Tentang Bahasa dan Filsafat: Sebuah Renungan

Apa makna sesungguhnya dari makna? Apa makna sesungguhnya dari apa? Begitu banyak bahasa yang sesungguhnya kita gunakan sehari-hari merupakan sebuah konsep yang sepenuhnya merupakan konsep yang praktis. Banyaknya bahasa yang dipergunakan oleh manusia sesungguhnya merupakan ungkapan simbolik yang dipergunakan untuk alasan praktis dalam hal berkomunikasi. Pada akhirnya bahasa hanyalah merupakan alat yang dipergunakan manusia untuk memahami, menjembatani, dan mengkomunikasikan hal-hal dari dalam pengalaman kemanusiaan manusia itu sendiri.

Sehingga amat disesalkan jika dalam perjalanan perenungan manusia mengenai dunia yang di dalamnya dirinya sendiri masuk, ternyata yang dicari dan dipikirkan hanyalah mengenai bahasa. Filsafat positivisme logis yang cenderung hanya merupakan sebuah metode dalam menilai suatu pernyataan bermakna atau tidak menjadikan filsafat ini mandul dalam dirinya sendiri. Demikian pula filsafat analisis linguistik. Yang dibahas oleh kedua filsafat ini hanyalah sebuah kebenaran dalam kalimat bukan kebenaran di dalam realitas itu sendiri. Lama-kelamaan kedua filsafat ini hanyalah merupakan sebuah disiplin ilmu yang tidak ada kaitannya dengan filsafat. Positivisme logis akan menjadi sebuah metode pencarian pernyataan sedang analisis linguistik hanya akan menjadi cabang dari ilmu bahasa.

Namun demikian sesungguhnya memang segala hal yang ingin mendekati realitas pada akhirnya tidak akan merupakan ilmu yang dapat dikomunikasikan secara lengkap hanya melalui bahasa. Bahasa memang merupakan salah satu penerjemahan yang dapat kita pahami mengenai realitas, akan tetapi realitas sesungguhnya merupakan hal yang tidak akan pernah dapat kita ketahui sepenuhnya. Penjelasan ini merupakan pelengkap dari analisis mengenai indera kita dalam menangkap realitas, seperti yang pernah dijelaskan oleh Kant ataupun Schopenhauer.

Dengan demikian apa yang telah dirintis oleh Kant maupun Schopenhauer merupakah hal yang telah benar jalur yang harus kita tempuh. Filsafat merupakan sesuatu yang setidaknya membuka pemahaman kita akan dunia. Dengan berfilsafat memang sesungguhnya kita tidak akan menemukan jawaban final, hal ini dikarenakan berfilsafat merupakan aktivitas dari dalam pemikiran kita sendiri. Jawaban yang terbentuk dan terlontarkan bahkan akan terus menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru. Berfilsafat bukanlah beragama. Jikalau sebuah pemikiran filsafat dijadikan agama maka pada dasarnya filsafat telah berhenti menjadi filsafat. Ia menjadi monster yang mengerikan yang dinamai ideologi.

Dari Catatan Lampauku
Tertanggal 13 April 2006

Haqiqie Suluh

Iklan

13 Responses to “Tentang Bahasa dan Filsafat: Sebuah Renungan”


  1. 1 Herianto Selasa, 28 Agustus 2007 pukul 5:05 pm

    Menggeluti samudra filsafat secara konsisten, berarti harus bersiap2 utk tak mau berhenti di satu persimpangan manapun yg bernama kesimpulan.
    Filsafat mengajarkan kita untuk senantiasa meragu, walaupun hakekat tujuannya adalah kebenaran. Karena kebenaran atas dasar pikiran manusia semata tak akan pernah bertepi.
    Berbeda dengan cara pandang agama yg meminta kita untuk senantiasa meyakini, menghilangkan keraguan.
    Filsafat agama kadang2 menyeret kita pada keraguan terhadap keyakinan agama, atau bisa juga sebagai cara menggeluti keraguan berdasarkan keyakinan agama.
    Filsafat memang bisa membuat kita ragu untuk beramal, dan agama justru membuat kita terdorong beramal.
    Mutlak memusuhi filsafat, semestinya tidak demikian. Pemahaman agama yg menghentikan fungsi pikir, memang dapat mbuat agama seakan seperti monster. Tapi tentu bukan berarti kita harus merujuk ke filsafat yg condong meragukan.

    Demikian filsafat saya… :-D

    #Ah…, kok jadi sok tau bgini ya ?# :mrgreen:

  2. 2 joyo Rabu, 29 Agustus 2007 pukul 5:02 am

    membahas bahasa menggunakan bahasa

  3. 3 Suluh Rabu, 29 Agustus 2007 pukul 8:54 am

    @herianto:

    Filsafat bukan “mengajarkan” kita untuk ragu kok…. yang lebih tepat, filsafat kadang “membawa” (melalui argumentasi atau logika tertentu) kita pada keraguan atas sesuatu keyakinan atau, filsafat “membawa” pemikiran kita, secara alamiah atau dalam rentetan konsekuensi logis, untuk mengambil “kesimpulan” sementara bahwa, kita, melalui penelusuran tertentu, sampai pada “keraguan” atas sebuah pernyataan, doktrin, keyakinan, proposisi, atau ide dan sejenisnya… dan terkadang juga (tidak melulu ragu) pada sebuah keyakinan

    Filsafat bukan berurusan dengan “ragu” atau “yakin”. Bagi saya berfilsafat adalah upaya memahami realitas dunia dan diri saya sendiri yang bergerak di dalamnya.

    @joyo: yup… :smile:

  4. 4 kliklagi Senin, 1 Oktober 2007 pukul 4:23 pm

    berasal dari kata Phyllo yang artinya cinta dan Sofi yang diartikan kearifan.

    Phyllo – Sofi = Cinta – Arif

    filsafat adalah perjalanan dalam kerinduan akan kearifan yang hakiki

  5. 5 eko Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 11:27 am

    yup….
    berpikir identik dengan berfilsafat…….
    beragama juga harus berpikir dan membutuhkan ilmu untuk menjalankannya…
    berfilsafat adalah salah satu cara memperoleh ilmu…..
    jadi beragama dan berfilsafat dapat menambah keyakinan kita akan agama yang kita anut, seiring dengan bertambahnya ilmu yang kita dapat dari berfilsafat atau berpikir…..

  6. 6 Ray Selasa, 20 November 2007 pukul 3:57 pm

    maaf nih..ikut nimbrung…ada yang tahu arti “filsafat bahasa gak?”

    kalau ada yang tahu kasih tahu aku ya..terima kasih lho sebelumnya.

  7. 7 Gusti Rabu, 11 Maret 2009 pukul 10:04 pm

    wahm bisa ikut nimbrung nih merenungkan filsafat dan bahasa atau berfilsafat dan atau berbahasa atau juga berbahasa filsafat atau bisa jadi berfilsafat bahasa atau mungkin juga hanya membahasakan filsafat. wala wala wala

    TABE’

  8. 8 yov Sabtu, 19 September 2009 pukul 5:23 pm

    ingin mempelajari cara pemikiran seorang filsuf…
    ingin masuk dunia filsafat…

  9. 9 yov Sabtu, 19 September 2009 pukul 5:26 pm

    filsafat adlh khdupan…..
    yg pemahaman’a takkan berhenti di satu titik….

  10. 10 wulan Selasa, 23 Februari 2010 pukul 4:30 pm

    berfilsafat berarti berfikir secara radikal dan fundamental, bahasa lah sebagai instrumennya. Lantas apa hakekat bahasa itu sendiri?????

  11. 11 harunsaurus Minggu, 14 Maret 2010 pukul 2:21 pm

    “Namun demikian sesungguhnya memang segala hal yang ingin mendekati realitas pada akhirnya tidak akan merupakan ilmu yang dapat dikomunikasikan secara lengkap hanya melalui bahasa. Bahasa memang merupakan salah satu penerjemahan yang dapat kita pahami mengenai realitas, akan tetapi realitas sesungguhnya merupakan hal yang tidak akan pernah dapat kita ketahui sepenuhnya.” –> suka banget sama kalimat ini.

    Ia menjadi monster yang mengerikan yang dinamai ideologi. –> menilai ideologi sebagai ‘monster’ menurut saya agak berlebihan(kalau tidak mau dibilang men-generalisai). toh ada ideologi yang ‘baik'(lebih banyak positifnya dibanding negatifnya, atau cocok diterapkan di masyarakat tertentu), dan ada juga yang ‘buruk'(menindas suatu kaum, rasis, sulit diterapkan, dsb.)

    saya jadi teringat puisi Subagio Sastrowardojo yang ini:

    Asal mula adalah kata
    Jagat tersusun dari kata
    Di balik itu hanya
    ruang kosong dan angin pagi

    Kita takut kepada momok karena kata
    Kita cinta kepada bumi karena kata
    Kita percaya kepada Tuhan karena kata
    Nasib terperangkap dalam kata

    Karena itu aku
    Bersembunyi di belakang kata
    Dan menenggelamkan
    diri tanpa sisa

    lagi-lagi kita menemui kebuntuan dalam mencari ‘kebenaran’. seolah-olah kebenaran bukanlah milik manusia, atau kebenaran itu sendiri sebenarnya tidak ada.

    jadi, saya sih lebih suka yang praktis-praktis saja seperti beriman.

  12. 12 zimbimbimboy Selasa, 9 April 2013 pukul 2:43 pm

    Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat bahasa sehari-hari.

    • 13 zimbimbimboy Selasa, 9 April 2013 pukul 2:44 pm

      Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf, sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha para filsuf memahami conceptual knowledge melalui pemahaman terhadap bahasa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: