Upaya Kognitif dalam Menghadapi Kematian

Walaupun judul dari artikel ini sebuah “upaya kognitif” namun sebenarnya artikel ini akan lebih membahas atau memahami upaya menghadapi kematian secara Psikologis Behavioristik Kognitif. Jika belum memahami istilah ini, bersabarlah sebentar, karena saya pasti akan menjelaskannya kepada pembaca.

Kematian merupakan hal yang secara induktif, bersifat pasti. Maksudnya adalah kematian yang notabene “tidak pernah dialami” oleh yang lain, hanya ditahui atau hanya sebagai pengetahuan induktif, memiliki kepastian yang mengendap dalam keyakinan seseorang. Siapapun menyaksikan bahwa yang hidup akan menjemput mati dan menjadi yang mati. Yang hidup tidak pernah “mengalami” mati. Yang hidup hanya mengetahui bahwa “sesuatu itu mati”. Bahkan mati itu sendiri hanyalah “istilah” buatan dari yang hidup.

Menghadapi kematian sering kali dibayangkan dalam benak seseorang atau banyak orang, termasuk saya sendiri, sebagai sebuah jalan menuju “kekosongan”. Maksudnya kekosongan disini ternisbahkan pada sifat dari pengalaman seseorang. Karena seseorang tidak akan pernah mengalami “kematian” maka mati merupakan hal yang “tak terjangkau oleh pengalaman dan menjadi suatu ajang spekulasi atau imajinasi. Anda bisa saja mengatakan bahwa setelah mati akan ada hari pembalasan, surga dan neraka, dan sebagainya, tetapi, hari pembalasan, surga, neraka dan sebagainya hanyalah datang dari pemberitaan atau omongan atau tulisan orang lain, yang tak akan pernah menjadi pengalaman anda, selama anda hidup. Kepercayaan pada hari setelah mati (afterlife) merupakan kepercayaan karena “dogma kognitif” bukan karena “dogma empiris atau dogma indera atau dogma alam”. Tapi bukan hal ini yang ingin saya bahas.

Emosi Kematian Manusia

Bercermin dari diri sendiri, dan dari beberapa kesaksian orang lain yang membahas kematian, memiliki pengetahuan induktif yang kemudian masuk ke bawah sadar psikologi atau jiwa manusia dan menjadi suatu keyakinan yang pasti, bahwa saya pasti mati, anda pasti mati, mereka pasti mati, mengakibatkan kita mau tidak mau berada dalam ketidakpastian. Pengetahuan tentang mati yang tidak diimbangi dengan bukti empiris dari pengalaman kita, mengakibatkan kita dihantui oleh pemikiran yang tidak akan pernah “benar-benar yakin” akan hidup setelah mati atau akan lebih tepat jika disebut “kejadian setelah kematian”.  Anda bisa menyakini seyakin-yakinnya kalau ada surga dan ada kehidupan setelah mati, tapi dalam bawah sadar anda, ia tidak akan pernah benar-benar percaya, karena bawah sadar anda belum mengalami surga. Subconcious anda yang merupakan wujud dari emosi-emosi tak sadar, wujud dari keyakinan emosi tak sadar, akan mengabaikan atau meragukan surga. Setidaknya ini menurut hipotesis saya.

Wow sungguh indah pemandangan dari puncak gunung merapi, kita bisa melihat sindoro, sumbing, merbabu dan cakrawala yang sangat melankolis. Anda bisa benar-benar percaya bahwa pemandangan dari gunung merapi itu seelok yang diceritakan orang, tetapi sebelum anda “mengalaminya sendiri”, emosi bawah sadar anda tidak akan serta-merta“mempercayainya”(kecuali anda dihipnotis dan menyaksikan atau mengalami keelokan itu, dan anda tidak pernah sadar kalau anda sedang dihipnotis, atau bisa juga halusinasi).

Sekarang bayangkanlah anda besok mati, apa yang telah anda lakukan selama ini, apa yang telah anda capai, apa harapan-harapan anda, apa yang anda cintai yang akan anda tinggalkan: suami, anak, harta, rumah yang sejuk dan elok, isteri yang cantik, keluarga, ibu, ayah, cucu, keponakan, jabatan yang tinggi dan sebagainya. Rasakan emosi yang muncul. Rasakan dan rasakan kalau anda sekarang mati dan tak pernah lagi hidup. Saya merasa yakin kalau ada emosi ketakutan dan kegelisahan di dalam perasaan anda, seberapa pun kecil perasaan itu. Saya pun demikian. Inilah Emosi Kematian.

Cat: Anda bisa menghilangkan Emosi negatif Kematian secara temporer, tetapi tidak akan pernah bisa untuk selamanya. Seorang martir yang bunuh diri dengan meledakkan dirinya dengan bom merupakan contoh dari hilangnya emosi negatif kematian sementara  (pada rentang waktu dia berproses meledakkan diri, dan tentunya dengan suntikan dogma  seperti janji surga dan sebagainya).

Upaya Kognitif Menghadapi Kematian

Telah menjadi suatu keyakinan tertentu dalam benak (sebagian besar) anda dan sebagian bawah sadar anda bahwa ada kehidupan atau kejadian setelah kematian. Dari mana anda mendapatkan keyakinan seperti ini? Keyakinan anda dapatkan dari orang lain, dari buku, dari text dan dari mana mana melalui indera anda. Di dengar, di lihat, di pikir dan diendapkan dalam benak yang kemudian merasuk ke dalam pikiran bahwa kehidupan itu benar-benar ada. Sayangnya walaupun menyakini kehidupan setelah mati itu ada, ada sejenis ganjalan yang akan terus menjadikan anda gelisah karena keyakinan anda itu sendiri. Neraka yang akan menyiksa, siksaan kubur karena dosa dan kesalahan, karena tidak mematuhi perintah tuhan anda. Hal hal inilah yang menambah Emosi Kematian. Kepercayaan bahwa hidup setelah mati itu “bisa jadi” mengerikan dengan hukuman dan siksaan tersebut akan menambah “kegelisahan dan ketakutan anda”. Emosi Kematian yang muncul karena ketakutan akan mati dan meninggalkan dunia dengan segala kemewahannya ditambah bahwa setelah anda mati anda “belum tentu” mengeyam kenikmatan malah bisa jadi menerima siksaan, akan mengakibatkan diri anda semakin dihantui oleh Emosi-emosi negatif Kematian.

Sebenarnya walaupun agama berperan penting dalam kehidupan anda dan dalam upaya menghadapi kematian dengan dogma yang masuk lewat pikiran kognitif anda, akan tetapi agama pula yang turut berperan dalam menambah Emosi negatif Kematian anda dengan penderitaan akan siksaan dan hukuman. Akan lebih bagus misalnya, jika agama hanya menceritakan kehidupan setelah mati yang indah-indah dan tanpa adanya siksaan dan hukuman. Akan tetapi hal ini secara praksis kehidupan malah bersifat kontraproduktif, karena keyakinan semacam ini, dikhawatirkan akan memicu perilaku yang negatif atau semau udelnya sendiri, dalam kehidupan. Walaupun hal ini sebenarnya bisa juga dieleminir dengan HUKUM POSITIF Negara atau Kebudayaan.

Reinkarnasi juga merupakan sebuah upaya secara kognitif dalam menghadapi Kematian. Masih sama dengan surga neraka, pada dasarnya reinkarnasi juga menyediakan suatu bentuk dualisme hukuman dan reward. Hal ini juga masih berhubungan dengan praksis kehidupan itu sendiri.

Kenapa hampir semua kepercayaan afterlife bersifat dualisme: akan menghadapi kebaikan dengan surga atau reinkarnasi yang lebih baik, dan mendapat ancaman atau neraka atau inkarnasi buruk. Ini berkaitan dengan upaya meredam perilaku negatif dalam kehidupan yang mungkin tidak bisa ditanggulangi oleh hukum Positif kemasyarakatan. Atau bisa jadi sebagai upaya meredam emosi dendam bahwa seseorang tidak mendapatkan hukuman yang pantas di kehidupan dengan hukum Positif atas kejahatan atau keburukannya, sehingga nanti setelah mati barulah ia akan memperoleh balasan yang setimpal dan penuh keadilan.

Kepercayaan bahwa afterlife itu hanyalah omong kosong dan nonsese juga menghadapi kritik yang hampir sama. Kepercayaan bahwa tidak ada hidup setelah mati bukan berdasarkan pada pengalaman empiris. Secara proses dogmatis hal tersebut sama dengan proses dogmatis kepercayaan agama. Kepercayaan tidak ada hidup atau kejadian setelah mati akan berusaha berperang untuk mematikan Harapan-harapan dari bawah sadar manusia akan masa depannya. Manusia seberapapun dia ingin menghilangkannya, selalu memiliki emosi-emosi akan masa depan. Maksudnya adalah dalam benak psikologis tak sadarnya, ia memiliki harapan, keinginan, hasrat, nafsu akan masa depannya: habis ini mau apa, entar mau pergi kemana. besok mau apa, setahun lagi ingin apa, 5 tahun lagi punya hasrat apa dan sebagainya. Hal ini diperoleh secara alamiah dalam kehidupannya karena secara nyata atau empiris ia berkehidupan dan menjalani hidup berulang-ulang dan terus menerus dihinggapi dengan harapan dan keinginan. Dengan menyakini bahwa tidak ada afterlife berarti dia telah menolak atau berperang dengan harapan-harapannya. Dan ini menimbulkan kegelisahan dan ketakutan juga.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam Proses Kematian

Mungkin jalan terbaik dari semua hal tersebut, baik itu yang mempercayai surga neraka, reinkarnasi, tak ada hidup setelah mati dan apapun kepercayaan itu adalah membiasakan secara kognitif (kognitif behavioristik) untuk menyerah pasrah pada kematian. Apapun itu nanti yang akan terjadi ,secara psikologis, ketakutan kita pada kematian atau Emosi Kematian kita, akan bisa lebih dikecilkan dengan Kepasrahan dan Menyerah. Biarlah hidup mengambil kita, biarlah kita berlalu bagai angin lalu dan gemercik air yang mengalir. Tanamkan itu dalam benak anda dan pikiran anda. Dan ulangi berkali kali.

Mungkin saja, Kematian itu Indah, Kawan!

Salam Haru

Haqiqie Suluh

PS: Jangan ditanya saya sudah bisa menghadapi kematian belum karena jawabanya: Saya masih gelisah dan takut..

Iklan

3 Responses to “Upaya Kognitif dalam Menghadapi Kematian”


  1. 1 Kopral Geddoe Minggu, 30 Desember 2007 pukul 8:54 am

    Kematian adalah finalitas yang diperlukan untuk terminasi kesadaran manusia. Ada atau tidaknya afterlife tidak relevan, yang penting adalah terminasi kesadaran— di sini konsep reinkarnasi ataupun eternal return terkesan lebih memuaskan daripada afterlife a la surga dan neraka. Kesadaran yang mencapai infinit adalah mengerikan, menyerupai sebuah buku yang tidak memiliki akhir. Di sini eksistensi yang absurd akan terus dan terus bertahan. :lol:

  2. 2 Suluh Senin, 31 Desember 2007 pukul 8:42 am

    @Kopral: Tentunya afterlife tidak relevan dan yang penting adalah terminasi kesadaran tuh bagi kopral kan? Kalau yang lain saya kira banyak yang menganggap Penting kok.

  3. 3 rahmatmuntaha Jumat, 28 Oktober 2011 pukul 2:40 pm

    Kematian adalah pasti, siap tdk siap ya harus siap. thanks infonya,
    http://kafebuku.com/temukan-lima-rahasia-sebelum-mati/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: