Memasuki Belantara Filsafat: Berkawan Dengan Kebingungan-kebingungan

Saya tahu bahwa apa yang saya ketahui dan saya pahami lewat jejak petualangan saya di belantara filsafat sangatlah dangkal dan sedikit. Saya pun sekarang ini jarang sekali berusaha untuk menembus hutan raya filsafat dalam keseharian saya. Saya dalam satu minggu bahkah hanya menyempatkan membaca atau menelusuri beberapa halaman sebuah buku yang bisa dikategorikan dalam “penghuni hutan filsafat”. Intensitas saya memasuki belantara ini sudah sedemikian lelah namun juga sama sekali tidak ingin beristirahat. Saya masih memiliki hasrat yang kuat untuk terus meneruskan perjalanan saya walaupun sampai saat ini yang saya peroleh hanyalah bertambahnya wawasan-wawasan atas pertanyaan-pertanyaan filosofis saya namun tidak sampai bisa menuntaskan jawabannya. Saya semakin menyadari bahwa saya sesungguhnya tidak tahu apa apa. Realitas dunia dan diri saya sendiri, yang memunculkan berlaksa tanya yang menggetarkan pikiran saya, memang akan selalu membuat saya tertegun, termenung dan tersungkur.

Walaupun jejak penelusuran saya di belantara tanya saya “baru bermulai” 5 tahun yang lalu, sampai sekarang pun saya masih saja belum “mengerti” apa-apa. Saya akui saya mendapatkan wawasan-wawasan, pemahaman-pemahaman, namun saya juga semakin tersadarkan bahwa dengan bertambahnya wawasan maupun pemahaman, saya juga semakin menambahkan laksa-laksa tanya yang hinggap di diri saya. Saya tahu seberapapun kuat usaha saya untuk menjawab selaksa tanya saya, yang akan saya hasilkan hanyalah tanya dan tanya kembali. Saya juga mengetahui bahwa dengan bertambahnya tanya dalam benak saya, saya maju selangkah demi selangkah dalam memahami sesuatu (bukan menjawab tanya tersebut). Saya tahu bahwa pertanyaan yang kadang kali seperti sepele dan simple ternyata ketika ditelisik lebih dalam mempunyai kekuatan problem yang berat. Betapa sering saya harus tersungkur dan lemas sembari mengucapkan kata,” Saya tidak tahu” “ Saya bingung “.

Saya juga mengetahui dari interaksi saya dengan orang lain yang berusaha memberikan jawaban-jawaban atau penanganan-penanganan atas selaksa tanya yang ada dalam sanubari saya semakin menjadikan saya yakin bahwa bukan cara ini yang benar dalam memperoleh jawaban. Seseorang yang sudah puas dengan jawaban dan berusaha meyakinkan saya bahwa jawaban yang ia lontarkan merupakan keputusan yang benar, saya yakin hanyalah sebuah ilusi jawaban belaka. Para filosof yang saya kenal lewat karya-karyanya memang memberikan jawaban-jawaban dan juga pemahaman-pemahaman, tetapi dibandingkan dengan problem-problem yang mereka berikan jawaban-jawaban itu tidaklah berarti. Yang menjadikan saya bertambah wawasan serta kebingungan bukanlah jawaban-jawaban atas problem-problem itu, melainkan kemunculan problem-problem baru yang membingungkan. Jawaban-jawaban akan melahirkan problem-problem baru. Saya tahu ini adalah proses yang tiada akhir. Pilihannya hanya dua. Berhenti atau Lanjut.

Pilihan saya tertuju pada pilihan kedua. Saya tahu bahwa saya tidak mungkin untuk berhenti. Hal ini terutama dikarenakan karakter dan kemauan yang ada di diri saya. Namun, sebenarnya hal yang terpenting bagi diri saya sebagai konsekuensi atas pilihan saya tersebut adalah munculnya emosi-emosi negatif. Kebingungan, kegelisahan, kegundahan atas tak terjawabnya pertanyaan-pertanyaan membikin saya semakin tahu bahwa hal tersebut memang patut ditangani.

Sudah beberapa bulan ini saya cukup mampu berkawan dengan kebingungan-kebingungan. Saya tahu bahwa saya bingung, Saya mengerti. Satu-satunya cara untuk mengatasi keterbingungan saya yang masih bisa diandalkan adalah dengan cara membiasakan diri untuk berkawan dengan kebingungan-kebingungan tersebut. Maksudnya adalah kebingungan yang lahir dari pertanyaan-pertanyaan harus lah di dekati lewat proses psikologis emosional. Mengatasi kebingungan dengan menghancurkan sumber kebingungan (pertanyaan itu sendiri) adalah tidak mungkin. Alasannya adalah pertanyaan-pertanyaan tersebut memang merupakan pertanyaan yang tak terjawab (contoh antinomi kant). Kita memang bisa terus untuk berusaha mendekati jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita tetapi kita tidak akan mampu sepenuhnya secara holistik mengatasi atau menjawab pertanyaan itu. Pengetahuan atau jawaban kita hanyalah bersifat asimtotis. Mendekati tetapi tidak akan pernah sampai. Nah karena pendekatan secara kognitif atas kebingungan saya ini tidak mampu saya lakukan maka satu-satunya cara adalah melakukan pendekatan psikologis. Saya harus mencoba untuk membiasakan diri dengan kebingungan-kebingungan. Hanya itu yang perlu saya lakukan.

Dengan membiasakan diri dengan kebingungan-kebingungan, saya merasa akan mampu menangani kegelisahan saya atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab sembari terus berusaha menjawabnya secara asimtotis. Pertanyaan-pertanyaan sifatnya kognitif namun sering kali membuat emosionalitas kita juga terpicu. Dengan membiasakan kebingungan saya juga tidak akan lagi terganggu jika kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan baru. Saya juga sering kali mengalami sejenis perasaan gembira atau senang jika menghadapi pertanyaan-pertanyaan baru. Ada gairah disana. Semakin saya tak mengerti atau kebingungan semakin saya merasa senang. Agak aneh memang. Rasa senang saya muncul kemungkinan karena saya merasa bahwa saya semakin dalam dalam memahami (bukan menjawab atau memperoleh jawaban) pertanyaan-pertanyaan saya.

Demikianlah. Lama kelamaan saya jadi terbiasa dalam ketakmengertian. Inti dari pemahaman sering kali muncul dari kesadaran dan pengakuan bahwa sebenarnya saya benar-benar tak mengerti dan tak mampu menjawab. Pemahaman sering kali bertambah ketika saya semakin kebingungan dengan problem-problem saya.

Cat: Tulisan saya diatas sepertinya bersifat kontradiktif (contradition in terminis), namun hanya dengan cara seperti itulah saya mampu menuliskannya. Jika anda mengalami kejadian seperti saya mungkin anda bisa mengerti tulisan ini. Dan bagi pembaca yang lain, saya juga hanya ingin berbagi dan tidak memaksa anda mengerti atau paham celotehan emosi saya ini.

Salam Penuh Ragu dalam Ketakmengertian

Haqiqie Suluh

Iklan

21 Responses to “Memasuki Belantara Filsafat: Berkawan Dengan Kebingungan-kebingungan”


  1. 1 bumisegoro Selasa, 17 Juli 2007 pukul 3:36 pm

    jadi ikutan bingung niy…. btw, pernah ngalami perasaan hambar ga om dengan semua itu?

  2. 2 antisalafy Selasa, 17 Juli 2007 pukul 5:31 pm

    Filsafat itu kan HARAM!
    *kata kata nya sih*

  3. 3 mathematicse Selasa, 17 Juli 2007 pukul 10:51 pm

    Biar tambah bingung, coba deh baca tulisan saya yang terbaru, yang judulnya “Pertanyaan”. :D

    promosi ya mas… hweekkekekekke

  4. 4 mybenjeng Rabu, 18 Juli 2007 pukul 3:13 am

    saya gak bingung tuh… :)
    *brarti gak bener2 baca, kaburrr…*

  5. 5 mathematicse Rabu, 18 Juli 2007 pukul 10:50 am

    Hehehe… bukan promosi mas… cuma ngasih tahu… (soalnya saya juga pernah beberapa kali baca buku tentang filsafat (yang masih sederhana sih)… juga ikut-ikutan bingung.).

    Semakin kita banyak membaca, semakin kita banyak tahu dari bacaan, sebenernya kita itu semakin ga tahu apa-apa…

    :D

  6. 6 nuragus Kamis, 19 Juli 2007 pukul 8:56 pm

    Wah…masnya udah jauh…malah udah sampe bingung.
    Aku belum apa-apa. Belum juga melangkah. Apalagi sampai bingung.

    Selamat ya…udah sampai tahap bingung.

    Ayo dilanjutkan mas!

    Tapi jangan lupa sesekali “melek” ya…hehehe(bercanda)

  7. 7 daunwiselife Jumat, 20 Juli 2007 pukul 4:25 am

    Yap…! inget Betrand Russel menjelaskan tentang Materi?! disana dia bercerita klo penghakikatan Materi jg tidak akan pernah usai…
    Percuma ya’ klo ga da slesenya???!!!
    Tidak Percuma Samasekali! Sperti ‘Makan’ yg tidak akan pernah selese sblm kita Mati, tapi kita kenyang sekalipun nanti lapar lagi.
    Jangan tidak makan krn Ragu dan Ketidakmengerian, Nanti Mati !!!
    (eh Bantu Eiyke (pemula) ngeblog duong… gmenong ciy carane mbikin Teks di Widgets kayak ‘Salam Datang’ & ‘Peringatan’

  8. 8 daunwiselife Jumat, 20 Juli 2007 pukul 5:24 am

    eh iya,selain kita bs ‘Puas’ atw ‘Kenyang…. Q mo nanya: gmn koh cara ndapetin RSS Feed :) he.. ???

  9. 9 Nayz Jumat, 20 Juli 2007 pukul 11:11 am

    pokoke komen.hehe…

  10. 10 etikesen Jumat, 20 Juli 2007 pukul 5:18 pm

    hebat2, mas suluh memang hebat, bahkan jawaban2 filosof pun tidak berati bagi pertanyaan2 mas suluh. atau karena jawaban para filosof itu memang tidak mendasar? yang pasti, jawaban2 filosofis itu diperlukan sebagai bekal mengarungi kehidupan nyata, menurutku sih,,,,

  11. 11 telmark Jumat, 20 Juli 2007 pukul 9:59 pm

    filsafat ?
    semakin diselami, semakin takkan pernah mencapai dasarnya.

  12. 12 cut-rock Minggu, 22 Juli 2007 pukul 1:35 pm

    kejadian seorang alchemy…

    pertanyaan yang tak berujung hanya bisa di jawab dengan pertanyaan.
    bagaikan lambang hati yang terbentuk dari 2 tanda tanya yg berhadapan atau berlawanan atau 2 hal yg berbeda tapi tidak bisa di pisahkan. layaknya hitam-putih, atas-bawah, kanan-kiri dll.

    filsafat hanya membantu membuka cakrawal berfikir, sebaiknya jgn jadi pegangan. ada yg lebih baik lagi untuk menjadi pegangan hidup. :)

    pegangan tuh berarti keyakinan ya? hmmmm…

  13. 13 laksita Jumat, 27 Juli 2007 pukul 10:31 am

    bingung karna munculnya hal mustahal?efek dari hal mustahil yg belum tersentuh tuh….ehmmmm biasanya emang begitu…semakin dalem ato semakin luas…mungkin tak nyrempet tak mendekati hal mustahil….malah mendekati rasa….jadi bingung deh…kalo seandainya tak membiaskan rasa…gak muncul deh bingung….hehehe jadi bagaimana??

  14. 14 Rein Minggu, 29 Juli 2007 pukul 12:46 am

    Mas, saya lupa sesuatu..
    Makasih sarannya. Lain kali boleh lagi ya. Thanks. Maklum masih baru di wordpress. Salam kenal juga..

  15. 15 Rein Senin, 30 Juli 2007 pukul 12:54 am

    Yapp, tidak mungkin untuk berhenti.
    Katanya katanya sih J.D. Caputo bilang begini,
    “pertanyaan justru merupakan jawaban yang bukan Jawaban”, yakni “suatu jawaban agar terus bertanya, menjadikan pertanyaan hidup”.
    Just another smile 4 u.
    Apa sih maksudnya?
    %$#@^%$@#$

  16. 16 rzma Kamis, 9 Agustus 2007 pukul 10:18 am

    saat ini saya lagi dlm kebingungan…saya tidak tau lagi harus bagaimana..pilihan saya tidak pernah cocok dengan orang2 sekitar saya dalam hal mencari pendidikan…saya bingung bgt,yg skolah n yg menjalani sbnarnya saya ap mereka yg tak setuju itu???tpi kalo saya mengikuti kata haty saya darimana saya akan dpt subsidi educasion kalo tidak dari si dia yg tidak setuju dengan pilihan saya/???aduh bingung bgt…n mpe karang say ablm dapat skul yg tepat…uda dpt skul tapi tidak di setujui….duh cepet mati dec kyknya kalo bgini….bantuin saya dnk…gmana y cra mengatasi kbingungan itu????

  17. 17 weni Kamis, 16 Agustus 2007 pukul 8:27 pm

    saya jadi teringat cerita ketika dalam salah satu momen seorang nabi yang menggigil ketika akan menerima wahyu, atau ketakutan dia akan kata “iqra” (bacalah), tapi beliau tak mampu membaca.
    mungkin itu versi seorang nabi yang juga mengalami kebingungan.
    kebingungan mendapat rujukan kehidupan instan dari Tuhan.

    rujukan instan atau wahyu yang didapat nabi dari Tuhan tidak pernah terjadi pada kita.yang ada kebingungan yang terus membayang jika tak mampu ditaklukan dengan kerendahan hati….
    mungkin sudah menjadi porsi kita sebagai manusia untuk bingung,
    berkawan dengan kebingungan…menentramkan, setidaknya tidak menjadikan kita ling lung atau gila.

  18. 18 henri Sabtu, 25 Agustus 2007 pukul 10:41 pm

    hebat donk mas,baca ampe bingung.makanya mas klo makin lama makin bingung.wah jd bengong neh…huahahuhahahah!!!!

  19. 19 eko Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 3:27 pm

    aneh bin ajaib……. filsafat melahirkan ke bingungan……..

    jelas bingung kalo tidak tahu apa ini atau apa itu dan seterusnya…….
    yang jelas berfilsafat seharusnya menjadi orang lebih bijaksana, bukan mejadi orang yang bingung??? malah aneh???

    filsafat adalah mbah moyangnya pemikiran manusia…… namun ilmu hasil pemikiran ini juga bisa berubah sesuai dengan jalannya waktu dan perkembangan ilmu dan teknologi….ex. runtuhnya teori geosntris oleh teori heliosentris……..

    jadi berfilsafat tidak mesti harus membaca buku-buku filsuf jaman dulu yang teknologinya tidak semaju sekarang….jadi tidak tersesat oleh pemikiran zaman mereka… kecuali jika sudah terbukti kebenarannya… jika terbukti pemikiran mereka sudah tidak sejalan dengan kemajuan teknologi jaman kini teori filsafat mereka tinggalah kenangan dalam dunia ilmu pengetahuan perpustakaan…….

    jadi berhati-hatilah karena pemikiran zaman dulu dengan pengetahuan mereka mencoba memecahkan masalah yang sama dengan zaman sekarang pastilah hasilnya akan berbeda tergantung pada tingkat pengetahuan manusianya….

    “Just carefull” berhati-hatilah dalam berpikir karena manusia masing-masing punya pemikiran dan ilmunya masing-masing…….

  20. 20 Suluh Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 9:29 am

    @eko:

    bagi saya filsafat itu pergulatan diri dalam memahami hidup dan dunia. Efeknya “bisa jadi” walau tidak selalu adalah adanya pertanyaan yang tidak terjawab yang kemungkinan melahirkan kebingungan. Filsafat melahirkan kebijaksanaan itu tentunya dalam pandangan atau mungkin pengalaman mas. Tetapi saya kurang setuju dengan hal demikian. Tidak ada korelasi langsung antara berfilsafat dan menjadi bijak.

    ya, berfilsafat tidak harus membaca buku-buku filsafat jaman dulu. Berfilsafat bagi saya, beranjak pertama kali dari realitas pengalaman kita. Berusaha mengenal dunia dan hidup. Buku, kitab atau apapun itu hanyalah kumpulan ide yang mungkin bisa membantu kita dalam memahami dunia dan diri. Filsafat bukan dalam buku, tetapi dalam pergolakan diri, ini setidaknya menurut saya, entah kalau mas eko.

    zaman dulu tidak bisa kita judge sebagai sesuatu yang salah. Yang lalu atau yang sekarang bukan ukuran sebuah kebenaran atau mendekati kebenaran. Jangan sampai termakan isu bahwa yang up to date itu yang paling mendekati benar. Jadi zaman dulu atau sekarang perannya sama-sama penting. Bagi para penganut keimanan agama, kitab zaman dulu itu sangat penting, bahkan sampai ke level keimanan yang “suci dan tak terbantahkan”. Sekali lagi dulu atau sekarang bukan ukuran untuk mendekati kebenaran. Bisa jadi yang lalu justru lebih bisa memahami dan mendekati kebenaran.

  21. 21 agnes sekar Rabu, 10 Februari 2010 pukul 5:03 pm

    Selamat sore Suluh pertama kali saya mengunjungi sitenya ya karena bingung, tetapi didalamnya saya menemukan kata-kata filsafat yang menghantar saya lebih dalam tentang kebingungan dan akhirnya saya senang, sangat aneh bukan ? itulah bingung, Suluh ..kalau boleh saya katakan dalam merenung saya mendapat jawaban dalam nurani saya untuk : berhenti mencari-cari jawaban atas segala sesuatu agar tidak bingung lagi. Pikiran adalah medan pertempuran antara pendapat dan kebingungan. Karena itulah kita dapat menang atau kalah didalam pikiran. Salah satu cara fikir yang harus kita hapuskan untuk memenangkan peperangan dalam pikiran ialah mencari cari jawaban dalam kebingungan. Bingung bukan ? Itulah kebingunan
    …..

    Regards, agnes sekar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: