Agnotisme Religius: Antara Candu dan Kedamaian?

Sebelum meneruskan pembacaan atas artikel saya ini, mohon dengan sangat untuk membaca kembali beberapa tulisan saya mengenai agnotisme dalam blog ini. Saya tidak akan menunjukkan yang mana saja tulisan saya mengenai agnotisme, silahkan search aja di kotak pencarian yang telah tersedia di blog ini.

Kadang kala saya, sekarang ini (entah untuk saat yang nanti) yang tidak pernah bisa meyakini seyakin yakinnya bahwa Tuhan itu Ada, dan tidak pula pernah bisa meyakini seyakin yakinnya bahwa Tuhan itu Tidak Ada, membuat diri saya diombang-ambingkan dalam kehidupan sosial maupun kehidupan yang lainnya. Saya tidak mau munafik dengan mengatakan bahwa saya telah benar-benar meninggalkan ritual-ritual religius khas Agama Islam yang ditinggalkan atau ditanamkan dalam diri saya oleh lingkungan saya dan keluarga saya. Alih-alih saya meninggalkan seluruh ritual tersebut, saya malah sering kali menikmati kedamaian yang terjadi sewaktu dan setelah ritual-ritual itu saya lakukan.

Sekali lagi, walaupun saya secara sadar tidak bisa meyakini Keberadaan Tuhan secara penuh, saya masih tetap menggunakan doa-doa yang diajarkan oleh lingkungan dan keluarga saya dalam ritual tersebut, walaupun saya terlalu sering mengabaikan inti atau sari dari kalimat doa tersebut (termasuk arti yang sering tidak saya ketahui). Ibaratnya mungkin saya melakukan hanya sebagai sebuah kebiasaan yang menentramkan dan mendamaikan. Apakah saya Religius dengan melakukan seperti ini, sedangkan saya sepertinya menjalani suatu bentuk agnotisme?

Tentunya keraguan saya juga berimbas kepada keraguan yang lain semisal adanya dikotomi kehidupan kekal antara Surga dan Neraka. Keraguan ini ternyata tidak menghapus atau meragukan moral sosial yang saya anut selama ini. Saya sama sekali tidak meragukan bahwa menolong orang yang kesusahan, atau tertimpa musibah merupakan perbuatan yang bijak. Membantu kehidupan para anak yang kelaparan juga merupakan perbuatan yang bijak. Bedanya antara saya, sebagai seorang agnostik dan yang teistik adalah saya jarang sekali mengaitkan antara kebajikan saya dengan kehidupan setelah mati (jika itu memang ada). Saya tidak akan mengaitkan pertolongan saya dengan Surga.

Ketika saya merasa melakukan suatu perbuatan yang bijak, bukan alasan Surga yang pertama timbul, tetapi kehendak dalam diri yang menginginkan saya melakukan perbuatan itu. Imbas dari perbutan itu adalah kenikmatan rasa yang saya terima. Saya bahagia ketika membantu orang lain (dengan beberapa catatan tertentu yang tak bisa saya berikan disini). Dengan demikian moralitas saya hadir bukan karena dogmatisme agama yang berkaitan antara Surga Neraga atau Dosa dan Pahala. Moralitas saya hadir karena saya adalah manusia.

Candu Religius?

Saya kemudian berfikir apakah bentuk kehidupan saya ini sebuah candu? Apakah ketakmampuan saya melepaskan diri dari ritual-ritual masa lalu saya merupakan sebuah candu yang memabukkan dan membikin saya ketergantungan kepadanya?

Mari kita telusuri lebih lanjut. Candu setidaknya mensyaratkan bahwa ketika kita melepaskan dari ritual tersebut maka sebuah penyakit atau sisi negatif akan lahir dari kita. Kita jadi gelisah, kita jadi sakit, kita jadi tidak bisa bekerja dan sebagainya. Sebagaimana seorang perokok yang kecanduan rokok, mengakibatkan dirinya mengidam ketergantungan akan rokok. Sehari tidak merokok dia akan merasa gundah, sakit, bahkan tak mampu melakukan aktifitas. Kalau seorang pengisap ganja atau narkoba, maka tanpa narkoba atau ganja dirinya akan menjadi lemah tak berdaya. Dan sedikit demi sedikit ganja atau narkoba atau rokok, ternyata menyerap kesehatannya. Semakin kecanduan bukan semakin sehat, tetapi semakin sakit. Candu berbeda dengan makan buah pepaya atau pisang bukan? Berbeda pula dengan kebutuhan makan atau minum sehari hari kita yang menguatkan dan menyehatkan serta menumbuhkan.

Lalu apa kaitannya dengan ritualitas saya? Sekarang pikirkan sendiri jawabannya? Saya tidak merasa sakit ketika meninggalkan ritual tersebut, namun ritual tersebut memang saya akui memberikan manfaat batin yang signifikan, sehingga tidak ada salahnya saya lakukan. Saya sama sekali tidak mencandu dengan ritual-ritual tersebut. Saya pikir walaupun ritual bukan merupakan kebutuhan pokok seperti makan dan minum, namun ritual saya anggap sebagai vitamin hati. Kalau menurut anda bagaimana?

Kedamaian Religius?

Sebenarnya saya juga tidak begitu yakin apa itu yang dimaksud dengan religius. Jika anda meminta saya untuk mendefinisikan atau setidaknya menerangkan apa itu yang dimaksud dengan tindakan-tindakan religius saya menyerah. Religius apa tidak sesungguhnya hanya nama. Satu hal yang pasti bagi saya adalah rasa damai di hati, ketenangan di hati ketika melakukan sebuah tindakan yang diimbangin dengan akal sehat. Kita bisa saja mendapatkan kedamaian semisal dengan meminum obat penenang, tetapi bagi saya ini kedamaian semu. Damai disini tentunya memiliki batasan-batasan moral juga. Akan panjang kalau dibahas.

Kedamaian Religius setidaknya kalau dirunut dari definisi nama (Religi bisa berarti agama) mengandung arti kedamaian yang didapatkan ketika melakukan aktifitas-aktifitas keagamaan tertentu: secara umum melalui ritual nya. Tentunya ini bisa berbeda dari satu manusia ke manusia yang lain karena perbedaan lingkungan tempat dia ditumbuh kembangkan. Saya merasakan kedamaian religius ketika melakukan ritual agama tertentu, namun bisa dipastikan saya tidak akan mendapatkannya jika saya tidak terbiasa dengan ritual agama yang lain. Kalau mau sedikit yang lebih universal mungkin metode meditasi bisa mencakup semua orang untuk mendapatkan beningnya kedamaian, namun ini hanyalah perkiraan saya, masih perlu pembuktian. Karena ada ritual agama tertentu yang malah menolak meditasi konfensional sehingga secara dogmatis meditasi konvensional atau umum tertolak secara tak sadar oleh pelakunya.

Kedamaian Religius juga bisa berarti melakukan perbuatan-perbuatan yang oleh masyarakan tersebut dianggap sebagai kebaikan dan tentunya ketika melakukan kebaikan (nilai baik bagi masyarakat itu) sang pelaku menemukan kedamaian. Ini bisa berbeda-beda tiap tempat. Disini Kedamaian Religius tidak menempatkan pula pondasi Award and Punishment seperti Surga dan Neraka sehingga baik orang agnostik, teistik, atheis, bisa dikategorikan melakukan perbuatan Religius yang berujung pada Kedamaina hati: Kedamaian Religius.

Kayaknya cukup sampai disini acara melantur saya. Inspirasi tulisan ini muncul ketika saya pulang naik motor sehabis mengantar adik saya sekolah. Tepat 1 jam yang lalu (sekarang, saat tulisan ini berhasil diselesaikan sampai disini, jam 7.35, tanggal 19 Maret 2008.

Salam Penuh Damai di Hati

Haqiqie Suluh

43 Responses to “Agnotisme Religius: Antara Candu dan Kedamaian?”


  1. 1 joyo Rabu, 19 Maret 2008 pukul 11:28 am

    hmmm salah satu kedamian religius yang saya dp kan adalah ketika sendang/setelah nonton national geographics :D

  2. 2 Suluh Rabu, 19 Maret 2008 pukul 11:52 am

    @joyo: oya? baguslah… bisa dijadiin ritual juga tuh berarti :lol:

  3. 3 Kopral Geddoe Rabu, 19 Maret 2008 pukul 2:54 pm

    Ritualisme sebagai pendamai yang bersifat candu? Saya setuju. Seringkali walau saya tidak memiliki keyakinan yang bulat, saya menemukan kedamaian di situ. Saya merasa derajat saya ditinggikan, dibuai oleh entitas tak terbatas yang entah ada entah tidak…

    Mencerahkan, terima kasih. :)

  4. 4 Suluh Kamis, 20 Maret 2008 pukul 8:35 am

    @kopral: kalau saya sih menganggap ritual itu bukan candu kok, walau saya setuju kalau itu mendamaikan.

    terima kasih kembali…

  5. 5 danalingga Kamis, 20 Maret 2008 pukul 10:28 am

    candu itu tidak baik.

    *salah fokus*

  6. 6 Suluh Jumat, 21 Maret 2008 pukul 8:07 am

    @danalingga: lha emang iya… liat bukannya tulisan saya juga dah mengisaratkan hal itu… coba dibaca lagi :mrgreen:

  7. 7 april198 Jumat, 21 Maret 2008 pukul 6:33 pm

    Hmmm…as we grow older, the way we see things are also changed, they called it “paradigm shift.” Glad to know I’m not the only one.

  8. 8 Suluh Sabtu, 22 Maret 2008 pukul 10:14 am

    @april: yeah, you are not the only one. try to blog walking and you will find more person like you and me that fall in “paradigm shift”

    halah inggrisku katrok :lol:

  9. 9 prexoporte Rabu, 26 Maret 2008 pukul 11:42 am

    Tinggal dalam kehidupan dan keduniawian yang selalu di kurung oleh hal hal yang bernama kebendaan, adalah benar benar membawa akal sehat kita kepada hal hal yang kebendaan juga.
    Coba tanyakan hakekat ketuhananmu pada seorang anak kecil berumur 2 tahun, atau anak yang baru saja berbicara, (dengan netralitas mereka bahwa pikiran mereka belumlah terkontaminasi oleh hal hal lahiriyah), dan tanyakanlah ” Tuhan ada dimana? ”
    Bukan hal yang mengejutkan kiranya jika anak anak polos itu menunjuk tuhannya ke arah langit! Ya..! Memang disanalah Dia berada, yang menurut kepercayaan saya juga Dia ada di Arsy ‘ kursi ‘ Nya!
    Lalu penjelasan logis semacam apa yang bisa menyimpulkan fenomena anak anak polos ini?
    Pengingkaran kah? Besar kepalakah dengan isi kepala kita yang belumlah seberapa? Mencobakah berfikir menjadi Neitzche, Aristoteles, atau bahkan melompat jauh di sejarah manusia dengan mengumpamakan diri sebagai Noah?
    Akan kemanakah setelah mati? pernahkah mencoba berfikir betapa sia sianya hidup ketika setelah mati? Pernahkah mencoba membayangkan saat malam sepi, dimanakah batasan langit? Mampukah akal sehatmu menjangkaunya selain dengan imajinasi yang saya yakin gak mungkin akal budi manusia mampu mengartikannya. Walaupun dengan bahasa mapan filosofi, yang hanya bisa dipahami dengan mengikutsertakan Kamus Bahasa ketika membacanya.
    Sudahkah tidak ada kata kata lugas yang mewakili?
    Tuhan ada di langit!
    dan ketika kembali lagi pada sebuah aksioma…
    maka sesungguhnya akan pernah ditemukan lagi kata kata ” Kita menciptakan tuhan agar kita tidak merasa sendiri di alam semesta ini..”

    Kesombongan yang benar benar sempurna

  10. 10 Kristiono Rabu, 26 Maret 2008 pukul 2:05 pm

    @prexoporte : “Coba tanyakan hakekat ketuhananmu pada seorang anak kecil berumur 2 tahun, atau anak yang baru saja berbicara, (dengan netralitas mereka bahwa pikiran mereka belumlah terkontaminasi oleh hal hal lahiriyah), dan tanyakanlah ” Tuhan ada dimana? ”
    Bukan hal yang mengejutkan kiranya jika anak anak polos itu menunjuk tuhannya ke arah langit! Ya..! Memang disanalah Dia berada, yang menurut kepercayaan saya juga Dia ada di Arsy ‘ kursi ‘ Nya!”

    Saya kok malah jadi bingung? Apakah dengan begitu berarti pengetahuan manusia ditanamkan dari atas? Kalau begitu sia-sia ada yang namanya akal budi dan segala macam proses pembelajaran yang kita alami. Yakin seorang anak 2 tahun belum terkontaminasi apa2?

    Budi menuntun hidup manusia… bertahap! Lihat sejarah kemanusiaan. Ada perkembangan yang luar biasa antara pengetahuan manusia sekarang dengan pengetahuan manusia jaman baheula… tapi berapa lama?

    Teringat perkataan seorang guru saya setiap habis celoteh tentang Tuhan: “Kamu mengerti?” “Tidak!” jawab saya. “Bagus, semakin kamu belajar tentang Tuhan, kamu akan semakin merasa tidak mengerti.”

    Buat saya dan semua yang sampai sekarang belum bisa menegasi eksistensi Tuhan, tapi sekaligus belum bisa mengarfirmasi eksistensi Tuhan, berharap saja bahwa akan ada perkembangan pengetahuan manusia yang lebih baik lagi, sehingga pada waktunya budi akan menuntun pada sebuah kebenaran sejati tentang Tuhan…

  11. 11 Suluh Kamis, 27 Maret 2008 pukul 11:21 am

    @prexoporte: menanyakan pada anak kecil tuh juga tergantung pada linkungan cz anak kecil merupakan hasil dari interaksi dengan linkungannya. Bahkan kalau anak kecil tidak pernah dikasih dengar mengenai Tuhan dia pasti tidak bisa menjawab malah balik bertanya, ” Tuhan tuh apa? Artinya apa?” Dan sebagainya.

    @kristiono: bagi saya Mustahil sampai kapanpun membuktikannya. Doktrin Indera kita merupakan batas yang tak dapat dilampaui.

  12. 12 didiksuyuthi Selasa, 1 April 2008 pukul 3:06 pm

    mas haqiqie, permisi saya masuk secara kebetulan ke blog mas. ceritanya saya sedang searching pengertian agnotisme, eh ketemunya disini. syukurlah tulisan mas banyak membantu saya.
    salam kenal. terima kasih atas pengertian agnotismenya, dan keliaran-keliarannya

  13. 13 warsa Sabtu, 5 April 2008 pukul 12:12 pm

    Saya tidak mengerti…..TUHAN tidak penting diperdebatkan….
    Lam kenal, mas..dengan saya..seorang ketua rw di sukabumi

  14. 14 Amaranth Sabtu, 5 April 2008 pukul 11:03 pm

    @warsa:
    kayaknya disini nggak ada yang memperdebatkan Tuhan deh…

    Lha kok malah jadi kayak yang punya blog?

    maaf mas Suluh, numpang comment… :)

  15. 15 Suluh Minggu, 6 April 2008 pukul 7:37 am

    @warsa: udah dijawab sama amaranth… thanks…

  16. 16 yudith Minggu, 13 April 2008 pukul 8:47 am

    salam kenal mas,,,
    ingin ikut comment juga…saya pernah mendengar sebuah hadist (maaf banget saya lupa diriwyatkan oleh siapa) Rasulullah saat berbincang dengan para sahabatnya berkata, “aku merindukan ikhwan yang imannya luar biasa”…para sahabat menjawab “apakah itu para malaikat ya rasull?”…rasul menjawab “bagaimana mungkin para malaikat tidak beriman,sedangkan mereka membawa wahyu dari allah”…”apakah itu para nabi ya rasull?”…”bagaimana mungkin para nabi tidak beriman,sedangkan mereka menerima wahyu allah”…”apakah itu para sahabat ya rassul?”…”bagaimana mungkin engkau semua tidak beriman,sedangkan engkau melihat semua mujizat yang aku terima”…”lalu siapakah mereka ya rasul?”…”mereka adalah umat yang ada beribu-ribu tahun setelah aku wafat dan mereka percaya pada allah,padaku dan pada agama yang aku bawa..padahal mereka tidak pernah melihat mujizat yang aku terima secara langsung..merekalah ikhwan yang imannya luar biasa” (sorry kalo ada kata yg kurang or salah)
    menurut saya “ritual” yang mas bilang adalah kembali untuk kita sendiri karena walaupun seluruh umat yang ada di jagad raya ini tidak melakukan “ritual” tersebut..itu tidak akan mengurangi kekuasan dan kebesaran Allah…ada hal yang allah sembunyikan untuk tidak perlu atau tidak bisa kita pikirkan secara logika apakah itu benar atau tidak, yang terpenting adalah rasa iman dan percaya bahwa allah itu ada…

    rgrds

    yudith

  17. 17 yudith Minggu, 13 April 2008 pukul 8:50 am

    satu lagi kelupaan :)
    tuhan ada di dalam diri kita semua,ada dalam hati kita, dan ada di dalam perasaan kita…pada saat mas ingin menolong orang lain tanpa ingat pada surga, tahukah kamu mas bahwa itu adalah sifat allah (asmaul husna)

    • 18 adi Senin, 7 Desember 2009 pukul 10:18 am

      Kalu Tuhan ad dalam diri kita,
      lalu siapa yang lebih besar?
      Qita atau Tuhan???
      otomatis kita dunk..
      kalu Tuhanlebih besar, Dia g bisa masuk dalam diri kita lah….
      ^_^

  18. 19 Suluh Minggu, 13 April 2008 pukul 5:23 pm

    @yudith: makasih komentarnya dan selamat anda telah menemukan tuhan di hati anda… salut dan angkat topi buat anda….

  19. 20 indri Selasa, 29 April 2008 pukul 9:33 pm

    ..tak akan pernah bisa kita ‘membayangkan’ Tuhan, krn waktu kita tak akan cukup, ruang kita tak akan muat, dan tak akan pernah ada ‘pengalaman’ yang serupa dengan-NYA…
    Tuhan itu Eksklusif.

  20. 21 Suluh Rabu, 30 April 2008 pukul 10:16 am

    @indri: selamat… anda telah benar benar percaya dan yakin bahwa “Tuhan itu Eksklusif”. Jika sudah demikian, lupakan postingan saya ini… Kita memang berbeda… Saya hormati kepercayaan indri…

  21. 22 indri Rabu, 30 April 2008 pukul 9:45 pm

    sama-sama…terimakasih juga :) Hidup Bhineka Tunggal Ika!!hehehe….

  22. 23 kenangantidar Selasa, 6 Mei 2008 pukul 9:38 pm

    salam kenal buat mas suluh…
    saya baca tulisan nya dan bagus buat pencerdasan bangsa^_^
    ikutan comment ya mas
    setuju dengan moralitas yg hadir bukan karena dogmatisme agama yang berkaitan antara Surga Neraka atau Dosa dan Pahala. Moralitas yg hadir karena saya adalah MANUSIA,bertanggung jawab dgn akalnya,dan menurut saya bukan sebuah kesombongan yg sempurna,hanya mencari kedamaian religius dengan sudut yg berbeda…pokoknya peace..peace..&peace,moga2 bumi gw ga da lagi perang karena hal2 yg terlalu dogmatis
    (“paradigm shift.”) damn…im not the only one too

  23. 24 dewashiwa Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12:12 am

    Tuhan adalah suatu halusinasi(khayalan) manusia yang mengarah kepada delusi(suatu pengartian/pendapat yang salah akan sesuatu) yang merupakan salah satu gejala gangguan jiwa berat (gila / schizophrenia).Pendek kata : Jika satu orang delusi maka itu adalah gila, jika banyak orang delusi maka itu adalah agama!! Silahkan anda pilih yang mana, dan saya (untungnya), tidak memilih kedua2nya!!….Salam Atheis!!

  24. 25 Suluh Selasa, 6 Januari 2009 pukul 5:08 am

    @dewshiwa: tuhan bukan melulu sebuah delusi (walau itu mungkin) dan tidak ada gangguana jiwa yang akut disana (sejauh pengalaman empiris saya).

  25. 26 dewashiwa Kamis, 8 Januari 2009 pukul 9:54 pm

    Ketika orang berdoa atau sholat atau missa atau kebaktian atau apalah, otaknya mengalami keadaan microseizzure (serangan kecil) aliran listrik di otak tepatnya pada lobus temporalis yang disitu ada pusat tuhan atau G-Spot, dan itu sama polanya dengan orang dalam keadaan delusi, yaitu salah satu, sekali lagi salah satu gejala dari orang gila. Soal tuhan adalah delusi atau tidak, gak usah susah2 mas, kan bisa dilihat dari sifat dan perilaku manusia2 yang percaya tuhan, dalam hal ini umat beragama mainstream. Kita bisa lihat sehari-hari deh, di negara muslim terbesar se-dunia (dari segi jumlah lho, bukan kualitas!!) kok korupsinya terbesar se-asia dan no-6 se dunia? Di negara yang katanya orangnya beragama kok perilakunya kasar, sangar, egois dll. Kohesi sosial antar manusia di negara kita juga semakin longgar. Fakta sebagian itu saja sudah menunjukkan bahwa orang beragama di negara kita cenderung menderita gangguan jiwa, dan aku gak mengada2 lho, koruptor itu termasuk psikopat atau dalam istilah psikiatri : gangguan kepribadian antisosial. Lalu apa fungsi agama dalam melaksanakan transformasi sosial dan perilaku pada umatnya? Kagak ada coy!! Nol besar!! Jadi mau maju, ya tinggalin agama!! Begitu aja kok repot!! Salam Atheis!!

    • 27 Suluh Jumat, 9 Januari 2009 pukul 4:49 am

      proses yang ada katakan itu, anda sedang “memikirkan” kerja otak, tapi tidak “merasakan” doa..

      lho… korupsi bukan domain agama mas… itu domainnya manusia… anda terlalu menggeneralisir… agama bukan penyebab korupsi sejauh yang saya ketahui… sebuah negara korup bukan berarti penyebabnya karena dia menganut agama tertentu… korelasinya dimana ya?… trus soal fakta gangguan jiwa, anda dapat fakta dari mana tuh… keknya fakta anda berkebalikan dengan apa yang saya alami dan saksikan…

  26. 28 dewashiwa Jumat, 9 Januari 2009 pukul 9:28 pm

    Sampeyan bilang, Korupsi bukan domain agama? Korupsi adalah domain manusia? Justru salah besar mas, hubungan agama dan manusia adalah erat sekali (bagi yang memuja2 agama lho) dan hubungan itu termasuk dalam urusan perilaku manusia! Nah ini yang sering dilupakan orang! Lha kalau manusia beragama rajin berdoa dan sholat tapi perilakunya ke manusia lain buruk, lalu apa fungsi agama dalam menjalankan tugasnya? setahu saya tugas agama adalah mengajarkan kebaikkan dan kebenaran pada umatnya (katanya). Kalau umat beragama tidak berbuat baik dan benar tapi malah jahat (korupsi) dan kejam, lalu apa fungsi agama dalam melaksanakan transformasi perilaku pada umatnya? Agama yang tidak bisa mengubah umatnya ke arah baik dan benar, ya buat apa? Apa agama cuma ritual dan simbolisme keren2an aja biar dilihat orang paling beriman dan paling alim? Perilaku umat beragama buruk karena agama yang bersangkutan buruk (kedengarannya mengerikan ya, tapi begitulah adanya). Kalau dari segi cognitive dan segi affective seseorang buruk, pasti segi psikomotoriknya buruk, begitu aja kok repot, hehehehe. Oh iya aku dapet kata2 “orang beragama adalah mengarah ke kegilaan (schizophrenia)”, dapet dari buku Batas Nalar karangan Donald Calme, seorang neuro-biologist. Ada ungkapan lagi neeeh, Manusia tidak pernah berbuat jahat, sesempurna yang mereka perbuat karena keyakinan agama, yang bilang adalah Blaise Pascal…Maju terus dengan blog nya mas suluh, hehehehe….Salam Atheis!!

    • 29 Suluh Sabtu, 10 Januari 2009 pukul 4:18 am

      maksud bukan domain agama itu adalah… agama bukan penyebab korupsi… tapi mentalitas psikologis ekonomilah yang menyebabkannya.. bukan brarti agama di indonesia tidak bisa memberantas korupsi mas.. sejauh yang saya ketahui tidak ada ajaran agama yang secara signifikan menganjurkan korupsi tuh…

      Kalau dari segi cognitive dan segi affective seseorang buruk, pasti segi psikomotoriknya buruk, begitu aja kok repot, hehehehe.

      dengan kalimat itu anda mengatakan orang beragama cognitive dan afectivenya buruk bukan? anda hanya berhipotesis.. dan sungguh salah mengatakannya itu pasti.. bisa dipertanggung jawabkan?

      orang beragama mengarah kegilaan itu hanyalah pendapat pribadi mas. Jelas tendensius. :) dan keliatannya anda memakan mentah2 pendapat tersebut. Opini bukan sebuah kepastian.

  27. 30 Satpam Sabtu, 10 Januari 2009 pukul 2:24 pm

    @ dewashiwa
    Orang beragama justru jauh dari kegilaan, pertama, karena ia berani memilih untuk percaya pada tujuan utama beragama, yaitu Tuhan, berani menentang batasan pikirannya, jadi bukan kegilaan, karena melampaui pikiran, sementara kegilaan, masih dalam lingkup pemikiran, vis a vis, psikoanalisa. Kedua, agama tidak pernah mengajarkan keburukan, manusianya yg memilih keburukan, manusianya yg memilih untuk tidak percaya ajaran agama.
    perlu diperjelas maksud anda: mau tidak beragama atau tidak bertuhan, kok kyaknya campur aduk.

  28. 31 haniifa Senin, 12 Januari 2009 pukul 6:11 pm

    Karena saya belum membaca artikel @Mas tentang “agnotisme”, maka komentar ini sekedar melanjutkan tanggapan di artikel saya..
    Dikotomi…
    Percaya tuhan.. eh.. hantu ?! ya atau tidak

    Kalau secara definisi Islam maka :

    Percaya (T)tuhan ? Tidak.
    (saya tidak akan merespon sedikitpun, jika dipanggil dengan nama alias yang tidak menjadi indentitas diri. Al Qur’an menjelaskan pangilah asma Allah atau Ar Rahman as primary, atau asma yang dijelaskan as secondary)

    Percaya hantu ?! Ya.
    (Jika tidak percaya hantu, berarti tidak percaya bahwa Allah menciptakan makhluq bernama jin, hantu temasuk segolong jin dalam kaidah Bahasa Indonesia)

    Wassalam, Haniifa.

  29. 32 bemo kuno Minggu, 15 Maret 2009 pukul 4:16 pm

    Kenapa agama sudah tidak berdaya lagi dalam mengontrol perilaku umatnya? Karena agamawan/rohaniwan yang harusnya menjadi panutan umat malah melakukan perilaku yang tidak baik, contohnya : guru ngaji atau guru agama di beberapa daerah malah men-sodomi muridnya, kyai ngetop di semarang ngotot mempertahankan kemauannya untuk mengawini anak dibawah umur, ustad kondang dari bandung yang biasa ceramah tentang keluarga harmonis (sakinah, warohmah, mawadah) dengan bergembira ria malah kawin lagi, beberapa pastor terlibat perbuatan tidak senonoh dengan suster, rekan pastor atau umatnya, pendeta terlibat tindak asusila dengan sekretarisnya dan banyak lagi contoh perilaku agamawan/rohaniwan yang tidak pantas, yang kita semua bisa lihat lewat internet. Kalau agama katanya berisi kebaikkan kenapa para agamawan/rohaniwan justru berbuat tidak baik? Ada yang ber-argumen : ”Yang salah orangnya, bukan agamanya!!” Tetapi ketika orang yang lebih mengetahui agama (agamawan/rohaniwan) malah melakukan perbuatan tercela, lalu dimana fungsi transformasi perilaku yang selalu didengung2kan oleh agama? Dimana pula cita2 agama yang katanya dapat melakukan suatu fungsi transformasi sosial dalam masyarakat? Kesemuanya justru dilangkahi oleh insan2 terdekat agama itu sendiri. Jadi ketika ditarik lebih keatas (katanya sih TUHAN ada di atas), justru agama itu sendirilah yang lebih bermasalah ketimbang perilaku umatnya!! Jadi sekarang agama mau kemana? Kayaknya ke museum aja deh, dijadikan benda2 purbakala…..hehehe

  30. 33 Amaranth Kamis, 26 Maret 2009 pukul 3:51 am

    mas suluh udah lama gak nulis yang gini-gini ya…

    ayo mas, nulis lagi…

    aku kangen tulisanmu yang kayak gini..

    makasih

  31. 34 abdul Sabtu, 18 April 2009 pukul 4:45 pm

    Salut buat Mas Suluh,
    Agnotisme itu bahasa apa ya…?gak pernah dengar aku.
    aku juga cuma bisa berkhayal apa dan bagaimana Tuhan itu sebenarnya. Kalau ada yg bilang bisa merasakan ada Tuhan dgn inderanya pasti orang itu gila atau pendusta. kita cuma bisa yakin menurut agama atau berkhayal tentang Tuhan yg kita anggap itu benar. Gini nih Khayalan aku :
    Tuhan itu tidak nganggur atau kurang kerjaan seperti kita
    Ia adalah Pencipta segala sesuatu dan ciptaannya yang paling bernilai atau disebut “Hasil Karya Maestro” yang paling di banggakan adalah manusia yg akan muncul sejumlah banyak orang yang bisa dikatakan “Masterpiece” Prototipenya adalah “Nabi Muhammad”.

    WaQul Ja Al Haqqu wazahaqal batilu innal batila Kana Zahuqo”. Ciptaan Tuhan secara umum ada 2;
    1.Segala suatu yang batil, akan musnah, fana, yang bersifat sementara dan tidak akan diciptakan lagi, baik bersifat benda maupun sifat perbuatan;seperti dunia, dosa, najis, pokoknya yg jelek2 dan negatif sekarang ini, dan pelaku kebatilan tadi akan ke neraka
    2. Sesuatu yang kekal yaitu sang kebenaran (Hakikie)itu
    sendiri baik bersifat benda maupun sifat perbuatan; seperti Akhirat, benda2 dan makhluk yg dikehendaki Allah kekal bersamanya yaitu para pelaku kebaikan

    Bahwa Tuhan itu Maha adil, orang yang masuk Surga dan masuk neraka di seluruh bagian dunia persentasenya sama, Islam setelah Nabi Muhammad itu rahmatan Lil Alamin, mau di Amerika, Indonesia, Arab, Cina. Persentase orang yang masuk surga atau neraka pasti sama.
    (Jangan terpengaruh sama banyaknya ustad dan Kiai)

    Manusia ketika didunia secara default menganggap bahwa dirinya dan Nafsunya adalah Tuhan (di nomor satukan). Secara lahiriah kita dipengaruhi oleh gravitasi shg selalu tertarik ke pusat bumi. Dan Secara batin kita dipengaruhi dan ditarik oleh nafsu (dan Iblis).

    Untuk melawan Tarikan Nafsu tadi sangat berat, perlu Motivasi yg benar2 dahsyat. kalau sekedar motivasi Surga dan Neraka. Jaman sekarang ini bagi sebagian orang hidup memang sudah seperti Surga. Neraka? orang sudah banyak melihat peristiwa2 bencana alam besar menimpa manusia yang seperti Neraka di dunia ini tetapi masih berbuat dosa.

    Carilah Motivasi Anda sendiri2

  32. 35 Penjelajah Cinta Selasa, 5 Mei 2009 pukul 8:51 pm

    Masihkah dijaman sekarang ini, manusia memuja2 agama dengan berbagai contoh perilaku umat beragama yang semakin kasar, gila dan brutal? Alangkah bodohnya!!! Agama yang penuh dengan kesombongan, kemunafikan, kaku, keji dan irasionalitas, apakah itu masih perlu disembah2? Agama juga terbukti telah ketinggalan jaman dalam menghadapi berkembangannya dunia yang semakin cepat berubah. Apakah kita tetap mengikuti ajaran yang telah ada ribuan tahun yang lalu yang tanpa perubahan, kemudian gampang saja menerapkan ajaran itu kedalam kehidupan manusia di jaman sekarang ini? Apakah di kitab suci agama2 itu ada hal mengenai global warming, DNA, nuklir, internet, rekayasa genetika, pencemaran lingkungan, mobil ramah lingkungan, operasi kelamin, satelit militer dll dll. Manusia mempunyai otak yang semestinya digunakan untuk berpikir dengan nalar yang rasional. Umat manusia seharusnya tahu, bahwa agama itu sebenarnya bukan diturunkan dari “atas”, melainkan hasil ciptaan budaya manusia melalui “virus akalbudi” yang paling dahsyat, yang berevolusi secara alami dan terus menerus. Virus akalbudi itu berbentuk khotbah, rapat, sekolah minggu, indoktrinasi, kebaktian, propaganda, sholat berjamaah, missa suci, kuliah subuh, majelis taklim, perayaan ekaristi dan ritual2 agama lainnya yang mungkin cocok bagi manusia bodoh yang masih bersifat kekanak2an, tetapi tidak bagi manusia yang berpikir dengan nalar rasional. Suatu kepercayaan tanpa nalar adalah mirip seperti dongeng yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara logika, dongeng hanya diperuntukkan bagi anak kecil yang perkembangan jiwanya masih labil, haruskah kita terus bersifat kekanak2an selama ribuan tahun? Haruskah manusia berhenti berpikir hanya karena alasan2 agama? Seharusnya umat beragama itu sadar bahwa sesungguhnya kebenaran yang tertinggi/mutlak itu tak bisa diketahui, kebenaran bukan dari “atas” atau dari surga(katanya). Kebenaran itu bersifat relatif, harus kita cari sendiri terus menerus, dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan dengan agama!! Justru dengan ilmu pengetahuan dan teknologi kita berpikir terus menerus sehingga kita dapat mendekati TUHAN dan kemanusiaan. Sebaliknya dengan agama, manusia tidak berpikir dan mandeg, sehingga manusia akan semakin jauh dari TUHAN dan kemanusiaan. Itulah yang terjadi di negara kita sekarang ini. Salam God Without Religion!!

  33. 36 haniifa Selasa, 5 Mei 2009 pukul 11:08 pm

    manusia memuja2 agama
    Hua.ha.ha nalarmu kemana Oom ?!

    Salam dari god yang bau comberan… :D

  34. 37 KAIZEN Sabtu, 9 Mei 2009 pukul 8:43 pm

    TUHAN???????
    CINTA KASIH! ITULAH AGAMA YANG TETAP ABADI
    TIDAK ADA CINTA KASIH =TIDAK ADA TUHAN

  35. 38 haniifa Sabtu, 9 Mei 2009 pukul 10:22 pm

    Tiada Tuhan selain Allah,
    Hanya karena Kasih Sayang dari Allah, maka manusia saling mencinta.

  36. 39 Abdul Minggu, 10 Mei 2009 pukul 3:49 pm

    Hukum ekonomi mengatakan kebutuhan manusia tidak terbatas dan alat pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Kalaupun alat pemenuhan kebutuhan itu tidak terbatas juga manusia tidak akan pernah puas. Coklat ketiga terasa tidak seenak coklat pertama. Mobil ketiga yg kita miliki tidak senikmat saat kita punya mobil pertamakalinya. Istri empat, rumah kesepuluh dsb. Banyak orang sukses dan kaya tapi bunuh diri karena tidak puas dalam hidupnya.
    Kalau manusia punya seluruh khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menguasai, mengeksploitasi, menundukkan seluruh manusia sehingga sehingga manusia lebih berkuasa lebih kaya, dari pada presiden atau raja2, atau para konglomerat terkaya di dunia. Dan manusia bisa membangun dunia dengan teknologi canggih yg belum pernah dibayangkan saat ini Sehingga manusia mungkin merasa dirinya sudah seperti Tuhan kekuasaannya saat itu (atau Dajjal). Yakinlah anda tetap tidak akan pernah puas dan bahagia.
    Sesuatu yg bisa memenuhi kebutuhan hati manusia adalah sesuatu yg tidak terbatas, dan itu adalah Tuhan.
    Agama tidak mengharamkan teknologi. Tapi jika kita menghabiskan umur kita yg tidak seberapa <100 tahun hanya untuk mengejar kesenangan yg juga belum tentu kita peroleh. Dibandingkan dengan siksaan yg kita peroleh diakhirat selama2nya (jika kita salah) dan surga (jika kita benar). Berarti kita lebih bodoh daripada penjudi yg sedang mabuk sekalipun.

  37. 40 haniifa Minggu, 10 Mei 2009 pukul 5:36 pm

    @Mas Abdul
    Subhanallah…
    Mencerahkan sekali kalimat “Sesuatu yg bisa memenuhi kebutuhan hati manusia adalah sesuatu yg tidak terbatas, dan itu adalah Tuhan.”

    Begitulah kalau orang sudah men-Tuhan-kan akal fikiran yang tidak terbatas… padahal keduanya dibatasi oleh seongok daging dan otak :D , dengan kata lain keinginan syahwat yang tak terbatas itu masih dibatasi oleh usia manusia.

    Salam hangat, Haniifa.

  38. 41 gatot Senin, 27 Juli 2009 pukul 1:57 pm

    Kemanusiaan versi Katolik : Pastor tidak boleh kawin
    Kemanusiaan versi Islam : Pria boleh beristri 4
    Kemanusiaan versi Hindu : Sapi adalah binatang suci
    Kemanusiaan versi Protestan : Pendeta boleh pakai dana gereja
    Kemanusiaan versi Budha : Bhiksu tidak boleh makan daging apapun
    Apakah itu semua manusiawi?
    Apakah itu semua manusiawi secara umum atau universal?
    Aku tidak tahu semua itu manusiawi atau tidak manusiawi, yang jelas itu semua tidak rasional dan tidak logis!!
    Salam Alam Semesta!!

  39. 42 avia vavita Jumat, 10 Juni 2011 pukul 3:43 pm

    thanks for the thought


  1. 1 Minusnya Metoda Quick Count adalah Opini Publik « Haniifa Lacak balik pada Rabu, 8 Juli 2009 pukul 2:28 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: