Mencari Keadilan: Mengejawantahkan Emosi Manusia

Keadilan yang notabene sering didengung dengungkan, digadang gadangkan sesungguhnya dapat dirunut dari sisi tak sadar kemanusiaan kita. Tulisan berikut ini, merupakan sebuah perenungan dari saya sendiri yang tentunya merupakan sebuah sikap subjektif atau pandangan subjektif. Di sini saya ingin menelusuri apa itu Keadilan dalam sebuah proses Individual seseorang terutama bercermin pada emosionalitas dan hasrat pribadi yang saya rasakan mengenai apa itu Keadilan.

Keadilan sesungguhnya dalam pandangan saya bukanlah sebuah entitas. Keadilan juga bukanlah sebuah proses independent an sich. Keadilan itu muncul dari manusia khususnya berkaitan dengan emosionalitas manusia. Keadilan bukan Pemikiran. Keadilan itu Emosi.

Mungkin anda akan menyangkal saya atau mungkin banyak orang akan mengatakan saya berbicara omong kosong dengan mengatakan bahwa Keadilan itu Emosi atau lebih tepat saya katakan sebagai sebuah pengejawantahan dari Emosionalitas Kita (baca:manusia). Tetapi saya mohon anda menghela nafas terlebih dahulu dan mencoba menyimak dan membaca apa yang akan saya sampaikan berikut ini.

Keadilan itu sesungguhnya Manusiawi. Artinya disini adalah konsep atau ide tentang keadilan itu sendiri sesungguhnya beranjak dari diri manusia. Keadilan bukan sesuatu yang Mandiri atau Merdeka dari diri manusia. Keadilan itu melekat pada entitas manusia. Ia hadir dari Manusia karena Manusia menciptakannya dan membutuhkan konsep tersebut.

Adil itu Rasa. Adil itu Emosi. Seberapapun orang ingin merumuskan dalam sebuah bentuk logika tertulis mengenai keadilan, sesungguhnya yang ia lakukan hanyalah menerjemahkan konsep rasa adil dengan pemikirannya. Tidak ada satupun konsep keadilan di dunia manusia secara pemikiran yang akan sama satu sama lain. Ia akan berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu budaya ke budaya lain, dari satu waktu ke waktu yang lain. Keadilan dalam konsep kognitif itu absurd atau conditional. Objek dari Keadilan itu adalah Budaya Manusia (Tingkah Laku, Ideologi, Agama dan sebagainya). Dengan demikian satu satu nya hal yang menurut saya, memegang tanggung jawab atau merupakan sumber pengejawantahan dari Keadilan atau konsep Keadilan itu sesungguhnya ada dalam “emosi” Manusia. Saya ingin Adil. Saya rasa Itu Adil. Dan sebagainya.

Keadilan dalam rasa ini tentunya dipengaruhi oleh keyakinan, ideologi, dan budaya tempat dimana manusia itu berada. Ketika meyakini bahwa dirinya dikodratkan oleh Tuhan, misalnya untuk hanya memperoleh 1/3 dari warisan orang tuanya, karena dia itu seorang perempuan, maka itu merupakan sebuah Keadilan bagi dirinya. Ia telah merasa diberlakukan adil, karena dia telah menuruti atau mengikuti hukum Tuhan. Dia bahkan akan “merasa” diberlakukan tidak adil jika dia memperoleh ½ dari warisan orang tuanya atau malah 2/3 nya. Keadilan itu Rasa.

Seorang Laki-laki tidak terima jika dirinya musti menyerahkan mahar pengantin kepada calon istrinya. Itu Tidak Adil. Keadilan yang ada dalam benak dan rasanya adalah jika perempuan yang memberikan mahar kepada laki-laki. Keadilan itu Rasa.

Dan masih banyak contoh yang lainnya. Mohon maaf kalau Cuma sampai disini.

Salam penuh Rasa Keadilan

Haqiqie Suluh

2 Responses to “Mencari Keadilan: Mengejawantahkan Emosi Manusia”


  1. 1 lovepassword Rabu, 25 Juni 2008 pukul 9:21 pm

    Keadilan itu rasa ? Yak saya setuju MAS.

    JAdi Masalah adil atau tidak adil adalah hasil benturan dua rasa. Iya kan ?

    Masalahnya adalah ada orang (termasuk anda dan saya mungkin ) yang senang mengkhianati rasa tersebut.

    Perasaan kita sih menganggap kalau kalau kita ini tidak adil tetapi dengan alasan yang lain kita mempertontonkan seolah-olah kalau yang kita lakukan itu adil.

    Kalau yang terakhir ini tidak lagi benturan antara
    dua rasa dari dua insan – tetapi justru dari rasa yang terbelah dua .

  2. 2 satpam Selasa, 6 Januari 2009 pukul 4:47 pm

    keadilan itu tidak manusiawi, karena keadilan itu sebuah konsep abstrak yang tidak bisa menjadi obyek pertukaran antara satu orang dengan yang lain (relatif), yang bisa adalah hukum.
    sialnya hukum itu tidak pernah adil, karena…balik lagi ke atas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: