Salah Kaprah Mengenai Relativitas Einstein: Tidak Semua Hal di Semesta itu Relatif!

Sebuah blog  pernah menjadikan sebuah kalimat atau proposisi yang mengindikasikan bahwa semuanya itu relatif sehingga semuanya itu bisa benar tergantung dari sudut mana si pengamat melihat. Biar tidak salah tangkap, lebih baik saya kasih proposisi aslinya:

semua hal di semesta ini bisa benar tergantung dari sudut mana si pengamat melihat

Walaupun proposisi tersebut sama sekali tidak menyebut relativitas, tetapi saya ingin memberikan suatu keprihatinan bahwasanya proposisi semacam itu sering kali dihubungkan dengan Relativitas Einstein, yang kemudian dikatakan bahwa segala sesuatu itu relativ tergantung pada pengamat. Nah, menghubungkan proposisi semacam diatas dengan relativitas einstein merupakan sikap yang benar-benar ceroboh..

Anggaplah proposisi semacam di atas merupakan pendapat pribadi atau mungkin pendapat atau keyakinan sebagian orang.  Saya tidak akan menyalahkan jika proposisi tersebut “hanya” merupakan pendapat atau keyakinan seseorang. Akan tetapi jika proposisi semacam itu kemudian dinisbahkan atau dirujuk kepada teori fisika tentang relativitas, maka saya benar-benar akan menolak mentah mentah. Intinya saya tidak akan menggugat proposisi itu, toh itu keyakinan atau pendapat orang yang patut dihargai, tetapi saya menggugat jika kemudian proposisi itu dikaitkan dengan relativitas Einstein

Relativitas Einstein TIDAK PERNAH mengatakan bahwa segala sesuatu itu relatif. Kerelatifan seorang pengamat dalam relatifitas Einstein terjadi karena adanya faktor yang unrelatif atau yang sama. Kerelatifan Einstein dari sudut pengamat sebenarnya merupakan konsekuensi dari sesuatu yang selalu sama atau tidak relatif untuk semua pengamat. Faktor unrelatif atau selalu sama dari sudut pengamat itu adalah kecepatan cahaya di ruang hampa. Kecepatan cahaya di ruang hampa akan SELALU SAMA dari sudut manapun seorang pengamat melihatnya. Kecepatan cahaya tidak pernah relatif terhadap pengamat. Kecepatan cahaya selalu benar dari sudut mana pun seorang pengamat melihatnya.

Disamping kecepatan cahaya yang tidak relatif dan selalu sama bagi semua pengamat, masih ada satu hal lagi yang tidak relatif dan selalu sama bagi semua pengamat. Hal itu adalah HUKUM fisika (PERSAMAAN RELATIVITAS) akan SELALU BERLAKU SAMA dimanapun (di semesta, di bulan, di bumi, dimanapun juga), kapanpun dan TIDAK TERGANTUNG dari sudut mana pengamat melihatnya.

Nah,  yang pertama Yang tidak Relatif itu disebut sebagai Postulat Relativitas pertama, sedang yang kedua Yang tidak Relatif itu disebut sebagai Postulat Relativitas kedua.

Masih akan mengatakan bahwa segala sesuatu di semesta itu bisa jadi benar tergantung dari sudut mana pengamat melihatnya? Semoga anda mau berpikir ulang.

Salam Haru

Haqiqie Suluh

Iklan

44 Responses to “Salah Kaprah Mengenai Relativitas Einstein: Tidak Semua Hal di Semesta itu Relatif!”


  1. 1 deteksi Rabu, 2 Januari 2008 pukul 8:27 am

    mencerahkan!
    great!!!

    salam kenal..
    [kucing cakep]

  2. 2 agusdd Rabu, 9 Januari 2008 pukul 4:33 am

    tapi aku g sepakat.

    “Kecepatan cahaya di ruang hampa akan SELALU SAMA dari sudut manapun seorang pengamat melihatnya.”

    hmm, kayaknya g deh….

    saya pernah baca kalo cahaya itu juga melambat. lihat deh. bahkan kata anak kompas, sama juga pernah baca tapi entah dimana, bahwa cahaya itu sekarang sudah bisa dihentikan menggunakan teknik tertentu. wah, sayang artikelnya g ada tuh, kemana ya.. bisa cariin.

    tapi itu sedikit aja gambarannya, mungkin bisa ditelusuri. pada dasarnya aku lebih setuju relatif. maksudnya tidak ada yang tetap. semua bergerak satu sama lain pasca Bing bang.

  3. 3 fahastra Kamis, 10 Januari 2008 pukul 9:33 pm

    Pusing mas….yg ringan dan enjoy ada ga ya :))

  4. 4 Suluh Rabu, 23 Januari 2008 pukul 10:16 am

    @agusdd: lah saya juga pernah baca kalau eisntein berkata begitu dan sampai saat ini belum ada seorang pun fisikawan yang menentang pendapat einstein dengan teori relativitasnya termasuk dua postulat pertama.

    sudah belajar fisika modern belum mas? coba baca lagi… tuh article mengenai kecepatan tuh tetap dan tak berubah dari sudut manapun ada dimana mana kok… sedang artikel masnya aja ketahuan aja gak, dicari aja gak ketemu.. beribu mungkin jutaan ilmuan fisika mengakui dua postulat einstein, apakah anda masih meragukannya? silahkan buat teori baru jika anda ingin menggagalkan teori einstein, tentunya teori yang lebih bagus, dan mumpuni.

  5. 5 Suluh Rabu, 23 Januari 2008 pukul 10:23 am

    tambahan lagi: dihentikan dengan teknik tertentu berarti itu bukan diruang hampa dong mas… dilambatkan juga bukan diruang hampa dong mas… karena masih ada gaya yang untuk melambatkan atau menghentikan… seperti halnya cahaya dibelokkan oleh gravitasi, atau diserap oleh black hole…

    ruang hampa (sudah tahu pengertian ruang hampa kan?) tuh tidak ada gaya dan sejenisnya maka kecepatan cahaya selalu sama…

  6. 6 Andika Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 6:49 am

    COba cari artikel yang dimaksud Cahaya didalam Cahaya….

  7. 7 Kendurian Senin, 3 Maret 2008 pukul 12:43 am

    Andika kagak nyambung…

  8. 8 rofa Jumat, 4 April 2008 pukul 11:28 pm

    waduuuh….orang-orang yang disini qo pada jago fisika ya………..

  9. 9 reezkasphere Selasa, 8 April 2008 pukul 11:44 pm

    Tau ngga kenapa enstein menyebut pernyataannya postulat??

    Postulat kalo ngga salah nih, merupakan suatu pernyataan terbuka. Belum bisa dibenarkan atau disalahkan. Pertanyaan seperti apakah ada benda yg lebih cepat dari cahaya? secara teori matematis (dengan menggunakan rumus einstein tentang relativitas) benda itu ada. Tapi apa? atau siapa? (tuhan? malaikat, jin iblis? :D). Karena secara naluriah, fisika menentang keberadaan benda2 immateriil yg tidak bisa dibuktikan dengan data2 dan analisis yang pasti, alternatif jawaban tadi ditolak kebenarannya. Benda itu harus riil..

    pernyataan anda:
    “Hal itu adalah HUKUM fisika (PERSAMAAN RELATIVITAS) akan SELALU BERLAKU SAMA dimanapun (di semesta, di bulan, di bumi, dimanapun juga), kapanpun dan TIDAK TERGANTUNG dari sudut mana pengamat melihatnya.”

    Hati – hati menggunakan kata – kata hukum, hukum/law merupakan pernyataan tertinggi dalam fisika, posisi hukum kuat sekali. Beda dengan postulat yg merupakan pernyataan terbuka. Hukum bisa langsung di cek benar salahnya. Nantinya ketika terbukti tidak ada benda yg lebih cepat dari cahaya, mungkin pernyataan einstein bisa jadi hukum.

    Tapi..
    perasaan yang ada sekarang itu “teori relatifitas” bukan “hukum relatifitas” kan? yang ada itu “general theory of relativity” atau “special theory of relativity”.

    Jadi pernyataan “kecepatan cahaya sama untuk semua pengamat dalam semua arah” adalah pernyataan terbuka, dan tidak bisa dijadikan acuan absolut untuk menyalahkan atau membenarkan. Tentu saja anda tidak bisa menjawab seperti ini pada saat ujian kuliah relatifitas.. :D

    konklusi: mengkaitkan pernyataan relatifitas dengan pernyataan sehari hari, tidaklah sepenuhnya salah.

    Tapi anda benar, tidak semua hal di dunia itu relatif. Semua orang pasti sepakat dengan pernyataan ini: “semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati..” ^_^;

    Maaf kalo ada kata2 yg salah atau terlalu menggurui,nulisnya buru2.., mohon dikoreksi kalo ada salah, dari situ semoga khazanah pemikiran kita menjadi semakin baik.

  10. 10 Suluh Rabu, 9 April 2008 pukul 12:45 am

    @reezkasphere:coba mas baca tulisan saya menyikapi soal postulat asumsi dan aksioma. Saya sudah mencoba memahami di blog ini kok. Search aja. Search juga mengenai hukum atau teori teori fisika. Teori fisika atau sains memang selalu terbuka kok (baca juga tulisan saya soal falsifikasi), termasuk postulatnya.

  11. 11 Suluh Rabu, 9 April 2008 pukul 1:38 am

    tambahan lagi: postulat itu terbuka dalam arti bisa diganti kalau ada yang lebih baik bukan berarti postulat itu relatif tergantung pada pengamat mas…. postulat walaupun itu terbuka untuk perubahan tetap tidak berubah pada pengamat alias tidak relatif

  12. 12 reezkasphere Rabu, 9 April 2008 pukul 2:51 pm

    Postulat itu pernyataan yang di kira – kira. Einstein bilang ngga ada benda yang lebih cepat dari cahaya.. ilmuwan lain bilang gimana buktiinnya? mana buktinya? (perhatian ini bukan obsesi sutradara lho.. haha..)

    Einstein ga bisa jawab, trus dia ngebales ya udah, kalo gitu ada gitu benda yg lebih cepat dari cahaya?? si ilmuwan terdiam.

    Sebenernya dia ngeluarin postulat tidak ada benda yg lebih cepat dari cahaya adalah untuk mempermudah hitungan matematis dia. Semacam asumsi lah gitu.

    Dari asumsi.. eh postulat itu.. lahirlah teori relativitas.
    Berhubung rumus2 yg dia berikan hingga sekarang masih relevan dan bisa dianggap benar dalam batas2 yg diinginkan, jadilah teori (bukan hukum!) relativitas dipakai.

    Tentusaja skenario yg saya tulis diatas hanyalah untuk membantu menyederhanakan masalah, kalo mas haqiqi punya referensi yg lebih bagus mengenai [b]dasar pemikiran einstein mengapa dia mengeluarkan postulat itu[/b], silaken tulis disini :D

    Intinya sih, einstein sendiri ngga tau apakah pernyataan yg dia keluarkan itu benar atau salah. Namanya juga asumsi..

    Jadi pernyataan anda ini:

    [i]postulat walaupun itu terbuka untuk perubahan tetap tidak berubah pada pengamat alias tidak relatif[/i]

    Tidak bisa dikatakan benar, kerana menggunakan dasar pemikiran einstein. Begitulah boi..

  13. 13 anton Rabu, 9 April 2008 pukul 4:15 pm

    Beneng.. hehehe… Einstein ga sampai bilang kalau semuanya relatif. Buktinya, Einstein justru mengabsolutkan kecepatan cahaya. Dan benar kalau hukum fisika itu invarian ruang-waktu. Kalau mau bukti konkrit, liat aja teori alam kosmologi standar (salah satu isinya adalah big bang). Teori alam semesta standar di susun dengan menanggap bahwa teori fisika itu adalah sama di manapun kapan pun :).

    Persoalaan relativitas ini salah kaprah paling lucu. Tetapi memang, di kemudian hari ada orang yang terinspirasi dengan pemikiran Einstein dan menciptakan relativism.

    Mengenai cahaya yang melambat sebenarnya itu masih sebatas spekulasi ilmiah, *belum* terbukti kebenarannya. Pelambatan cahaya konon disebabkan oleh pemuaian ruang. Tetapi, pelambatan cahaya beda dengan efek doppler loh ya…

  14. 14 Suluh Rabu, 9 April 2008 pukul 6:41 pm

    @ reezkasphere: postulat diciptakan tanpa dasar… sekali lagi tak berdasar dalam arti tak bisa dibuktikan secara menyeluruh dan tak terbantahkan .. karena postulat adalah titik henti.. seperti halnya asumsi atau aksioma… tetapi postulat tidak bisa diambil sembarangan karena dia membutuhkan apa yang saya namakan “Kredibilitas Proses”. untuk lebih jelas kenapa sebuah postulat bisa diterbitkan silahkan masnya baca tulisan saya yang ini, semoga bisa menjawab semua pertanyaan mas diatas:

    Mengenai Postulat Asumsi dan Aksioma

    Saya tambahin lagi suatu metodologi sains yang dinamakan falsifikasi, silahkan baca tulisan saya di bawah ini, supaya mas lebih paham apa itu yang dinamakan sains falsifikasi:

    Falsifikasi Popper batas antara sains dan non sains

    lah emang postulat einstein tidak relatif kok mas… baca lagi tulisan saya diatas… kalau anda hanya mendasarkan bahwa postulat einstein “tidak bisa dibuktikan” terus mengatakan bahwa postulat itu tidak relatif itu “salah” ya itu menurut anda… menurut saya postulat einstein tidak relatif itu benar (dalam terminologi sains lho bukan filsafat)… seluruh sains itu dibangun pertama kali berdasarkan dogma alias tanpa bisa dibuktikan secara holistik dan tak tergoyahkan… waktu, jarak, massa, sebab akibat, semuanya merupakan dogma indera aliat bukti yang tercerap indera tanpa mampu didefinisikan atau dicari pembenarannya ingat besaran pokok lebih lanjut silahkan baca tulisan saya lagi disini:

    Agama Fisika Matematika: Jejak jejak Dogma

    dan juga tulisan saya yang ini:

    Definis, Fisika, Manusia dan Determinisme

    @anton: perlambatan cahaya kan tidak menggugurkan teori relativitas toh… no problem kalau even itu ada…

  15. 15 Suluh Rabu, 9 April 2008 pukul 7:01 pm

    Tambahan lagi: untuk menggugurkan sepenuhnya teori relativitas einstein dibutuhkan sebuah teori baru yang lebih baik dari teori ini (apabila memang telah ditemukan kesalahan dalam teori einstein tersebut). Dengan demikian teori baru haruslah mencakup pemahaman dari fisika newtonian ditambah fisika einstein ditambah menambal lubang dimana fisika einstein terbukti tidak benar. Ini dinamakan proses falsifikas. Fisika newton yang sudah terbukti banyak lubang mampu di tutupi oleh fisika eintein dimana fisika eintein juga bisa diterapkan pada lahan2 dimana fisika newtonian bekerja dengan baik. Teori baru ini, sebagaimana teori einstein haruslah mampu memprediksi secara deduktif atas gejala atau proses baru, sebagaimana einstein melakukannya (einstein memperkirakan bahwa gravitasi bisa “membelokkan ” cahaya karena ruang yang melengkung dan ternyata terbukti benar)

  16. 16 nesa ikut Senin, 23 Juni 2008 pukul 4:35 pm

    Kalo bincang-bincang mengenai teori relativitas einstein, dari SMA mpe kuliah, bahkan mpe sekarang saya masih meragukan, (bahkan mendekati nda yakin)pendapat pak einstein kalo tidak ada yang melebihi kecepatan cahaya. Pas SMA saya coba coba menghitung “dilatasi waktu” dengan rumusnya pak eisntein, hasilnya perbedaan waktu yang dihasilkan karena perbedaan kecepatan benda, sangat sedikit. Padahal saya pernah baca di Sebuah sumber yang sangat saya percayai, kalo satu hari di alam luar sana, sama dengan 1000 tahun, bahkan 50000 tahun di bumi. Nah lho? Ada yang bisa membantu?

  17. 17 Suluh Senin, 23 Juni 2008 pukul 5:34 pm

    @nesa: mbak nesa lebih mempercayai kalau dari alam luar sana sama dengan 1000 tahun dah bahkan 50ribu tahun, yang sama sekali gak pernah terbukti secara saintifik dibanding eintein yang telah berulang kali di buktikan secara saintifik? ya itu mah terserah nesa…

  18. 18 gatot Kamis, 31 Juli 2008 pukul 2:14 pm

    mas Suluh…saya amat tertarik ama hukum relativitas Einstein ama penjelasann maz di atas…saya msih SMA dan bentar lagi nysun karya tulis….kalo emang gak keberatan, sya mnta penjelasan yang detail lagi dunk,,,tapi bahasa anak SMA yah!!!ntar kirim ke pliz banget maz!!!saya tunggu yaph!!!thx!

  19. 19 arif Selasa, 7 Oktober 2008 pukul 3:27 pm

    saya sepakat pada first point: bahwa kita sering memakai kata “relatif” dan menisbatkannya pada einstein.. itu saja. selebihnya terlalu rumit kalau dijelaskan pakai tulisan.

  20. 20 Krisna Senin, 27 Oktober 2008 pukul 8:28 pm

    kecepatan cahaya akan selalu sama dari sudut mana pun kita melihatnya, namun apa yg terjadi apabila si pengamat itu berada dalam lintasan cahaya, atau simplenya ia bergerak sama cepat dengan cahaya. tentunya cahaya akan terlihat seperti diam, sehingga kecepatan cahaya terhadap dia adalah 0

    semisalnya kita tempatkan seorang astronot di luar lintasan dari objek (cahaya) dan si pengamat dan ia dalam keadaan diam, pengamat akan melihat bahwa astronot itulah yg bergerak terhadap ia dan cahaya. namun apabila status pengamat kita pindahkan ke astronot, ia tentu akan melihat bahwa cahaya dan pengamat 1 lah yg bergerak dalam lintasan terhadap dirinya.

    saya sih nangkepnya gitu……

    klo yg perbedaan waktu sih,mungkin kaya piring aja yaaa. misalnya ada 2 semut di atas piring, yang satu di tengah dan yg satu di bibir piring, lalu piring itu diputar (opo semut kok ya diputer2, disko?) maka semut yg ada di bibir piring akan menempuh jarak yg lebih jauh daripada semut yg di pusat/lebih mendekati pusat piring n n

  21. 21 Suluh Sabtu, 22 November 2008 pukul 7:39 am

    @krisna: kecepatan cahaya tetap segitu… anda melaju dengan kecepatan 0.99c tetap akan melihat cahaya kecepatannya c… itu postulat dari relatifitas eistein… dan anda bukan cahaya… bedakan “kecepatan cahaya” dengan “kecepatan benda”…..

  22. 22 hariadhi Senin, 16 Maret 2009 pukul 1:34 pm

    Einstein sendiri ga pernah bermaksud memberi nama teorinya dengan kata “relatif”. Tapi berhubung sudah terlanjur populer dan diterima masyarakat, akhirnya dipakailah nama Relativitas Einstein itu sampai sekarang. :D

  23. 23 Mr. Sur Sabtu, 6 Juni 2009 pukul 9:19 am

    wah kalau pendapatku, yang ada didunia ini tetap relativ, karena yang tidak relatif itu hanya satu yaitu ALLAH SWT, kalaupun kecepatan cahaya di vakum sebagai sesuatu yang mutlak, jelas itu adalah konsep relativitas khusus dari Einstein, ini interpretasi nyata dari konsep ilmu yang sesungguhnya dibatasi oleh kemampuan jangkauan ilmu itu sendiri. Mutlaknya kecepatan cahaya di vakum sebagai batas relativitas Einstein yang sebagai keunggulan sekaligus kelemahan relativitas Einstein.
    misal jika ada kejadian yang memiliki kecepatan lebih dari kelajuan cahaya (c) maka konsep relatuvitas Einstein mejadi tak terhingga. misal pada massa relativistik yang dirumuskan sebagai:

    m = mo/akar kuadrat dari 1-v2/c2, jika v = c, maka diperoleh mo/0, tak terhingga kan , apalagi jika v> dari C, maka diperoleh akar bilangan negatif, imajiner.

  24. 24 Universal Jumat, 4 September 2009 pukul 11:25 pm

    Albert Eisntein harus kita hargai teorinya apalagi sdh diakui ribuan ahli bahkan belum bisa diruntuhkan hingga kini. Tetapi koreksi untuk kesempurnaan masih terbuka, dan tidak ada salahnya.

    1. Kecepatan Cahaya 300 km/detik, akan sangat dipengaruhi oleh kecepatan interpertasi pengamat. Bayangkan bila tdk ada mata, atau otak, apakah cahaya bisa dihitung? Maka Pengamat memiliki peran terpenting. Pengamatan Energi sebanding dengan massa berbanding kecepatan cahaya dikuadratkan akan sama apabila kita berada pada substansi sumber cahaya, sumber massa atau sumber energi.

    2. Cahaya memiliki batas. Postulat berupa teori yang dikemukakan Eisntein belum sempurna. Cahaya memiliki sumber, berarti cahaya juga memiliki batas. Lalu di mana batas alam semesta ini? Di mana sumber cahaya terbesar. Boleh jadi dengan sumber yang besar dan akumulasi panas, dapat menghasilkan pelambatan atau percepatan cahaya. Hitungan kita hingga kini masih tergantung kepada galaksi-galaksi terdekat semampu jangkauan teleskop kita. Tidakkah ada sumber cahaya, bintang atau apa saja yang lebih jauh?

    3. Ini membuktikan bahwa Teori Relativitas Einstein belum universal. Harus ada teori yang lebih Universal, dan dapat menuntaskan rahasia semesta kita

    Mohon maaf, kelemahan kita, apa yang kita kemukakan tidak kita displin untuk meneliti dan menuntaskannya hingga dapat melahirkan postulat dan teori. Termasuk apa yang disampaikan ini. Terima kasih kepada inspirasi kepada Eisntein hingga melahirkan Teori Relativitas, itu juga cahaya dalam tingkatan yang berbeda.

    • 25 Suluh Minggu, 6 September 2009 pukul 12:39 am

      @universal: postulat einstein bukan mengenai entitas cahaya (relativitas) tetapi “hanya kecepatan”, mata otak dsb ada dalam bentuk epistimologinya aka pembuktian, bukan pada teorinya. mohon dimengerti lebih jauh mengenai hal ini.

  25. 26 David Maulana Muhammad Selasa, 22 September 2009 pukul 5:30 pm

    alhamdulillah…
    sangat bersyukur atas jalan pembicaraan ini.
    namun jika boleh usul atau tanya,sebenarnya yang konstan(tidak relativ) itu apa? dalam teori relativitas.

    Danke…Freund

  26. 27 David Maulana Muhammad Selasa, 22 September 2009 pukul 5:35 pm

    sorry jika pertanyaanku salah, tapi jika bisa tolong dijelaskan. Entschuldigung….

  27. 28 Suluh Rabu, 23 September 2009 pukul 5:30 am

    Postulatnya yg gk relatif

  28. 29 lely Kamis, 19 November 2009 pukul 9:21 pm

    sebelumnya aku cuma lagi mampir trz baca postingan ini…

    klo menurut pendapatku,, Hukum Fisika itu juga relatif,, tergantung pada pengamatnya…

    sebelum sebuah teori diakui oleh semua orang di dunia,, pasti bakal mengalami perdebatan yg hebat dulu dikalangan para ilmuwan dan masyarakat…

    contohnya aja waktu munculnya teori Heliosentris… Masyarakat dunia yang pada waktu itu mengenal Geosentris otomatis menolak teori ini mentah2 karena menganggap kebenaran menurut mereka tetaplah Geosentris… sampai mereka meninggalpun,, jika mereka telah fanatik dengan geosentris maka mereka tetap percaya pada geosentris..

    namun setelah ada banyak bukti mengenai heliosentris,, orang2 beralih pada heliosentris…

    kini,, kita telah mengetahui bahwa ruang angkasa begitu luas,, dan matahari bukanlah satu-satunya bintang yang ada di galaksi ini,, jadi matahari bukanlah pusat.. dan mungkin suatu saat nanti teori2 ini juga akan terbantahkan dengan adanya bukti2 baru mengenai alam semesta ini… namun yang telah fanatik akan suatu teori pasti akan menganggap hal itu adalah sebuah kebenaran… karena “teori” atau “hukum” fisika itu sendiri juga berasal dari pemikiran dan pendapat manusia,, yang tidak selalu benar… jadi semuanya relatif,, tergantung pengamat…

  29. 32 last Sabtu, 5 Desember 2009 pukul 12:57 pm

    Sebenarnya cahaya tidak mempunyai kecepatan/tidak bisa dikatakan berkecepatan.
    Jika cahaya mempunyai kecepatan, berarti penglihatan kita juga mempunyai kecepatan.
    contoh, pejamkan mata anda, dan langsung buka, maka anda akan langsung nampak apa-2 yang ada dihadapan anda, apakah bisa itu dikatakan suatu “kecepatan?”.
    kalo menurut saya malah mata kita yang mempunai kecepatan, dibanding cahaya, karena dalam teorinya (agak lupa detailnya), gambar masuk kedalam retina dalam keadaan terbalik terus masuk kedalam otak dan akan…(terusannya lupa-intinya begitu-maaf).
    jadi (jika bisa dikatakan mempunyai kecepatan) kecaptaan cahaya lebih kalah jauh jika dibanding kecepatan penglihatan mata.

    • 33 momo Jumat, 25 Maret 2011 pukul 8:21 pm

      keknya cahaya itu punya kecepatan….kl bole saya bertanya kepada mas last..cahaya itu partikel ataw bukan>>? sebab mengenai kecepatan cahaya bisa diturunkan dari jawaban anda..thx

  30. 34 jufri analika Kamis, 14 Januari 2010 pukul 10:40 pm

    teori enstein itu didpat dari mbah maRIJAN di punck gunung merpai jd klo maw lebih jlanya tanya ma mbah

  31. 36 Wardah Kamis, 21 April 2011 pukul 8:39 pm

    Sebenarnya kerelatifan itu sudah jelas dan gamblang. Dimanapun materi termasuk cahaya yang bergerak itupun relatif. Cobalah baca-baca lagi tentang catatan A.Einstein pada buku Gelora relatifitas Einsten

  32. 37 Webster Selasa, 7 Juni 2011 pukul 7:55 am

    Saya mencium ada bau konspirasi di balik teori relativitas tersebut, yaitu tujuan pembelokan aqidah (menyekutukan Allah swt). Dalam teori relativas, kecepatan cahaya digiring untuk bisa diterima diopini publik bahwa C dapat mengatur/melambatkan/menciptakan waktu. Teori yg sangat menyesatkan. Teori relativitas satu group dengan teori evolusi milik darwinisme. Hati2 ya kawan2 dari tipuan2 halus para atheisme.

  33. 38 Webster Selasa, 7 Juni 2011 pukul 3:39 pm

    Kalau kita merujuk pada peristiwa mi’raj nabi Muhammad saw, maka teori relavitas einstein tsb gagal total / tidak ilmiah. Mengapa? Ketika nabi saw kembali ke bumi setelah peristiwa mi’raj tsb yaitu melintasi ruang dan waktu di jagat raya ini, sisi waktu di bumi ketika itu tidak mengalami perubahan. Dengan begitu bisa dipastikan bahwa waktu adalah mutlak / tidak dapat diperlambat ataupun dipercepat. Ruang dan waktu juga mahkluk ciptaan Allah swt sebagai media bagi makhluk2Nya yg lain..

  34. 39 Webster Selasa, 7 Juni 2011 pukul 4:04 pm

    Hati-hati ya kawan2ku muslim semuanya, dari penyesatan akidah berkedok teori ilmiah yang nyata2 tidak ilmiah sama sekali.. Marilah kita kembali pada konsep, yaitu konsep kita sebagai manusia. Apa itu konsep manusia? Yaitu beribadah kepada-Nya, kalau yang ingkar pada Allah ya bisa dipastikan di akhirat nanti tempat tinggalnya di neraka. Tinggal pilih aja yang mana? Di dunia ini taat kepada Allah = di akhirat mendapatkan surga. Di dunia ini durhaka kepada Allah = di akhirat nanti mendapatkan neraka. Mau..?

  35. 40 wahyoxhyox Kamis, 2 Februari 2012 pukul 4:47 am

    Cahaya diciptakan oleh sang pencipta (ALLAH SWT) bukan untuk diukur kecepatannya, tetapi untuk menerangi kita semua,. Agar kita mensyukurinya, dan agar supaya kita tahu inilah bukti kebesaranya. Bahwa ialah yang maha kuasa. Pencipta alam semesta.. Dan memperingatkan mereka yg kafir untuk segera bertobat pada-Nya. Waktu tidak akan bisa dihentikan walaupun manusia bergerak melebihi kcepatan cahaya,. Waktu akan terus berjalan sampai batas waktu dihentikan oleh sang pencipta waktu itu sendiri. Teori relativitas ini akan sangat salah kaprah bila dipakai untuk menghentikan waktu dengan kecepatan cahaya.

  36. 41 wahyoxhyox Kamis, 2 Februari 2012 pukul 4:49 am

    Yang tahu hanyalah yg mnciptakan cahaya dan waktu itu sendiri. (ALLAH SWT)

  37. 43 ulfa Rabu, 12 Desember 2012 pukul 10:44 am

    Bagaimana dengan pendapat Newton,bahwa massa itu merupakan besaran yang konstan,apakah anda setuju?

    • 44 duduh Selasa, 22 Januari 2013 pukul 12:50 am

      saya setuju, banyaknya massa dan energi di alam raya itu konstan, kenapa kalau suatu saat banyak yang menjadi materi, energinya yang berkurang tetapi tetap dalam keseimbangan, jika tak seimbang akan terjadi kehancuran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: