Yang mistik itu bukan bagaimana dunia itu mengada, tetapi fakta bahwa dunia itu ada

Yang mistik itu bukan bagaimana dunia itu mengada, tetapi fakta bahwa dunia itu ada. (Ludwig Wittgenstein)

Kelahiran manusia alias kita sendiri misalnya: Dari pembenihan ovum dan sperma yang kemudian berkembang menjadi janin dan akhirnya dalam beberapa bulan kedepan, jika tidak ada halangan, sebuah jiwa dan tubuh terlahir ke dunia. Bercermin dari pengetahuan dan pengamatan indera kita atas pengalaman atau kejadian orang lain yang kita identikkan dengan pengalaman atau kejadian kita sendiri, kita mengetahui bahwa kita lahir dari sebuah rahim dan berkembang dengan sebuah kompleksitas yang sering tidak kita mengerti. Namun, kita juga tahu bahwa ada tahapan-tahapan tertentu dalam perkembangan kehidupan manusia yang memiliki kesamaan satu sama lain. Dalam arti tertentu, seperti ilmu kedokteran atau kebidanan, kita akhirnya memiliki pengetahuan mengenai bagaimana manusia itu lahir.

Hal tersebut mengindikasikan epistemologi kejadian atau kemunculan dari manusia. Sebagai sebuah jalan epistemologi dalam menjawab kata “bagaimana”, sesungguhnya tidak ada yang mistik atau diluar pengalaman atau transenden dengan cara seperti ini. Yang menjadikan kita dalam dirinya sendiri sebagai sebuah pengalaman mistik atau transenden adalah fakta bahwa kita itu ada dan memiliki kesadaran. Maksudnya adalah yang tidak terpahami dan tak tersentuh pemahaman adalah fakta bahwa adanya dunia yang didalamnya kita mengada, bukan atas bagaimana dunia itu mengada atau bagaimana kita mengada di dunia. Namun sering kali keterkaguman rasa kita bukan beranjak dari fakta bahwa dunia itu ada melainkan pada bagaimana dunia itu ada, ini sepertinya merupakan keterkaguman yang gegabah atau tergesa-gesa..

Umpamakan sebuah lotre yang cukup banyak. Sebanyak alam semesta juga tidak apa apa, asalkan anda mampu membayangkannya. Setiap lotere tersebut mempunyai identitas angka yang berbeda satu sama lain alias tidak ada yang memiliki kesamaan antara lotere satu dengan lotere yang lain. Kemudian ambilah salah satu dari tumpukan lotere sebesar alam semesta itu. Pada tiap kali pengambilan kita akan menemukan sesuatu yang baru yang lain dari pada yang lain karena pada dasarnya lotere tersebut memang memiliki perbedaan significant,” Wow, aku menemukan lotere ini! Ajaib, lotere ini berbeda dengan yang lain!. Demikianlah setiap kali pengambilan kartu lotere kita akan menemukan keajaiban karena adanya perbedaan.

Sekarang umpamakan anda menemukan barang di alam semesta ini yang belum pernah ditemukan oleh orang lain atau belum dikenal. Katakanlah seekor makhluk dari planet saturnus. Atau bahkan galaksi yang sangat mirip dengan galaksi bimasakti, atau bumi bumi yang lain. Atau anda menemukan suatu partikel tertentu yang belum pernah diketahui dalam fisika kuantum. Atau anda menemukan salah satu spesies tanaman di hutan irian jaya yang belum pernah terdaftar dalam daftar tanaman yang diketemukan di dunia. Atau anda menemukan minuman dingin yang mampu membasmi virus AIDS atau HIV. Tentu kita akan terkagum-kagum. Wow, Aku menemukan bumi! Wow, Aku menemukan obat HIV.

Demikianlah sesungguhnya yang terjadi. Alam semesta memberikan dirinya apa adanya. Dan ketika kita menemukan sesuatu yang baru seperti menarik kartu lotere yang berada dalam tumpukan. Pantaskah kita terkagum-kagum kembali? Ibaratnya, kita seperti anak kecil atau anak balita yang sedang terkagum-kagum dengan trik dan aksi sang pesulap yang sedang menarik salah satu kartu lotere.

Yang baru yang terkini sesungguhnya adalah yang “ada”. Baru ternyata hanya konstruksi dalam pikiran dan pengalaman kita, karena bagi yang “ada” semuanya sama: tak ada “baru” tak ada “lama”.

Salam Penuh Ketakjuban Atas Yang “ADA”

Haqiqie Suluh

Iklan

2 Responses to “Yang mistik itu bukan bagaimana dunia itu mengada, tetapi fakta bahwa dunia itu ada”


  1. 1 Junarto Imam Prakoso Rabu, 17 Oktober 2007 pukul 6:54 am

    Menarik nih.

    Tapi apakah dengan demikian tidak ada “yang ada mengada dari yang tiada?” Meskipun kelahiran manusia memang demikianlah adanya, bagaimana menjelaskan jumlah manusia semakin banyak ya?

    Bintang-bintang yang selalu lahir dan mati apakah mereka satu gagasan tentang “yang ada.”

    Saya pikir yang ada itu tidak statis. “Bagaimana” tetap fakta.

    Mohon maaf kalau nggak nyambung. Maklum awam.

  2. 2 Suluh Rabu, 17 Oktober 2007 pukul 9:59 am

    Mengada dari tiada tuh tak terjangkau logika alias diluar nalar alias tidak rasional. Demikian pula mengada dalam ketakberhinggaan alias sudah dari sononya ada ini juga diluar nalar. Problem ini yang dinamai antinomi oleh Kant. Keduanya tidak mampu dijangkau oleh penalaran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: