Ada dan Tiada: Sebuah Sajak Filsafat

Buat saya, Ada dalam arti sebagai bentuk atau wujud keeksistensian saya, selalu muncul mendahului atau menegasikan Tiada. Setidaknya ini berdasarkan dogma dan atau aksioma indera saya.

Saya Ada. Itulah sebuah Kekaguman tak bertepi dalam pengetahuan akan eksistensi.
Saya Ada. Itulah keindahan filsafat yang selalu merasuk ke dalam emosi jiwa sesaat.

Saya Tiada? Ah masa? Lihatlah bukakankan saya memang Ada dan Mengada.

Tiada itu Nonsense! Yang ada Hanya ADA.

49 Responses to “Ada dan Tiada: Sebuah Sajak Filsafat”


  1. 1 Okta Sihotang Minggu, 25 Mei 2008 pukul 9:24 pm

    ora mudeng aku ttg filsafat ;)

  2. 2 nindityo Senin, 26 Mei 2008 pukul 8:29 am

    betul kang.
    tapi kalo gak ADA saya, gak mungkin sampeyan ADA tho..
    aku ADA karena kamu (semua) ADA
    jadi AKU dulu ato KAMU dulu-an
    ayam ato telur dulu

  3. 3 Suluh Senin, 26 Mei 2008 pukul 10:16 am

    @atasku: dahulu mendahului untuk keeksistensian itu tidak ada mas… jadi tidak ada itu ada (kamu) mendahulu ada (saya)… saya tidak mengkontraskan antara ada dengan ada.. tetapi ada dengan tiada (itupun sesungguhnya kurang tepat diwakili kata “mendahului”/ lebih tepat kayaknya mengejawantah-menegasikan)

  4. 4 dedy Senin, 26 Mei 2008 pukul 10:32 am

    salam kenal. satu pertanyaan mas, mengapa ada itu ada?

  5. 5 Suluh Senin, 26 Mei 2008 pukul 10:57 am

    @dedy: karena dogma indera saya!! maka saya ada!!

  6. 6 nindityo Senin, 26 Mei 2008 pukul 6:56 pm

    betul mas, saya silap dengan kata “mendahului”.
    mohon dimaapkan.

  7. 7 Suluh Selasa, 27 Mei 2008 pukul 9:32 am

    @nindityo: yang silap tuh saya mas.. cz pake kata mendahulu di postingan n pake karena juga.

    Karena atau mendahului itu intinya juga dogma kita atas yang ada… karena itu representasi dari dogma sebab akibat, sedang dahulu mendahului itu juga bagian dari dogma waktu. Apapun itu sebab akibat dan waktu adalah bagian dari “Yang ADA”. Walah entar bisa panjang… cukup sekian dulu aja…

  8. 8 arsyi Selasa, 27 Mei 2008 pukul 5:14 pm

    Keberadaan saya dan anda tidak ada yang berbeda bila ditinjau dari sisi eksistensi. sebab sama-sama ADA atau mengADA.

    Eksistensi terbagi antara substansi dan aksiden.
    Substansi adalah unsur penyusun sesuatu.
    H20 misalnya terdiri dari Oksigen dan Hidrogen. bila salah satu dari keduanya tidak ada maka Air tidak akan pernah mewujud.

    sementara aksiden adalah bentuk,sifat,rasa,dan warna dari sesuatu.
    misalnya Putih pada kertas.
    Yang mana sebenarnya yang kita lihat, putihnya atau kertasnya?

    apakah setiap yang berwarna putih adalah kertas? atau
    apakah setiap kertas berwarna putih?

  9. 9 Suluh Selasa, 27 Mei 2008 pukul 5:23 pm

    Eksistensi terbagi antara substansi dan aksiden.
    Substansi adalah unsur penyusun sesuatu.
    H20 misalnya terdiri dari Oksigen dan Hidrogen. bila salah satu dari keduanya tidak ada maka Air tidak akan pernah mewujud.

    sementara aksiden adalah bentuk,sifat,rasa,dan warna dari sesuatu.
    misalnya Putih pada kertas.
    Yang mana sebenarnya yang kita lihat, putihnya atau kertasnya?

    apakah setiap yang berwarna putih adalah kertas? atau
    apakah setiap kertas berwarna putih?

    Ini sepenuhnya anda tulis dan nyatakan sebagai dogma indera atau aksioma indera yang notabene indera tersebut ada dan mengada dalam Yang ADA. Ini sekedar eksistensi turunan dari Aksioma Indera Kita. Kita memang terdogma oleh INDERA.

  10. 10 arsyi Selasa, 27 Mei 2008 pukul 8:40 pm

    Ini sepenuhnya anda tulis dan nyatakan sebagai dogma indera atau aksioma indera yang notabene indera tersebut ada dan mengada dalam Yang ADA. Ini sekedar eksistensi turunan dari Aksioma Indera Kita. Kita memang terdogma oleh INDERA.
    ———————————-
    Apa sebenarnya batasan/defenisi DOGMA yang anda pakai dalam istilah filsafat khususnya menyangkut INDERA? tolong jelaskan.

    kedua. tolong jawab pertanyaan saya bukan pertanyaan retoris.
    ketiga, apa sebenarnya perbedaan antara Apriori dengan Aksioma?

    “dogma indera atau aksioma indera yang notabene indera tersebut ada dan mengada dalam Yang ADA”
    saya kurang ngerti dengan kalimat ini…apa bisa dijelaskan dengan bahasa sederhana lagi?
    sebab bahasan ADA tidak berkaitan dengan APA atau ke-apaan sesuatu.
    dimana APA adalah bahasan aksiden.
    hormat saya

  11. 11 arsyi Selasa, 27 Mei 2008 pukul 9:18 pm

    pada merahnya darah, apa yang sebenarnya kita lihat?
    darahnya kah atau merahnya?

  12. 12 Suluh Rabu, 28 Mei 2008 pukul 4:02 am

    @arsyi: dogma indera tuh bagaimana kita melihat Yang ADA dengan mata, mendengar YAng ADA dengan telinga. melihat, mendengar tuh konsekuensi dari dogma indera alias dari adanya indera yang melekat di diri kita. Kiat mengetahu, belajar, memahami berawal dari apa yang kita inderawi, tanpa bisa kita melepaskan dri dari indera kita sendiri. Padahal indera itu bukanlah sesuatu yang “benar-benar” bisa dipercayai atau tidak bisa disebut sebagai sebuah alat untuk “membuktikan” sehingga memperoleh hasil atau jawaban yang “tak terbantahkan”. Kita melihat benda dari jauh mendekat sudah beda. Warna Darah sebagaimana anda katakan itu juga merupakan konsekuensi dari alat indera kita. Apa itu sesungguhnya merah tidak pernah bisa dielaborasikan! Itu hanyalah karena adanya indera kita. Demikian pula entitas darah yang mas kata itu juga dogma indera? Kitalah yang menamai warna dan entitas darah itu dari indera kita.

    Yang patut diberi pertanyaan adalah apakah indera kita (yang merupakan satu satunya akses mengenal Yang ADA, termasuk pikiran kita itu indera juga), berseusaian atau berkolaborasi langsung dengan Yang ADA. Apakah setiap yang kita indera itu benar benar sesuai dengan Yang ADA. Apakah itu hanya duplikasi saja? Apakah duplicasi itu sama atau setidaknya ada yang sama atau menyerupai? Apakah yang ada itu mandiri atau tidak bergantung dengan indera? Ataukah sesungguhnya semua ini hanya ilusi?

    Nah pertanyaan-pertanyaan sejenis juga telah menjadi sentral dari pencarian saya. Termasuk pertanyaan2 tentang hubungan kehendak bebas, waktu, ruang, sebab akibat, moral, yang menjadi suatu kesatuan yang masih tak kumengerti.

    Istilahnya dari inderalah kita “mengenal” Yang ADA. Inderalah Kacamata kita yang tidak bisa kita lepaskan. Beberapa posting telah membahas masalah ini mas:

    silahkan baca di sini, sini dan beberapa tulisan lagi…

  13. 13 Suluh Rabu, 28 Mei 2008 pukul 4:09 am

    Padahal kita itu bagian dari yang Ada, yang berarti INdera kita itu bagian dari yang ada, alias ada dan mengada dari “manifestasi” Yang ada

  14. 14 arsyi Rabu, 28 Mei 2008 pukul 10:14 am

    Indera adalah salah satu sumber pengetahuan tetapi bukanlah satu-satunya. kehilangan satu panca indera maka kehilangan satu bentuk pengetahuan. selain indera, akal dengan prinsip logika aristotelian “prinsip niscaya lagi rasional: Keselarasan,Kausalitas,nonkontradiksi adalah pijakan yang sangat kuat sebgai sumber pengetahuan (epistemoogi). runtuhnya prinsip niscaya lagi rasional tersebut berarti runtuhnya seluruh bangunan pengetahuan yang telah ada.
    ——–

  15. 15 Suluh Rabu, 28 Mei 2008 pukul 10:50 am

    arsyi: mas saya tidak menyebut panca indera lho… yang saya maksud indera disini adalah segala bentuk cerapan atau sensasi yang masuk ke dalam diri kita. Tidak melulu panca indera. Pikiranpun bisa saya sebut sebagai salah satu indera alias alat yang melekat di dalam diri kita. Indera kedua atau indera pengolah.

    Logika atau akal itu tidak mungkin hadir atau mengada tanpa data dari indera awal (indera yang behubungan pertama kali dengan entitas). Jadi tanpa indera (dalam hal ini mata, telinga dsb) akal itu mandul. Tidak pernah ada akal kalau tidak pernah ada data yang masuk.

    Logika aristotelian tuh cuma salah satu logika mas. Dan logika aristotelina itu juga dibentuk karena adanya dogma indera. Coba diperhatikan masing masing prinsip aristotelian. Kesemuanya berawal mengacu pada indera atau keberadaan kita plus ruang dan waktu (yang juga merupakan hasil dari sensibilitas kita alias dogma juga indera juga).

  16. 16 Suluh Rabu, 28 Mei 2008 pukul 11:06 am

    tambahan: btw, tidak ada yang runtuh kok mas. Logika aristoteles tidak runtuh dengan adanya sebuah “celah” didalamnya, hanya perlu dipahami dan diperbaiki lebih baik. Sebagaimana fisika tidak runtuh dengan adanya “celah” yang tidak bisa diisi. Kita ingin memahami.

    Yang Ada itu Ada. Kitalah yang menerapkan pengetahuan kita pada Yang ADA. Yang Salah pastilah pemahaman kita bukan Realitas atau Yang ADA. Memahami perlu dan akan selalu berlanjut tiada akhir.

    Filsafat sendiri saya kira bukan menyuguhkan jawaban jawaban abadi mas, tetapi pertanyaan pertanyaan abadi.

    Misal sebab akibat telah di kritik habis oleh HUme dan menyisakan celah yang tidak mampu dijawab, yang sering disebut Jalan BUntu Hume. Kant telah membuat sebuah terobosan baru dengan membagi dunia menjadi dunia fenomena dan noumena, namun masih banyak celah dan pertanyaan yang tak dapat diisi.

    Terus terang saya memang beranjak dari realitas alias diri saya sendiri (sebagian orang menganggap saya menganut empirisme, tetapi sesungguhnya tidak sesederhana itu). Waduh kok malah curhat. Yaudahlah sekian saja. Gak jadi melanjutkan.

  17. 17 benny Rabu, 28 Mei 2008 pukul 2:50 pm

    isi adalah kosong, kosong adalah isi
    ada adalah tiada, tiada adalah ada
    segala sesuatu yg ada di alam semesta ini hanyalah merupakan perpaduan dari unsur-unsur sesuai dengan kondisi tertentu. ketika unsur-unsur ini terurai maka yang tertinggal hanyalah kekosongan, tidak ada inti yang eksis di dalamnya. tidak benda tidak jg makhluk hidup, semua sama tidak memiliki inti/DIRI yg kekal. AKU, KAMU, SAYA hanyalah sebuah ungkapan tdk lebih dari itu. yg ada hanya proses kesadaran yg berlangsung terus menerus tanpa henti. Kesadaran melihat, kesadaran mendengar, kesadaran mencium, kesadaran mengecap, kesadaran menyentuh dan kesadaran berpikir. semuanya silih berganti satu sama lain tidak terjadi bersamaan. setiap proses kesadaran berlangsung hanya 1/20 detik begitu cepatnya sehingga manusia merasa ada JIWA yg kekal dibalik tubuh ini.setiap 1/20 detik muncul manusia baru dalam tubuh kita krn selama proses kesadaran itu berlangsung, kita jg memperoleh pengalaman baru, di dalam tubuh kita jg mengalami perubahan walaupun tdk terlihat oleh mata. perubahan itu selalu terjadi karena semua yg berkondisi adalah tdk kekal.jika diri kita hanyalah sebuah proses kesadaran atas dasar apakah kita harus berpegang teguh pada ego bahwa AKUlah yg paling hebat,AKUlah yg paling benar.

  18. 18 Suluh Rabu, 28 Mei 2008 pukul 3:48 pm

    @benny: maksudnya apa ya? *garuk garuk kepala gak ngerti*

  19. 19 benny Rabu, 28 Mei 2008 pukul 5:43 pm

    maksud saya, kita memang eksis secara fisik di dunia ini dan biasanya kita katakan “AKU ADA” tapi jika kita telaah lebih jauh apa yg disebut AKU itu sebenarnya hanyalah proses berlangsungnya kesadaran yg timbul dan lenyap silih berganti. setiap muncul kesadaran baru akan ada AKU yg baru karena AKU ini setiap 1/20 detik berubah menjadi manusia baru maka dia dikatakan tidak eksis.jadi eksis adalah tdk eksis dan tdk eksis adalah eksis.ini sebenarnya lebih ke pemahaman agar kita tdk melekat kepada segala sesuatu dan memandang segala sesuatu sesuai dengan hakekat yg sebenarnya bukan berdasarkan ilusi.seperti api dibilang kekal jg tdk, karena ketika unsur2 pembentuknya habis maka ia akan padam tapi klo api panas itu sdh sifatnya. dan panas sendiri adalah energi yg kekal.

  20. 20 Suluh Rabu, 28 Mei 2008 pukul 6:08 pm

    btw dapat drmana 1/20 detik…

  21. 21 arsyi Rabu, 28 Mei 2008 pukul 11:33 pm

    sebenarya ISI TAPI KOSONG/KOSONG TAPI ISI adalah pembahasan mengenai wujud mutlak dan wujud nisbi.

    dalam fisika quantum entitas materi terkecil pun spt proton neutron masih memiliki ruang hampa 0,0….% sehingga penemuan entitas tersederhana tersebut masih merupakan hipotesa dan mungkin tak memiliki tepi. makanya materi dari perspektif ini tetaplah kosong. sementara kekosongan tersebut secara langsung tak dapat dinafikkan karena massa materi yang diperlambat dapat memadat sehingga kita bisa melihatnya bahkan menyentuhnya.
    dan saya yakin ketika benny dilempar benda keras(misalnya batu) tepat diwajahnya maka akan benjol. karena saya yakin benda keras itu tidak kosong tapi isi.

    erwin schoundinegr peraih nobel fisika quantum juga percaya ruang hampa tapi dia juga akan menghindar ketika dilempar benda keras.

    Allah meliputi segala sesuatu tapi segala sesuatu itu tidak meliputiNYA.
    salam hangat darikoe.

  22. 22 Suluh Kamis, 29 Mei 2008 pukul 5:22 am

    gak ikut ikutan cz gak ngerti sama sekali…

  23. 23 benny Kamis, 29 Mei 2008 pukul 9:03 am

    maaf mas arsyi,
    semua orang jg tau klo semua benda keras dilempar jg sakit, jangankan saya, dilempar ke wajah mas sendiri jg pasti benjol. saya tdk pernah menyangkal bahwa secara fisik benda2 yang ada di sekitar kita dapat kita lihat dan kita sentuh. yg saya bicarakan disini adalah hakekat sebenarnya dari benda tsb. apa yg kita sebut benda itu sebenarnya hanyalah perpaduan unsur-unsur yg pada akhirnya adalah energi jg. karena segala sesuatu yg ada di dunia ini tdk kekal, pada saatnya nanti unsur-unsur ini akan terurai kembali dan apa yg kita sebut benda tadi sdh tdk ada dan ujung2nya kembali ke energi lg.kenapa sih kita harus memahami hal tsb, agar manusia tdk serakah. Allah ??…….no comment :)
    Yang saya tahu bahwa “ada sesuatu yg tdk tercipta, ada sesuatu yg tdk musnah dan ada sesuatu yg tdk dilahirkan”

  24. 24 budiman Jumat, 20 Juni 2008 pukul 12:48 pm

    salam mas Suluh,

    menawi bab filsafat kula nggih gadhah kok mas :d

    maturnuwun saderengipun kala riyin pun diparingi ngertos

  25. 25 Suluh Jumat, 20 Juni 2008 pukul 1:26 pm

    @budiman: maksude njenengan nopo nggih?? *garuk garuk pala*

  26. 26 budiman Jumat, 20 Juni 2008 pukul 10:45 pm

    coba jika mas Suluh bertanya kepada diri pribadi dengan pertanyaan:

    siapakah saya sebenarnya?
    saya ini siapa dan apa mau ke mana trus apa?
    jika pertanyaan ini terjawab maka dapat terungkap bahwa
    itulah tujuan manusia hidup.

    salam

  27. 27 Suluh Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 6:05 am

    @budiman: hebat mas anda…. salut dan angkat topi saya buat anda… yang tentunya sudah mengenal diri anda sendiri bukan? Dan sudah tahu n mengerti juga tentunya tentang diri sendiri serta sudah mengungkap tujuan hidup… Syalut… Hebat.. Saya Terkagum kagum dengan orang seperti anda…

    Sedang saya sendiri, masih mencari dan sering diliputi ketakmengertian

  28. 28 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 11:06 am

    tapi berhati-hatilah jika ingin belajar dan mengetahui yang sebenarnya ttg jati diri

    karena kalau dipikir terus2an dapat mengakibatkan orang itu mjd banyak melamun, bingung, apa2 kadang serba takut dan bisa2 pikiran jd agak owah

    yg penting harus sabar
    org spt ainun najib pun pernah mengenal yg seperti ini

  29. 29 Suluh Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 11:48 am

    @budiman: wah musti hati htai ya mas… bisa dikasih tahu apa yang telah mas dapatkan dari proses mengenal diri mas dan sampai bisa mengenal diri sendiri? semoga saya bisa belajar…

  30. 30 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 11:58 am

    aku punya pertanyaan:

    sebenarnya , kita hidup ini buat apa c??
    jawab dulu dunk..

  31. 31 Suluh Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 12:10 pm

    @budiman: lho kok malah balik tanya? udah saya bilang saya masih mencari dan sering diliputi ketakmengertiann kok.. seharusnya anda dong yang saya pikir telah mengenal diri sendiri bisa menjawab pertanyaan tersebut.

  32. 32 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 1:50 pm

    to liv is 2 die
    die & die
    so what????
    what is die?
    kl udah mati ya udah

    untuk belajar mengenal diri sama jg kl kita belajar mengenal apa yg sering orang sebut & sembah

    & kl ingin mengenal lebih jauh ya harus mati duluan, tp bukan mati kaya org2 itu alias sudah dikubur
    tentunya mati di sini adlh mati dalam hidupnya

    Mas Suluh masih muda, kl mmg berniat 99% belajar gituan apa gak eman2 ?

    dalam arti nanti malah masih muda udah jd bikku alias gak mau kawin :d

    jika ingin mengetahui diri kita carilah guru sejati di dalm diri

    hal ini jg yg pernah dipelajari o/ seorang pria urban dr cina yg datang ke jawa lalu diakui mjd seorg syekh, yg paling ditakuti o/ wali2 zaman kerajaan demak.

    salam

  33. 33 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 1:52 pm

    sebenarnya q jg pengen nulis kaya gituan
    tp…..butuh waktu lama apalg seiring dgn kesibukan+jangan2 bisa menimbulkan kontra nanti
    hihi

  34. 34 Suluh Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 2:21 pm

    @budiman: hi hi hi… kayaknya saya salah menilai mas budiman… ternyata kita tuh sama… alias sama sama masih mencari… hi hi hi… btw, solusinya kok malah cenderung ke “situ-situ” lagi. mengenal yang kita sembah.. hi hi hi.. ngutip dari “situ tuh ya mas”… hi hi hi…

  35. 35 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 2:24 pm

    bukannya ngutip

    q bukan mau nulis yg mas Suluh tulis
    tp q mau nulis soal apa yg telah q dapatkan dlm pencarianku utnuk menemui saudaraku yg di dlm sini

    tp yaahhh belum ada wkt

    bisa2 2 buku tebal, wah pegel ni tangan

  36. 36 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 2:27 pm

    wah…TOLONG yg terakhir ini kl bisa nanti di hapus yah

    gini…..PADA INTINYA YG NAMANA TUHAN ITU TIDAK PERNAH ADA

    salam

  37. 37 budiman Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 2:30 pm

    yg di atas udah di hapus kan
    tolong di hapus dulu yah haha

    pada akhirna org tingkat hakikat pun ya berpikir demikian

    termasuk syekh yg saya maksud

  38. 38 Suluh Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 3:23 pm

    @budiman: lho kenapa musti dihapus… kalau itu pendapat dan keyakinan mas ya itu hak mas toh… saudaramu didalam situ apaan tuh mas… masnya tuh lho… bikin saya ketawa aja… :lol:

  39. 39 Suluh Sabtu, 21 Juni 2008 pukul 3:30 pm

    @budiman: btw tadi kayaknya kita tuh membicarakan mengenal diri sendiri deh mas… kok tiba tiba nyangkut sama TUHAN segala… hihihi…. gak nyambung banget…..

  40. 40 budiman Senin, 23 Juni 2008 pukul 4:33 pm

    wah kl komputer u boleh jaGO
    TP KL SOAL YG INI

    WAH AWAM BANGET


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: