Memikirkan kembali tentang Postulat, Aksioma, atau Asumsi Awal Kita

Sudah cukup sering saya mengungkapkan di blog ini menyoal postulat atau aksioma yang menjadi titik henti dari sebuah proses pemahaman. Sudah cukup sering pula saya mengatakan bahwa membuktikan secara final sebuah postulat adalah kemustahilan karena hanya akan melahirkan argumen yang sirkuler atau melingkar. Titik henti dari postulat adalah sebuah keyakinan atau kepercayaan. Akan tetapi selama ini ada yang hilang dari pengamatan atau pemahaman saya mengenai postulat ini. Postulat, seberapapun itu tidak bisa dibuktikan secara final, ternyata tidak bisa sembarangan kita buat atau kita terbitkan. Ternyata menerbitkan atau membuat sebuah postulat atau aksioma (dalam matematika dan fisika misalnya) membutuhkan apa yang dinamakan KREDIBILITAS PROSES.

Kredibilitas Proses (saya belum googling atau mencari tulisan yang membahas hal ini, ini sepenuhnya merupakan pendapat pribadi dari diri saya sendiri, dan istilah Kredibilitas Proses juga merupakan istilah yang saya gunakan dan ciptakan sendiri) yang saya maksudkan disini adalah sebuah penyelidikan atau pembuktian secara falsifikasi (atau mungkin juga verifikasi, tetapi saya lebih cenderung ke arah falsifikasi) pada proses-proses (pada hukum-hukum fisika, aturan-aturan matematis atau rumus-rumus matematis dan lain sebagainya), bahwa postulat itu “bekerja dengan baik” pada hukum hukum atau aturan-aturan dimana postulat atau aksioma itu digunakan.

Semisal postulat einstein mengenai relativitas yang menyatakan kecepatan cahaya di ruang hampa adalah sekian meter per detik dan sama untuk semua pengamat, serta hukum fisika berlaku sama untuk semua pengamat. Postulat ini diciptakan menjadi pondasi pokok dari proses-proses relativitas yang sampai sekarang belum tergoyahkan. Postulat ini menjadi dipercaya memiliki kebenaran karena adanya kredibilitas dalam bentuk pembuktian secara falsifikasional dalam dunia fisika.

Anda bisa saja mengambil postulat yang berlawanan dengan postulat eisntein, walaupun secara logika, postulat anda sama-sama terbit dari kehampaan dan tidak bisa dijustifikasi secara menyeluruh,  tetapi jika postulat anda tidak “bekerja” di dunia empiris sebagaimana postulat eisntein maka postulat anda adalah tidak berguna. Demikian halnya penerbitan aksioma dalam dunia matematika juga memiliki proses legitimasi yang sama dengan postulat di dunia fisika ini.

Asumsi yang Berwajah Ganda atau Jamak

Mungkin dalam dunia empiris seperti fisika dan matematika kita bisa menjustifikasi postulat atau aksioma dalam proses atau hukum atau aturan dimana postulat atau aksioma itu diberlakukan. Akan tetapi apa bila kita mengambil suatu asumsi yang ternyata asumsi itu memiliki wajah ganda atau jamak ketika diterapkan dalam aturan dimana asumsi itu diberlakukan, kita tidak dapat mengambil suatu kredibilitas tunggal atas asumsi-asumsi yang kita terbitkan.

Maksudnya disini adalah, kadang kala terdapat dua atau lebih asumsi yang dapat kita terapkan dalam sebuah proses, dan masing-masing asumsi tersebut ternyata dapat bekerja dalam proses ini walaupun pada dasarnya asumsi-asumsi itu memiliki perbedaan yang mencolok bahkan berlainan atau bertolak belakang. Nah dalam kerangka ini, kredibilitas proses menjadi sulit dilakukan. Disini hanya bisa dilakukan sebuah upaya pengambilan kepercayaan sementara, atau mungkin pula sebuah bentuk agnostisme asumsi. Karena kita tidak pernah bisa mencari kredibilitas asumsi jamak atau ganda dalam proses, sedang satu-satunya cara mencari justifikasi sebuah asumsi ada dalam proses, maka asumsi-asumsi itu memiliki derajat keraguan atau keyakinan yang sama (atau masih samar).

Jenis-jenis asumsi jamak atau ganda ini sebenarnya sangat banyak dalam kepercayaan kita. Saya tidak akan menjelaskan atau memberikan contoh kepada anda. Silahkan renungkan asumsi-asumsi anda atau postulat-postulat anda. Apakah sebenarnya asumsi anda masuk dalam kategori asumsi yang memiliki kredibilitas proses tunggal seperti postulatnya einstein atau aksioma matematika? Ataukah asumsi-asumsi anda memiliki katergori kredibilitas proses ganda atau jamak yang berarti belum final atau masih dalam tahap keraguan?

Salam untuk setiap Asumsi-asumsi Sadar dan Tak Sadar yang ada di DIRI KITA

Haqiqie Suluh

16 Responses to “Memikirkan kembali tentang Postulat, Aksioma, atau Asumsi Awal Kita”


  1. 1 apiqquantum Kamis, 6 Maret 2008 pukul 10:01 pm

    Bagaimana seseorang bisa memiliki keyakinan penuh ketika ia akan menerbitkan postulatnya?

    Bagaimana Eisntein bisa memilih postulatnya tentang relativitas? Mengapa Einstein tidak memilih postulat yang lain?

    Thanks

  2. 2 Suluh Jumat, 7 Maret 2008 pukul 8:22 am

    @apiqquantum: karena postulatnya bekerja secara empiris mas (kredibilitas proses) sepertinya tulisan saya diatas sudah menjawabnya. coba dibaca ulang mas.

  3. 3 maulz Jumat, 7 Maret 2008 pukul 7:25 pm

    haduw.. hora mudeng. berat2…
    tadi googling tips menghilangkan jerawat eh kesasar k sini.
    eniwei..mas suluh.. thanks tipsnya :D

  4. 4 joyo Selasa, 11 Maret 2008 pukul 1:48 pm

    kredibilitas proses, pembuktian yg nyata suatu postulat berlaku ‘benar’ ato tidak, hmmm,
    dan bisa jadi prinsip2 berikutnya dibangun berdasarkan postulat ini agar konsisten dg hukum2 sebelumnya yg juga menggunakan postulat tsb.

  5. 5 Suluh Rabu, 12 Maret 2008 pukul 8:36 am

    @joyo: yup, hukum2 sering kali mendasarkan pada postulat awal, atau hukum awal dimana hukum tersebut sebenarnya dibangun bedasarkan hukum sebelumnya.

  6. 6 joyo Rabu, 12 Maret 2008 pukul 5:27 pm

    akhirnya tidak ada kebenaran/realitas yg ada pengetahuan atas kebenaran/realitas

    *ngeloyor*

  7. 7 Suluh Kamis, 13 Maret 2008 pukul 9:08 am

    @joyo: wah anda terlalu berlebihan…

  8. 8 arsyi pamma Kamis, 22 Mei 2008 pukul 2:43 pm

    api itu panas/membakar…..
    ini aksioma apa bukan ya?
    saya gak tahu selanjutnya kalo ada yang meyakininya sesuatu yang dingin. atau merelatifkannya.

    Sebagian lebih kecil dari keseluruhan atau
    keseluruhan lebih besar dari sebagian.
    ini aksioma apa bukan ya??
    agnostik maupun gnostik tidak bisa menolak ini.
    karena ini gak ada kaitannya dengan keyakinan agama seseorang.

  9. 9 Suluh Kamis, 22 Mei 2008 pukul 3:26 pm

    @arsyi: panas dan membakar tuh dogma indera mas (kuli dan sensifitas kita)… itu dogma alias aksioma indera…

  10. 10 Suluh Kamis, 22 Mei 2008 pukul 3:36 pm

    keseluruhan itu konsep ketakterhinggaan mas, jika kita tidak menentukan keseluruhan itu identitasnya apa (seluruh manusia itu terjangkau–ada identitas manusia disitu– tetapi “seluruh” dalam dirinya sendiri itu tak terjangkau.. alias kita tidak pernah tahu yang “seluruhnya itu gimana” keseluruhan dalam arti yang “ada” itu merupakan sesuatu yang tak terjangkau…)

    aksioma itu merupakan suatu “titik” atau “pijakan paling awal” dimana dia akan membentuk atau dijadikan landasan suatu pemahaman baru… dan aksioma itu akan diambil apabila ia dapat bekerja dalam suatu proses yang saya namakan “kredibilitas proses”..

  11. 11 maya Sabtu, 4 April 2009 pukul 6:36 pm

    heeem…..
    POstulat….asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya…

    btw bisa bantuin pecahin masalah gak….minta tolong dunkz bantuin beri ilustrasi kebenaran yang bersifat solipsistik….
    MAKASIH….

  12. 12 nirdukita r Rabu, 10 Juni 2009 pukul 7:14 pm

    thanks infonya mas, meski agak rumit tapi cukup memberikan ‘pencerahan’

  13. 13 jambrong Selasa, 9 Februari 2010 pukul 12:27 am

    oh jadi intinya jangan coba-coba bikin postulat kalo belum kadi einstein ya? hihihihihihihihihi

  14. 14 ozye Sabtu, 6 November 2010 pukul 11:50 pm

    makasih ya mas suluh, udah memberikan infonya, walaupun sebenernya dalam kajian studi saya yang latar belakangnya sosial, tp saya kiri ini sangat menarik menjadi diskursus lbh lanjut,

    terimkasih
    Ozyedeasr

  15. 15 emkhad arif Selasa, 25 Januari 2011 pukul 9:04 am

    so kesimpulannyya opo mas, ora ngudeng…

  16. 16 Dheaariska Sabtu, 2 April 2011 pukul 3:33 am

    Terimakasih, artikel yang sangat membantu saya, untuk bisa lebih memahaminya. kebetulan mencari tentang pengertian “asumsi” dan terimakasih boleh kopi paste ^^’ salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: