Antara Sains Trial Error dan Sains Rekayasa

Sains atau Ilmu Pengetahuan, dalam pemahaman saya bukan hanya memiliki beberapa jalur atau jalan memperoleh pengetahuan yang berbeda-beda, namun Sains kadang dalam upaya pencariannya juga mengandalkan sebuah upaya “kebetulan”. Penemuan dalam Sains sering kali diawali oleh peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak direncanakan alias Eksidental. Mau Contoh? Coba googling penemuan mengenai Radiasi Sinar X. Namun hal ini tidak mengubah kredibilitas Sains yang mengutamakan Metode Ilmiah dalam Penelusurannya. Penemuan Eksidental selalu saja ditindaklanjuti dengan Upaya Pemahaman mengenai Kemunculannya.

Seperti Janji saya sewaktu menuliskan Kritik saya bahwa Sains itu Bukan Ilmu Pasti, Saya disini akan membahas dua jenis upaya penemuan Sains. Yang Pertama Jenis Trial Error dan yang kedua berjenis Sains dengan Rekayasa.

Contoh Sains Trial Error sebetulnya sangat banyak. Sains Trial Error ibaratnya sebuah upaya menemukan Jarum ditumpukan Jerami dengan cara yang sistematis dan penuh kehatihatian. Jerami disisihkan satu persatu dicatat dan diteliti sampai akhirnya sebuah jarum yang terselip di dalamnya mampu ditemukan. Butuh kesabaran dan waktu “mungkin” sangat lama untuk menemukannya, walaupun kadang bisa terjadi sebaliknya: waktunya jadi sangat singkat.

Contohnya kita sedang mencari sebuah padi berjenis unggul yang tahan hama dan mempunyai produktifitas tinggi serta memiliki waktu tanam yang singkat. Cara Trial Error apabila diterapkan dalam Pencari Jenis Padi seperti ini bisa dilakukan dengan melakukan perubahan DNA atau mutasi dengan suatu Radiasi Nuklir tertentu. Jutaan Butir Padi di berikan radiasi agar terjadi mutasi genetik di dalamnya. Nah dari Jutaan atau Ribuan Butir padi tersebut yang telah teradiasi dan terjadi mutasi genetik didalamnya, dicoba ditanam satu persatu dan dilihat karateristiknya. Sampai kemudian didapatkanlah karateristik yang diinginkan: Tahan Hama, Produktifitas Tinggi, dan Waktu Tanam Yang Singkat. Demikianlah kerja dari Sains Terapan yang Trial Error.

Sedangkan Sains Rekayasa berlaku sebaliknya. Alih alih ia mencari dalam tumpukan jerami, Sains Rekayasa Berusaha untuk menciptakan Jarum itu sendiri dengan segala daya dan pengetahuannya dari hasil Ilmu-ilmu yang didapatkannya. Dalam contoh padi maka padi itu akan dilakukan rekayasa genetika dalam stuktur DNAnya karena sang Saintis telah mengetahui cara melakukan rekayasa tersebut. Walaupun Hasil dari Rekayasa Jenis ini juga memerlukan suatu percobaan yang tidak sedikit (masih perlu dilakukan ujicoba apakah hasil rekayasa sudah sesui dengan yang diharapkan atau belum), namun, bisa dipastikan Sains Rekayasa Tidak perlu mencoba sampai Beribu-ribu atau Berjuta-juta benih padi. Saya kira Sains Rekayasa seperti ini sudah banyak dikenal diabad ini. Hanya kadang terbentur pada Aspek Stigma Sosial atau Keagamaan. Berbeda dengan Sains Trial Error yang lebih diterima Masyarakat. Ini saya bicara dalam kerangka masyarakat Indonesia.

Berbedaan Mencolok antara Sains Trial Error dan Rekayasa adalah kebutuhan akan Pemahaman. Sains Trial Error tidak membutuhkan bagaimana mencapai hal Padi Unggul Tersebut, Gen Apa yang diubah, Gen Apa yang perlu direkayasa. Sains Trial Error melakukannya Secara Random dan Acak diserahkan pada mekanisme yang “Brutal”. Sedangkan Sains Rekayasa memerlukan Pemahaman akan Gen Apa yang dirubah dan di Rekayasa, Bagaimana Melakukannya, Dengan cara Apa atau teknologi Bagaimana. Hal ini membutuhkan pemahaman pada Entitas Yang ingin didapatkan secara lebih baik. Sains Rekayasa adalah sains yang “Mendalam” dan dilakukan dengan “Pengamatan dan Kehati-hatian” bukan dengan cara “Brutal”. Namun terkadang [Sering?] Sains Rekayasa diawali atau didahului dengan penemuan dari Sains Trial Error. Lalu apa siapa yang akan lebih berkuasa di abad mendatang? Jawaban saya: Sains Rekayasa akan lebih unggul dari Sains Trial Error dalam wilayah Terapan. Kenapa? Jawab sendiri ya.

Salam Penuh Tanya

Haqiqie Suluh

Note: Dikotomi Trial Error vs Rekayasa murni dari saya sendiri. Jika ditelusuri lebih lanjut (googling aja: mungkin anda hanya akan menemukannya di postingan ini) sebenarnya dikotomi ini agak kabur karena Sains sering mencapuradukkan keduanya atau bahkan dicampur dengan cara yang lain. Sekedar Mengingatkan.

6 Responses to “Antara Sains Trial Error dan Sains Rekayasa”


  1. 1 add more tree Rabu, 26 Maret 2008 pukul 2:03 pm

    Benar-benar analisa yang jitu dari masa suluh, semoga jadi blogger yang sukses

  2. 2 Amaranth Selasa, 1 April 2008 pukul 7:23 pm

    kayaknya mas, kita nggak bisa melepaskan nya jadi dua gitu.

    pun bentuknya rekayasa (engineering atau alteration), tetap ada trial error nya. Ada sample yang tetap, dan ada sample yang dirubah. Baru dari situ bisa dilihat perbedaan nya. biasa to, ANOVA.

    kayaknya gitu deh

  3. 3 Suluh Rabu, 2 April 2008 pukul 8:24 am

    @amaranth: baca lagi ya mas… kayaknya saya sudah mencover pernyataan anda deh ditulisan di atas..

    Walaupun Hasil dari Rekayasa Jenis ini juga memerlukan suatu percobaan yang tidak sedikit (masih perlu dilakukan ujicoba apakah hasil rekayasa sudah sesui dengan yang diharapkan atau belum), namun, bisa dipastikan Sains Rekayasa Tidak perlu mencoba sampai Beribu-ribu atau Berjuta-juta benih padi

    dan ini:

    Namun terkadang [Sering?] Sains Rekayasa diawali atau didahului dengan penemuan dari Sains Trial Error

    dan catatan kecil diakhir artikel saya yang mungkin mas lewatkan:

    Note: Dikotomi Trial Error vs Rekayasa murni dari saya sendiri. Jika ditelusuri lebih lanjut (googling aja: mungkin anda hanya akan menemukannya di postingan ini) sebenarnya dikotomi ini agak kabur karena Sains sering mencapuradukkan keduanya atau bahkan dicampur dengan cara yang lain. Sekedar Mengingatkan.

  4. 4 anton Rabu, 9 April 2008 pukul 3:50 pm

    Saya rasa tidak perlu melakukan dikotomi sains. Dua jenis yang mas sebutkan pada dasarnya satu juga.

    Maksud saya begini, sains “trial-error” adalah upaya sains dalam menerabas hal-hal baru. Ringkasnya untuk menciptakan deduksi baru.

    Nah “sains rekayasa”, seperti yang mas maksud, tujuannya adalah untuk menciptakan inovasi baru berdasarkan deduksi yang ditemukan oleh sains “trial-error”.

    Secara umum dua hal ini adalah sama. IMHO. Salut dengan analisisnya :).

  5. 5 Suluh Rabu, 9 April 2008 pukul 6:53 pm

    @anton: baca lagi contoh saya mas… dalam tulisan saya keduanya untuk menciptakan inovasi baru lho… dan baca juga note atau catatan saya akhir. Saya sudah memikirkannya tentang dikotomi sains ini agak kurang relevan sesungguhnya… kalau mau lebih bagus sebenarnya dikotomi ini lebih ke metode falsifikasi vs trial error agar lebih jelas…

  6. 6 NARATIRTA Kamis, 10 Desember 2009 pukul 4:39 pm

    saya sih setuju….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: