Yang Salah Manusianya bukan Agamanya!!

Tulisan ini hadir terinspirasi dari beberapa jawaban yang sering dikemukakan oleh para pembela agama berkaitan dengan serangan yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap kelemahan atau mungkin lebih tepat kekejaman (imoralitas) yang dilakukan dan terjadi atas nama agama.

Sebelum menyimpulkan apa yang akan saya sampaikan disini, jangan mengambil suatu preconclusion dahulu hanya dengan membaca judul maupun dengan pembacaan cepat atau skimming.

Agama disini hendaknya tidak dinisbahkan pada independensi dari agama itu sendiri tanpa merujuk manusia. Agama itu tidak pernah an sich. Agama itu tidak akan pernah hadir dengan dirinya sendiri. Agama tidak akan ada tanpa manusia. Agama dalam dirinya sendiri tidak akan pernah ada. Tidak ada Agama tanpa manusia. Syarat mutlak dan wajib atau conditioned dari eksistensi Agama adalah eksistensi Manusia. Tanpa Manusia, Agama adalah kosong. Tanpa Manusia, Agama adalah kehampaan.

Nah disini saya hendak mengkritisi sebuah apologi jawaban dari sebagian besar orang yang mengatakan atau sering menjawab sebuah pertanyaan yang seolah olah menjawab dengan cerdas tapi sebenarnya hanyalah jawaban apologis atau menghindar atau tak bertanggung jawab. Kronologisnya secara singkat begini:

Agama melahirkan peperangan, Agama melahirkan pembunuhan, Agama melahirkan kebengisan, Agama melahirkan imoralitas. Mau contoh? Saya kira dengan rententan sejarah yang sedemikian banyak mengenai bukti dari imoralitas Agama, saya tidak akan memberikan contoh.

Tentunya Agama melahirkan peperangan itu juga Agama yang bereksistensi di diri dan perlaku manusia karena peperangan, pembunuhan, kebengisan, imoralitas itu merupakan bentuk dari perilaku Manusia.

Dan kebanyakan dari para pembela atau apologis Agama akan menjawab tantangan atas kenyataan itu dengan mengatakan bahwa, “Yang Salah Manusianya bukan Agamanya!”, “Agama itu tidak pernah salah, Yang salah adalah orang yang menjalani Agamanya, Yang salah adalah Manusianya!”

Ini sebenarnya merupakan suatu sikap apologis yang terkesan mau menyingkirkan tanggung jawab. Saya siap mengakui bahwa Agama itu dalam dirinya sendiri tidak akan pernah salah, juga saya harus mengatakan bahwa Agama dalam dirinya sendiri tidak akan pernah benar. Agama dalam dirinya sendiri (tanpa manusia) merupakan suatu suatu hal atau ide yang netral atau tak memiliki nilai atau nihilisme. Artinya Agama dalam bentuk ide-ide, perintah-perintah, argument-argumen, cerita-cerita dan sebagainya merupakan sesuatu yang mati, tak memiliki roh, tak memiliki kehidupan. Baru ketika agama dilekatkan dengan entitas Perilaku Manusia ia bisa menjadi benar dan salah, baik dan buruk.

Jadi akan lebih tepat mengatakan atau menjawab tantangan atas fakta bahwa Peperangan dan Pembunuhan serta Kekejaman Agama itu memang benar-benar terjadi, dengan mengatakan bahwa: Agama itu bisa salah, Agama itu bisa benar, Agama itu bisa buruk, Agama itu bisa baik. Sekarang hanya mau kemana kita akan membuktikan kebaikan dari Agama itu kepada dunia. Yang diperlukan adalah bukti bahwa Agama (baca: Agama Manusia) itu lebih dominan ke arah kebaikan bukan kearah keburukan (karena mustahil ditangan manusia, Agama itu bisa dibawa ke arah yang benar-benar baik). Ini hanyalah masalah kredibilitas!

Harus saya akui juga bahwa saya mau tidak mau masih menaruh harapan yang besar pada Agama untuk memperbaiki kehidupan manusia secara moral (moral dalam hubungan antar manusia bukan moral yang berhubungan dengan seksualitas, cara berpakaian, cara makan, cara cebok dan sebagainya)

Salam Haru

Haqiqie Suluh

Catatan: Ketika saya menyebut Agama (tanpa embel-embel dibelakangnya atau di depannya), anda harus bisa membedakan Agama sebagai sesuatu dalam dirinya sendiri, Agama an sich, dan dengan Agama dalam identitas Manusia, Agama Manusia.

32 Responses to “Yang Salah Manusianya bukan Agamanya!!”


  1. 1 Tito Kamis, 31 Januari 2008 pukul 2:43 pm

    saya takut nanti malah ada yang mengelak: yang salah itu agama manusianya bukan agama an sich nya :P

  2. 2 Kopral Geddoe Kamis, 31 Januari 2008 pukul 2:46 pm

    Aaaah, pokoknya agama itu tidak pernah salah! Yang bilang salah masuk neraka! :lol:

    *elus-elus jenggot virtual*

  3. 3 joyo Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 12:47 am

    good point bro!
    tulisan ini bisa jadi rujukan, soalnya sudah beberapa kali saya dapat pernyataan spt judul tulisan ini, dan selalu saya jawab: religion is a kind of a life-tools i said, it can be good or bad.

  4. 4 Cabe Rawit Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 10:57 pm

    Wuih… tajem… tajem…
    *mangguth-mangguth*

    Setau ane, agama secara harfiah adalah aturan. Dalam bahasa sendiri, ane mendefinisikan agama sebagai bentuk-bentuk aturan yang mengikat kepada siapapun yang mengikatkan dirinya pada aturan tersebut. Mengenai siapa yang membuat aturan-aturan itu, secara umum ada dua; yang -diyakini- dibuat oleh Tuhan dan yang dibuat oleh manusia berdasarkan olah rasa, hati dan akalnya. Orang suka ada yang ngebaginya menjadi agama samawi dan agama ardli. Agama langit, ama agama bumi. Tapi harap dicatat, pembagian ini muncul dan ada dalam wilayah kajian manusia.

    Jadi kalo kemudian bang Suluh berpendapat agama itu bisa benar, bisa salah, agama bisa baik bisa buruk… Ane sepakat. Tidak ada yang kontradiktif atau kontroversial dengan pernyataan ini.

    Salam kenal dari ane bang Suluh…

  5. 5 rio Minggu, 3 Februari 2008 pukul 12:00 am

    jangan diperdebatkan soal agama, emangnya kita dah jadi manusia yang benar-benar sebagai manusia. Memperdebatkan agama apalagi sampai nyalahin agamanya atau manusianya ujung-ujungnya ntar p e r a n g.

  6. 6 joyo Minggu, 3 Februari 2008 pukul 1:29 am

    @rio
    knp nggak diperdebatkan klo bisa diperdebatkan? :D

  7. 7 Suluh Minggu, 3 Februari 2008 pukul 8:35 am

    @semuanya:

    thank atas tanggapannya. saya tunggu tanggapan yang lainnya…

  8. 8 dede imyut ^_^ Selasa, 5 Februari 2008 pukul 1:00 pm

    apa gak terlalu egois permasalahin ini? keknya lebih enak kalo ngomongin apa yang bisa di kasih liat agama di waktu sekarang.mestinya kita cari bukti apa iya agama itu jawaban dari permasalahan… keknya lebih enak kek gitu dari pada kita bilang agama benar-salah-.itu kan bisa nisbi pisan. tar malah gak ada ujungnya. lagi lagi kita terjebak di labirin gak berujung,sibuk di dunia sendiri. padahal,di luar sana dah nunggu aksi kita. sepakat gak?!

    ( gak ya???! )

    ya udah gak apa-apa

  9. 9 cep jajang Rabu, 6 Februari 2008 pukul 6:52 am

    agama adalah ajaran tuhan yang di wahyukan pada nabinya dan untuk di ikuti oleh manusia pada jamanya,sebagai suatu sistem,untuk keselamatan,kebahagiaan,dan kerukunan antar umat manusia,dan mahluk Allah yang lainya,maka dengan agama akan terjadi kehidupan yang kondusif,selamat dunia dan akhirat.amiin.tapi ajaran agama yang tidak di kontaminasi oleh mausianya itu sendiri,yang keluar dari al qu,an dan as-sunah.

  10. 10 Suluh Rabu, 6 Februari 2008 pukul 8:18 am

    @dede&cep jajang: you don’t get it what i meant… please read again carefully

  11. 11 watonist Rabu, 6 Februari 2008 pukul 8:26 am

    agama (sebagai satu bentuk aturan/tatacara dst) itu adalah kecenderungan kemanusiaan, jadi jangan apriori … kecuali sampai kita sudah menjadi bosan dengannya (menjadi manusia) :)
    lihat aja waktu kita belajar fisika (salah satunya), penuh dengan aturan (rumus) juga kan ?!

    saya setuju dengan pernyataan, “agama (an sich, artinya apaan sich ??) itu seperti alat, bisa dijadikan kebaikan, bisa pula keburukan”. itulah kenapa kita tidak pernah (dan tidak akan pernah) dituntut untuk mempertanggung jawabkan agama, berkali-kali ditegaskan, “yang dipertanggung jawabkan adalah diri sendiri”.

    mangkanya jadi aneh (dalam pandangan saya) kalau dari situ lantas muncul komunitas-komunitas peng-klaim “kebenaran”, bukan berarti nggak setuju dengan terbentuknya komunitas/kelompok … toh saya juga dengan legowo menerima munculnya klub agamis, klub motor, klub indonesia raya, dst. lagipula saya juga ngerti kalau tidak berkelompok itu juga merupakan salah satu jenis kelompok, yang saya ndak mudheng adalah ketika muncul pendapat bahwa “anggota klub” adalah sudah pasti lebih unggul, lebih benar, lebih selamat, dan lebih lebih yang lain.

    “lantas, apakah itu berarti saya ndak percaya adanya kebenaran mutlak / Tuhan ??”, bentar … jangan mengambil kesimpulan terlalu prematur, justru karena saya yakin bahwa Tuhan sejati bukan hanya tuhannya satu klub tertentu itulah makanya saya berpendapat begitu.

    lagian, mana ada sih orang yang kenyang dengan makan “resep”, kenyang itu diperoleh ketika resep itu kita gunakan untuk memasak makanan, untuk kemudian kita makan. :mrgreen:

    *kok kayaknya nggak gitu nyambung yah – agak mabok*

  12. 12 Suluh Rabu, 6 Februari 2008 pukul 8:46 am

    @watonis: an sich tuh artinya dalam dirinya sendiri. kan udah saya terangkan dibelakangnya tuh..

  13. 13 watonist Rabu, 6 Februari 2008 pukul 8:56 am

    eh iya …, maap deh :mrgreen: *duhh … jadi ketahuan nggak teliti bacanya*

  14. 14 arintaf Jumat, 8 Februari 2008 pukul 8:25 am

    You got the point.
    I couldn’t agree more.

  15. 15 Suluh Jumat, 8 Februari 2008 pukul 8:49 am

    @arintaf: thanks for your comment

  16. 16 pekun Senin, 11 Februari 2008 pukul 3:27 am

    saya mau memberikan masukan yah mas suluh
    mungkin jawaban saya juga bisa salah karena topiknya agama nih.

    menurut saya agama atau ajaran atau kepercayaan itu tidak pernah salah(bukan yang ajaran sesat yah)
    dan manusianya juga tidak salah karena meyakini bahwa agama atau kepercayaan yang di anut dianggap paling benar.
    nah permasalahan yang timbul dari situ ialah bahwa manusia salah menafsirkan ajaran2 yang mereka anut karena ajaran2 yang ada juga memiliki banyak penafsiran yang berbeda2 dengan setiap manusia.

    contoh biar jelasnya yah: mis ada ajaran A jangan membunuh
    trus ada 10 pengikut ajaran A ini.
    pengikut 1 : dia berfikir dia tidak boleh membunuh manusia(berarti selain manusia dia boleh bunuh)
    pengikut 2 : dia berfikir dia tidak boleh membunuh makhluk hidup(sampe tumbuhan pun dia tidak boleh membunuhnya)
    dll
    jadi kesimpulanya manusia membuat kriteria sendiri dengan akal budinya menerima suatu ajaran yang dia terapkan dalam hidup ini.
    dan menurut saya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar

    create : by pekun ( my life my rule my style )

  17. 17 Suluh Senin, 11 Februari 2008 pukul 3:52 am

    @pekun: jadi pembunuhan massal, peperangan, kekejian, atas nama agama (Agama Manusia) juga tidak salah?

    ah betapa mengerikan dunia….

  18. 18 pekun Senin, 11 Februari 2008 pukul 5:55 pm

    kan seperti yang saya utarakan diatas ajaran yg bukan sesat.
    setau saya semua ajaran yg baik tidak ada yang menyesatkan
    dan sekali lagi bagaimana kita sebagai manusia mengartikan ajaran2 yang dianutnya itu baik atau benar tergantung dr cara manusia menafsirkanya

    nb: dunia memang sudah mengerikan (heheheehehe)

    create : by pekun (my life my rule my style)

  19. 19 Suluh Rabu, 13 Februari 2008 pukul 9:32 am

    @pekun:

    ah disini gak begitu mengerikan kok mas pekun… bisa nulis blog internetan, pake hp, dll… yang ngeri kan ada ditempat yang berbeda…

    secara psikologis saya sih… :smile:

  20. 20 raihanaazzahra Rabu, 20 Februari 2008 pukul 12:38 pm

    Memang benar sih karena agama juga terjadi peperangan, pertumpahan darah, kekerasan dll. Tapi ……..aku rasa karena agama juga ada perdamaian, kasih sayang. Jadi bukan berarti dengan adanya peperangan, kekerasan karena agama kita mesti memusnahkan agama bukan??? Bukan berarti pula kita mesti tidak beragama.

    Nah jadi sepakat deh dengan kata Kak Suluh “Yang diperlukan adalah bukti bahwa Agama (baca: Agama Manusia) itu lebih dominan ke arah kebaikan bukan kearah keburukan (karena mustahil ditangan manusia, Agama itu bisa dibawa ke arah yang benar-benar baik). Ini hanyalah masalah kredibilitas!” Siapa yang kan membuktikan???? Kalian yang mengaku beragama. Selamat membuktikan!!

  21. 21 sofyan Sabtu, 1 Maret 2008 pukul 5:58 am

    hampir sama logikanya dengan tongkat yang digunakan untuk mencuri buah mangga di kebun orang. Mana yang salah? Orang yang memakai tongkat untuk nyolong atau tongkat yang dipakai untuk nyolong?

    Atau dua2nya salah disaat waktu dan tempat yang tepat? Salah karena naruh tongkat di dekat kebun mangga, salah karena orang yang lewat menggunakan tongkat untuk nyolong mangga?

    Au ah… pusing… :)

  22. 22 watonist Sabtu, 1 Maret 2008 pukul 7:59 am

    @atas
    biar gak pusing, gini aja gampangnya … kita lihat saja nanti, si tongkat ada di neraka ataukah disorga ?? beres kan :D

  23. 23 Kendurian Senin, 3 Maret 2008 pukul 1:17 am

    Gimana kalau kita rame-rame bikin agama baru? No rules, no dogma, no history?

  24. 24 Suluh Senin, 3 Maret 2008 pukul 8:29 am

    @kendurian:

    terlalu emosional dan ternyata menggelikan memikirkan saran anda (unlogic i think)

  25. 25 Kendurian Senin, 3 Maret 2008 pukul 12:56 pm

    Kita bikin agama yang ga emosional boss…

  26. 26 CELENG Minggu, 13 April 2008 pukul 7:12 pm

    makna di atas sudah melangkah terlalu jauh,,yang salah bukan manusia
    & bukan juga agama,,tapi PERBEDAAN ,,karena setiap agama membawa kpd
    kebaikan(samawi maupun ardzi)analisa gw cuma perbedaan,,tp mas suluh
    hati2 zo awas salah nulis,ntar fatal low..??salam kenal bro..

  27. 27 Makasiouw Kamis, 17 April 2008 pukul 2:32 pm

    Agama dibuat oleh manusia.

  28. 28 Stella Rajagukguk Minggu, 4 Mei 2008 pukul 2:11 pm

    Mas Suluh, yakin kalau SEMUA ajaran agama ada yang salah? Sudah baca semua kitab suci dan mengerti Tradisi (T capital letter) yang diajarkan SEMUA agama di dunia ini?

    BTW yang saya maksudkan bukan
    “Bagaimana manusia menerjemahkannya”
    tapi
    “Ajarannya, Tradisinya, yang ditulis dan diajarkan.”

    Jadi belum sampai ke implementasinya, masih ke Policy dan Guideline-nya.

    Saya tidak setuju dengan pernyataan Mas yang ini:
    “Agama itu bisa salah, Agama itu bisa benar, Agama itu bisa buruk, Agama itu bisa baik.”

    Tapi setuju dengan pernyataan yang ini:
    “Yang diperlukan adalah bukti bahwa Agama (implementasinya – saya edit dikit) itu lebih dominan ke arah kebaikan bukan kearah keburukan (karena mustahil ditangan manusia, (implementasinya – saya edit lagi) Agama itu bisa dibawa ke arah yang benar-benar baik).”

  29. 29 Suluh Minggu, 4 Mei 2008 pukul 2:39 pm

    @stella: baca lagi tulisan saya diatas mbak… saya gak pernah menulis atau mengatakan semua agama salah lho… tentang agama bisa salah, agama bisa benar tuh sudah saya katakan sebagai agama ditangan manusia /agama manusi… agama an sich atau dalam dirinya sendiri sudah saya katakan tidak pernah salah, juga tidak pernah benar… text atau ajaran yang belum diimplementasikan seperti kata anda akan selalu dalam keadaan mati dan tidak memiliki suatu moralitas… tidak salah tidak juga benar… liat catatan akhir di footnote saya diatas… kontek tulisan diatas sebenarnya ditujukan pada agama sebagai “perilaku manusia” yang saya yakin bisa salah bisa benar…

  30. 30 julak Rabu, 19 November 2008 pukul 8:40 am

    mari atas nama agama kita rame2 bersihkan parit saluran air dan bersih2 lingkungan agar terhindar dari kebanjiran dan terjangkit dari segala wabah penyakit

  31. 31 Yanuar Sabtu, 21 April 2012 pukul 12:43 am

    Suka tulisan Suluh ini…
    Agama memank bisa benar dan bisa juga salah, makanya ada banyak agama di muka bumi ini hingga konon mencapai 7 juta.

    Tanpa manusia, agama tidak akan pernah ada. Herannya, banyak terbukti lewat kejadian dan sejarah berdarah-darah, agama an tersebut malah mematikan manusia.

    Tentang kebenaran subyektif yang dirujuk menjadi kebenaran obyektif nan universal secara paksa, besar sekali kemungkinan akan terjadi pergesekan kepentingan. Karenanya kebenaran atau kesalahan, kebaikan vs keburukan agama an patut di perhatikan dengan seksama. Go figure deh…do we still need jari menunjuk ke bulan, or we already have enough wisdom untuk langsung melihat kearah dimana bulan tersebut berada?

  32. 32 dewa Kamis, 10 Oktober 2013 pukul 12:59 pm

    sip…sip… salam kenal buat bang Suluh dan yg lainnya juga.
    mohon maaf sebelumnya, sy hanya numpang baca aja n kegelitik tuk nimbrung juga nih jadinya.
    bagi saya…untuk agama bisa benar dan salah…sy gak ingin komenin. kembali pada individunya….krn akal kita bisa dan ingin dan ada dorongan untuk melakukan sesuatu…krn dengan keinginan itu jadilah kebaikan dan keburukan (sampai pd ngakali dan akal-akalan) bagi saya kembali lagi pada manusianya.krn hanya Alloh aja yang serba Maha…….monggo di lanjut………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: