Kebebasan Berpendapat: Antara Paradok, Moralitas, dan Kehidupan

Dalam dunia blogoshepre, saya cukup suka dan senang dengan beberapa banner dan banyak postingan yang menyuarakan “kebebasan mengeluarkan pendapat” khususnya dalam bentuk tulisan. Saya setidaknya, secara pribadi, ikut mendukung gerakan kebebasan ini dalam blogoshere, dengan alasan berikut.

Blog memiliki kolom komentar yang memberikan keleluasaan untuk berdiskusi, berdebat, menyanggah dan mempertukarkan ide. Apapun itu bentuk tulisan yang akan dihasilkan oleh seorang penulis blog atau blogger, saya merasa itu adalah hak dirinya untuk menuliskannya. Ketika seseorang tidak suka atau memiliki pendapat atau sikap yang bersebrangan dengan sang penulis blog, orang tersebut dalam melakukan counter argument atau melakukan tulisan balik baik melalui kolom komentar maupun dalam blognya sendiri nanti. Hanya, tentu saja, jika sang blogger menggunakan hosting dan domain blog yang gratis, ia tentu saja harus mematuhi peraturan dari penyedia layanan blog tersebut.

Saya pikir, saya tidak akan mengelaborasi secara lebih lanjut mengenai hal tersebut, mengingat banyak postingan atau tulisan di blog-blog yang telah mengungkit atau membahas perihal ini. Silahkan Googling.

Paradoks Kebebasan Berekspresi

Ada sejenis paradok atau mungkin sebuah argumen yang melingkar dari suatu proposisi yang menyatakan mengenai kebebesan berekspresi atau kebebasan berpendapat. Kebebasan berpendapat mengingat berpendapat itu meliputi seluruh jenis pendapat, maka kebebasan untuk berpendapat bahwa “kebebasan berpendapat tuh harus dihapuskan atau dibungkam” juga termasuk dalam sebuah pendapat itu sendiri (yang berkontradiksi dengan esensi kebebasan berpendapat).

Disini lah letaknya sebuah proposisi contradictif interminis. Saya pernah membahas mengenai proposisi yang kontradiktif ini lewat tulisan di sini. Silahkan buka dan baca apa itu proposisi yang kontradiktif

Paradoks ini juga berlaku dalam banyak bidang “filosofis”, seperti filsafat positivisme logis dengan prinsip verifikasinya. Prinsip verifikasi yang mengatakan bahwa proposisi atau pernyataan itu bermakna jika ia bisa diverifikasi secara sintesis ataupun secara analisis. Prinsip verifikasi sendiri secara paradoks tidak bisa diverifikasi. Sehingga menurut sebagian orang, positivisme logis telah gugur secara filosofis. Padahal kalau menurut saya, hampir seluruh pemahaman logis filsafat pasti mengandung paradoks atau kontradiktif. Walaupun demikian, saya sudah pernah mengutarakan keberatan-keberatan saya atas filsafat positivisme logis ini disini.

Menurut pendapat pribadi saya, Kebebasan berpendapat kalau dibawa kewilayah penyelidikan logis khas filsafat pada akhirnya akan menemukan sebuah celah atau lubang kesalahan yang berupa paradoks, tetapi hal ini tidaklah begitu menggugurkan esensi dari kebebasan berpendapat itu sendiri. Kebebasan berpendapat adalah masuk dalam wilayah praksis kehidupan manusia. Sehingga sebuah celah yang sedemikian kecil bisa diabaikan.

Kehidupan praksis atau praktikal sehari-hari yang berelasi dengan kehidupan sosial dan sejenisnya merupakan wilayah hukum positif bukan wilayah perdebatan filsafat. “Kebenaran” kebebasan berpendapat tidak lagi menjadi urusan “logika” tetapi menjadi wilayah “praksis”. “Kebenaran” atau lebih baik dilabeli “Bekerjanya Kebebasan Berpendapat” merupakan urusan statistikal dan moralitas.

Logika yang bekerja menjadi logika praksis bukan logika analisis filsafat logis. Keberpihakan saya pada “Kebebasan Berpendapat” dibanding “Pembungkaman Ide atau Pikiran atau Pendapat” beranjak dari dalam moralitas saya sendiri. Saya pengen dihargai dalam berpendapat sehingga saya membutuhkan adanya sejenis Kebebasan dalam mengungkapkan pendapat. Saya berfikir banyak orang yang menginginkan hal ini. Inilah yang menjadi postulat pokok atau dasar pokok dan esensi dari “Kebebasan Berpendapat itu sendiri”. Jiwa egaliter juga mengalir di dalamnya.

Sebenarnya Paradoks Pembukaman Ide atau Penolakan Kebebasan Berpendapat jauh lebih banyak secara filosofis dibandingkan dengan Kebebasan Berpendapat. Pembumkaman Ide menghendaki secara logis bahwa segalanya harus dibungkam termasuk Ide atau Pendapat “Pembumkaman Ide” itu sendiri. Contradisi in terminisnya jauh lebih dalam dibanding contradiksi yang ada dalam Kebebasan Berpendapat. Pembumkaman Ide jika dilakukan maka Ide Pembumkaman Ide itu sendiri seharusnya tidak pernah Lahir. Segalanya harus dinihilkan! Jika ada pembatasan atas hak seseorang yang dipilih mana yang berhak dan mana yang tidak untuk berbicara, maka hal ini akan menimbulkan kontradiksi logis yang lebih banyak. Paling jelas muncul dari pertanyaan berikut: Kenapa anda boleh berpendapat sedangkan saya tidak? Kenapa dia boleh sedangkan saya tidak? Prinsip Pembungkaman Anda telah anda negasikan atau hapuskan pendapat anda Sendiri bukan? Jelas-jelas ini bertentangan dengan prinsip anda sendiri? Anda tidak layak berbicara jika anda menganut prinsip ini bukan? Dan sebagainya.

Secara moralitas diri, saya merasa, setiap orang ingin berpendapat, karena ia memiliki mulut, hati dan otak. Moralitas bahwa dirinya harus diam berarti menganggap bahwa orang lain juga harus diam dengan demikian tidak ada yang berpendapat. Ini mustahil bukan?

Bagaimana dengan Pembatasan Ide? Secara filosofis Pembatasan Ide atau Pendapat semakin membingungkan dan mengandung kontradiksi dimana-mana. Siapa yang berhak membatasi Ide? Siapa yang berhak berbicara dan yang tidak? Darimana kriterianya? Siapa yang menentukan kriteria? Jika saya merasa bahwa saya berhak untuk membatasi Ide orang lain, maka seharusnya orang lain berhak membatasi Ide saya. Nah hal ini semakin berkontradiktif. Apalagi kalau diterapkan dalam tataran praksis. Pembatasan Ide, jika itu dijalankan, akan lebih mengarah kepada Pembungkaman Ide atau Pendapat.

Becoming Liberal

Setiap orang berhak memiliki pendapat atau opini. Sekali lagi saya tegaskan: Berhak memiliki opini. Opini tidak berarti berperilaku. Moralitas yang menjadi turunan dari Keberpihakan atau Kebebasan Beropini atau Berpendapat mengandung arti bahwa Jika saya memiliki Kebebasan Berpendapat maka Orang lain pun Memilikinya. Dengan demikian wajib bagi saya untuk menghormati pendapat orang lain seberapapun buruk atau tidak setujunya saya.

Berdiskusi, berdebat, dan bertukar pikiran merupakan turunan lanjutan dari Moralitas Kebebasan Berpendapat. Hanya saja, seperti yang pernah saya tuliskan di tulisan saya mengenai Menjadi Liberal dahulu, ketika saya menemukan bahwa pendapat atau opini yang bersebrangan dengan yang bukan-saya, pada waktu berdiskusi, bedebat atau bertukar pikiran (bukan dalam bentuk fisikal atau kekerasan) sudah tidak menemukan jalan keluar, atau lebih sering secara nyata terlontar ide atau argumen yang SAMA yang diulang-ulang, maka inilah waktunya untuk mengatakan saya dan yang bukan-saya adalah “Berbeda dalam Berpendapat”. Dengan menjadi liberal saya harus siap mengakui bahwa yang bukan-saya memiliki perbedaan opini atau pendapat, dan yang bukan-saya berhak memegang dan miliki pendapatnya sendiri.

Ada sebuah kejadian sederhana, yang menurut saya unik, yang membuat saya sering tergeli-geli. Seorang yang ingin beragama “yang dianggapnya atau diyakininya” lebih dalam, ia memutuskan untuk menggunakan “kata-kata atau kalimat-kalimat, atau pakaian” yang identik dengan budaya atau bahasa “dimana agama itu berasal secara geografis”. Contoh paling jelas saya sebut saja penggunaan kata: Afwan (dalam sms disingkat Af1), Ukhti, Akhwat, Ikhwan, dan sebagainya. Kalau busana: ya yang bejubah lebar, mengangkat kain celana diatas lutut dan sebangainya.

Dengan menganut atau setidaknya berusaha untuk menghargai mereka, saya sekarang berusaha untuk“tidak pernah” untuk menyarankan mereka mengganti bahasa atau pakaian mereka, atau mengometari perilaku mereka secara langsung. Mereka punya pendapat dan keyakinan yang berbeda. Karena saya juga memiliki pendapat sendiri dan keyakinan sendiri, maka ketika saya membalas sms atau pendapat mereka, saya juga akan menggunakan kata-kata saya sendiri yang berbeda dengan cara mereka. Saya juga mengenakan pakaian yang berbeda dengan mereka. Saya disini berarti telah “menghormati” pendapat mereka.

Sayangnya, penghormatan saya yang demikian, sering kali (terutama jika mereka memiliki power atau kekuasaan), malah mendapat respon yang berkebalikan. Saya disuruh tidak hanya “menghormati mereka” tetapi disuruh “menyamai dan berperilaku” seperti mereka. Sungguh menggelikan sebenarnya. Namun, setelah saya jelaskan biasanya mereka akan mengerti posisi saya. Empati memang perlu dipersuasikan dan disebarkan, termasuk hal-hal yang sepertinya sudah umum dan wajar dimata kita, tetapi menjadi hal yang kurang baik dan jelek dimata mereka. Ah, semoga mereka tidak banyak yang demikian.

Kebebasan Berpendapat dan Kebebasan Berkeyakinan

Kita telah cukup banyak membahas mengenai Kebebasan Berpendapat. Saya kira sudah cukup untuk membahasnya di tulisan ini. Yang patut diberi suatu penjelasan lanjutan adalah Kenyataan dalam tataran kehidupan yang menganut Kebebasan Berpendapat akhirnya mau tidak mau juga harus menganut Kebebasan Berkeyakinan. Sekali lagi berkeyakinan bukan berperilaku. Kebebasan Berkeyakinan bukan Kebebasan Berperilaku.

Kebebasan Berkeyakinan mengandung arti yang hampir sama dengan Kebebasan Berpendapat. Saya memiliki keyakinan tertentu, Orang lain pun memiliki keyakinan. Keyakinan saya bisa sama dengan keyakinan yang bukan-saya, namun lebih sering keyakinan saya berlainan bahkan mungkin bersebrangan dengan yang bukan-saya. Sebagaimana saya harus menghormati Pendapat yang bukan-saya, saya dengan Menganut Kebebasan Berkeyakinan, juga harus menghormati keyakinan yang bukan-saya.

Kebebasan Berkeyakinan yang memiliki “porsi psikologis” yang lebih besar dibandingkan dengan Kebebasan Berpendapat. Dengan demikian jika Kebebasan Berpendapat atau Beride atau Beropini ini, berbenturan dengan esensi dari Kebebasan Berkeyakinan, maka sudah sepatutnya Kebebasan Berkeyakinan ini dijunjung lebih tinggi.

Maksudnya disini adalah kita boleh saja menghakimi, tidak menyetujui, atau mengatakan bahwa keyakinan yang bukan-kita salah dan tidak benar, namun kebebasan mengatakan pendapat ini hanya dalam ruang lingkup kita sendiri bukan ruang lingkup yang bukan-kita. Alasannya adalah Kebebasan Berkeyakinan menuntut kita tidak bebas untuk mengatakan ketidaksetujuan atas keyakinan mereka (jangan dipermasalahkan kontardiksi dalam kata atau contraditio in terminis ya, karena esensinya bukan itu, baca penjelasan awal mengenai hal ini di paragraf-paragraf sebelumnya). Anda boleh saya mengatakan kepada diri anda sendiri keyakinan anda paling benar dan paling bagus dan menganggap keyakinan yang bukan-anda salah dan semu, tapi itu hanya berlaku pada diri anda sendiri.

Adalah salah secara moral, jika anda kemudian menghujat, menghakimi, menuduh, dan menindas keyakinan yang bukan-anda, yang berbeda dengan anda. Atau bisa juga anda boleh mengatakan kelemahan, kesalahan, dan keburukan keyakinan yang bukan-anda, tetapi anda juga harus menerima jika yang bukan-anda mengatakan kelemahan, kesalahan dan keburukan keyakinan anda. Namun saya tidak menyarankan hal yang demikian. Alasannya secara psikologis manusia, hal tersebut akan membuat “suasana hati” kedua belah pihak menjadi “memanas “ atau “meruncing”. Yang berbeda dalam keyakinan tidak mungkin bisa dikompromikan. Yang terjadi adalah benturan dan kekacauan. Kecuali jika kita memang sudah terbuka dan terbiasa dengan kritik dan argumen, dengan demikian “secara psikologis”, benturan dan kekacauan bisa diminimalisir.

Kebebasan Manusia

Kebebasan Manusia lebih ditentukan pada alasan-alasan praktis atau praksis serta psikologis diri, maupun psikologis sosial. Interaksi-interaksi antara bermacam aspek dalam kehidupan manusia, yang menghasilkan suatu keputusan untuk memberlakukan suatu budaya Kebebasan Berpendapat maupun Kebebasan Berkeyakinan, pada dasarnya bukan tertuju pada logis tidaknya argumen Kebebasan Berpendapat atau Berkeyakinan tersebut. Alasan utama dari kehendak untuk menganut jiwa Kebebasan adalah dari dalam “moralitas” diri manusia.

Kebebasan hadir dari dan atas Nama Manusia. Manusia ingin Beraktualisasi, Manusia ingin Berekspresi. Ketika Keinginan itu ditentang atau dipenjara, maka Gejolak Psikologis untuk tidak menyetujui atau bahkan menentang sikap Pemenjaraan atas Kebebasan Beraktualisasi, Berekspresi, Berkeyakinan ataupun yang lainnya, akan terus digulirkan.

Perbudakan Badaniah atau Fisikal telah berhasil dihapuskan di hampir seluruh dunia manusia (setidaknya dalam hukum positif kemasyarakatan). Kini saatnya Perbudakan Hati dan Pikiran juga ikut dihapuskan.

Salam Haru Atas Yang Beda

Haqiqie Suluh

Iklan

17 Responses to “Kebebasan Berpendapat: Antara Paradok, Moralitas, dan Kehidupan”


  1. 1 Partisimon Selasa, 11 Desember 2007 pukul 9:04 pm

    Pertamaxxx… he..he…

    Wah saya setuju bangat dengan pandangan anda. Kalau semua kita berpandangan seperti ini, pasti tidak ada ribut2 di negeri ini karena perbedaan pendapat dan perbedaan keyakinan.

    Untuk perbedaan pendapat, saya rasa sangat di perlukan. Khusus nya dalam jika kita bertanggung jawab utk beberapa orang, berbeda pendapat akan menghasilkan pengambilan keputusan yang paling baik, paling rasional, paling win-win solution … dan bermanfaat bagi semua.

    Apalagi kalau kita berada di pemerintahan, wah perlu sekali itu perbedaan pendapat, sebagai penyeimbang bandul wewenang yang kita pegang supaya tidak liar, sebab kalau liar malah merusak segala hal yang telah terbangun dengan baik.

    utk perbedaan keyakinan, terutama perbedaan pilihan agama, termasuk juga utk orang yang tidak meyakini agama, saya rasa kita harus menghormatinya. Yach …saling menghormatilah kira-kira. Soalnya kalau masalah keyakinan dan agama ini susah di buktikan secara rasional.

    (Jadi ingat pernah baca komik, kalau gak salah dialog aristoteles dengan beberapa pemuda, kalau gak salah salah satunya jadi muridnya – plato ) – (kalau gak slaah ingat)

    Apalagi, kalau berbeda dan beragam bukankah lebih indah dari homogen?

    Baik beragama A, B atau C, atau tidak bergama harus kita hormati dan hargai, kecuali jika keyakinannya melanggar tindak pidana sesuai dengan hukum dan perundangan setempat.

    gimana?

  2. 3 memy Rabu, 14 Mei 2008 pukul 7:54 pm

    ga usah baca secara keseluruhan aku pasti ngedukung tentang kebebasan yang berwujut pada satu apresiasi tulisan karna percaya atau tidak dgn tulisa hampir bisa tertuang semua kebebasan yang mungkin kita ngerasa ga ada media untuk menapresiasikan,karena menurutku lebih mudah berorasi diatas kertas dari pada berteriak2 tetapi tak didengarkan,masalah perbedaan keyakinan tuh seharusnya bukan menjadi masalah,tapi yang menjadi masalah yaitu orang/pelaku/penganut keyakinan yang berusaha mengintimidasi seseorang yang bertujuan untuk menyamakan dengan dia,apa ya sebutannya aku ga tau,tapi yang baca ini mudah2 dapat meluruskan maksudku..karena buanyak banget kosakata dikepalaku yang tiba2 aja melebar luas ;)

  3. 4 Suluh Rabu, 14 Mei 2008 pukul 8:06 pm

    @memy: ayo berpendapat, aya menulis, ayo berekspresi dalam kedamaian antara yang beda dan tak sama…

  4. 5 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 9:48 pm

    “Paling jelas muncul dari pertanyaan berikut: Kenapa anda boleh berpendapat sedangkan saya tidak? Kenapa dia boleh sedangkan saya tidak? Prinsip Pembungkaman Anda telah anda negasikan atau hapuskan pendapat anda Sendiri bukan? Jelas-jelas ini bertentangan dengan prinsip anda sendiri? Anda tidak layak berbicara jika anda menganut prinsip ini bukan? Dan sebagainya.”

    Ya masalahnya kan ada perbedaan antara saya dan kamu.

    Masalahnya sama juga mengapa anda meletakkan kebebasan pada berpendapat bukan pada bertindak misalnya membunuh orang dsb?
    Bukankah itu juga menegasikan kebebasan itu sendiri ?
    Apa bedanya kebebasan berbicara dengan kebebasan bertindak ? Kalau dianggap berbeda – yah sama juga kan pasti ada bedanya antara “kamu dengan saya” dalam artikel anda itu.

    Intinya adalah karena kebebasan itu juga soal rasa yang standarnya tidak sama maka ada kemungkinan benturan antara dua rasa.
    Lha kebebasan itu sendiri bermacam-macam. Ada kebebasan bertindak, kebebasan ngomong, menulis, dll. Masing-masing kebebasan itu tetap berpotensi berbenturan dengan kebebasan orang lain.

    Kebebasan A dibatasi kebebasan B, dan lain sebagainya.
    Karena itulah dalam hidup bermasyarakat hak kita dibatasi oleh hak orang lain. masalahnya merumuskan itu lagi-lagi tidak mudah karena standard tiap orang berbeda-beda.

    Oke, sekian pidato saya Hari ini. Mudah-mudahan kalian semua pada ngantuk ya ?

  5. 6 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 10:28 pm

    @lovepassword: kok gak kasih solusi mas?

  6. 7 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 10:36 pm

    Lho harus ngasih solusi to ? Blaik aku. Kalau solasi sih punya. KAlAU solusi ? Duh …matik aku.

    Solusi yang memuaskan semua pihak saya rasa nggak bakal ada.

    Ada kok orang yang nggak suka kebebasan. Ada juga orang yang suka kebebasan-sebebas-bebasnya. Kebebasan kita dikendalikan oleh kebebasan orang lain. Justru yang saya pikirkan sekarang apakah ketidakbebasan kita juga bergesekan dengan ketidakbebasan orang lain.

    KALAU Solusi standard : Yah tentu pake norma kemasyarakatan atau apa yang dianggap benar oleh mayoritas.

  7. 8 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 10:42 pm

    @lovepassword: kalau memang solusi untuk semua pihak tidak bakal ada, menurut mas apa solusi yang terbaik? apakah norma masyarakat? itukah solusinya terbaiknya?

  8. 9 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:14 pm

    Kalau anda berpendapat dan pendapat anda itu anda sebar luaskan. Ya kalo menurut saya batasan apakah pendapat anda mau dianggap benar atau salah – itu ya orang lain. kalau orang lain itu banyak kita bisa menyebutnya masyarakat.

    Apakah suara masyarakat itu adalah batasan atau solusi terbaik ? Sekali lagi saya ngomong bahwa solusi yang benar-benar baik itu nggak ada.

    Yang ada adalah solusi yang sebisa mungkin diterima oleh lebih banyak orang. Dengan diterima oleh banyak orang, harapannya maka norma itu juga bisa batasan yang real dari bawah artinya memang benar-benar disetujui oleh masyarakat bukan sekedar solusi dari atas.

    Kendalanya : Kalau masyarakatnya semakin banyak maka mau tidak mau pasti ada prinsip keterwakilan. Keterwakilan itu belum tentu memuaskan pihak yang diwakili jadi ada kesenjangan lagi. Alasan lain : Suara masyarakat juga memang belum tentu benar. Saya mau ngomong soal agama, juga tafsir agama ada bermacam-macam. Lagi-lagi kembali lagi ke pemikiran manusianya.

    Memang tidak ada system apapun yang 100% baik di dunia yang fana ini. Gara-gara demokrasi atau apa yang saya bilang Norma Masyarakat – Socrates mati karena dihukum minum racun, meskipun socrates sendiri kelihatannya juga tidak menyesal karena kematiannya bisa jadi tumbal demokrasi itu sendiri.

    JADI sekali lagi menurut saya sistem yang baik 100% itu nggak ada.
    Tetapi setidaknya diantara alternatif yang terjelek, suara terbanyak bisa dijadikan alternatif yang menurut saya paling baik.

    Ok SALAM…..

  9. 10 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:30 pm

    tidak ada sistem yang 100% baik. Nice point. Itu intinya. Btw, socrates itu penentang demokrasi mas. Bahkan demokrasi itu yang membunuh socrates..

  10. 11 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:42 pm

    Socrates penentang demokrasi? Saya rasa ndak gitu yah. Socrates itu kan mendobrak system pengajaran (hubungan guru dan murid) pada jamannya. Tetapi dia nggak bisa dibilang sebagai penentang demokrasi. Apanya yang menentang demokrasi? Wong yang dia lakukan bersama-sama dengan murid-muridnya itu juga wujud demokrasi kok.

    By the way : memang intinya kan itu Kalau menurut saya tidak ada system yang 100% baik. Mengapa ? Karena ada campur tangan manusia dalam sistem itu. Dan kita semua, tidak sempurna bukan ?

  11. 12 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:52 pm

    Coba baca sejarah socrates lebih lengkap mas…

    Lho, kok jadi kesitu..?

  12. 13 lovepassword Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:17 am

    Anda punya saran buku apa yang bagus yang menurut anda harus saya baca ? Saya sih punya beberapa buku yang membahas tentang socrates. Jangan tanya saya judul bukunya ya ? Saya jelas lupa kalau tidak mencari-cari di lemari dulu.

    Yah karena yang kita baca adalah buku sejarah yang saya rasa pasti sedikit banyak ada opini penulisnya maka perdebatan apakah sebenarnya socrates penentang demokrasi atau tidak – juga mungkin sangat terkait dengan opini penulisnya. Silakan saja kalau anda berpendapat seperti itu.

    Tetapi saya setuju kalau socrates dibunuh oleh demokrasi. Yang masih debatable kan apakah socrates itu sebenarnya pro demokrasi atau tidak?

  13. 14 Suluh Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:24 am

    Socrates tu kontra demokrasi setidaknya bisa dirunut dari konsep dia tentang pemimpin. dia mengatakan seharusnya pemimpin itu seorang ahli filsafat dan sejenisnya. Hal ini sama sekali bertentangan dengan demokrasi yang bahkan rakyat jelatapun bisa memimpin. Setidaknya itu menurut saya.

  14. 15 Suluh Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:26 am

    Untuk buku, bisa baca karnya karya plato tentang socrates (dialog dialognya). Banyak tuh gratis di internet.

  15. 16 lovepassword Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:43 am

    OKE, THANX

    Salam….-

    Semoga Sukses dalam setiap langkah anda.

  16. 17 peni wsahyudi Jumat, 20 Maret 2009 pukul 11:57 am

    saya stju dengan anda, bahwa semua orang bebas berpendapat…..
    tetapi masalah nya,,,semua manusia pasti punya pendapat masing-masing dalam segi permasalahan apapun….dengan demikian pasti ada gejolak sosial dalam suatu pendapat…maka dengan demikian saya lebih setuju bila kita harus memahami suatu pendapat orang lain…jangan hanya selalu teguh dengan pendapat kita saja….dengan kita bisa memahami pendapat orang laen .
    maka kita bisa memahami mengapa dia berpendapat seperti itu….dengan jalan seperti itu maka kita bisa menghormati pendapat dia tanpa perbedaan pendapat semata….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: