukan begitu mas herianto?

  3. 3 rlanang Jumat, 29 Juni 2007 pukul 11:50 pm

    @Heriyanto

    Tuhan yang mana nih? Btw orang2 yang ngaku mengenal Tuhan/dirinya juga blm tentu benar2 mengenal Tuhan/dirinya sendiri. Apalagi mereka yang belum2 sudah nge-judge orang lain ginigitu (atheis misalnya) :)

    Salam

  4. 4 dian Sabtu, 30 Juni 2007 pukul 7:03 am

    Siapa saya ?
    melihat dari sudut pandang apa ?
    Filsafat ? ya sesuai dengan tulisan mas, jadi bingung dan terus bingung
    klo dari sudut agama Islam !
    Mas adalah seorang Hamba Allah !
    apa tugas hamba Allah, hanya di suruh beriman dan bertaqwa kepadaNya.
    saya tidak hapal ayat Qur’annya tapi yang saya tau disana ada informasi buat para Hamba Allah, informasi yang tegas, dan bisa menjawab pertanyaan mas suluh, “tidak lah KU ciptakan jin dan manusia, selain untuk menyembah dan bertaqwa kepada KU.

    wah hebat dian, sudah bisa memahami diri ya….. selamat selamat buat dian…. syukurlan anda tidak kebingungan seperti saya… sekali lagi salut dan angkat topi untuk pemahaman dirinya dian…

  5. 5 weni Sabtu, 30 Juni 2007 pukul 2:00 pm

    EHM…masih mencari siapa kita?

    aku juga masih bingung.
    terkadang terpikir bahwa sampai mati pun aku masih misteri buat diriku sendiri.

    sebagai orang yang meyakini Tuhan pun terkadang aku bersikap lebih tidak bertuhan ketimbang orang yang mempertanyakan tuhan itu yang mana?

    tapi kalo aku si lebih bingung “kenapa Tuhan membiarkan kita bingung?”
    agama2 yang beraneka ragam itu tidak mampu mengenyangkan kita?
    atau memang kita saja yg masih rakus dengan penjelasan?

    duh laper beneran ni…

  6. 6 rlanang Minggu, 1 Juli 2007 pukul 12:24 am

    @Weni

    manurut saya agama itu cuma bagian dari ‘karya’ manusia, tentu saja tidak bisa memuaskan ‘hidup’ dari sebagian kita (contohnya saya :))

  7. 7 ilham Minggu, 1 Juli 2007 pukul 2:17 pm

    Hehehe, menarik aada juga org seperti anda bro…
    1) Saya pikir persoalan ini muncul karena anda memilih seuah posisi ontologis yang memang secara kategoris tidak akan menjawab pertanyaan tentang esensi. Sementara pertanyaan anda bersifat esensial, anda justru memiliki pijakan eksistensial…

    2) Dikotomi eksistensi dan esensi di atas bersifat filosofis. Artinya jika anda masuk ke dalam ranah rasio yg memilah-milah, maka anda akan tersesat dalam kategori-kategori. Coba geser sedikit untuk mulai tidak berada pada rasio yg kategoris menuju pijakan yang lebih metakategori mungki persoalan itu akan larut dengan sendirinya…

  8. 8 Vicky Selasa, 14 Agustus 2007 pukul 9:05 pm

    membaca komentar Mas Herianto dan Dian bikin saya pengen kentut…BRRRROOOOOTTTTTTTTTTTTTT…Bau…maaf…tapi saya salut kepada anda berdua yang telah memahami diri anda, ikutan angkat topi ahhhh.

    salam

  9. 9 louka Selasa, 10 Juni 2008 pukul 2:58 pm

    siapakah aku?
    ini merupakan pertanyaaan yang ditanyakan semua orang.
    jawabannya mungkin tak akan kita temukan.
    karena kembali lagi pada hakitat eksistensi itu yaitu proses.
    jadi saat kita telah menemukan jawaban diatas maka kita juga akan berhenti bereksistensi.
    karena ketidak mampuan kita menjawab pertanyaan di atas.. itulah sehingga kita membutuhkan Tuhan.
    ato ada yang sudah dapat jawabanya?
    JANGAN BILANG AKU ADALAH SEORANG DOKTER.

    Salam damai

  10. 10 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 11:10 am

    aku adalah tidak ada
    yang ada itu justru tidak ada
    spt kata budha…semuanya ini palsu/semu

    pernah dengar gak mas Suluh:

    Dia adlah aku, dan aku adalah Dia, kita adalah satu yakni hidup yang sempurna/maha hidup.

    2 be continued

  11. 11 Suluh Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 11:46 am

    @budiman: ya pernah dengar. bahkan sering.. tapi sayang kayaknya hanya sloganisme belaka… atau sebuah kata “puitis yang mewah”… tidak begitu berarti banyak dalam pemahamanku. kecuali “semunya” budha dengan merujuk pada kepararelannya dengan penjelasan schopenhaur atau kant serta hume..

  12. 12 usman Selasa, 16 Maret 2010 pukul 3:29 pm

    di dalam alquran banyak kok proses tentang asalmu asalnya manusia..satu contoh dalam surat albaqarah yang artinya :mengapa kamu kafir kepada allah padahal kamu tadinya mati lalu allah menghidupkan kamu dan dimatikannya kamu dan di hidupkanya kembali dan hanya kepadanyalah kamu semua akan di kembalikan…kira2 bunyinya kaya gitu maaf kalau salah..yang jelas di surat itu memjelaskan bahwasanya kita itu mengalami 2 kali mati dan 2 kali hidup…matinya yang pertama kita mati dalam ke adaan tidak ada sama sekali lalu allah menciptakan kita dalam bentuk ruh,itu juga ada ayatnya tapi saya lupa.nah setelah kita diciptakan berarti kita sudah hidup tapi masih dalam bentuk ruh belum menjadi jasad.sebelum ruh kita di tempatkan ke dalam rahim orang tua kita nah disitulah kita di tanya oleh allah,itu juga ada ayatnya dalam al quran…setelah kita lahir dan tumbuh menjadi seorang manusia dewasa maka kita di berinya akal dan pikiran kepada siapakah kita akan kembali/atau milik siapakah dirikita ini….tentunya kita kemblikan lagi pada ayat di atas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: