Berkawan dengan Statistik, Berbohong dengan Statistik

Siapapun yang berkecimpung dalam dunia pendidikan maupun dunia ilmu pengetahuan, entah itu dalam ekonomi, sosial, psikologi, biologi, pertanian, moral, fisika, kimia, arkeologi, antropologi dan lain sebagainya, tidak akan mampu mengingkari akan guna dan pengaruh dari statistik.

Statistik hadir dalam sebuah upaya untuk mempermudah “pemahaman” , “pengamatan dan  “perubahan” sesuatu hal atau proses. Dengan hitungan rumit dan seringkali tidak diketahui atau malah sering kali diabaikan “dari mana asal” sebuah persamaan statistik, statistik telah menjadi suatu bagian dari “gaya pikir dan gaya hidup” manusia saat ini.

Apakah kita sering mempertanyakan kenapa sebuah populasi harus ditentukan dengan analisis statistik chi square tidak dengan yang lainnya. Dari mana sesungguhnya persamaan chi square itu berasal? Kenapa sebuah persamaan atau kumpulan data harus dianalisis dengan analisis Pearson bukannya Spearman. Darimana analisis statistik Pearson itu berasal dan bekerja. Kita, atau lebih tepatnya saya sendiri, sering mengabaikan asal mula dari suatu persamaan statistik.

Mencoba Berkawan dengan Statistik

Apapun itu persamaan statistik dan apapun itu juga fungsi dan gunanya, hanyalah merupakan sebuah pendekatan akan sebuah data yang akan dipahami dan dianalisis. Kebergantungan atas “berhasil atau tidaknya” sebuah analisis sering bergantung pada “bekerja atau tidaknya” statistik itu dalam aplikasi langsung (praktek langsung). Dengan demikian “statistik” pada dasarnya bukanlah sebuah teori atau sebuah pisau tunggal yang dengannya kita akan memahami apa yang terjadi. Statistik hanyalah sebuah alat analisis “praktis” bukan suatu upaya memahami “proses kausalitas”.

Salah satu yang paling menggemparkan dalam dunia “fisika kuantum” adalah “bekerjanya” analisis statistik untuk meramalkan sebuah proses atau kejadian, “tanpa” kita harus mengetahui “apa dan bagaimana” proses itu terjadi. Bagi para pencinta ilmu fisika kuantum tentunya sudah mengenal namanya “ketidakpastian” Heisenberg, yang bersebrangan dengan fisika kausalitasnya Einstein. Dari sanalah Einstein mengemukakan sebuah pendapat “Tuhan itu tidak bermain dadu” demi menyangkal atau mempertegas posisinya melawan “statistik ketidakpastian” Heisenberg. Bermain dadu berarti bermain “statistik” dan kata Einstein “Tuhan tidak mungkin melakukannya dengan alam itu sendiri layaknya Ia sedang bermain dadu”.

Ketidakpastian Heisenberg masih kuat bercokol dalam benak para saintis atau ilmuan, sehingga, membuat saya sendiri sampai berpendapat bahwa, inilah prestasi terbesar ilmu statistik dalam mencoba “mempengaruhi cara pandang” para ilmuan. Statistik tidak lagi menjadi ilmu kedua dalam fisika yang “hanya” dipergunakan untuk menguji atau menverifikasi “teori-teori atau postulat-postulan atau hukum-hukum fisika”, tetapi statistik telah menjadi sentral ilmu dalam fisika itu sendiri. Mengagumkan bukan?

Berbohong dengan Statistik

Statistik yang sering kali sangat membantu kehidupan praktis manusia untuk menganalisis sesuatu, bisa juga dibalikkan oleh orang tertentu untuk “menipu” atau “menyamarkan” sebuah analisis atau data. Artinya  disini adalah, statistik hanyalah sebuah alat, dimana sebuah alat bisa berguna secara positif dan bisa juga berguna secara negatif. Statistik bisa digunakan untuk mencurangi, menipu dan sejenisnya, namun di sisi lain statistik bisa digunakan juga untuk memperbaiki, membangun dan mengembangkan.

Contoh kecurangan atau kebohongan yang paling sering dilakukan oleh “praktisi statistik” (bukan oleh “statistik itu sendiri”) adalah dalam bentuk diagram-diagram atau tabel tabel yang mengulas kenaikan atau penurunan suatu data atau hal atau proses. Contohnya berikut ini.

Telah diketahui bahwa ada kenaikan sejumlah 10% dari hari kemarin sebuah data penjualan. Kenaikan 10% ini jika tidak dibandingkan atau ditelusuri dengan data-data yang lain bisa jadi merupakan sebuah “perbaikan atau keuntungan”. Akan tetapi coba lihat kelanjutannya. Jika kecenderungan kenaikan perharinya sebuah data penjualan adalah 50% atau lebih, maka kenaikan sejumlah 10% berarti sebuah “kemunduran atau kemerosotan tajam.

Hal lain yang bisa menjadi contoh adalah sebagai berikut. Ada sebuah data penjualan atau apapun itu. Kemudian buatlah sebuah diagram balok dengan data tersebut. Misal data pertama terjual 100.000 buah karung beras. Nah data penjualan di hari kedua sejumlah 100.010. Jika data tersebut dibuat balok dan diperbesar gambarnya berpuluh kali, selisih 10 karung yang sedemikian kecil tersebut kemudian akan tampak sebagai sebuah pertambahan signifikant.

Kebohongan ketiga adalah tidak sesuainya analisis data dengan pisau analisis statistik itu sendiri. Sebuah data “sering kali” hanya direka-reka atau ditebak memiliki suatu distribusi tertentu, semisal distribusi normal (bagi para pencinta statistik pasti mengetahui hal ini). Nah ternyata secara faktual distribusi data yang terjadi bukan merupakan distribusi normal. Nah ketika data tersebut dianalisis maka akan terjadi kesalahan yang sangat signifikan dalam banyak hal. Sedangkan kita sebenarnya “tidak akan pernah tahu” distribusi apa sesungguhnya dalam sebuah data: terutama data yang sedemikian massif atau banyaknya.

Sebuah iklan yang sering muncul ditelevisi dengan mengatakan sebanyak “bla bla bla” orang mengidam penyakit “bla bla bla” dari sebanyak “bla bla bla”. Anda tentu sering melihatnya bukan. Hasil akhir yang ditampilkan dalam iklan tersebut merupakan hasil akhir yang diminimalisir. Sebuah penelitian sampai pada kesimpulan tersebut haruslah menggunakan prosedur tertentu yang cukup rumit. Mengklasifikasikan respoden dari tempat tinggal, umur, lokasi, jumlahnya, analisis statistiknya dengan cara apa dan sebagainya. Hal tersebut tidak pernah ditampilkan. Padahal sebuah hasil statistik haruslah memenuhi persyaratan tersebut sebelum kemudian dipublikasikan. Kesimpulan tanpa proses adalah nonsense

Kelemahan utama dalam statistik yang paling riskan adalah statistik sering kali mengabaikan proses: sebab akibat dan sebagainya. Statistik hanya menunjukkan “korelasi atau hubungan” tetapi tidak menunjukkan “bagaimana sesuatu itu terjadi”. Statistik sangat erat kaitannya dengan penalaran induktif atau induksi, dengan demikian kelemahan dari statistik juga mengikuti kelemahan-kelemahan dari penalaran indutif.

Hikmah

Statistik dan turunannya akan selalu menjadi bagian dari hidup kita. Dengan hasil-hasilnya yang sedemikian mengejutkan, kadang kala statistik telah menjadikan kita “terbuai” atau “terdoktrik” oleh keindahannya. Statistik hanyalah alat bukan sebuah “kebenaran”, jangan selalu percaya pada hasil-hasil yang dimunculkannya. Ia bisa berguna namun ia bisa jadi menjerumuskan kita. Maukan anda bermain rollet rusia yang mempertaruhkan hidup anda? Semoga saja tidak.

Salam Penuh Kehati-hatian

Haqiqie Suluh

Iklan

1 Response to “Berkawan dengan Statistik, Berbohong dengan Statistik”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: