Mitigate Freelance Agnotism: Sebuah Penjelasan

Dalam banyak bidang atau hal yang menyangkut masalah kepercayaan masyarakat, seperti keberadaan Tuhan dan cerita-cerita tentang alam setelah mati, termasuk surga neraka, hari pembalasan, malaikat, iblis, hukum tuhan, dan sejenisnya, saya akui bahwa saya agnotik. Posisi agnotik dalam wilayah ini mengharuskan benak saya untuk menerima bahwa hal-hal tersebut diatas berada pada level: tak terketahui.

Adalah benar bahwasanya keyakinan pada persoalan diatas merupakan urusan “keimanan” yang juga berarti “ketertundukan untuk percaya membabi buta”. Adalah benar juga jika ketakyakinan pada persoalan diatas juga merupakan urusan “keimanan” yang juga berarti “ketertundukan untuk tak percaya secara membabi buta”. Sedangkan saya sendiri sebagai pribadi [Freelance] menganut suatu pikiran bahwa yang tak terketahui biarlah menjadi sesuatu yang tak terjamah. Diam adalah solusi atas hal-hal yang memang bukan wilayah pengalaman dan pemahaman kita. Agnotisme adalah solusi nyata dari pemikiran saya yang seperti ini.

Meyakini bahwa keyakinan akan sesuatu itu bisa jadi benar merupakan sebuah tindakan atau keputusan yang tepat dan benar. Akan tetapi meyakini bahwa sesuatu itu memang betul-betul benar, bukanlah merupakan keputusan yang dapat dibenarkan. Setidaknya inilah posisi saya sekarang. Saya tidak mungkin menjadi seorang agnotik secara holistik. Agnotisme dalam benak saya merupakan suatu bentuk pertengahan atau setengah-setengah (mitigate), karena dalam beberapa hal saya juga menganut kepercayaan atau keimanan-keimanan tertentu, walaupun keimanan ini masih dalam sifat “bisa jadi” benar.

Kesemua argumen itulah yang kemudian saya sebut sebagai Mitigate Freelance Agnotism.

Iklan

11 Responses to “Mitigate Freelance Agnotism: Sebuah Penjelasan”


  1. 1 Kopral Geddoe Selasa, 16 Oktober 2007 pukul 9:17 am

    Kalau saya adalah seorang oportunis teologi. :mrgreen:
    Bisa berpindah-pindah, tetap berprinsip ‘tidak tahu’, sedikit stoik, namun tetap berusaha mengeksploitasi keadaan. :lol:

  2. 2 danalingga Selasa, 16 Oktober 2007 pukul 6:49 pm

    Mitigate Freelance Agnotism.

    Keliahatannya keren euy. :D

    Kalo saya penganut, sesuatu itu masihlah merupakan kemungkinan jika belum bisa di buktikan sendiri. Ndak ngaruh katanya kitab suci, apalagi hanya katanya orang. Itu kategori afa ya?

  3. 3 iman brotoseno Selasa, 16 Oktober 2007 pukul 11:26 pm

    itu kembali kepada kadar keimanan masing masing,..ada bebarapa metode pengajaran dan penyampaian agama, sehingga dari kecil kit amelihat Tuhan dengan pecut api di tangan kiri dan nereka di tangan kanan, ada pula yang menyampaikan Tuhan adalah sumber segala kasih..Tingkat pemahaman yang berbeda membuat rahasia itu semakin dekat dengan persepsi kita sendiri

  4. 4 Suluh Rabu, 17 Oktober 2007 pukul 9:19 am

    @geddoe: hmmm, lagi nyari nyari istilah yang cocok buat diri sendiri ya. Kuperhatikan mr geddoe berubah ubah. Pa lagi mencari? Welcome mr

    @danalingga: silahkan buat kategori sendiri mas dana. atau namakan aja terserah mas dana sendiri.

    @imam: rada gak nyambung ya ma artikelnya. Atau karena ada yang terguncang ketika membaca artikel saya? Ah saya tidak tahu

  5. 5 joyo Rabu, 17 Oktober 2007 pukul 8:09 pm

    Wah panjang bener istilahnya.

  6. 6 penny Sabtu, 20 Oktober 2007 pukul 12:05 pm

    Nice Writing…kalo gak salah ini tlsn anda yg k-2 kalinya/bbrp kalinya ttg agnotisme ya kak? Saya tdk bgitu paham&mengerti dgn teori ini. pngthuan saya ttg agama jg msh kurang&sayapun perlu banyak belajar&mengenal ttg agama yg saya anut. saya juga tidak menganut suatu aliran tertentu. tapi saya tdk menganggap diri saya adalah agnostik. saya hanya beriman aja dalam hal ini yakin bahwasanya Tuhan itu ada, begitu pula ciptaannya dan perintah serta larangannya. artinya sy gak mau berpikir ruwet, make it simple.
    Kembali lagi urusan keimanan seseorang adalah urusan orang itu sendiri dan Tuhannya(apa yang dia yakini). Yang penting kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan. Dan juga tidak hanya mencari jawaban tentang Tuhan&agama secara letterlook/pustaka/pemikiran kita sendiri aja, mungkin bisa menanyakan kepada orang yang lebih mengerti meskipun itu bukan sesuatu pekerjaan yang mudah.
    saya suka dengan pemikiran anda, Tapi entah pula apakah agnotisme seterusnya menjadi sebuah solusi nyata dalam pemikiran anda?
    Maaf jika perkataan / koment saya menyinggung penulis atau pembaca lain.

  7. 7 joyo Sabtu, 20 Oktober 2007 pukul 9:20 pm

    @suluh
    mas ijin komentari komen ya

    @penny
    menurut saya, ini menurut saya lho, beragama secara formal itu malah gak simple. rumit, penuh aturan dan tuntutan ini itu.
    hehehe Salam

  8. 8 Suluh Minggu, 21 Oktober 2007 pukul 9:44 am

    @joyo:
    monggo mas… btw… beragama emang rumit kok… :smile:

    @penny:

    semoga cepat sembuh memar n trauma habis guling-guling ama bus…

  9. 9 penny Kamis, 25 Oktober 2007 pukul 5:29 am

    @suluh
    kak…nuwun sewu numpang komentar lg ya..
    memarnya ud hampir ilang berkat tipsnya, makacih.. :-)
    @joyo
    mnrt sy juga mas..hehe…kalo kita yg mngerjakan merasa nyaman ama aturan n perintah agama itu, kenapa harus dibikin rumit? kalo gak nyaman ya..ndak tau terserah mas he..he.. salam juga.. :-)

  10. 10 Mike Edward Selasa, 23 Juni 2009 pukul 9:55 am

    Ini loh..Ini loh yang status yg saya CAri!..Makasih ya Mas udah ‘nyiptain’ istilah ini! Pemahaman saya seperti ini,cuman bingung menyampaikan keadaan saya seperti apa.,,Sampai Saya temukan istilah ini!ehehehehehe..

  11. 11 heightskie Senin, 14 Desember 2009 pukul 12:00 pm

    saya merdeka terhadap semua istilah…
    karena dunia ini bulat dan Tuhan menciptakan kehidupan dan semesta ini tidak dengan melempar dadu alias semua terukur, jadi semua harus dalam pemahaman kesadaran terukur dan Dia Maha Adil.
    Pemahaman itu semudah kerikil jatuh ketika anak kecil, pastor, kyai atau apalah luput dari pegangan tangannta…
    salam . be happy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: