Sains (IPA) Itu BUKAN ILMU PASTI!!!

Sebenarnya ada tiga ide yang muncul di benak saya pagi ini. Yang pertama Ide yang muncul berkaitan dengan Saya dan Sejarah Filsafat, yang kedua berkaitan dengan Perbandingan dua buah Metode Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam: Sains Yang Menemukan dalam Trial Error dan Sains Yang Menemukan dalam Rekayasa, Sedang yang ketiga adalah Sebuah Gugatan atas Pendapat Kebanyakan orang Indonesia khususnya di kalangan Pendidik yang mengatakan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam itu Ilmu Pasti. Ya, yang terakhir itulah yang akhirnya saya putuskan untuk saya tulis dan elaborasi kali ini, sedang dua yang awal menyusul akan menjadi tulisan saya berikutnya.

Disini saya ingin membedakan dua definisi sains “yang mungkin” terlebih dahulu (menurut pemahaman saya sendiri tentunya) untuk memperjelas pembahasan saya selanjutnya. Pertama Sains atau IPA dipahami sebagai sebuah identitas yang melekat pada realitas disekeliling kita. Artinya adalah Sains atau IPA disini diletakkan pada kerangka dirinya sendiri lepas dari kaitan dengan Pengetahuan manusia. Sains dalam sudut pandang seperti ini bisa dianggap sebagai sebuah kepastian. Sains Itu Pasti karena Yang Ada itu Pasti. Realitas itu adalah kenyataan Pasti. Nah hanya dalam kerangka seperti inilah Sains itu sebuah kepastian. Tetapi disini Sains tidaklah menjadi Ilmu, Sains adalah entitas, Sains itu Alam, bukan hasil karya pemikiran manusia yang kemudian diberi nama sebagai Sains.

Yang Kedua Sains sebagai Ilmu buah karya dari pemikiran manusia yang ingin memperlajari Realitas (Alam dan Seisinya). Disini sains dipandang sebagai sebuah hasil karya, hasil perenungan, hasil penyelidikan. Sains sebagai Ilmu. Definisi kedua seperti inilah yang sesungguhnya ada dalam pandangan masyarakat umum saat ini, sejauh pengetahuan saya, ya, masyarakat Indonesia pada umumnya. Para pendidik atau guru-guru SMP, SMA juga menisbahkan sains pada definisi seperti ini.

Dengan definisi kedua terhadap sains tersebut maka, bisa saya katakan bahwa sangatlah keliru jika kita mengatakan bahwa Sains itu sebuah Ilmu Pasti. Mari kita telusuri lebih lanjut.

Saya tidak akan menolak jika anda mengatakan bahwa Sains itu Ilmu yang memperlajari sesuatu yang bersifat Pasti atau Real atau Nyata, akan tetapi mengatakan bahwa yang Pasti Itu Ilmunya merupakan kesalahan yang tidak bisa ditolerir. Teori-teori Fisika sebagai sebuah Ilmu atau upaya pemahaman bukanlah merupakan Kepastian. Kategori-kategori dalam dunia Biologi bukanlah merupakan Kepastian. Semua Teori, Hukum dalam Fisika atau Biologi atau yang lainnya SELALU TERBUKA. Maksudnya terbuka disini adalah, Teori-teori, Hukum-hukum, Postulat-postulat, Asumsi-asumsi, dalam dunia sains bisa dirubah dan direvisi alias diperbaiki. ILMU FISIKA itu tidak Pasti, ILMU BIOLOGI itu tidak Pasti. Semuanya berubah seiring dengan perkembangan penyelidikan manusia.

Sebenarnya sangat mudah meruntuhkan dogma bahwa Sains itu ILMU PASTI dengan merujuk pada epistimologi Sains itu sendiri. Metode Ilmiah merupakan bukti bahwa Sains itu bukan Kepastian. Ia dituntut untuk melakukan percobaan dan pembuktian atas hipotesa atau hukum atau teori yang dimunculkannya. Sebuah pembuktian bisa membenarkan atau bisa malah menggugurkan (verifikas, falsifikasi dan sebagainya). Sesuatu yang bisa benar dan salah bukanlah sebuah kepastian. Sains tidaklah Pasti. Sains itu sama seperti dengan Ilmu Sosial atau yang lainnya yang sangat terbuka pada revisi atau perubahan.

Alam itu Pasti. Realitas itu Pasti, tetapi Sains tidak Pasti. Dengan demikian ada kerancuan ketika kita menyebutkan Sains itu ILMU PASTI (bisa juga dikatakan Ilmu Pengetahuan Alam itu ILMU PASTI). Yang pertama merujuk pada ALAM yang Pasti sehingga menjadi ILMU PASTI. PASTI = ALAM. Ini tidak salah sebetulnya. Namun dikarenakan proposisi ILMU PASTI bisa juga merujuk pada ILMU dalam dirinya sendiri itu yang PASTI maka terdapat dualisme pemahaman disini. Sedangkan yang saya ketahui selama ini ILMU PASTI ini sering dibenturkan dengan ILMU SOSIAL yang oleh sebagian orang juga dikatakan sebagai ILMU TIDAK PASTI.

Dengan merujuk ILMU PASTI versus ILMU TIDAK PASTI, sepertinya ILMU PASTI didefinisikan merujuk pada pemahaman yang keliru seperti yang saya jabarkan diatas. ILMU SOSIAL itu membahas manusia (dengan interaksinya) yang juga merupakan bagian dari realitas. Dengan demikian ILMU SOSIAL itu tidak bisa dikategorikan sebagai ILMU TIDAK PASTI (dengan definisi pertama). ILMU SOSIAL itu juga ILMU PASTI atau Ilmu yang membahas entitas manusia yang real dan pasti.

Sepertinya, sudah waktunya kiranya kita menjernihkan pemahaman yang keliru seperti ini. Sains cukup katakanlah dengan ILMU ALAM dan hindari penyebutan Sains sebagai ILMU PASTI.

Sekedar Memahami

Haqiqie Suluh

48 Responses to “Sains (IPA) Itu BUKAN ILMU PASTI!!!”


  1. 1 joyo Senin, 24 Maret 2008 pukul 6:57 pm

    ilmu itu termasuk objek kultural, definisi2 lama banyak lagi yg tidak sesuai dg pengertian saat ini, harus selalu ada pembaruan disana sini, kata ‘atom’ misalnya, berarti sesuatu yg tidak dapat dibagi lagi, definisi ini ‘benar’ pada saat pertama kali didefinisikan, yg mana pada saat itu belm ada alat atau pengetahuan yg menyanggahnya,
    spertinya banyak yg harus dijernihkan…

  2. 2 Zoe Rabu, 26 Maret 2008 pukul 2:03 am

    bingung bacanya; kebanyakan kata PASTI, dan TIDAK PASTI.

    yang sederhana ajalah bang. namanya juga IPA = Ilmu Pengetahuan Alam. nah kata abang kan Alam itu pasti. ya udah jadi IPA itu = Ilmu Pasti. gampang kan. gitu aja koq repot, pake pembahasan ini-itu segala, haha just kidding bang.

    Yang perlu dikeruhkan. kalo mau dijernihkan. mending ganti aja penyebutan IPA menjadi IB = Ilmu Bingung?? kan sebagian besar yang dipelajari di IPA itu awalnya bingung2, pake rumus ini-itu segala hehehe…

    yang pasti2 ajalah bang.

  3. 3 Suluh Rabu, 26 Maret 2008 pukul 8:21 am

    @joyo: keknya emang seperti itu kejadiannya ya…

    @Zoe: tolong dibaca ulang agar lebih mengerti….

  4. 4 Amaranth Selasa, 1 April 2008 pukul 7:20 pm

    Sebenarnya Mas Suluh, ilmuwan jagoan Science sendiri nggak mengaku kok kalo science itu Ilmu pasti. Soalnya, justru science mengalami perkembangan yang bagus pada saat probabilistic-statistic maju. Lha? itu kan bukan kepastian?

    Yang jelas, pun nggak pasti, science mencoba untuk mengukur kemungkinan nya, seperti: prakiraan cuaca, posisi atom, dsb.

    Jadi science memang bukan ilmu pasti.

    Mungkin guru-guru yang ngajari anak-anak kalau science itu ilmu pasti perlu dikasih penataran lagi.

  5. 5 Suluh Rabu, 2 April 2008 pukul 8:28 am

    @amaranth: betul… tulisan saya ini kan ditujukan untuk guru2 dan orang2 awan yang ngajarin murid kek gitu….

    Definisi kedua seperti inilah yang sesungguhnya ada dalam pandangan masyarakat umum saat ini, sejauh pengetahuan saya, ya, masyarakat Indonesia pada umumnya. Para pendidik atau guru-guru SMP, SMA juga menisbahkan sains pada definisi seperti ini

  6. 6 ariep tjakep Minggu, 13 April 2008 pukul 12:33 pm

    Memang benar, tapi hanya untuk saat ini saja. Kalau dulu orang bekerja keras dan berfikir untuk mencari sesuatu yang pasti sebagai kerangka atau acuan untuk berfikir. ketika orang berlomba-lomba untuk mencari kepastian itulah sebenarnya letak dari penahbisan sebuah ilmu menjadi ilmu pasti. siapa yang tak kenal relativitas einstein? siapa yang tak kenal mendeleyef yang meletakkan dasar sistem periodik? dan ilmuwan2 lain seperti gay lussac, issac newton, dll. perjuangan merekalah yang mau tidak mau harus memaksa kita untuk memahami jerih payah mereka berupa ilmu dasar sains. memang tidak menutup kemungkinan untuk menyanggah hasil penemuan para ilmuwan. toh mencari kepastian itu juga butuh proses:). sekarng semua orang berlomba2 untuk melakukan inovasi tiada henti tanpa meninggalkan acuan atau kerangka dasar yang telah ada. pengembangan sains itulah yang sekarang dinamakan teknologi.bahkan orang sekelas einsein pun telah mengakui, bahwa imajinasi itu lebih dari sekedar ilmu pasti. terbesit arti bahwa kita harus terus mencari segala kemungkinan dari perkembangan sains(teknologi) hasil jerih payah para ilmuwan terdahulu yang diharapkan bisa memberi manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. tidak ada yang memungkiri di dunia ini bahwa pada era enstein lah ilmu pasti sudah mencapai puncaknya/ mengerucut. tinggal kini bagi para generasi penerus untuk memahami dan mengembangkan kerangka/ acuan dasar yang mungkin sudah pasti. demikian tanggapan dari saya . mohon maklum bila kurang bermanfaat. (I’m just a newbie:))

  7. 7 ariep tjakep Minggu, 13 April 2008 pukul 12:39 pm

    bagi kawan2 lain yg beri komentar kalo bisa jangan menjelekin orang lain. saya yakin mas suluh menerima segala komentar dengan orientasi diskusi terbuka:)
    gak pernah ada yang salah di dunia ini:)
    kalau memang salah ya salah semua:)
    karena ada saling keterkaitan unik dan kompleks d dunia ini yg gak kita sadari:)
    cuma yang di atas yang tahu:)
    itulah hal yang pasti:)
    hablum minallah wa hablium minannas…

    I’m just a newbie:p

  8. 8 Suluh Minggu, 13 April 2008 pukul 5:21 pm

    @ariep: lho mang ada ya dari komentar diatas yang menjelekkan orang lain?? kayaknya gak ada lho mas…

  9. 9 ariep_tjakep Senin, 14 April 2008 pukul 12:13 pm

    he3… iya mas…:)
    terpengaruh comment artikel lain…
    bukanya bersamaan sih…:)
    sorry….
    cuman aku agak kurang sreg aja dengan comment amaranth…
    Cz bagaimanapun kita harus berterima kasih pada para ilmuwan. Karena merekalah kita bisa menikmati segala teknologi yang berkembang saat ini.
    maaf kalo menyimpang:)Key!

    I’m just a newbie:p

  10. 10 lovepassword Jumat, 27 Juni 2008 pukul 8:52 pm

    Menurutku asal muasala Ilmu Pasti vs Ilmu Tidak Pasti itu mungkin karena dalam bidang-bidang sosial konsep probabilitasnya lebih banyak.

    Hitung-hitungannya cenderung pake survey lalu dihitung pake statistik.
    Dari survey skala kecil kita menggeneralisasi masalah yang lebih besar.
    Misalnya quick count dan sebagainya.

    Di ilmu alam ya tentu ada survey juga sih. Tetapi cenderung lebih sedikit. Di ilmu alam, masalah sampel dikaitkan dengan rumus matematis tertentu yang seringkali tidak empiris, atau lebih logis. Bisa dibuktikan secara matematis atau sering disebut rumus eksak.

    Di ilmu sosial, pembuktian benar salahnya semata-mata tergantung dengan probabilitas data. Jadi lebih sedikit rumus eksak.

    Ini cuma praduga saja Mas.

    Yah. Namanya juga sekedar istilah, MAS.
    Latar Belakangnya dulu gimana kok diberi nama Ilmu Pasti, sebenarnya menarik juga jika bisa dilacak pake ilmu sejarah.

  11. 11 Suluh Jumat, 27 Juni 2008 pukul 10:43 pm

    ya, istilah yang salah….

  12. 12 lovepassword Jumat, 27 Juni 2008 pukul 11:02 pm

    Ya memang salah sih. Saya justru lebih ingin tahu, latar belakang kok namanya jadi ilmu pasti. Dulu-dulunya gimana gitu lho ….

  13. 13 een Kamis, 17 Juli 2008 pukul 9:42 pm

    ipa udahjlas ilmu pasti cz sumua yang ada didalamnya jelas-jelas nyata n ga sah diributin lagi

  14. 14 BUDINANTO Selasa, 30 September 2008 pukul 4:03 am

    Menurut saya, semua ilmu pengetahuan baik itu ilmu alam atau ilmu sosial dapat dikatakan sebagai ilmu pasti ketika ia bersesuaian dengan fakta ( kejadian alam atau sosial yang dibahasnya ) sebatas data-data yang dikumpulkannya ketika teori tersebut dikemukakan. jika kemudian data lain dimasukan dan hasilnya ternyata berbeda, maka itupun juga menjdai suatu kepastian baru yang juga bersesuaian dengan banyaknya data yang ada sebagai penyusun teori tersebut.
    sebagai contoh sederhana, misalnya adalah gula. bagi orang yang sehat rasanya adalah “pasti” manis, tetapi bagi orang yang sedang sakit atau memiliki kelainan, rasa gula itu dapat berubah menjadi asam atau bahkan pahit. hal ini bukanlah berarti rasa gula itu relatif atau tidak pasti, akan tetapi justru sebaliknya tetap pasti yaitu dengan dimasukannya data sakit maka rasa manis itupun pada akhirnya akan “pasti” berubah menjadi pahit atau asam tergantung dari jenis data penyakit yang diderita oleh si pengecapnya. jika sakit si pengecap cuma lecet karena jatuh yang tidak ada hubungannya dengan indera pengecapnya yaitu lidah, maka rasa manis itupun akan “pasti” tidak berubah baginya.
    dalam ilmu sosial, aksi yang dilakukan seseorang akan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda dari orang lain lain tergantung data yang ada dari orang yang diberikan akasi tadi. inipun termasuk “ilmu pasti”.
    contoh sederhananya, aksi pemukulan yang dilakukan seseorang akan dibalas dengan pemukulan pula oleh orang yang dipukul jika orang yang dipukul itu memiliki data sebagai orang yang tidak kenal takut, pemberang, nekat, jahat, kejam, sadis dan sebagainya yang mendukug orang tersebut untuk melakukan pembalasan yang bahkan lebih dari yang diterimanya.
    namun demikian kejadian tersebut akan “pasti” juga tidak dapat terjadi jika dimasukan data ketika dipukul orang yersebut dalam keadaan terikat borgol tangan dan kaki serta mata ditutup sehingga ia tidak dapat melakukan aksi balasan kepada orang yang melakukan pemukulan kepadanya yang juga tidak ia ketahui identitasnya, apalagi jika aksi tersebut dilakukan saat ia sedang dalam keadaan pingsan yang tidak mengetahui sama sekali peristiwa pemukulan terhadap dirinya.

    ingkatnya semua ilmu pengetahuan , baik ilmu alam maupun ilmu sosial menurut saya adalah “ILMU PASTI” manakala ada kesesuaian antara aksi dan reaksi sebatas data penyusun teori tersebut. teori tersebut akan berkembang menjadi “teori baru yang bersifat pasti pula” jika kita masukan data baru kedalamnya ( teori “pasti” yang lama tidak gugur karena jika data yang ada diuji cobakan, hasilnya tentu akan berseuaian dengan teori tersebut. ).

    SALAM EXACTA !!!!

  15. 15 Suluh Selasa, 30 September 2008 pukul 12:41 pm

    @budinanto: Data atau fakta emang sesuatu yang Pasti.

    Saya tidak akan menolak jika anda mengatakan bahwa Sains itu Ilmu yang memperlajari sesuatu yang bersifat Pasti atau Real atau Nyata

    tetapi mengatakan Teori (alias hasil dari kesimpulan) merupakan sesuatu yang pasti merupakah pemikiran yang “gegabah”. Teori bukanlah kepastian. Teori newton diperbaiki oleh einstein contohnya. Perbaikan menunjukkan adanya perubahan, yang berarti bukanlah sebuah kepastian atau fix atau tetap.

    Atau anda memiliki definisi “pasti” itu gimana?

  16. 16 BUDINANTO Minggu, 5 Oktober 2008 pukul 9:37 pm

    Pasti menurut saya adalah sesuatu yang sudah duketahui dengan jelas hubungan antara sebab dan akibatnya.
    Teori sebab akibat itu dapat kita sebut sebagai ilmu pasti manakala ia dapat direka ulang oleh siapaun dengan hasil yang sama persis dengan apa yang dikemukakan oleh teori tersebut ( bersifat universal ).
    Jika hasil reka ulang atau experiment yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan teori yang hendak dibuktikan kebenarannya, maka yang salah bukanlah hasil experiment atau peristiwa alamnya, melainkan teori itulah yang salah dan harus diperbaiki.
    Sederhananya, menurut saya semua ilmu pengetahuan atau teori yang bersifat universal yaitu sesuai dengan fakta kejadian alam atau sosial adalah ilmu pasti, sebab hasil reka ulangnya selalu pasti sama persis dengan kesimpulan dari teori tersebut.

    Contoh paling sederhana dari kepastian ilmu pasti adalah beda yang didasarkan oleh alat ukur.
    1000 kg paku pasti lebih berat dari 1 kg paku.
    tali sepanjang 100 meter pasti lebih panjang dari tali sepanjang 10 meter.
    kitapun dapat saling berdiskusi disini juga karena ilmu pasti yaitu karena komputer kita tidak ada gangguan sama sekali maka ketika saya dan anda atau siapapun menekan huruf ” b ” pada keyboardnya maka huruf “b” itulah Yang pasti muncul dilayar monitor kita dan dapat dilihat oleh seluruh pembaca pembicaraan ini sehingga kitapun dapat berkomunikasi dengan lancar.
    Komputer yang kita gunakan meski berbeda merk atau spesifikasi tetapi tak menghalangi kita untuk berkomunikasi sebab komputer kita semua ini dibuat dengan kaidah-kaidah yang pasti, aturan-aturan pasti yang telah disepakati dan harus ditaati bersama ( oleh para produsennya ), hasilnya…
    sayapun berani berkata bahwa komputer ini adalah bukti dan hasil dari kepastian ilmu pasti alam ( karena untuk membuatnya melibatkan para ahli ilmu pasti alam seperti matematika, kimia, fisika, dlsb… )

    SALAM EXACTA !!!

  17. 17 Suluh Senin, 6 Oktober 2008 pukul 6:14 am

    @budinanto: anda bicara fakta alam mas, bukan bicara ilmu pengetahuan manusia. Ilmu, teori, itu ranah pengetahuan dan pemikiran manusia, yang tidak pernah pasti alias selalu berubah. Sedang definisi kepastian anda itu definis alam an sich.

    Alam itu Pasti. Realitas itu Pasti, tetapi Sains tidak Pasti. Dengan demikian ada kerancuan ketika kita menyebutkan Sains itu ILMU PASTI (bisa juga dikatakan Ilmu Pengetahuan Alam itu ILMU PASTI). Yang pertama merujuk pada ALAM yang Pasti sehingga menjadi ILMU PASTI. PASTI = ALAM. Ini tidak salah sebetulnya. Namun dikarenakan proposisi ILMU PASTI bisa juga merujuk pada ILMU dalam dirinya sendiri itu yang PASTI maka terdapat dualisme pemahaman disini. Sedangkan yang saya ketahui selama ini ILMU PASTI ini sering dibenturkan dengan ILMU SOSIAL yang oleh sebagian orang juga dikatakan sebagai ILMU TIDAK PASTI.

    Sebab akibat itu bukan kepastian alam, tetapi dogma sains alias postulat sains, kepastian yang dibuat pasti oleh pengetahuan manusia, apakah sebab akibat itu betul betul benar sebagai sifat alam, kita gak pernah bisa memfalsifikasi or verifikasi. Sama seperti panjang, massa, waktu, itu dogma. Alias postulat yang diambil sebaba dasar tanpa bisa diterangkan dengna penjelasan yang lain. Kepastian tentang sebab akibat, massa, panjang waktu, itu dogma sains, yang notabene juga berasal dari dogma sensibilitas indera manusia.

  18. 18 BUDINANTO Selasa, 7 Oktober 2008 pukul 7:56 am

    Benar !!! saya bicara tentang ilmu pasti memang didasarkan atas fakta alam !!!, mengapa ? sebab ilmu pengetahuan itu terlahir memang dari olah fikir manusia yang mau memikirkan dan mencari rahasia penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa alam yang dapat dinikmati dengan pancainderanya secara logis, sistematis, ilmiah dan universal dan jika perlu dengan menggunakan alat ukur yang paling netral yaitu Matematika !!!.
    Itulah sebabnya mengapa saya katakan semua ilmu pengetahuan yang sudah menjadi teori yang bersifat universal dalam artian dapat direka ulang dengan hasil yang sama persis dengan hasil yang didapat oleh penyelidik pertamanya saya sebut sebagai ilmu pasti !.dan untuk mencapai pada taraf kepastian itu tentu saja sebuah teori harus mampu melewati banyak sekali uji coba hingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan hingga akhir zaman bukan hanya puluhan atau ratusan tahun saja.
    sebuah hasil penyelidikan ilmiah baru dapat disebut sebagai teori manakala ia sudah bersifat universal yaitu dapat dibuktikan kebenarannya oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun juga.

    Tentang adanya teori dalam ilmu pasti yang dahulu dianggap benar dan sekarang ternyata terbukti salah, bagi saya itu bukan merupakan bukti bahwa ilmu pasti itu bukan sesuatu yang tidak pasti, sebab kesalahan itu terjadi dikarenakan alat uji coba pada masa teori tersebut dibuat memang belum memungkinkan untuk tahap sampai sekarang ini, seperti teori tentang zat terkecil yang dahulu disebut molekul kemudian berubah menjadi atom kemudian berubah lagi menjadi inti atom dan seterusnya itu, menurut saya itu bukanlah kesalahan tetapi perkembangan, mengapa ? sebab teori yang lahir kemudian sebenarnya adalah perkembangan dari teori sebelumnya atau untuk melihat ada tidaknya penyimpangan dari teori sebelumnya tadi.
    Jika sebuah teori masih memiliki sebuah penyimpangan sekecil apapun maka teori itu masih membuka peluang untuk dikembangkan atau diperbaiki dan bukan untuk disalahkan !!!.
    Mengapa?, sebab kita harus menghargai jerih payah para ilmuwan pendahulu kita tersebut yang telah membuka fikiran kita untuk melanjutkan penyelidikan yang telah mereka lakukan.
    Teori itu mereka dapatkan dengan susah payah, dengan berpuluh, beratus bahkan beribu kali percobaan, dan hasilnya tentu saja sebatas kemampuan alat yang ada pada masa tersebut, sehingga kesimpulan yang mereka dapatkanpun tidak pantas untuk kita sebut sebagai kesalahan melainkan hanya kurang tepat, belum tepat, masih memiliki penyimpangan dan sebagainya untuk ukuran kita yang hidup dimasa sekarang ini dimana peralatan penelitiannya sudah mencapai tahap dengan akurasi yang sangat tinggi sekali dibanding pada masa mereka.
    Jadi menurut saya, semua teori yang didapat dari hasil penyelidikan ilmiah seperti teori Newton yang anda kemukakan itu masih membuka peluang untuk diperbaiki dan dikembangkan, bukan untuk disalahkan apalagi untuk dijadikan sebagai bukti ketidak pastian Ilmu Pasti Alam.
    Adalah tugas kita semua untuk memperbaiki dan mengembangkan semua ilmu pengetahuan yang telah ada namun kita anggap masih belum sempurna tanpa memperi label “salah” kepadanya sebagai penghargaan kita terhadap pencetusnya yang bisa jadi telah mengerahkan seluruh potensi dan waktunya untuk melakukan penyelidikan tersebut.
    Saya sangat senang berdiskusi dengan Anda yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas.
    Saya hanya tidak setuju jika Teori yang disusun berdasarkan penyelidikan yang mendalam terhadap suatu peristiwa alam dan ternyata dapat direka ulang dilaboratoriaum dengan hasil yang sama persis masih belum juga diakui sebagai “bukti adanya teori yang bersifat pasti” ,itu saja.

    SALAM EXACTA !!!

  19. 19 BUDINANTO Rabu, 8 Oktober 2008 pukul 8:13 am

    Sebagai seorang guru guru Ilmu Pasti, saya tidak akan berani dan dapat memberikan tugas experiment sederhana kepada murid saya kalau saya tidak yakin dengan kepastian hasil yang akan mereka dapatkan dan akan masuk dalam penilaian saya. Sejauh ini semua percobaan yang dilakukan oleh murid saya hasilnya selalu ” sama Persis “, dan kalau ada yang hasilnya berbeda maka saya akan memintanya untuk mengulanginya karena saya ” tahu Pasti ” kalau percobaan yang dilakukan oleh murid saya tersebut masih belum sempurna atau tidak sesuai dengan scenario ( teori ) yang harus dijalaninya.

    Begitu juga kepada anak saya yang berumur 8 tahun yang saya memasukan botol plastik minuman yang telah kosong yang tertutup rapat kedalam kulkas yang beberapa menit kemudian melaporkan kepada saya bahwa botolnya ternyata benar mengempis melesak kebagian dalam dan “sama persis hasilnya” dengan yang diramalkan oleh ‘buku pintar EXPERIMENT UNTUK ANAK ‘karangan Paula Cocco terbitan Gala Ilmu Semesta Yogyakarta yang saya berikan kepadanya untuk mengenalkan sejak dini Teori Ilmu Pasti yang bersifat Universal kepadanya yang kelak jika usianya sudah mencukupi mungkin akan diselidiki olehnya penyebanya secara lebih mendalam, rinci dan ukuran-ukuran yang akurasinya dapat dipertanggung jawabkan ( seperti harapan saya ).

    Apa yang dilakukan oleh anak saya itu adalah bentuk dari sebuah sains sederhana yang didukung oleh sains yang lebih kompleks yaitu botol palastik dan kulkas yang pembuatannya membutuhkan percobaan, perhitungan, perbaikan yang sampai puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan kali banyaknya.

    Teori yang digunakan untuk membuat botol palstik dan kulkas itu adalah Sains, Ilmu pengetahuan Alam yang bersifat ” PASTI “, karena siapapun jika mengikuti teori pembuatannya tentu akan dapat membuatnya pula dengan hasil yang sama persis sekaligus dengan ramalan bagian mana saja dari produk sains tersebut yang mudah rusak, harus diperlakukan istimewa hati-hati seta cara perawatan agar daya gunanya tahan lama.

    Sebagai seorang guru yang selalu memiliki keyakinan bahwa teori Ilmu pasti Alam atau sains yang diajarkan kepada muridnya adalah benar-benar pasti denga bukti nyata tiap percobaan yang dilakukan oleh muridnya pasti sesuai bahkan sama persis hasilnya dengan ramalan ( perhitungan matang ) yang diberikan oleh teori yang saya sampaikan kepadanya,
    Menurut Anda apakah yang harus saya sampaikan kesemua murid saya tentang hubungan antara teori dan praktek yang sangat bersesuaian ini ???

    Haruskah saya katakan ini hanyalah sebuah kebetulan saja karena sains itu bukanlah ilmu pasti sehingga hasil prakteknyapun hanya sebuah kebetulan dan keberuntungan semata ???.

    Haruskah saya katakan kepada mereka bahwa Komputer, Printer, Mobil, Pesawat terbang dan semua benda berteknologi tinggi hasil karya manusia yang ada hari ini bukan merupakan hasil dari Teori Ilmu Pasti Alam yang bersifat Pasti ???
    JIka memang bukan, lalu mengapa hasilnya ( semua benda berteknologi tinggi tadi ) bekerja sesuai dengan perhitungan dari teori tersebut ??? Mengapa ???
    Apakah sebutan yang pantas untuk semua teori produk pikir manusia yang bersesuaian dengan hukum alam sehingga dapat kita gunakan dikehidupan sehari-hari utuk mempermudah kita dalam melakukan berbagai pekerjaan dan dapat kita kendalikan sesuai dengan buku manual yang menyertainya ( teori perakitan, perawatan, penggunaan ,dll ) ????.

    Sebagai seorang guru yang selalu mengatakan kepada muridnya bahwa semua benda berteknologi tinggi itu ada karena adanya Ilmu Pasti Alam yang bersifat Pasti dan berakurasi tinggi ( dengan ciri disertai ramalan penyimpangannya seperti bagian yang akan kalah alias lebih cepat rusak ),
    Bagaimanakah caranya menerangkan kepada mereka bahwa sains atau Teori Ilmu pengetahuan Alam itu bukan ilmu pasti ???????????

  20. 20 Suluh Rabu, 8 Oktober 2008 pukul 6:30 pm

    @budinanto: metode ilmiah, percobaan, hipotesis, kesimpulan dsb itu bukan kepastian. kalau ilmu pasti yang bener2 pasti ya gak usah ada hipotesis percobaan, verivikasi, falsifikasi dan sebagainya. Bahakan metode ilmiah ini ciptaan manusia juga yang terus diperbaiki: dari verifikasi sekarang menuju ke arah falsifikasi.

    “Bekerjanya” sebuah teori pada sesuatu hal tidak berarti teori itu benar benar pasti alias betul betul benar alias 100% benar). contoh: Selama ratusan tahun, dengan jutaan (atau milyaran?) percobaan dan verikasi, sains newton telah menghasilkan milyaran barang / produk, mulai dari motor, mobil, pabrik dan sebagainya, tetapi ternyata sains newtonian tidaklah 100% benar.”

    Teori itu sifatnya ada dalam pengetahuan manusia. Kitalah yang menerapkan teori itu pada alam. Alam sendiri Pasti. tetapi apakah Teori kita (baca:manusia) yang kita ciptakan Pasti? Tentu saja kita tidak pernah bisa memastikannya. Hanya sebuah bentuk keimanan aja kita menganggap itu Pasti. Kesepakatan ilmuan itu bukanlah menjadikan sebuah Teori itu Pasti. Kesepakatan hanyalah kompromi.

  21. 21 budinanto Rabu, 8 Oktober 2008 pukul 9:30 pm

    Jawaban yang Anda berikan sungguh dapat saya fahami sepenuhnya, dan perbedaan pendapat kita sebenarnya adalah :
    Anda menyatakan semua teori Ilmu Pasti Alam bersifat tidak pasti karena kebenarannya ada kemungkinan akan dapat berubah dimasa mendatang, sedangkan saya berpendapat bahwa ada teori Ilmu Pasti Alam yang benar-benar bersifat ” Pasti ” dan akan berlaku sepanjang zaman karena jika teori itu dijalankan kapanpun dimanapun dan oleh siapapun juga akan memperoleh hasil yang sama persis dengan ” ramalan ” yang diberikan oleh teori tersebut dengan catatan tentu saja data yang digunakan dalam percobaan itu juga sama persis baik keadaannya, mutunya, ukurannya dan sebagainya.

    Jika tidak ada teori ilmu pasti yang benar-benar pasti maka tidak ada seorang pengusahapun yang mau membiayai pembuatan komputer dan programnya yang teorinya diajukan lebih dahulu untuk disetujui oleh sipengusaha tadi karena mana ada pengusaha yang mau rugi merealisasikan sebuah teori yang tidak dapat dipertanggung jawabkan hasilnya ?????
    Hardware dan software yang ada dan kita gunakan sekarang lahir karena adanya teori yang benar-benar pasti !!!.
    Bahasa komputer yang digunakan oleh para programer sebenarnya juga masuk kedalam bagian dari ilmu pasti yang benar-benar pasti seperti yang saya sebutkan diatas, mengapa ? sebab komputer dibuat dan harus dijalankan atau dikendalikan dengan kaedah-kaedah yang bersifat pasti yang harus ditaati oleh para programer tersebut.
    Jika seorang programer melakukan salah dalam mengetikan perintahnya maka ” sudah pasti” hasilnyapun akan salah atau berbeda dengan yang diharapkannya, bahkan lebih parah lagi mungkin programnya akan macet alias tidak jalan sama sekali.
    Dalam hal ini saya yakin Anda lebih faham dibanding saya.

    Saya sama sekali tidak menolak jika dikatakan ada teori Ilmu pasti Alam yang masih mempunyai peluang untuk diperbaiki, direvisi atau disempurnakan. Saya hanya tidak setuju jika semua Ilmu Pasti itu dinyatakan bersifat relatif.
    Bagi saya semua teori Ilmu Pasti Alam atau Sains yang telah direalisasikan menjadi sebuah produk yang hasilnya sesuai dengan “ramalan” dari teori tersebut adalah bagian dari Ilmu Pasti Alam yang bersifat Pasti dan jika kelak diadakan perbaikan, hal ini sama sekali tidak mengubah kebenaran teori tersebut karena perbaikan yang dilakukan itu tak lebih dari hanya sekedar menambahkan atau mengurangi masukan data yang telah ada sehingga hasilnyapun akan lebih baik dari sebelumnya,sedangkan teori itu sendiri akan tetap berlaku sepanjang masa karena kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun teori tersebut direalisasikan maka hasilnya akan sama persis, tidak lebih tidak kurang.
    Tentang tingkat kebenaran teori yang mencapai 100 persen, saya ajukan teori atau rumus phytagoras yang menurut saya pantas untuk mendapat kehormatan menerimanya karena dari dahulu hingga sekarang tidak ada satu ilmuwanpun yang meragukan kebenarannya sehingga iapun boleh dibilang bersifat kekal abadi sepanjang masa salama alam dan manusia yang menggunakannya masih ada.

    SALAM EXACTA !!!

  22. 22 Suluh Kamis, 9 Oktober 2008 pukul 4:13 pm

    sedangkan saya berpendapat bahwa ada teori Ilmu Pasti Alam yang benar-benar bersifat ” Pasti ” dan akan berlaku sepanjang zaman karena jika teori itu dijalankan kapanpun dimanapun dan oleh siapapun juga akan memperoleh hasil yang sama persis dengan ” ramalan ” yang diberikan oleh teori tersebut dengan catatan tentu saja data yang digunakan dalam percobaan itu juga sama persis baik keadaannya, mutunya, ukurannya dan sebagainya.

    Yup, pernyataan ini juga mengindikasikan bahwa Yang Pasti itu Alam, maka sebuah fakta partial (khusus) haruslah sama dimanapun ia berada. Dan menurut pendapat saya yang sama alias pasti bukan lah teorinya, tetapi Fakta Alamnya itu yang sama. Dari mana anda yakin teori Ilmu Pasti alam benar-benar bersifat “Pasti”?. Teori tidaklah Pasti, Tetapi Fakta Alam itu Pasti. Itulah gunanya Metode Ilmiah.

    Saya sama sekali tidak menolak jika dikatakan ada teori Ilmu pasti Alam yang masih mempunyai peluang untuk diperbaiki, direvisi atau disempurnakan. Saya hanya tidak setuju jika semua Ilmu Pasti itu dinyatakan bersifat relatif.

    Yup Teori tidaklah Relatif, tetapi Teori selalu terbuka untuk dilakukan revisi atau perbaikan, dengan demikian Teori itu bukanlah sesuatu yang Betul betul Benar. Saya lebih suka berbedapat, Teori itu bisa jadi benar, tetapi amat gegabah jika menganggap teori itu betul betul benar (aka pasti).

  23. 23 Suluh Kamis, 9 Oktober 2008 pukul 4:15 pm

    Saya tambahin begini: Jika teori itu salah dalam meramalkan sesuatu, alias fakta alamnya kok tidak sesuai prediksi, maka yang salah bukanlah alamnya atau faktanya, tetapi teorinya maka teori itu perlu diperbaiki.

  24. 24 BUDINANTO Kamis, 9 Oktober 2008 pukul 11:37 pm

    Ya ! berdasarkan pendapat tambahan anda itulah sebenarnya selama ini saya berani mengklasifikasikan mana teori yang Mutlak benar dan mana yang masih harus diperbaiki.
    Progaram komputer misalnya, ia boleh dibilang 100 persen hanya berupa teori belaka yang tingkat kebenarannya juga berderajat 100 persen (jika ia berjalan sesuai dengan maksud sipembuatnya) mengapa ? sebab pada hakekatnya sepanjang apapun listing program yang dibuat, ia pasti terikat pada dua kata pasti yaitu YA dan TIDAK.
    Demikian pula celah kemungkinannyapun dibatasi oleh kata YA dan TIDAK yaitu jika ada data masuk yang tertolak maka ia pasti akan mengalami dua kemungkinan, dialihkan atau diterima kecabang YA yang lain ( jika…maka ) atau ditolak sama sekali alias langsung mendapat jawaban final TIDAK.
    Kata YA dan TIDAK yang tegas inilah sebenarnya yang menjadikan program komputer itu dapat disebut sebagai teori yang murni dan bersifat mutlak ( tidak dapat ditawar-tawar lagi ).
    Listing program (dengan berbagai bahasa komputer ) harus ( pasti )ditulis dengan mengikuti kaedah-kaedah yang berlaku dan telah ditetapkan agar dapat dibaca dan dimengerti oleh komputer, jika tidak maka dijamin 100 persen program itu tidak akan jalan karena tidak dimengerti oleh komputer.
    Kalau anda tidak percaya dengan kata “pasti 100 persen ditolak komputer” ini, ya…silahkan dicoba saja…( tanpa menggunakan kaedah kepastian YA dan TIDAK )

    SALAM EXACTA !!!

  25. 25 Suluh Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 6:57 am

    @budinanto: yup teori ya memang prediksinya sesuai dengan teorinya, termasuk program komputer ya musti sejalan dengan programnya, tetapi hal ini berbeda dengan fakta alam. program komputer berawal bukan pada fakta alam, jelas input errornya bukan pada adanya fakta baru yang menegasikan program komputer tersebut, tetapi pada error “tujuan”. Hal ini sama sekali berbeda dengan teori sains. Pemrograman bukanlah sebuah upaya memahami alam aka sains.

    Komputer di plot mencapai tujuan tertentu dari awal pembuatan. Sedang teori alam kita tidak mungkin memplot seperti itu. Teori newton bukan di capai karena kita ingin teori itu mempunyai tujuan seperti kehendak newton, tetapi lebih pada fakta bahwa alam ternyata cocok dengan teori newton dimana teori itu di verifikasi (walau pada akhirnya tidaklah 100%benar).

    Adalah tidak mungkin “Saya pengen alam bekerja seperti ini, seperti itu, mari kita buat alam seperti yang kita harapkan!” berbeda dengan pemrograman “Ayo kita buat program yang bisa seperti ini, seperti itu, mari kita membuatnya!”

    Yang bisa kita lakukan adalah “memahami” alam, bukan menciptakan kehendak alam aka kepastian alam. Jelas dengan demikian teori alam itu tidaklah Pasti!

    Metodenya Pembuatan Program jelas bukan metode Ilmiah Sains aka IPA!!

  26. 26 Suluh Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 7:21 am

    tambahan: dan tentunya pembuatan program tersebut tidak mampu untuk menolak fakta alam. Semisal penciptaan hardware, hardware keperluan komputasi, bahannya, materialnya, sifat2 materialnya, berasal dari alam dan Pastilah sesuai dengan Fakta Alam. Jika ada kesalahan pada pengambilan sebuah material untuk keperluan komputasi, yang salah bukan materialnya, tetapi teorinya atau pemahaman kita pada material tersebut. Yang Pasti itu Alamnya bukan Teorinya.

  27. 27 BUDINANTO Sabtu, 11 Oktober 2008 pukul 12:45 am

    Tambahan yang Anda berikan adalah bukti bahwa pemahaman saya dan Anda tentang Teori Ilmu pasti Alam dan hubungannya dengannya dengan fakta alam sebenarbya 100 persen sama, bedanya hanyalah saya berpendapat atau mengakui adanya teori yang bersifat pasti yaitu teori yang dapat digunakan untuk membuat sesuatu -yang sebelumnya belum pernah ada- yang sesuai dengan ramalan teori tersebut adalah termasuk dalam teori ilmu pasti alam yang bersifat pasti, sedangkan anda tetap berpendirian bahwa tidak ada satupun teori yang bersifat pasti.

    Teori dibuat untuk memahami alam agar dapat memprediksi tingkah laku alam yang akan terjadi jika dilakukan aksi atau raeksi terhadapnya.
    Dan jika kita perhatikan dengan seksama, maka akan kita temukanlah fakta bahwa semua teori yang dibuat manusia itu sesungguhnya tak lebih dan tak kurang hanyalah perkiraan, sangkaan, dugaan, manusia tentang sebab-sebab terjadinya sessutau dan akibat-akibat apa kiranya yang akan terjadi jika dilakukan suatu sebab atau aksi kepadanya yang kemudian dibuktikannya melalui metode Ilmiah.
    Teori Ilmu pasti Alam yang benar-benar pasti adalah teori yang sudah melalui tahapan ini dan terbukti dapat menjelaskan dengan tepat tentang sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa serta akibat yang akan terjadi jika dilakuakan suatu aksi atau reaksi terhadapnya.
    Dengan kata lain, setiap teori yang dapat memberikan penjelasan yang tepat tentang sebab-akibat dari suatu peristiwa alam atau sosial sekalipun, maka teori ini sudah masuk kedalam kategori Ilmu Pasti.
    Cirinya…dapat direka ulang dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun dengan hasil yang sama persis.
    Sebuah teori akan berkembang dan terus berkembang selama manusia masih terus mengadakan uji coba untuk mengetahui akibat yang akan terjadi jika kedalam teori itu dimasukan data baru, dan seterusnya dan seterusnya, atau sebaliknya mencari sebab (data baru yang masuk kedalamnya ) yang mengakibatkan teori tadi menyimpang dari yang seharusnya.
    Jika sebab dan akibat kembangan teori tersebut sudah diketahui dengan tepat, maka akan lahirlah teori baru yang bersifat pasti pula yang sama sekali tidak mengubah sedikitpun kepastian dari teori induknya.

    Kembangan suatu teori, ada yang dibuat berdasar metode ilmiah komplit alias didapat dengan pembuktian dilaboratoriam oleh peneliti itu sendiri terlebih dahulu baru kemudian kesimpulannya. Namun ada teori yang dibangun atau dimulai dari kesimpulan diatas kertas lebih dahulu (prediksi-prediksi belaka) lalu dibuktikan oleh orang lain melalui percobaan-percobaan dilaboratorium seperti teori relativitas khusus Einstein yang hingga kini belum dapat dibuktikan kebenarannya karena melibatkan kecepatan gerak yang nyaris mendekati kecepatan cahaya yang sangat sulit sekali untuk diwujudkan itu.

    O YA…. sejauh ini anda belum menjawab sama sekali pertanyaan saya sebagai seorang guru dan tentang teori phytagoras yang saya ajukan pada rabu 8 oktober 2008 ….

    SALAM EXACTA !!!!

  28. 28 Suluh Sabtu, 11 Oktober 2008 pukul 6:39 am

    @budinanto:

    Sejauh teori itu buatan atau perkiraan manusia dia tetap TIDAK PASTI alias terbuka pada PERUBAHAN. Bahkan Teori Einstein sekalipun. Sebagaimana anda telah jelaskan. Yang Pasti ITU ALAMNYA, TEORI (dalam ranah pengetahuan manusia) jelas TIDAK PASTI.

    Sebuah teori akan berkembang dan terus berkembang selama manusia masih terus mengadakan uji coba untuk mengetahui akibat yang akan terjadi jika kedalam teori itu dimasukan data baru, dan seterusnya dan seterusnya, atau sebaliknya mencari sebab (data baru yang masuk kedalamnya ) yang mengakibatkan teori tadi menyimpang dari yang seharusnya.

    Ini jelas mengindikasikan bahwa TEORI itu berubah sesuai dengan FAKTA ALAM, bukan fakta alam yang berubah karena teorinya. TEORi itu tidak PASTI. FAKTA ALAM itu jelas PASTI diatas SEGALA TEORI.

    Dan jika kita perhatikan dengan seksama, maka akan kita temukanlah fakta bahwa semua teori yang dibuat manusia itu sesungguhnya tak lebih dan tak kurang hanyalah perkiraan, sangkaan, dugaan, manusia tentang sebab-sebab terjadinya sessutau dan akibat-akibat apa kiranya yang akan terjadi jika dilakukan suatu sebab atau aksi kepadanya yang kemudian dibuktikannya melalui metode Ilmiah.

    Anda Benar 100% soal ini.

    Dengan kata lain, setiap teori yang dapat memberikan penjelasan [ini teorinya] yang tepat tentang sebab-akibat dari suatu peristiwa alam atau sosial sekalipun [ini fakta alam: manusia juga fakta alam], maka teori ini sudah masuk kedalam kategori Ilmu Pasti [ilmu yang membahas tentang kepastian alam]. Cirinya…dapat direka ulang dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun dengan hasil yang sama persis [yang reka ulang itu Faktanya bukan?].

    Yang direka ulang ini BUKAN Teorinya, Tetapi FAKTA ALAMNYA. Kalau teorinya bisa memprediksi fakta alam yang terjadi, yang berbeda dari reka ulang dan dia salah, maka perlu diperbaiki (sebagaimana anda telah jelaskan juga). Seperti teori newton, dia berhasil diverifikasi dan direka ulang jutaan kali pada system yang tidak memiliki kondisi ekstrem, tetapi ketika dia memprediksi sesuatu yang mendekati kecepatan cahya atau atomic, teori newton ternyata salah memprediksikan FAKTA ALAM. Orang pada jamannya newton (sampai 400tahun lamanya, kalau saya tidak salah mengingat sejarah), sampai percaya bahwa teori newton itu abadi. tetapi ternyata mereka salah.Jadi teori newton tidak benar. YANG PASTI Itu ALAMNYA, bukan TEORI MANUSIA. atau kemungkinan yang anda maksud itu sesuai dengan apa yang telah saya tulis tentang Ilmu PAsti:

    Disini saya ingin membedakan dua definisi sains “yang mungkin” terlebih dahulu (menurut pemahaman saya sendiri tentunya) untuk memperjelas pembahasan saya selanjutnya. Pertama Sains atau IPA dipahami sebagai sebuah identitas yang melekat pada realitas disekeliling kita. Artinya adalah Sains atau IPA disini diletakkan pada kerangka dirinya sendiri lepas dari kaitan dengan Pengetahuan manusia. Sains dalam sudut pandang seperti ini bisa dianggap sebagai sebuah kepastian. Sains Itu Pasti karena Yang Ada itu Pasti. Realitas itu adalah kenyataan Pasti. Nah hanya dalam kerangka seperti inilah Sains itu sebuah kepastian. Tetapi disini Sains tidaklah menjadi Ilmu, Sains adalah entitas, Sains itu Alam, bukan hasil karya pemikiran manusia yang kemudian diberi nama sebagai Sains.

    dan bagian ini:

    Alam itu Pasti. Realitas itu Pasti, tetapi Sains tidak Pasti. Dengan demikian ada kerancuan ketika kita menyebutkan Sains itu ILMU PASTI (bisa juga dikatakan Ilmu Pengetahuan Alam itu ILMU PASTI). Yang pertama merujuk pada ALAM yang Pasti sehingga menjadi ILMU PASTI. PASTI = ALAM. Ini tidak salah sebetulnya. Namun dikarenakan proposisi ILMU PASTI bisa juga merujuk pada ILMU dalam dirinya sendiri itu yang PASTI maka terdapat dualisme pemahaman disini. Sedangkan yang saya ketahui selama ini ILMU PASTI ini sering dibenturkan dengan ILMU SOSIAL yang oleh sebagian orang juga dikatakan sebagai ILMU TIDAK PASTI.

    Dengan merujuk ILMU PASTI versus ILMU TIDAK PASTI, sepertinya ILMU PASTI didefinisikan merujuk pada pemahaman yang keliru seperti yang saya jabarkan diatas. ILMU SOSIAL itu membahas manusia (dengan interaksinya) yang juga merupakan bagian dari realitas. Dengan demikian ILMU SOSIAL itu tidak bisa dikategorikan sebagai ILMU TIDAK PASTI (dengan definisi pertama). ILMU SOSIAL itu juga ILMU PASTI atau Ilmu yang membahas entitas manusia yang real dan pasti.

    Selanjutnya tentang:

    Namun ada teori yang dibangun atau dimulai dari kesimpulan diatas kertas lebih dahulu (prediksi-prediksi belaka) lalu dibuktikan oleh orang lain melalui percobaan-percobaan dilaboratorium seperti teori relativitas khusus Einstein yang hingga kini belum dapat dibuktikan kebenarannya karena melibatkan kecepatan gerak yang nyaris mendekati kecepatan cahaya yang sangat sulit sekali untuk diwujudkan itu.

    Ya, einstein emang seorang deduktif. kecepatan cahaya sama untuk semua pengamat pada ruang hampa dalam teori instein itu postulat (landasan pokok yang tidak “perlu” dibuktikan tetapi diambil sebagai pijakan), teori einstein masih terus di uji (difalsifikasi) sampai saat ini, tetapi hal tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa teori einstein tetap bisa jadi salah. Bahkan Einstein sendiri pun mengakuinya.

    tentang pytagoras, bedakan antara kepastian matematik dengan fakta alam aka sains mas. matematik itu tidak bisa dibuktikan dalam bentuk empiris alam mas, dia hasil imaginasi. berawal dari satu atau beberapa aksioma dan aturan imaginasi manusia. berbeda dengan teori alam. Matematik bukan dibuktikan dengan fakta alam, tetapi dari aksioma dan aturan2 yang dia buat. walaupun tidak menutup kemungkinan matematik “terilhami” oleh sensibilitas manusia pada alam. Dan jelas, teori phytagoras tidak menjelaskan apapun tentang alam. Ia hanyalah “menemukan” sifat dari segitiga siku2! itu aja! sifat segitiga bukanlah teori alam! masnya terkacaukan dengan kesamaan istilah teori or teorema dalam matematika dengan teori dalam sains.

    Ya anda seorang guru seperti kata anda. Adakah itu mengubah arah diskusi kita?

  29. 29 BUDINANTO Sabtu, 11 Oktober 2008 pukul 10:39 pm

    Arah diskusi sama sekali tidak berubah, namun yang saya minta sebagai guru adalah saran Anda kepada semua guru Ilmu pasti alam di Indonesia yang mengalami permasalahan serupa dengan saya jika harus menjelaskan kepada murid-murid kami hubungan antara teori dan fakta alam yang berkesesuaian itu yang kami anggap sebagai bukti bahwa teori yang digunakan itu telah menjadi sesuatu yang bersifat pasti namun menurut Anda yang teramat sangat jenius adalah merupakan suatu kesalahan yang tidak dapat ditolerir alias harus divonis telah melakukan kesalahan yang sangat fatal yang tidak termaafkan !!!.

    Fokus diskusi kita sebenarnya adalah tentang derajat kebenaran dari teori yang dibuat oleh manusia untuk memahami alam dan lingkungannya.
    Perbedaan kita adalah Anda berpendapat tidak ada satupun teori yang bersifat pasti, namun saya berpendapat ada teori yang bersifat pasti dengan syarat dan ciri yang sudah saya jelaskan panjang lebar.
    Ada teori yang masih terbuka untuk diperbaiki, namun ada teori yang sudah mentok alias tidak dapat lagi diganggu gugat karena teori dan fakta alamnya sudah menyatu yaitu teori tersebut 100 persen tepat benar dalam menjelaskan sebab akibat terjadinya peristiwa tadi.
    Jadi perbedaan pendapat kita sebenarnya hanyalah pada masalah ada tidaknya teori yang bersifat pasti, itu saja.

    SALAM EXACTA !!!.

  30. 30 Suluh Minggu, 12 Oktober 2008 pukul 7:25 am

    namun ada teori yang sudah mentok alias tidak dapat lagi diganggu gugat karena teori dan fakta alamnya sudah menyatu yaitu teori tersebut 100 persen tepat benar dalam menjelaskan sebab akibat terjadinya peristiwa tadi.
    Jadi perbedaan pendapat kita sebenarnya hanyalah pada masalah ada tidaknya teori yang bersifat pasti, itu saja.

    Bisa kasih satu contoh teori alam yang memiliki derajat kepastian 100%.

    Wah kalau saran saya sih, ya jelaskan aja seperti apa adanya, bahwa teori itu bukanlah sebuah kepastian, tetapi sebuah upaya memahami alam, yang pasti bukan teorinya, tetapi fakta alamnya.

  31. 31 lovepassword Senin, 13 Oktober 2008 pukul 3:08 am

    @Mas Suluh : Kalo sudut pandang anda seperti itu Mas Suluh, saya rasa anda juga harus menjelaskan mengapa menurut anda yang pasti itu alamnya. Apa yang anda maksud dengan “alam itu pasti”?

    Selain ada sifat alam yang pasti apakah memang tidak ada sifat alam yang tidak bisa/belum bisa kita anggap pasti ?

  32. 32 Suluh Senin, 13 Oktober 2008 pukul 6:32 am

    @lovepassword: alam itu pasti itu dogma sains mas, postulat sains. kalau udah masuk kepertanyaan masnya seperti itu, itu masuk ranah filsafat, sebagaimana kita bahas soal indera kemarin dalam memperoleh sensasinya.

  33. 33 BUDINANTO Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 1:44 am

    11 oktober 2008 anda menulis… yang diulang bukan teorinya tapi fakta alamnya…
    Bagaimana kita dapat mengulang kejadian alam melalui experiment di laboratorium kalau kita tidak tahu teorinya atau sebab akibat terjadinya yang pasti ???
    Teori yang benar dapat digunakan untuk mengulang kejadian alam serupa secara berulang-ulang melalui experiment di laboratorium, kapanpun dan dmanapun dengan hasil yang sama persis.
    Teori yang salah tidak dapat digunakan untuk mengulang kejadian alam yang sama persis pada suatu experiment dilaboratorium.

    Berdasar hal inilah saya dapat menyatakan ada teori yang benar dan ada teori yang salah , tidak semua teori benar dan tidak semua teori salah !!!.

    sedangkan anda menyatakan tidak ada satupun teori yang benar !!!.

    Tentang teori yang benar 100 persen, sudah saya jelaskan bahwa semua teori yang dapat menjelaskan sebab akibat terjadinya sesuatu dengan tepat sesuai batasan cakupannya dengan uraian datanya yang lengkap sehingga dapat direka ulang dengan hasil yang sama persis, masuk kedalam kategori 100 persen.
    Jika suatu ketika ternyata terjadi penyimpangan maka kebenaran teori itu tetap tidak berubah ( tetap 100 persen ), melainkan hanya mengalami perkembangan menjadi teori baru dengan masukan data baru ( yang ditemukan sebagai penyebab penyimpangan tersebut ) yang kategorinya juga 100 persen, dst…,dst…,dst… !

    Mentok yang saya maksudkan adalah diulang berapa kalipun, kapanpun, dimanapun, oleh siapapun maka hasil uji cobanya pastilah tidak berubah sama sekali !!! teori itu sudah menjelaskan secara tuntas dan tepat sekali tentang sebab akibat terjadinya peristiwa tersebut !!! Teori seperti inilah yang saya sebut dengan teori yang pasti benar alias mutlak benar.

    SALAM EXACTA !!!

    • 34 Herman S Selasa, 5 Juli 2016 pukul 12:13 am

      #sigh
      Baca Ulang mas tulisannya. Sudah dibaca?

      Kalau masih keras kepala, coba baca tulisan saya di bwh

      Saya contohkan aja pake cerita ya :

      Suatu hari di siang bolong ,Suluh bertemu dengan Budinanto dan berbicara tentang planet.
      Suluh : Loh ini planetnya kecil sekali ya? Apa ini? Oh Pluto namanya, apa ini termasuk kelompok planet dalam tatasurya kita?hmm
      Budi : Oh iya jelas! Pluto itu planet terkecil kita.
      Suluh : Tapi kecil sekali, saya rasa bukan planet

      BUDI : PLUTO ITU PLANET! BODOH KAMU KALAU BILANG PLUTO ITU BUKAN PLANET, SEMUA ILMUAN SUDAH MENYATAKAN BAHWA PLUTO ITU PLANET KARENA jenis massa dan penyusunnya!!!

      Suluh : Okey okey ga perlu marah2

      dan beberapa tahun kemudian, Pluto dinyatakan tidak lagi menjadi Planet oleh ilmuan-ilmuan dunia

  34. 35 Suluh Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 1:38 pm

    @: lho yang diulang itu faktanya kan? bukan teorinya?? yang diulang pembuktiannya. Verifikasinya? dan jelas seberapapun banyaknya (karena keterbatasan kita kita tak mungkin mengulang percobaan disetiap waktu, tempat, dan peristiwa bukan?) perulangan tidak akan mampu menjadikan teori itu benar2 100% pasti.

    Bisa kasih satu contoh teori sains yang pasti 100%?

    SOri mungkin saya bisanya nulis pendek2 n gak bisa balas cepat. Barusan kesrempet mobil, gegar otak ringan, pulang dari rumah sakit aja baru 1 jam lalu. Mungkin diskusi bisa kita lanjutkn lain waktu.

  35. 36 Suluh Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 1:48 pm

    yang diulang kepastiannya itu faktanya. jadi yang dipercaya itu faktanya. teorinya kalau salah memprediksi sebuah percobaan alias faktanya yang diulang kok gak sesuai teorinya, ya teorinya yang musti diubah, bukan faktanya. Yang Pasti itu Fakta Alamnya, yang tak berubah itu Faktanya, teori sains itu Tidak Pasti!

  36. 37 afasmt Minggu, 16 November 2008 pukul 5:06 pm

    Bang Suluh, saya banyak kesamaan panjang dengan anda.
    Satu contoh matematika itu kan sudah tentu pasti.
    Belakangan saya gelisah setelah saya berkunjung ke salah satu situs pribadi, alamatnya http://rohedi.com tepatnya di artikel yang ada di tag ini http://rohedi.com/content/view/33/1/. Disana dijelaskan bahwa matematika jangan dijadikan pembenaran, karena banyak tabrakan di sana sini.
    Penulisnya mencontohkan, tan(pi/2) = takberhingga, tapi ternyata setelah dihitung dengan formula fungsi tangent versi lain yang juga diakui dunia, ternyata nilainya 0/0 yang taklain NaN (bukan bilangan). Bahkan setelah diambil nilai limitnya juga tak kunjung dapat nilai takberhingga, melainkan hanya memberikan nilai 1/0 yang oleh kebanyakan orang awam dismakan dengan tak hingga.
    Tolonglah bang suluh berkunjung ke situ tersebut, dan jelaskan pada kita-kita duduk persoalannya.

    Terimak Kasih,
    afasmt.

  37. 38 Suluh Rabu, 19 November 2008 pukul 5:31 pm

    @atasku: ketakberhinggaan itu secara filosofis emang bukan kepastian matematis mas. selalu akan terjadi sebuah antinomi atau paradok. bahkan dimatematikapun konsep ketakterhinggaan itu cuma sebuah “pemudahan” pendekatan bukan sebuah kepastian. Limit itu bukan sebuah kepastian, tapi pemudahan dalam sebuah proses… Pahami konsep dasar matematika dulu, biar gak terlalu kebingungan menghadapi problem2 matematis… Matematika dibangung melalui minimal satu premis dan satu aturan, nah pahami aturan atau premis tersebut, dan kembangkan.

    Saya baca tulisannya, dan saya sama sekali gak nemuin yang wah. Justru saya agak “kurang setuju” menggabungkan matematika dengan ideologi. Matematika dibangun dari premis2 dan aturan bukan dari sudut “ideologis teologis”. That dangerous bagi matematika itu sendiri. Pemahaman bisa campur aduk dan cenderung “dogmatis”.

  38. 39 oka rohdama Selasa, 2 Desember 2008 pukul 11:20 am

    okcey Bang Suluh…..realita yang ada dalam kehidupan sehari-hari emang kayak yang abang katakan..mungkinkah ilmu pasti itu cuma pembodohan masal yang dibuat oleh para tokoh2 terdahulu..mengapa kita sejak lahir tahu kalau 1+1=2 tidakah kita punya hak mengatakan 1+1=4,6 atau 7 jika kita bisa mempertanggung jawabkan…ketika kita SD,SMP,SMA seorang guru menyebutkan jika planet di tata surya ada 9,tpi ketika ketika kita kuliah saat ini ternyata tata surya hilang satu…Bang,abang terus gali pikiran abang aj,gak usah hiraukan tanggapan orang yang melecehkan argumen abang,mereka hanya kaum skeptis!!!!


  1. 1 Antara Sains Trial Error dan Sains Rekayasa « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Rabu, 26 Maret 2008 pukul 8:20 am
  2. 2 Google Translate edisi Indonesia Sudah Tersedia « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Kamis, 9 Oktober 2008 pukul 4:47 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: