Bukti Bukti Bahwa Hidup Itu Demikian Berharga

Satu hal yang sering membuat kita terhenyak dan terkurung dalam lautan kegelisahan dan ketakutan (walau tidak secara terus menerus dan tidak dalam periode waktu yang lama), kita merasa bahwa hidup kita merupakan sebuah “emas yang tak tersadari”. Ya, kita sebenarnya menganut secara tak sadar dan sadar bahwa kehidupan dan hidup kita demikian Berharga. Berikut ini beberapa Alasan kenapa saya mengatakan bahwa hidup itu demikian kita hargai walaupun kita tidak menyadarinya:

Pertama lihatlah orang orang yang kita pikir “gila” atau “tak waras” yang berkeliaran di pinggir jalan dan tidur di emperan toko serta di sudut sudut jalan kota. Kenapa mereka masih mencari makan, kenapa mereka masih mencari minum? Bukankah secara “kesadaran” mereka kita anggap hilang akal sehatnya? Orang gila pun masih pengen terus meneruskan hidup dan kehidupannya. Ia masih makan untuk mengisi perutnya agar tidak keroncongan, Ia masih mencari minum untuk mengisi dahaga di kerongkongannya. Dan satu hal Ia masih INGIN (walau tak disadarinya) HIDUP.

Kedua lihatlah bayi yang baru saja lahir. Dia kita anggap tidak berkesadaran atau kesadaran yang terinsafi / bisa juga memori yang tersadari dari bayi belum ada. Tapi… Tapi… Lihatlah kawan! Ia masih mampu untuk meminum susu dari puting seorang perempuan. Susu yang akan membuat dia tumbuh besar dan melanjutkan kehidupan dan hidupnya nanti. Ya, Bayi Pun INGIN HIDUP.

Keinginan untuk hidup dari kita yang notabene merupakan sesuatu yang melekat tanpa kita sadari merupakan indikator bahwas HIDUP itu sedemikian BERHARGA. Keberhargaan disini kita nisbahkan karena adanya keinginan yang tak tersadari dari diri kita sebagai manusia atas KEBERLANJUTAN  KEHIDUPAN KITA.

Ketiga lihatlah apa- apa yang dibuat, diusahakan, dan dijaga kelangsungannya oleh manusia. Rumah, Makanan, Jalan, Rumah Sakit, dan sebagainya merupakan sebuah sarana untuk dia bisa HIDUP dengan lebih nyaman dan aman.

Keempat, beragama senjata diciptakan untuk membunuh manusia. Tank, Bomb, Senapan, Pistol, Racun dan sebagainya. Untuk apa? Itu karena HIDUP itu sedemikian berharga sehingga Senjata untuk Memusnahkan HIDUP merupakan sarana untuk Perebutan KEKUASAAN. Artinya disini adalah Hanya untuk Menghabisi atau Memusnahkan Manusia, diciptakan senjata yang sedemikian banyak ragam dan canggihnya. HIDUP ini SEDEMIKIAN BERHARGA sehingga ia bisa menjadi KEKUATAN ANCAMAN BAGI ORANG LAIN. HIDUP KITA MELAWAN HIDUP MEREKA.

Kelima. Hukuman dan Ancaman paling tinggi dalam sebuah pengadilan adalah hukuman MATI. HIDUP ITU DEMIKIAN BERHARGA sehingga pantas menjadi sebuah penimbang akan keadilan. MEMATIKAN HIDUP merupakan harga yang sangat mahal! Ancaman membunuh, terancam dibunuh, ketakutan dibunuh, merupakan sesuatu hal yang paling membangkitkan EMOSIONAL kita.

Keenam. Silahkan tambahi.

Sekedar Corat coret

Salam haru dan sendu dalam ketidakmengertian akan HIDUP

Haqiqie Suluh

20 Responses to “Bukti Bukti Bahwa Hidup Itu Demikian Berharga”


  1. 1 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 9:17 pm

    Kalau hidup itu berharga, ngapain ada orang yang bunuh diri Mas ?

    Secara matematis : Suatu fakta bisa dianggap sebagai fakta jika tidak ada kesalahan satupun dalam fakta tersebut. Kecuali jika anda berikan batasannya.

    Benar untuk x dari sekian sampai sekian gicu .

    Dalam kasus ini anda salah secara matematis karena masih ada orang yang menganggap hidup tidak berharga.

    gaya bahasa saya jangan-jangan ketularan anda ya ? Sok berfilsafat gitu lho ? He he he .

    SALAM YA ?

  2. 2 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 9:26 pm

    @lovepassword: setahu saya bayi tidak akan bunuh diri… orang bunuh diri pasti ada sesuatu yang melatarlakanginya… bunuh diri tidak menggugurkan kenyataan bahwa hidup itu berharga… malah semakin menegaskan bahwa hidup itu berharga… orang bunuh diri tidaklah sebanyak orang yang ingin hidup… jadi hidup tetap berharga dan sangat berharga.. nyatanya banyak orang memilih untuk hidup dibandingkan bunuh diri.

  3. 3 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 10:02 pm

    JAdi anda pake batasan bayi, ya ? Topik anda membahas manusia kan ? Bukan membatasi cuma bayi saja ?

    Lho fakta kalo ada orang yang bunuh diri itu membuktikan kalau ada pengecualian dalam fakta anda.
    Karena anda tidak menyebutkan batasannya jadi logika anda secara matematis tidak bisa dianggap benar.

    Kalau anda tanya pada orang yang mau bunuh diri apakah hidup mereka berharga? JAwaban yang nalar, ya pasti tidak. Dengan demikian maka ada
    yang salah dalam persamaan matematis buatan anda itu.
    Gicu kalo menurut saya sih.

  4. 4 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 10:04 pm

    Kalau orang bunuh diri harus ada alasannya. Apa menurut anda kita hidup ini gak perlu pake alasan ? Cuma sekedar hidupkah ?

  5. 5 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 10:15 pm

    @lovepassword: disini saya merujuk pada manusia sebagai sebuah keseluruhan mas… bukan hanya manusia dewasa.. artinya apa.. kita harus menilik dari sejarah manusia itu berkembang. Keberhargaan hidup manusia saya kira bukan hanya ditilik dari sudut berharga atau tidaknya secara individual. Apakah adanya fakta bahwa ada orang bunuh diri itu akan menegasikan atau menggugurkan bahwa hidup ini berharga? tidak bukan? Keberhargaan ini bukan individual sifatnya mas. Semoga masnya paham.

    Saya tidak mengatakan ada alasan lho mas… cuma pasti ada yang melatarbelakanginya. Sebelum manusia itu berkesadaran (faze bayi), tidak ada kamus bunuh diri di dirinya. Dia ingin Hidup! Ini sebenarnya yang ingin saya tekankan!

    Soal alasan hidup. No komen aja mas.

  6. 6 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 10:40 pm

    Tambahan lagi: apakah dengan adanya fakta bunuh diri (yang tentunya sangat sedikit) akan membuat anda mengatakan bahwa hidup ini tidak berharga? Fakta lain semisal hukuman mati, senjata pembunuh, yang saya sebutkan diatas saya kira lebih dari cukup untuk menjadi bukti bahwa hidup ini demikian berharga, sampai sampai untuk menghilangkan hidup musti dibuat senjata seperti itu yang sangat sangat mahal. Berapa banyak harta yang dikeluarkan untuk sebuah hidup (entah untuk bertahan hidup, atau malah untuk membunuh hidup).

  7. 7 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:01 pm

    Oh jadi yang anda bicarakan itu manusia dalam suatu komunitas toh ?
    Saya rasa topik ini menarik. Karena yang namanya komunitas tentu dasarnya adalah individu-individu. Yang namanya individu itu itu kan ada bermacam-macam. Lebih penting mana memperhatikan individu atau komunitas. Mana yang lebih penting memperbaiki masing-masing manusia sebagai individu atau memperbaiki masyarakat. Lebih penting mana antara figur dan system ?

    Kalau masalah paham. Saya rasa saya sedari awal juga sudah paham maksud tulisan anda. Tetapi karena saya lihat anda suka filsafat dan demokratis pula maka iseng-iseng saja saya mengomentari postingan anda.

    Anda bertanya kepada saya : Apakah dengan adanya fakta bahwa ada orang bunuh diri itu akan menegasikan atau menggugurkan bahwa hidup ini berharga?
    JAwaban saya : Kalau ditinjau dari sudut ilmu logika murni jawabannya adalah : IYA . Mengapa ? karena ada satu alasan yang tidak ikut membenarkannya.

    Dalam hati sih saya kepengin setuju dengan pendapat anda. Tetapi sekali lagi kalau saya melihatnya dari sudut pandang ilmu filsafat yang mesti logis, jawaban saya :

    Kalau ada satu saja fakta yang terbukti salah, maka suatu persamaan harus dianggap salah, atau setidaknya dibuat batasan persamaan tersebut benar dalam kondisi A, atau dalam kondisi B atau untuk A, untuk B dan sebagainya.

    Yang saya omongkan ini kan komentar iseng-iseng bagi anda yang senang filsafat. Jangan disalahartikan lalu saya menganggap hidup ini tidak berharga dan sejenisnya. Ini cuma permainan saja teman. Mau serius boleh mau tidak juga boleh.

  8. 8 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:08 pm

    @lovepassword: wah masnya itu terlalu simplitis deh. Bengini mas. Membandingkan atau melawankan sebuah hal itu harus dilihat apakah hal tersebut pantas dibandingkan atau tidak. Filsafat itu tidak mesti logis lho mas. Logika tuh cuma salah satu sarana berfilsafat. Filsafat menurut pemahaman saya adalah upaya memahami diri dan dunia (bukan berlogika).

    Pengkondisian A dan B saya kira tidak tepat untuk contoh diatas. Seharunya anda membandingkan bukti-per bukti. Ini bukan logika A menegasikan B. Tetapi apakah A punya bukti lebih kuat tidak jika dibandingkan dengan B. Konsep perbandingan juga harus jelas mas.

  9. 9 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:12 pm

    dan jelas bukan? Bukti Hidup demikian Berharga lebih kuat dibanding Hidup itu tak berharga! Bukankah anda dan saya hidup dan ingin hidup sekarang ini? Itu satu lagi bukti yang kuat bukan?

  10. 10 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:33 pm

    @Bukankah anda dan saya hidup dan ingin hidup sekarang ini? Itu satu lagi bukti yang kuat bukan?

    Lho Okelah – kalau saya dan anda sebagai manusia menganggap hidup kita ini berharga, tetapi saya rasa itu masih belum berarti kalau hidup seluruh makhluk yang namanya manusia itu berharga. Mengapa ? Ya karena saya dan anda kan cuma debu kecil kalau dibandingkan dengan keseluruhan manusia.

    @Filsafat itu tidak mesti logis lho mas. Logika tuh cuma salah satu sarana berfilsafat. Filsafat menurut pemahaman saya adalah upaya memahami diri dan dunia (bukan berlogika).

    Ah, masak iya anda mau ngomong kalau artikel anda itu isinya tidak logis. Yang benar saja Mas ?

    @Pengkondisian A dan B saya kira tidak tepat untuk contoh diatas. Seharunya anda membandingkan bukti-per bukti

    Lha yang saya lakukan itu justru membandingkan bukti demi bukti. Karena saya menemukan bukti yang menurut saya meragukan argumentasi anda, makanya saya bilang kalau logika anda tidak tepat.

    Yang anda lakukan itu kalau menurut saya namanya generalisasi. Apakah generalisasi itu salah ? Yah bisa salah bisa benar sih. Tetapi memang generalisasi itu ada juga manfaatnya yaitu untuk mempermudah atau simplifikasi persoalan. Dengan cara itulah maka persoalan manusia bisa dipecahkan lebih mudah.

    Tetapi kita harus ingat dasarnya dong. Dasar filsafat itu ya logika. MAsak ada filsafat yang nggak logis sih? MAsalah adanya simplifikasi atau generalisasi itu masalah lain. Tetapi filsafat ya tetap filsafat.

    SAYA buat contoh pada simplifikasi itu berguna. Anda terlibat dalam pemilihan gubernur kan ? Anda juga pasti pernah mendengar quick count. Kebanyakan quick count benar terutama untuk menentukan pemenang ? Tetapi apakah quick count 100% benar jika kita melihat dari persentasi jumlah suara. Atau lebih ekstrim dari itu bila selisih suara kebetulan kecil, mungkinkah quick count bisa salah menentukan pemenang ? Bisa kan. Dalam quick Count itu juga pasti ada margin error kan?

  11. 11 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:49 pm

    Dasar filsafat bukan logika menurut saya. Dasar filsafat itu dunia termasuk diri kita didalamnya. Logika cuma alat bantu.
    Tidak mesti logis. Tidak mesti mas. Tidak mesti. Saya tidak mengatakan filsafat tidak logis, tetapi tidak mesti logis. Logis tidaknya seringkali dipengaruhi oleh asumsi awal, premis atau postulat awal. Kadang kala logis itu bahkan cuma “perasaan” kita.

    Contoh. Ketakberhinggaan waktu itu tidak logis. Kemunculan waktu dari ketiadaan juga tidak logis. dalam hal tertentu kita tak mampu memahami sesuatu yang bersifat antinomi seperti ruang dan waktu. Artinya logika penalaran kita buntu. Ini sesuatu yang saya namakan tidak logis. Fakta indera kita itu tidak bisa dijustifikasi kebenarannya (alias gak bisa dilogika./ gak logis juga) dll. waktu itu bahkan saya rasa cuma sensibilitas kita, demikian pula ruang, belum lagi konsep determinisme dan kehendak bebas.

    Premis, Postulat, Aksioma matematika, semaunya tidak logis! dalam arti tidak bisa dibuktikan secara holistik!

    Btw, Logis itu gimana sih?

  12. 12 Suluh Rabu, 25 Juni 2008 pukul 11:58 pm

    Intinya itu filsafat menurut diri saya adalah mencoba memahami dunia dan diri saya secara lebih baik… bukan logis atau tidak…

  13. 13 lovepassword Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:08 am

    @Dasar filsafat bukan logika menurut saya. Dasar filsafat itu dunia termasuk diri kita didalamnya.

    Dunia beserta isinya itu ya bukan dasar filsafat to MAs. Itu adalah apa yang dipelajari dalam filsafat.

    @Logis tidaknya seringkali dipengaruhi oleh asumsi awal, premis atau postulat awal. Kadang kala logis itu bahkan cuma “perasaan” kita.

    Memangnya kenapa kalau dipengaruhi asumsi awal,premis awal, dan perasaan? Anda membedakan antara logika dengan filsafat kan? Menurut anda nggak mesti ada kaitannya. Apakah menurut anda filsafat juga tidak dipengaruhi premis awal ? Saya kok belum melihat bedanya.

    Okelah anda bisa menyebutkan sejumlah bukti yang membuktikan kelemahan berpikir logis (soal waktu, takdir/ determinasi, dsb). Sekarang saya gantian bertanya ke anda, bagaimana penjelasan anda dari sudut pandang filsafat bukan dari sudut pandang logika soal kemunculan waktu dari ketiadaan, soal antinomi ruang waktu, soal determinasi vs kehendak bebas manusia seperti yang anda contohkan tersebut.

    kALAU anda tidak bisa menjelaskan filsafat anda ya sama artinya kalau filsafat anda itu logika.

    @Logis itu gimana sih? Wah ini pertanyaan yang lumayan sulit dijawab. Apalagi disebelah saya nggak ada kamus nih. He he he.
    Logis itu ya kalau menurut saya sih Urutan-urutan tata cara berpikir yang didasarkan atas sesuatu bukti demi bukti. Artinya ada urutan satu pembuktian ke pembuktian lainnya.

  14. 14 Suluh Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:16 am

    lho bukannya itu malah sumber dasar dari filsafat? apa yang ingin kita pelajari, ingin kita pahami. Itulah inti dari filsafat. Itulah dasar dari filsafat. Setidaknya itu menurut saya.

    Anda bisa membuktikan bukti? Anda bisa membuktikan apa itu waktu? anda bisa membuktikan apa itu massa? Anda bisa membuktikan apa itu ruang? Ada bisa membuktikan tatacara? Anda bisa membuktikan bukti? Urutannya sampai mana? Apakah sampai pada ketakberhinggaan? Itu batas dari logika ! Tidak semuanya logis menurut penalaran kita! Ataukah anda cukup membuktikannya dengan KAMUS?

    Untuk soal antinomi, dan senjenisnya silahkan search blog ini mas.. sudah cukup banyak saya membahasnya.

  15. 15 lovepassword Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:39 am

    Lho gini lho mas. Di dunia ini memang ada batasan logika. Itu benar, apa saya pernah bilang kalau segalanya mesti logis? Saya kan nggak bilang gitu.

    Apakah meja itu? mengapa 1m = 100 cm ? JAwaban pertanyaan seperti ini tentu bukan logika tetapi kesepakatan atau definisi. Meskipun bisa jadi juga kesepakatan itu ada latar belakangnya.

    Hanya saja menurut saya : Kita tentu bisa membedakan antara sesuatu yang bisa dijelaskan secara logika – dengan sesuatu yang memang tidak bisa dijelaskan secara logika. Batasan ini masing-masing orang memang berbeda-beda tetapi batas ini pasti ada bukan ?

    Dalam kasus ini, yaitu artikel atau postingan anda, menurut saya termasuk sesuatu yang semestinya bisa dijelaskan secara logika. Karena itulah saya sedikit bermain-main dengan topik itu dari sudut pandang logika.

    Kalau anda berpendapat bahwa postingan anda itu bukan sesuatu yang 100% logis – saya bisa menerima itu. Karena pasti ada unsur perasaan, semangat 45, keharuan dan sebagainya Yang pastinya mungkin terlalu dingin kalau hanya dijelaskan dengan logika saja.

    Jadi intinya adalah : kalau yang kita bicarakan ini hanya logika, maka postingan anda itu bisa saya anggap terlalu melakukan generalisasi.

    Tetapi karena anda bilang bahwa filsafat bukan cuma logika atau anda mungkin mau bilang kalau artikel anda jangan dilihat cuma dilihat dari sisi 1+1 = 2 doang, tetapi lihatlah secara lebih menyeluruh dan pake hati pastinya, maka Saya bisa menerima itu.

    Karena toh anda tidak membahas 1+1 = 2 di situ. Anda menulis disamping dengan otak juga pasti dengan hati. JAdi rasanya tidak adil jika saya melihat dari satu sisi saja. Gitu kan maksud anda ?

    Oke, deh. Saya nyerah.

    Salut untuk artikel anda, dan kegigihan anda mempertahankan isi tulisan anda.

  16. 16 Suluh Kamis, 26 Juni 2008 pukul 12:51 am

    Yup. berharga tidaknya itu juga perasaan kok mas.

    Filsafat itu memang menyangkut emosi, rasa, indera, logika dan banyak lagi. Jelas bukan hanya 1 + 1 = 2.

    senang bisa berbincang mas.

  17. 17 joyo Jumat, 27 Juni 2008 pukul 11:54 am

    walah ternyata ada ‘single’ disini,

    *gelar tikar, njagong*

  18. 19 Regi Kamis, 10 Juli 2008 pukul 1:07 am

    Aku nambahin dikit. Karena hidup ini hanya satu kali dan terbatas, makanya berharga sekali, bagiku tapi heheh

  19. 20 Béé Jumat, 11 Juli 2008 pukul 10:07 am

    Béé, Lha kok malah bertengkar..
    Isa g sa hidup kita harus syukuri..
    Ya g?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: