Menggugat Yang Maha, Menjernihkan Istilah?

Suatu saat (kira-kira 7 tahun yang lalu seingatku), dalam perjalanan pembacaanku terhadap kata pengantar sebuah buku (Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, karya: Jujun S. Suriasumantri), yang kemudian juga ditambah dengan perjalanan tanya jawab maupun diskusi-diskusi, Aku menemukan sesuatu yang dulu cukup mengguncangkan pikiranku. Sesuatu yang mengguncangkan itu merupakan sebuah proposisi atau pernyataan yang berbunyi,

Kalau Tuhan Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut.

Supaya tidak menimbulkan efek yang terlalu mengguncang bagi anda yang memiliki kepercayaan tertentu, Aku akan mengubah subjeknya menjadi lebih berkenan di emosi keimanan,

Kalau Superman Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut.

Aku pikir banyak orang yang telah menghadapi pertanyaan “sensitif” seperti ini, dan aku juga merasa sudah cukup banyak juga orang “yang merasa” mengetahui jawaban atau setidaknya memiliki kemampuan menjawab atas problem tersebut diatas. Akan tetapi aku harap anda menyimak apa yang akan aku sampaikan berikut ini.

Analisis

Letak Permasalahan atau ketergunjangan dari pernyataan tersebut adalah adanya subjek “Tuhan”, sekaligus adanya sifat Maha yang tergugat oleh proposisi tersebut–yang oleh karenanya aku lebih suka mengganti subjek tersebut menjadi seorang Superman, anda bisa juga mengganti dengan subjek lainnya semisal Superwoman, Ultraman, atau Paijo, atau Tukinem, atau bahkan nama anda sendiri–. Jika kita membaca proposisi tersebut Ke-Maha Kuasa-an yang diikuti oleh “tidak kuasa mengangkat batu” menjadikan suatu kesalahan atau kelemahan atas Ke-Maha Kuasa-an itu sendiri. Jika Paijo sanggup membuat batu maha besar (ia maha kuasa) namun syaratnya ia tidak sanggup mengangkat batu (ia tidak maha kuasa). Jika paijo sanggup mengangkat batu (ia maha kuasa), namun itu berarti Paijo tidak sanggup membuat batu yang maha besar ( ia tidak puasa). Berarti Ke-Maha Kuasa- tidak akan pernah menjadi milik Paijo. Paijo hanyalah seorang pembual jika mengatakan dirinya Maha Kuasa.

Lambat laun dengan beberapa diskusi atau debat, aku menemukan sebuah jawaban yang cukup “menyejukkan keimananku” saat itu atas proposisi atau problem diatas (jika anda melihat proposisi tersebut sebagai sebuah problem, jika tidak, silahkan jangan teruskan pembacaan atas artikel pendek ini). Jawaban itu muncul berdasarkan suatu kriteria kesalahan linguistik. Proposisi seperti diatas merupakan suatu kesalahan proposisi atau yang lebih dikenal dengan contraditio in terminis (kotradiksi dalam kata). Maha Kuasa yang kemudian diikuti dengan ketidak kuasaan– yang berarti saling menegasikan atau berlawanan– tersebut merupakan kesalahan logika bahasa atau linguistik. Dengan demikian pernyataan itu sendiri atau proposisi itu sendiri pada dasarnya merupakan sesuatu yang salah. Disini yang digugat bukan lagi Tuhan atau Paijo atau Superman, tetapi pernyataan itu sendiri. Bukan Tuhan atau Paijo yang salah atas pernyataan itu tetapi Pernyataan dalam dirinya sendiri (Proposisi an sich) itulah yang salah. Aku merasa bagi yang memiliki keimanan tertentu jawaban seperti ini sangat melegakan bagi anda.

Apakah dengan penjelasan diatas berarti sudah terjawab semuanya? Bagi Aku tidak. Implikasi dari contraditio in terminis atas pernyataan tersebut tidaklah lalu berhenti disitu. Dengan asumsi bahwa kita menganggap atau setuju bahwa pernyataan tersebut memiliki sifat kontradiksi dalam dirinya sendiri, aku akan menelusuri apa konsekuensinya.

Kemungkinan terjadinya kesalahan bahasa seperti itu adalah istilah itu sendiri yang salah. Contohlah kontradiksi berikut ini: Aku bisa menulis sekaligus tidak bisa menulis. Dalam kontek logika: Tidak mungkin entitas atau apapun memiliki sifat yang belainan dalam waktu yang bersamaan. Mustahil Anda sedang membaca artikel ini sekaligus, pada waktu yang bersamaan, juga tidak sedang membacanya, walaupun anda membacanya dengan ogah-ogahan atau sambil mengantuk, secara de facto anda sedang membacanya. Atau mustahil anda sekarang berada di Jogja sekaligus anda berada di Jakarta pada waktu yang bersamaan.

Maha Kuasa merupakan sebuah atribut sifat yang dinisbahkan ke objek: Tuhan, Superman, Paijo atau yang lainnya. Dalam dirinya sendiri kita bisa menggunakan kemustahilan dari contoh membaca dan menulis tersebut pada Maha Kuasa: Maha Kuasa membuat sekaligus tidak kuasa mengangkatnya. Jelas ini merupakan kesalahan. Kesalahan dari hal ini terletak pada istilah Maha itu sendiri. Karena Maha mencakup segalanya maka kuasa itu dinibahkan atas segala sesuatu, termasuk mengangkat batu. Bandingkan dengan proposisi berikut: “Paijo kuasa untuk membuat sebuah batu besar sehingga ia tidak kuasa mengangkatnya”. Karena kuasa dalam hal ini tidak diikuti oleh sifat Maha, maka kalimat atau proposisi tersebut tidak terdapat kesalahan logika bahasa, kuasa membuat tidak mengharuskan untuk kuasa mengangkatnya. Anda bisa kuasa membuat rumah sehingga anda tidak kuasa memindahkannya. Tidak ada yang salah dengan pernyataan seperti ini.

Kesalahan utama dari proposisi,” Kalau Paijo Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut”, terletak pada istilah Maha itu sendiri. Dengan demikian Maha tersebut merupakan sebuah sifat yang pada dasarnya mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri. Bukan pernyataan itu yang mengandung kontradiksi tetapi sifat atau istilah Maha itu sendiri yang mengandung kontradiksi secara linguistik.

Cooling Down

Istilah Maha bukan beranjak dari realitas pengalaman keseharian kita, melainkan pada keterkaguman metaforis benak atau keimanan kita. Hal ini membawa konsekuensi bahwa setiap entitas atau sesuatu yang diembel-embeli dengan sifat Maha akan menciptakan kontradiksi-kontradiksi bila dibawa ke ranah proposisi atau pernyataan yang berada dalam wilayah keseharian atau realitas sekeliling kita (dunia empiris).

Solusi yang memungkinkan dari penggunaan istilah Maha tersebut ada dalam bentuk metaforis atau bahasa puitis. Ke-Maha-an dalam kerangka metaforis atau liris puitis akan mampu ditangkap dalam penafsiran yang bukan mengandalkan analisis logika linguistik atau logika empiris. Dengan demikian Ia tidak ditujukan untuk menyentuh sensasi pikir atau nalar kita tetapi sensasi rasa dan kalbu kita (logika rasa hati atau intuisi): Apapun Entitas Subjeknya.

Sakitmu adakah karena Maha Rindumu?
Sampai tubuhmu tak sanggup menanggung Rindumu?
Selamat Jalan Kekasihku
Kokomu menunggumu

Sekedar Memahami
Haqiqie Suluh

Iklan

27 Responses to “Menggugat Yang Maha, Menjernihkan Istilah?”


  1. 1 agorsiloku Senin, 24 September 2007 pukul 6:45 pm

    Kalau di komputer mah sudah hang, karena 1 = 0 :D

  2. 2 Herianto Senin, 24 September 2007 pukul 9:10 pm

    Dulu saya juga make buku Jujun di atas…
    Sempat bingung juga dengan pertanyaannya, eh mas Suluh malah dah menjawab nya di sini…

    Mas, mungkin gak ada bilangan yng paling besar ? :D
    Kalo ada saya tambah dengan 1, pasti lebih besar dengan bilangan tadi…

    Kalo kasus ini gmana ?

    #Sorry malah nanya nih# :mrgreen:

  3. 3 Suluh Selasa, 25 September 2007 pukul 11:46 am

    @agorsiloku:

    Yup sifat Maha tuh error alias mustahil karena dalam dirinya sendiri ibarat memiliki identitas 1 juga identitas 0 sekaligus… atau memiliki identitas yang berlawanan dalam waktu dan ruang yang sama… Itu mustahil dalam ranah proposisi empiris.

    @herianto:

    Yup. Secara nalar itu sama dengan ketakberhinggaan… 1 tambah 1 dan seterusnya…. dalam penalaran kita itu sama dengan 1 itu berasal dari mana… kemunculan tiba tiba dari angka 1 ibarat muncul dari kehampaan… sama sama diluar logika kita (baca:manusia)

  4. 4 hoek Rabu, 26 September 2007 pukul 5:08 am

    “Kalau di komputer mah sudah hang, karena 1 = 0”
    ndak usa komputernya mas agor, otak saia pun ikot eror mbacanya…

    *eror mode ON*
    tapi mas suluh, saia ingin bertanya, maaf kalo fertanyaan saia remeh^^
    khan disitu ditulis “hoek yang maha kuasa membuat sebuah batu yang maha besar, sehingga ia tidak kuasa mengangkatnya”
    bukankah kalo memang maha kuasa pasti mamfu? semaha besar batu itu, tapi khan tetap saja hoek kuasa untuk mengangkatnya? karena bukankah maha itu tak terbatas? nah, berarti kekuasaannya pun tak terbatas? dan ketakterbatasan itu ngga mungkin dibatasi oleh maha yang lain? kecuali, kalo misalnya saia maha penyayang, tetapi juga saia maha pembenci, nah kalo itu bisa jadi kontradiksi interminis (saia jadi inget plajaran bhs endonesa waktu SMA^^). soale begini, hoek maha kuasa, dan batu itu maha besar, karena hoek itu maha kuasa, maka dengan kuasanya, batu yang maha besar itu diringan sehingga mampu diangkat, ataupun dengan kemaha kuasaannya si hoek, batu itu dibuat mengecil. lha kalo begitu begimana?ato postingan ini justru maksudnya itu? hehehe..maaf mas, muter-muter begini, soale saia binun he…^^

  5. 5 hoek Rabu, 26 September 2007 pukul 5:13 am

    ralat : diringan maksudna diringankan.
    dan maaph, penulisannya mungkin aneh dan sulit dibaca.^^

  6. 6 Suluh Rabu, 26 September 2007 pukul 8:15 am

    @hoek:

    kalau dia bisa mengangkat batu itu berarti dia tidak kuasa membuatnya, karena syarat kuasa membuat tuh kan tidak kuasa mengangkat (kan meliputi segalanya). Dulu ada juga jawaban seperti anda ini, tapi ini malah menegaskan kalau dalam satu waktu yang bersamaan, tuhan itu mustahil kuasa mengangkat sekaligus kuasa membuat. Kalau dari contoh hoek kan itu membutuhkan suksesi waktu yang berbeda alias tidak dalam waktu yang bersamaan.

  7. 7 hoek Rabu, 26 September 2007 pukul 7:55 pm

    hooo…jadi maksudna, kronologisnya itu begini ya
    hoek yang maha kuasa membuat batu yang maha besar, sehingga dia tidak kuasa mengangkatnya
    karena kekuasaan si hoek itu adalah membuat batu yang maha besar, tetapi tidak kuasa mengangkatnya, karena hoek tidak kuasa mengangkat dan tidak kuasa membuat dalam satu waktu yang bersamaan? begitu mas?

  8. 8 ibay Senin, 1 Oktober 2007 pukul 10:41 am

    Statemen yang hanya buang waktu saja, hanya pemuas otak berfilsafat. Seperti ilmu yang tidak berbuah amal. Kalau toh terjawab apa akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik dihadapan Allah?
    Padahal begitu banyak masalah untuk dipikirkan solusinya untuk kepentingan rakyat banyak. Tidak sekedar membuat statement yang hanya berbuah perdebatan tanpa akhir malah membuat kita semakin jauh dari-Nya karena ‘ukuran Intelektualitas’ otak kita meragukan sifat Maha Kuasa-Nya

  9. 9 Suluh Selasa, 2 Oktober 2007 pukul 9:51 am

    @hoek: mungkin begitu pendekatannya…

    @ibay: semoga istiqomah dalam membantu orang banyak.. dan semoga tidak membuang waktu juga dengan membuat komentar dari artikel pemuas otak ini….

    mas or mbak nya belum baca semuanya kan? kalau sudah coba liat kalimat saya diatas yang bunyinya,

    jika anda melihat proposisi tersebut sebagai sebuah problem, jika tidak, silahkan jangan teruskan pembacaan atas artikel pendek ini

    saya tambahi aja… jangan juga komentar ya sebelum membaca semuanya…. :smile:

    salam senyum buat mas yang saya kira sudah banyak membantu orang banyak… selamat berjuang demi kemanusiaan ya mas

  10. 10 abdulsomad Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 11:10 am

    Assalamualikum wr wb,
    itu cuma trik orang kafir untuk membingungkan orang Islam, orang Ber IMAN
    “Jangan berfikir tentang AKU, kata ALLAH tapi berfikir saja tentang cipataan KU”
    1 + 1 = 2
    1 – 1 = 10
    1 x 1 = ….?

  11. 11 Suluh Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 11:13 am

    @abdulsomad:

    weleh kok bawa bawa orang kafir sih… makanya saya ganti subjeknya bukan ALLAH atau Tuhan, tapi Superman atau Paijo… Harapan saya, agar orang orang seperti mas abdulsomad yang memiliki keimanan tertentu tidak begitu tergugat oleh penyataan ini. Mohon maaf jika telah menyinggung keyakinan atau keimanan mas abdulsomad

    dan kelihatannya kalimat

    Jangan berfikir tentang AKU, kata ALLAH tapi berfikir saja tentang cipataan KU

    tuh seide dengan dua paragraf terakhir yang saya tulis kok mas,

    Istilah Maha bukan beranjak dari realitas pengalaman keseharian kita, melainkan pada keterkaguman metaforis benak atau keimanan kita. Hal ini membawa konsekuensi bahwa setiap entitas atau sesuatu yang diembel-embeli dengan sifat Maha akan menciptakan kontradiksi-kontradiksi bila dibawa ke ranah proposisi atau pernyataan yang berada dalam wilayah keseharian atau realitas sekeliling kita (dunia empiris).

    Solusi yang memungkinkan dari penggunaan istilah Maha tersebut ada dalam bentuk metaforis atau bahasa puitis. Ke-Maha-an dalam kerangka metaforis atau liris puitis akan mampu ditangkap dalam penafsiran yang bukan mengandalkan analisis logika linguistik atau logika empiris. Dengan demikian Ia tidak ditujukan untuk menyentuh sensasi pikir atau nalar kita tetapi sensasi rasa dan kalbu kita (logika rasa hati atau intuisi): Apapun Entitas Subjeknya.

    Salam Haru Penuh Pengertian

  12. 12 eko Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 11:16 am

    jah kemanpuan otak segayung kepengin menampung lautan yang tampa batas jadi gini nehhh…….

  13. 13 Suluh Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 11:26 am

    @eko:

    bener mas eko… otak kita alias nalar kita gak mampu memahami yang tanpa batas demikian pula untuk memahami yang terbit dari kehampaan..

  14. 14 Kopral Geddoe Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 1:14 pm

    Rasanya tidak diperlukan sesuatu yang berkekuatan tidak terbatas untuk membikin dunia dan menjadi Tuhan. Perlu kekuatan yang besar, dan intelejensi yang dahsyat, tapi tidak mesti infinit.

    Lha atribut maha itu dari mana? Hasil imajinasi manusia kah?

  15. 15 Suluh Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 9:04 am

    @kopral:

    kok malah membicarakan dunia….? Apa artikel diatas bicara tentang membikin dunia…? kayaknya gak ada paragraf tuh yang kayak gitu? cuma membikin batu doang kok. :smile:

    Lha atribut maha itu dari mana? Hasil imajinasi manusia kah?

    kalau dalam pemahaman saya begini:

    Istilah Maha bukan beranjak dari realitas pengalaman keseharian kita, melainkan pada keterkaguman metaforis benak atau keimanan kita. Hal ini membawa konsekuensi bahwa setiap entitas atau sesuatu yang diembel-embeli dengan sifat Maha akan menciptakan kontradiksi-kontradiksi bila dibawa ke ranah proposisi atau pernyataan yang berada dalam wilayah keseharian atau realitas sekeliling kita (dunia empiris).

  16. 16 Kopral Geddoe Rabu, 10 Oktober 2007 pukul 11:05 am

    Ya kurang lebih saya juga berpendapat demikian. :P

  17. 17 Qzink! Kamis, 11 Oktober 2007 pukul 7:34 am

    Silogisme berputarkah ini? Btw, artikelnya menarik. :P Menggelitik rasa ingin tau.

  18. 18 Ahsan Kamis, 25 Oktober 2007 pukul 3:28 pm

    Tidak ada dan tidak akan pernah ada yang setara dengan Dzat / sifat Tuhan. Dengan demikian “ke-Maha-an” sesuatu tidak akan pernah sama apalagi malampui ke Maha an Tuhan.

    Kalau Tuhan Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut.
    maka dipastikan oknum pembuat batu tersebut bukanlah Tuhan.Dan jika Ia memang Tuhan Maka Ia harus lengser menjadi Tuhan dan mari kita sembah batu yang “maha besar” tadi menjadi Tuhan.
    karena sudah Fitrah kita untuk menyembah sesuatu yang ke Maha an NYA tidak terlewati.

    Dan saya masih ingat pelajaran Tauhid dasar bahwa Mustahil Tuhan Lemah. :)

  19. 19 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 8:53 pm

    Saya tahu jawaban ajaib untuk pertanyaan ajaib itu.

    Kalau anda guru agama (agama apapun terserah anda-lah ) dan kebetulan ada diantara murid anda ada yang sedemikian kreatif, maka ketimbang anda berkelahi dengan murid anda.

    lakukanlah langkah otak-atik gathuk berikut ini.
    Pertanyaan dari murid : Kalau Tuhan itu Maha Kuasa, apakah Tuhan dapat menciptakan batu sedemikian besar yang Tuhan sendiri tidak
    bisa mengangkatnya ?

    JAwab saja seperti ini : Tuhan melakukan sesuatu pasti ada alasannya, Lha orang melakukan sesuatu saja pake alasan kok. Kalau anggap saja kamu ini adalah Tuhan, apa yang membuat kamu mau membuat batu yang kamu sendiri tidak bisa mengangkatnya ?

    Dijawab sang murid seperti ini : Yah, mungkin agar manusia percaya sama Tuhan ( atau bisa juga dia menjawab alasan lain).

    Sekarang guru agama jadi punya kartu truf.

    Di jawab oleh guru agama :
    Jadi alasannya utamanya seperti itu. Agar kamu puas, agar manusia percaya. Iya kan.
    Kalau akar permasalahannya seperti itu. Yah saya, seandainya saya ini Tuhan pasti mudah sekali menjawab keinginan anda itu.
    Oke Anak-anak. Tuhan itu Maha kUASA, BUKAN ? Dapatkah Tuhan membuat manusia percaya kepadanya jika Tuhan Mau itu ?
    Dijamin seluruh kelas akan menjawab Dapat. Oke 100 untuk kemenangan anda.

    JAdi intinya : Tanya gantian Ngapain Tuhan harus repot-repot membuat batu yang dia sendiri nggak bisa mengangkatnya. Jangankan Tuhan, orang gila saja nggak bakal mau melakukan itu. He he he

    Cara mengatasi pertanyaan yang muter-muter kayak gitu : Ubahlah pertanyaannya itu dengan cara-cara tertentu sehingga pertanyaannya jadi nggak muter-muter lagi.
    Emang akal-akalan sih. Tetapi pertanyaan semacam itu kan juga sama akal-akalan. He he he. Filsafat bales filsafat. Akal-akalan bales akal-akalan.

    SALAM.
    Lovepassword say peace !!

  20. 20 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 9:05 pm

    Orang-orang yang merasa saleh jangan marah dong membaca artikel ini.
    Pertanyaan seperti ini masuk akal kok ?

    Coba bayangkan kalau ada diantara murid anda yang mengetes/menguji anda baik menguji kemampuan agama maupun menguji kesabaran anda (he he he ) dengan model pertanyaan bersayap seperti ini.

    Dan anda cuma menjawab dengan marah-marah karena sebenarnya anda tidak tahu harus ngomong apa. Di jamin deh – kemarahan anda yang tidak kreatif itu tidak akan membuat murid-murid anda tambah beriman.

    Agama memang mengajarkan orang untuk tidak memikirkan sesuatu di luar kemampuan. Tetapi yang namanya kemampuan setiap orang kan berbeda-beda.

    Ada orang yang mungkin jadi sesat beneran setelah membaca artikel model beginian atau artikel ini disalahgunakan untuk menyerang agama-agama. Tetapi sebaliknya saya rasa ada juga orang yang justru tertarik ingin mempelajari agamanya lebih dalam setelah melihat artikel model begini. Jadi tidak bisa digeneralisasi begitu saja.

    SALAM

  21. 21 harunsaurus Kamis, 11 Maret 2010 pukul 5:30 am

    apa itu ukuran? apa itu berat? apa itu materi? ada apa di balik materi?

    di dunia yang serba relatif ini, dapatkah kita menemukan sesuatu yang cukup ‘maha’ untuk menjawab pertanyaan itu?

    call this mindfuck or anything, tapi menurut saya Tuhan itu gak bisa diukur dengan ukuran manusia. Dia di luar pemahaman manusia. Dia berbeda dengan mahkluk-Nya. karenanya kita hanya bisa memahami-Nya lewat firman-Nya. mau mencoba ‘menguji’ Tuhan dengan otak kita yang notabene bikinan Tuhan. go ahead, try it. go fuckin’ try it. lol.

    ‘mempercayai’ adalah ujung dari pemikiran manusia. believe in something, n live with it. the rest of things? let what happen happened. that’s not your concern. it never be. nor u will be able to control it. just my two cents.

    • 22 Suluh Kamis, 11 Maret 2010 pukul 11:16 am

      kalau jawaban gini mah gak bisa menjawab pertanyaan tersebut mas: lebih kearah melarikan diri dengan “sesuatu yang dipercaya dan dikatakan kebenaran tak terbantahkan” (baca:firman-Nya).

      • 23 harunsaurus Minggu, 14 Maret 2010 pukul 1:38 pm

        kalo menurut saya: you can’t think something unthinkable.

        kalo saya melarikan diri, apa itu berarti Anda berjalan menuju ‘kebenaran’? jangan-jangan kita sama-sama ada di dunia tanpa arah. pergi kemanapun percuma.

        sifat Maha memang bukan ada di ranah empiris, dan menurut saya sama sekali bukan sesuatu yang salah untuk menerimanya. empiris mengacu kepada ‘pembuktian’, sedang apa-apa yang ada di luar dunia ini tidak bisa dibuktikan.

        saya ingin mencoba mengemukakan pendapat saya dengan pendekatan kejadian mukjizat. mukjizat, keajaiban, atau semacamnya, menurut logika/pemikiran empiris dianggap sebagai ‘sesuatu yang belum terjelaskan’. keberadaannya yang langka membuatnya diabaikan, namun hanya sedikit (kalau bukan tidak ada) manusia yang tidak mempercayainya. sebagai sesuatu yang belum selesai, mukjizat menyimpan setidaknya dua kemungkinan: fenomena alam(yang bisa digolongkan sebagai ‘kebetulan’), atau sesuatu yang diatur oleh entitas yang di luar pemahaman kita. sampai di sini, tinggal masalah kepercayaan. take it or leave it. apalagi banyak penjelasan tentang mukjizat, sesuai dengan iman. tapi gak ada yang bisa membuktikan mana yang benar dan mana yang salah. jadi, sekali lagi, semuanya kembali kepada ‘percaya gak percaya’.

        jadi, gak ada salahnya mempercayai sesuatu yang menyentuh sensasi rasa dan kalbu kita, meskipun tidak menyentuh sensai pikir kita. toh, rasa dan logika keduanya ada sebagai instrumen yang membimbing manusia menuju ‘kebenaran'(dan atau ‘kebaikan’).

        • 24 Suluh Senin, 15 Maret 2010 pukul 8:41 am

          gak ada salahnya mempercayai sesuatu yang menyentuh sensasi rasa dan kalbu kita, meskipun tidak menyentuh sensai pikir kita

          Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, silahkan jika itu membuat anda nyaman ;)

  22. 25 sahaweh Kamis, 11 Maret 2010 pukul 12:53 pm

    mo nanya nih….

    1. kata MAHA itu maksudnya tak tertandingi ya (apalagi terkalahkan)??
    berarti pemiliknya (subjek) cuma satu

    tinggal jawab aja yg maha besar tuh siapa ?? TUHAN apa BATU
    (jgn pgn dua2nya kali ya)

    kalo ngotot pgn dua2nya…ya jgn pake kata MAHA
    gt kan maksut artikel ini..(takut salah tangkep juga :))

    jd gw setuju..masalah tersebut merupakan kesalahan logika bahasa atau linguistik.

    harusnya:

    “Kalau Tuhan maha besar lagi maha kuasa, maka ia mampu membuat batu besar..dan Dia Kuasa mengecilkan otak jujun”

    thk n piss


  1. 1 Lebaran (Pesta menyambut kebebasan???) « wak AbduLSomad Lacak balik pada Rabu, 10 Oktober 2007 pukul 10:51 am
  2. 2 Kebebasan Berpendapat: Antara Paradok, Moralitas, dan Kehidupan « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Selasa, 11 Desember 2007 pukul 8:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: