Definisi, Fisika, Manusia dan Determinisme

Karena dalam pembahasan kali ini saya akan memberikan suatu penjelasan mengenai Determinisme dan Fisika, maka abaikanlah hal-hal dalam fisika yang berhubungan dengan fisika statistik seperti ketakpastian heisenberg dan yang sejenisnya. Anggaplah kita sedang membudaki pikirannya Albert Einstein dengan Determinismenya.

Fisika dibangun dengan dogma indera. Maksudnya adalah alam yang di dalamnya manusia berkelindan, diterjemahkan atau dipahami melalui seni pemahaman fisika berawal dari apa yang manusia lihat, manusia dengar, manusia rasa, dan sebagainya. Barulah kemudian secara lambat laun, dogma indera tersebut menjelma menjadi suatu besaran-besaran fisika, terutama besaran pokok atau dasar: massa, jarak, waktu, dan sebagainya.

Apapun besaran yang ada dalam fisika musti dan harus bisa didefinisikan kembali ke dalam bentuk besaran-besaran pokok. Adalah nonsense dalam definisi fisika kalau definisi tersebut tidak dapat merujuk ke dalam besaran-besaran pokok. Gaya, Percepatan, Kecepatan, massa jenis, berat jenis, Energi dan sebagainya haruslah mampu dipilah-pilah atau dibedah-bedah menjadi besaran-besaran paling dasar.

Definisi-definisi fisika pada dasarnya merupakan suatu bentuk pemahaman deterministik. Sebab akibat merupakan inti dari fisika. Dengan demikian, seperti pernah saya sampaikan dalam artikel saya yang lain di sini, Fisika adalah suatu bentuk dogma atau kepercayaan. Waktu adalah dogma, sebab-akibat adalah dogma, massa adalah dogma. Disanalah perhentian dari suatu definisi. Massa tidak dapat didefinisikan dengan suatu bentuk yang lain. Definisi massa pastilah merupakan definisi indera. Artinya definisi massa merupakan suatu definisi yang harus di dasari mau-tidak mau oleh kehendak atau kemampuan indera manusia. Demikian pula waktu, sebab-akibat dan sebagainya. Dan secara filosofis ini tidak dapat dijelaskan atau menjadi suatu argumen yang melingkar. Inilah titik henti dari Fisika.

Kenapa kita begitu mempercayai Fisika?

Kepercayaan kita pada fisika (dan pada umumnya pada ilmu-ilmu atau pengetahuan sejenisnya) bukan merupakan suatu kepercayaan yang dihasilkan oleh upaya kognitif murni filsafat. Maksudnya adalah fisika bukan merupakan suatu bentuk filsafat idealis murni yang mengandalkan penalaran kata atau logika.

Kepercayaan dan ketertundukan kita pada fisika lebih dikarenakan “kredibilitas” dari pemahaman fisika yang mencapai “keberhasilan” praktis dan pragmatis. Fisika berhasil meramalkan dan memahami sebuah kejadian-kejadian “tertentu di alam”. Artinya fisika berhasil karena dia membuktikan diri “secara praktek” bahwa apa yang dikatakannya memang memiliki “unsur” kebenaran tertentu yang “bekerja” pada alam. Ia berkali-kali, beribu-ribu kali, mampu memperkirakan suatu kejadian. Keberhasilan memprediksi ribuan bahkan jutaan kali inilah yang membuat manusia, secara psikologis, mempercayai bahwa ilmu fisika merupakan sebuah “kebenaran”. Walaupun begitu fisika hanya “bekerja” pada kejadian-kejadian atau wilayah-wilayah tertentu “alam itu sendiri”. Fisika meninggalkan wilayah-wilayah atau kejadian-kejadian “yang tak terjangkau oleh pemahaman determinisme fisika.

Fisika dan Jiwa Kita

Seperti halnya kepercayaan kita terhadap agama, pemerintah, kitab suci, orang, instansi, dan yang lainya, Kepercayaan kita pada fisika juga merupakan sebuah keputusan “tak sadar” psikologis. Walaupun pengaruh fisika yang membuat kita mempercayai dirinya berlangsung melalui proses kognitif logis khas empiris melalui metode ilmiah, peramalan yang ribuan kali benar (induktif-deduktif), dan sebagainya, fisika tetap merupakan sebuah kepercayaan yang bersifat Psikologis. Ia mengendap dalam jiwa diri manusia, yang terkadang membuat manusia menerjemahkan atau ingin memahami sesuatu, hanya melalui “wajah fisika”. Jika sesuatu tidak bisa dipahami melalui upaya fisika maka suatu pemahaman itu dikatakan nonsense atau omong kosong. Inilah yang disebut sebagai fisikanisme. Fisika yang telah menjadi hanya dan hanya satu-satunya bentuk pemahaman yang dipercayai oleh seseorang. Bisa juga disebut dengan fanatis fisika yang berlebihan.

Salam Fisika dalam Kehati-Hatian

Haqiqie Suluh

3 Responses to “Definisi, Fisika, Manusia dan Determinisme”


  1. 1 joyo Kamis, 27 Desember 2007 pukul 10:02 pm

    mantaf
    mungkin akan lebih menarik jika dibahas juga implikasi dari fanatisme pada fisika yg belebihan.

  2. 2 im 'ani Selasa, 4 Oktober 2011 pukul 9:41 am

    gmna caranya agar bisa jadi perawat yg propesional , kk jarin qea……….????????

  3. 3 icha Rabu, 9 Mei 2012 pukul 10:31 pm

    apa sih defenisi determinisme ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: