Humanisme dalam Pikiranku: Apakah itu?

Apakah itu yang dimaksud dengan paham humanisme? Sejauh pemahamanku yang kupikirkan dan kupelajari, yang dimaksud humanisme, secara sederhana (baca: menyederhanakan), adalah suatu sikap yang konsisten dalam membela kelangsungan dan keberadaan hidup manusia agar manusia tidak tenggelam dalam kehancuran atau kebinasaan. Memberi makan orang yang kelaparan merupakan suatu sikap yang humanis karena dengan mengkonsumsi makanan manusia memperoleh energi yang berguna untuk beraktifitas. Mengobati orang yang terkena penyakit merupakan perbuatan humanis karena dengan kesembuhan dari penyakit manusia bisa kembali berkerja menghidupi dirinya. Memberi dan membangunkan tempat tinggal bagi mereka yang tuna wisma merupakan sikap yang humanis karena rumah dapat digunakan untuk melindungi manusia dari hawa dingin dan curah hujan serta perlindungan yang lainnya.

Humanisme dalam melakoni tindakan dan sikapnya kepada obyek (manusia) tidak memandang dan membedakan manusia sebagai suatu makhluk yang terkotak-kotakkan. Humanisme tidak memandang bangsa, agama, daerah, suku, warna kulit dan sejenisnya. Ia memperlakukan dan berusaha membantu siapa pun itu manusianya. Tidak memandang ia baik atau jahat, kawan atau musuh.

Tapi aku pikir humanisme juga harus melakoni sikap yang konsisten dengan dirinya sendiri sebagai subyek. Ada sejenis kontradiksi disini. Humanisme juga seharusnya memikirkan dirinya sendiri yang diakuinya juga merupakan bagian dari golongan manusia untuk dijadikan obyek tindakannya. Sebagai seorang manusia, seorang humanis tersebut juga harus memikirkan keselamatan dan kelangsungan hidupnya sendiri juga. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari sikap dan paham humanis itu sendiri. Hanya saja disinilah sesungguhnya letak pergulatan dari paham ini. Manakah yang terlebih dahulu didahulukan atau dipentingkan, keselamatan diri sendiri ataukan keselamatan orang lain, kepentingan pribadi atau yang bukan-pribadi?

Problem ini terjadi dikarenakan paham menyelamatkan dan mempertahankan kelangsungan hidup manusia (sebagai sebuah komunitas besar dan bermacam) juga mengandung arti bahwa dia sendiri merupakan bagian dari manusia itu sendiri. Ia merupakan subyek pelaku sekaligus obyek pelaku. Disinilah terjadi pergulatan terus-menerus antara yang kehendak penyelamatan pribadi dengan penyelamatan umat. Tapi dimanakah batas dari masing-masing definisi tentang sikap keselamatan pribadi dengan keselamatan umat.

Sampai disini saya berkesimpulan bahwa paham humanisme hanyalah merupakan sebuah generalisasi yang kurang lengkap atau bahkan keliru dalam memandang kecenderungan manusia itu sendiri. Tapi paham ini merupakan sebuah jenis paham yang aku pikir dan rasa sangat bermanfaat dibandingkan dengan paham fasisme atau komunisme. Paham humanisme memiliki sikap (walaupun ini tidak konsisten) yang menjurus ke arah perdamaian dan bukan kearah pemusnahan. Sebuah utopia dari para humanis adalah terciptanya dunia tanpa perang atau kedamaian dan terciptanya sikap saling tolong menolong.

Lalu apa itu humanisme? Aku belum juga mengerti secara penuh. Setidaknya sampai saat ini. Seperti juga aku tak tahu Apa itu Agama? Apa itu Islam? Apa itu Kristen? Apa itu Buddha? Moralitas selalu saja membingungkan diriku ketika memasuki ranah filosofisnya. Aku jadi teringat Schopenhauer (terjemahan bebasku): Membicarakan moralitas itu mudah, terutama mengkhotbahkannya, tetapi bukan perkara yang mudah menyediakannya sebuah landasan filosofis.

Sebuah fenomena manusia yang menghendaki sebuah atribut nama, Aku kira. Sebuah fenomena manusia yang menghendaki sebuah “beda”. Sebuah cara dalam bertahan dan berkembang. Atau mungkin juga, kehendak untuk menjadi indah dan menarik untuk yang “beda”.

Dari Catatan Lampauku dengan sedikit perubahan
Tertanggal 29 Desember 2005

Salam Damai di Hati

Haqiqie Suluh

Iklan

13 Responses to “Humanisme dalam Pikiranku: Apakah itu?”


  1. 1 alex Sabtu, 15 September 2007 pukul 7:44 pm

    Susahnya kalau Humanisme dikait-kaitkan dengan hal lain. Aku jadi ingat dulu pernah baca opini bahwa Humanisme adalah warisan dari kebudayaan yang dirancang oleh Freemasonry….
    Lalu dikatakan bahwa John Lennon adalah contoh perfect untuk humanis yang sekaligus atheis dan karena itu adalah HARAM.

    Lha… saya ini juga sedikit-banyak humanis, tapi muslim. Apa saya juga jadi haram? :lol:

  2. 2 ayonk Minggu, 16 September 2007 pukul 12:41 pm

    aku ga paham apa itu humanisme Mas, jd ingat kata IwaN Fals,URUS SAJA MORALMU URUS SAJA AKHLAKMU…..Jadi aku pikir yang terpenting adalah mengurus diri sendiri dulu, mulailah dengan merevolusi kalbu sendiri dulu Mas, gmn?

  3. 3 Sawali Tuhusetya Minggu, 16 September 2007 pukul 3:14 pm

    Saya kira humanisme masih lebih bagus ketimbang isme2 lain yang menihilkan nilai2 kemanusiaan. Paham ini juga bisa digunakan untuk mengimbangi gencarnya paham materialisme dan hedonisme yang cenderung memuja kesenangan dan kemanjaan sesaat sehingga melupakan nasib sesamanya yang menderita. Itu opini pribadi saya, lho, Mas, hehehehe ….D

  4. 4 nuragus Rabu, 26 September 2007 pukul 2:20 am

    Memang sulit.

    Mungkin dalam bahasa jawanya, “nguwongke uwong”. Namun standar “nguwongke” sendiri akan selalu abstrak dan kabur.

    Beberapa waktu yang lalu saya merasa harus berbaik pada seseorang dikarenakan kedangkalannya berpikir. Namun, sekarang ini saya ingin sekali memeberi pelajaran.

    Okelah, memang bisa saja dikatakan berbaik-baik tetap dengan “nguwongke”, dan memberi pelajaran pun tetap dengan “nguwongke”. Tapi, kok rasanya sulit. Ada semacam rasa getir ketikamengatakan itu. Rasa sok-sokan buanget. Kayak kita sangat sempurna saja. Dan menipu diri sendiri bahwa toh sebenarnya kita emosi juga dengan apa yang dia lakukan.

    Mungkin yang bisa melakukan hal semacam itu hanya orang-orang yang sudah sampai pada level tinggi dalam hal kesabaran dan hidup-nya.

    Wah, kok malah panjang?

    Ya gini mas. Opini saya…

  5. 5 Suluh Rabu, 26 September 2007 pukul 8:55 am

    @alex:

    humanisme dalam bentuk emosi hati, saya kira juga merupakan fitrah manusia…. naluri manusia…. penjahat aja kalau difilm film aatau wawancara penjahat di televisi cukup sering humanis kalau ma keluarganya atau familinya sendiri… suka menolong, iba, dan sebagainya

    selamat memproklamirkan diri sebagai seorang humanis

    @ayonk:

    yup, selamat mengurus diri sendiri ya mas… doakan saya juga bisa mengurus diri sendiri…

    @sawali:

    hmmm begitu ya pendapat anda…. masak sih lebih bagus dari isme2 yang lain?

    @nuragus:

    itulah mas… kadang hidup tidak bisa diterjemahkan dalam satu kungkungan isme atau humanisme… hidup bagi perjalanan diri seseorang atau bagi saya selalu saja penuh kejutan di rasa hati dan pikir yang kadang diriku ini tak mampu memahaminya…

  6. 6 Yudhistira Jumat, 17 Oktober 2008 pukul 11:43 am

    Humanisme itu memang tampak lebih baik dari isme2 yang lain. Namun mengandung bahaya terselubung. Dengan mengutamakan perbuatan baik pada sesama dan meyakini bahwa kesempurnaan hidup hanya dari berbuat baik, maka orang cenderung melupakan Tuhan dan para humanis dapat menjadi atheis, makanya haram. Pahamnya adalah bahwa tak ada kehidupan di balik kematian. Ini bahaya yang terselubung, sama seperti perampok yang masuk ke rumah dengan menyamar sebagai tamu. Akan ada krisis iman seperti di Eropa.
    Memang humanisme bertujuan baik, namun yang baik bukan berarti selalu benar. Tuhan ingin kita berbuat benar dan baik, bukan hanya benar atau baik. Panjangnya….

    • 7 toni Selasa, 1 September 2009 pukul 11:02 pm

      humanis = menjadi manusia (hakekatnya cuma itu).
      menjadi manusia berarti :
      * TIDAK menjadi TUHAN, maka ya jangan sok jadi “TUHAN”
      * lebih tua dr agama, maka agama tidak berhak “MENGELOMPOKKAN” kebenaran !!! (“mengelompokkan pandangan/cara” adl manusiawi, krn kita adl makhluk sosial), tapi membenarkan kelompokmu dr kelompok lain adl HAL LAIN !!!

      masih banyak lagi :))

  7. 11 vini Sabtu, 18 September 2010 pukul 9:57 am

    huaaa…..
    no command for this site..
    :))

  8. 12 aghisaturrohmah Sabtu, 19 November 2011 pukul 12:31 pm

    memang benar. humanisme adalah suatu paham yang memposisikan manusia sebagai manusia beneran. bukan manusia jadi-jadian. menurutku tidak berlebihan jika kita memposisikan semua manusia pada posisi tertinggi dibanding makhluk lain. karena dalam penciptaan manusia, kita dibekali ruhul haq (ruh ketuhanan) jadi bukan berarti menyembah diri sendiri , tapi memebedayakan dan memposisikan diri sebagai manifestasi citra tuhan

  9. 13 Hari Restumu Senin, 30 April 2012 pukul 12:18 pm

    Luar biasa,anda telah menguraikan dg Panjang lebar terkait Humanisme,dalam filosofi yang sangat sederhana,terima kasih atas Penjelasannya,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: