Kenapa Aku tidak Begitu Tertarik dengan Pemikiran Hegel?

Langsung saja saya jawab: Karena Pemikiran Hegel sangat sedikit atau bahkan sama sekali tidak mempengaruhi cara saya memandang, melakoni, dan memahami dunia serta diri saya sendiri. Doktrin dealektikanya saya pandang merupakan penyederhanaan atas kekomplekan proses hidup dan dunia. Dialektikanya sama sekali tidak mempengaruhi bagaimana saya berpikir dan mencoba mengerti dunia dan saya sendiri sebagai manusia.

Saya memang terpengaruh pada dialektikanya Kant sebagaimana Hegel juga mengambil dasar dari Pemikiran Dialektikanya Kant terutama berkaitan dengan Antinomi dua kubu atau kutub yang kemudian diterjemahkan oleh Hegel sebagai Tesis dan Anti tesis. Kalau Immanuel Kant mengatakan bahwa Antinomi tidak dapat dimengerti dan merupakan jalan buntu bagi nalar kita, yang saya angguki penuh persetujuan, hegel mengambil jalan lain yaitu antinomi merupakan proses yang ada di dunia yang akan menghasilkan Sistesis. Saya rasa Hegel terlalu sempit mengambil makna dari Pemikiran Antinominya Kant. Terus terang saya lebih terpengaruh oleh Pemikiran Kant yang dikembangkan oleh Schopenhauer, yang notabene merupakan lawan atau kontra dari Hegel (mereka hidup sezaman, dan sering bentrok, walaupun secara popularitas, yang menang adalah Hegel).

Satu lagi Doktrin Hegel yang cukup mengakar di benak para manusia “intelektual” adalah Roh Zaman atau Zeitgeist. Saya akui bahwa doktrin Roh merupakan doktrin yang sangat menarik “secara psikologis” bagi sebagian orang, tetapi implikasi nyata atau Praksis dari pemikiran dan pemahaman tentang Zeitgeist ini, secara pribadi dalam diri saya, hanyalah seonggok karya imajinatif layaknya sabda dari Kitab Suci yang tak boleh diragukan dan harus dipercayai.

Satu lagi yang cukup mengecewakan dalam benak saya adalah pengambilan atau penggunaan kata atau sabda suci “dialektika” dalam berbagai macam karya ilmiah atau karya-karya tulis, atau tulisan-tulisan, seolah-olah dialektika (yang sebagian banyak orang merujuk pada pemikiran hegel, padahal sesungguhnya berawal dari pemikiran Kant), menjadi sebuah hukum alam atau sosial yang benar. Miris saya rasanya menyaksikan hal tersebut.

Dialektik atau dialektika. Sebuah kata yang unik yang tak ditelusuri secara mendalam, dan secara serampangan diambil dan dicopot untuk keperluan “keindahan” tulisan atau argumen. Saya sering tertawa Getir.

Oh ya, saya pernah menuliskan mengenai Dialektika di sini.

Salam Penuh Kehati-hatian

Haqiqie Suluh

Iklan

0 Responses to “Kenapa Aku tidak Begitu Tertarik dengan Pemikiran Hegel?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: