Memilih Cinta atau Keluarga?

Pernah ngebayangin atau mengalami suatu kondisi dimana anda dijodohkan oleh keluarga anda namun ternyata dibalik perjodohan itu tersimpan ganjalan dihati bahwasanya anda tidak menyukai calon pasangan anda? Atau mungkin anda telah bertunangan dengan seseorang namun ternyata ditengah jalan akhirnya anda menemukan seseorang yang lain yang sebenarnya dalam hati anda katakan sebagai “cinta sejati anda”?

Seseorang atau beberapa orang pernah mengirimkan email kepada saya dan dengan nada penuh emosional ia menceritakan kondisinya seperti diatas. Semenjak kecil beliau ini disibuki dengan imaginasi cerita bahwa kelak ia akan menemukan sang “Pangeran” dan akan hidup bahagia bersamanya dalam cinta dan kasih sayang. Namun, realita dan lingkungan memang berkata lain. Pangeran cinta hanyalah kontruksi emosi cerita yang masuk ke bawah sadar kita dan kita terpengaruh dengan khayalan itu. Demikian pula sebaliknya, kekuatan dorongan atau tekanan emosional dari orang-orang sekeliling kita yang menghendaki atau memaksakan “kemauannya” ke kehidupan kita juga menjadi khayalan bawah sadar. Benturan antara yang satu dengan yang lain terjadi dalam konflik ranah batin atau sanubari kita.

Sering dan amat sering, kemenangan hadir dari pihak mereka yang “membentuk hidup kita atau istilah mereka: menginginkan kebahagiaan bagi diri kita”. Sering pula kita dalam hati berkata: “Apa yang mereka tahu tentang diriku dan kebahagiaanku!!”, sembari diucap dalam hati dengan nada kesal dan jenuh. Tapi sebenarnya atau sesungguhnya kita sendiri tidak pernah tahu “Apa diriku dan apa itu kebahagiaanku” demikian pula dengan “mereka”.

Ketertundukan kita pada “mereka” sebenarnya lebih pada “kenyamanan akan keberlangsungan hidup kita bersama “mereka”. Dengan menyetujui “mereka” setidaknya kita bisa meredam gejolak emosi “mereka” dan memberikan “mereka” secercah harapan kebahagiaan. Kebahagiaan dari pandagan “mereka”.

Terkadang memilih meninggalkan “mereka”, dan menjalani kehidupan yang “berkebalikan” dengan kemauan mereka juga bukan lalu mewujudkan “imajinasi” cinta sejati atau kebahagiaan sejati bersama sang “Pangeran”. Kebahagiaan bersama Pangeran atau Putri Kayangan, tentunya diimbasi dengan ketakbahagiaan karena pertentangan dengan “mereka” di lain pihak.

Mungkin saja sekarang kita bisa berkata bahwa “aku akan memilih Cinta dan Pangeranku”, namun mungkin juga lain kali kita akan menyerah bersama dengan kemauan “mereka” dan memilih mengorbankan “Pangeran” kita.

Hidup itu unik dan kadang menarik. Terutama dalan Cinta dan Keluarga. Terutama dalam gejolak rasa dan suasana. Tapi semenarik apapun itu Hidup ia akan tetap menciptakan “duka dan lara” di rasa hidup kita. Entah duka yang lama atau luka yang lekas bergegas lepas. Entah lara mereka atau lara hati sanubari kita. Dan teramat mungkin suka kita juga menjadi suka mereka.

Untuk Rembulan dalam dingin Bulan November

Haqiqie Suluh

Iklan

15 Responses to “Memilih Cinta atau Keluarga?”


  1. 1 Toga Rabu, 14 November 2007 pukul 7:31 pm

    Hidup memang selalu saja tentang menjatuhkan pilihan. Begitu sulit, hingga kadang kita terpaksa memilih untuk tidak memilih.

  2. 2 Toga Rabu, 14 November 2007 pukul 7:32 pm

    Hah? Pertamax? Di blog sekeren ini?

  3. 3 d_sall Kamis, 15 November 2007 pukul 6:07 pm

    apa bedanya cinta dan keluarga?
    keluarga juga mencintai kita kan?
    keluarga juga kadang penuh lara,cinta juga. sama saja
    tapi lebih lara cinta deng,kek sekarang….
    cinta itu lebih lara.
    gak percaya?!

  4. 4 mia Selasa, 20 November 2007 pukul 10:41 am

    mencintai tdk harus memiliki…kita hrs belajar mencintai pujaan hati kita tanpa ada keinginan tuk memilikinya krn kita gak tau apa dia jodoh kita kelak. biar kita nggak terlanjur sakit hati juga nantinya kalo dia nggak ditakdirkan milik kita.
    nggak tau apa kita bisa, tergantung masing2 diri kita.
    sebagai seorang cewek saya juga mungkin memikirkan apa yang anda rasakan. gimana kalo kita dijodohkan? Nggak semua perjodohan itu menyakitkan. Seringkali pilihan ortu kita itulah yang terbaik bagi kita. karena mereka tau kita sejak kita kecil. Menurutku sebagian “besar” perempuan yang aku kenal memilih pasrah jika dia dijodohkan karena mereka tdk ingin menyakiti prsaan ortu mrk mskpn mgkn dia sndr yg skt. Dan mungkin untuk membalas kebaikan ortu mrk slm ini yg menyayangi mrk. Mgkn mas tdk setuju dgn perjodohan karena mas belum pernah melihat orang yg berbahagia meskipun djodohin. Sayapun mungkin lebih setuju dijodohin krn saya yakin ortu saya tau apa yg terbaik buat sy.
    Apa mungkin pacar mas yang dijodohin atau mungkin mas yg dijodohin he…he…he…maaf… :-) semoga anda mendapatkan yang terbaik.
    salam kenal. mia.

  5. 5 mia Selasa, 20 November 2007 pukul 10:49 am

    ups baru sadar kalau kebanyakan nulis…pareng…….

  6. 6 Ngangsu Kawruh Minggu, 25 November 2007 pukul 1:11 pm

    Hidup memang terlalu banyak pilihan……….
    Cinta adalah rasa…….

  7. 7 penny Senin, 26 November 2007 pukul 9:51 am

    sering ngebayangin, malah pengen tau gmn rsnya ditunangin he…he… :-) tp setau sy di klrg sy gak ada tradisi ‘ditunangkan’. kita diberi kebebasan dalam memilih calon pendamping tapi itupun pd akhirnya harus ttp melalui prse7an ortu&klrg pstnya.
    tapi kl emg kita ditunangkan tanpa adanya prsaan suka/cinta dr kita..entahlah..sedih bgt pasti, tp perasaan (suka/tidak) bisa berubah setiap waktu.
    semoga diberi kesabaran.
    salam haru dariku bwt anda.

  8. 8 weni Sabtu, 8 Desember 2007 pukul 8:26 am

    kita tidak akan pernah tau persis apa yg terbaik untuk kita…
    membuat pilihan berikut menanggung resiko nya, itu (harusny) sudah sepaket.

    tp biasanya kel akan tetap menerima (mencintai) kita meski seburuk apapn tlah kita lakukan.

  9. 9 Anwar hidayat S.Kom Senin, 10 Desember 2007 pukul 9:35 am

    ya memang hidup adalah pilihan, apapun itu kita harus siap menanggung resiko dari setiap langkah kita, walau itu menyakitkan.

    Bodoh jika kita mau melangkah tanpa menganalisa apa yang akan menjadi resikonya.

    maaf. memberi masukan seperti itu

  10. 10 kit see chau Senin, 10 Desember 2007 pukul 4:28 pm

    menikah tanpa cinta hdp akan menderita

  11. 11 pekun Sabtu, 9 Februari 2008 pukul 4:43 pm

    hidup memang pilihan sulit.
    tapi sesulit apapun itu kita tetep harus memilih.
    prinsipnya my life my rule my style.
    so nikmatilah hidup

  12. 12 me Jumat, 29 Agustus 2008 pukul 8:29 pm

    saya setuju dengan coment temen2 diatas….. pada intinya hidup adalah pilihan yang kadang orang akan memilih untuk tidak memilih…apalagi istilah perjodohan memang sangat sulit untuk dipecahkan, dimana kita berada pada posisi yang tidk enak,,, orang tua dengan logikanya dan kita dengan rasa dan cintanya…..semuga tuhan memudahkan jalan kita semua…aminnnn

  13. 13 mey Kamis, 31 Desember 2009 pukul 10:52 am

    mank she hdup itu harus memilih’tapi kan bukan berarti hidup itu pilihan,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: