Ayam, Kampungku, Darwin dan Kehidupan

Jika anda tinggal di perkampungan atau dusun seperti saya, maka mendengar kokokan ayam setiap pagi dan setiap saat, merupakan hal yang biasa. Bahkan karena seringnya saya mendengar celoteh ayam, sampai sampai hal itu sering terabaikan keberadaannya. Tapi bukan itu sebenarnya yang ingin saya bicarakan disini. Saya ingin menceritakan hal lain.

Kapling-kapling tanah atau lebih tepatnya areal tanah yang tersisa di dusun saya sudah sedemikian sempit, hanya beberapa orang saja yang masih memiliki kebun di desa saya, yang berarti masih tertanami berbagai jenis pepohonan. Apa hubungannya dengan Ayam?

Sebagai penduduk Dusun, memelihara ayam merupakan hal yang wajar dan lumrah, bahkan bagi penduduk yang “tidak memiliki lahan untuk memelihara ayam sekalipun”. Artinya, walaupun halaman rumah yang dimilikinya hanya memiliki lebar 2 meter persegi, itu tidak menghalangi dirinya untuk memelihara ayam. Kenapa? Karena masih ada halaman tetangga.

Perlu diketahui tidak ada atau sangat jarang penduduk dusun yang memelihara ayam dengan cara dikandangkan. Nah gabungan antara halaman sempit dan memelihara ayam tanpa dikandangkan inilah yang sering menuai permasalahan sosial.

Bagi pemilik ayam yang tidak memiliki lahan luas, maka tentu saja ayamnya hanya akan pulang kandang atau pulang ke rumah pemiliknya kalau hari sudah mulai senja(ada kandang kecil buat tidur atau semacamnya kalau malam). Setiap pagi ketika ayam mulai dikeluarkan dari rumahnya, ayam dari pemilik tak berlahan ini tentu saja akan langsung di usir, untuk mencari makan dan sebagainya, ke lahan tetangga yang punya kebon atau lahan yang luas. Apabila ia masih saja nongkron di teras rumah sang pemilik atau bahkan menelurkan feses di lantai sang pemilik, sang pemilik tidak segan-segan mengusirnya. Lagi lagi ke tempat tetangga.

Sang pemilik lahan luas tentunya sering ngomel-ngomel karena hal ini, terutama bila dirinya tidak memiliki binatang peliaraan ayam, atau ayamnya lagi habis karena mati terkena flue dan sejenisnya. Lahan luasnya hanya akan dijadikan pengais rejeki dari sang ayam milik tetangga. Terkadang ayam tersebut bisa sangat membuat marah sang pemilik lahan luas jika ayam tersebut membuang fesesnya di teras rumahnya. Apalagi ketika musim penghujan seperti sekarang, yang membuat ayam akan mencari tempat berteduh secepat mungkin dan sedekat mungkin ketika hari hujan, dan tentunya akan membuang hajatnya disitu juga.

Solusi yang pernah diajukan adalah dengan memagari seluruh pekarangan dari pemilik lahan yang luas. Akan tetapi rasanya hal ini tidak mungkin bagi dusun saya, mengingat jalan dusun yang sering dilewati mobil atau motor juga menggunakan lahan pekarangan atau halaman rumah kebanyakan penduduk. Tentu saja yang paling banyak terkena proyek jalan dusun ini adalah orang yang memiliki lahan yang masih kosong dan luas.

Solusi kedua adalah menggunakan Hukum Darwin dengan Survival of the fittestnya. Caranya gimana?

Sang pemilik lahan akan ikut memelihara ayam juga seperti halnya para penduduk yang berayam tanpa lahan tersebut. Namun agar ayam yang dipeliharanya mampu menyingkirkan para pengganggu dari ayam tetangga tak berlahan, ayam yang dipeliharanya haruslah memiliki ukuran yang besar dan pandai menguasai wilayah. Bagaimana memiliki ayam seperti ini? Belilah di pasar ayam atau hewan. Ayam yang besar haruslah jantan dan betina, dan itu tidak hanya satu.

Dengan memiliki ayam yang kuat dan besar, maka ayam para tetangga tak berlahan ketika akan memasuki lahan mereka, ia akan mengusirnya secara otomatis. Yang jantan akan mengusir yang jantan, yang betina akan mengusir yang betina. Walaupun cara ini tidak akan menghilangkan keberadaan ayam tak berlahan di lahan mereka selamanya, namun cara ini cukup efektif untuk meminimalisir keberadaan ayam yang mengganggu tersebut dilahan mereka.

Yang cukup unik adalah, ada seorang tetangga yang tak punya lahan akan membeli ayam cukup banyak ketika ada tetangga yang sedang panen padi. Tentunya ayam ayam tersebut dibeli dengan tujuan untuk berkelana di lahan tetangga dan kemudian akan memakan gabah-gabah yang berserakan dari hasil panen padi tetangganya. Dan ini dilakukan berkali kali dan selama bertahun-tahun.

Kasus-kasus sosial atau konflik sosial karena ayam pun sering terjadi. Semisal ayam tak berlahan itu tidak pulang ketika sudah sore, maka dengan penuh kecemasan sang pemilik akan mencari-carinya. Dan kemana lagi mencarinya kalau tidak ke tempat tetangga yang berlahan. Ini sering menimbulkan curiga mencurigai. Apalagi kalau ayam tak berlahan itu mati, maka kecurigaan dibunuh dengan sengaja oleh sang pemilik lahan luas menjadi tinggi. Omelan dan makian pun sering terjadi. Walaupun dalam pengamatan saya selama ini, konflik tersebut tidak sampai menjadi konflik fisik.

Ayam yang mati tertabrak oleh kendaraan baik itu mobil maupun motor maupun kendaraan yang lain, atau mati karena keinjak seseorang, dan kematiannya itu diketahui oleh sang pemilik, maka sang pemilik akan meminta ganti dari sang pengendara yang menabraknya. Tidak peduli bahwa yang salah itu ayamnya karena berkeliaran di jalan umum, yang pasti, ayam tersebut harus diganti. Itulah yang terjadi di kampung saya.

Sekedar Cerita Basi

Haqiqie Suluh

Iklan

2 Responses to “Ayam, Kampungku, Darwin dan Kehidupan”


  1. 1 neng fey Senin, 3 Maret 2008 pukul 11:26 am

    dulu, waktu masih TK dan tinggal di Cilegon, hal serupa sering terjadi, tapi ayamnya diganti dengan soang alias angsa, pup angsa lebih mengerikan dari pada pup ayam hehehe
    —-> komen basi :p

  2. 2 Nurilal Jumat, 9 Maret 2012 pukul 1:48 pm

    Ya yang benar kalau memelihara ayam ya harus punya kandang dan di usahakan tidak kelayapan ngganggu orang lain harus jaga juga bau dan kebersihan lingkungan itu kalau ingin berkah selamat dan mendapat kesenangan kalau ingin dapat dosa dan doa jelek dari tetangga ya kalau bisa jangan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: