Tentang Doa dan Harapan – Renungan Filsafat

Kita eksis di dunia ini mau tak mau baik secara sadar maupun tak sadar “merasakan” adanya “proses” waktu. Secara tradisional umum, waktu dipisah menjadi yang lalu, sekarang dan yang akan datang. Yang sekarang sesungguhnya bukanlah merupakan titik henti tetapi selalu saja menjadi “proses sekarang-sekarang”. Kita sejatinya tak pernah tahu apa itu yang dimaksud sekarang. Lalu apa hubungannya dengan Harapan atau Doa? Sabar om om, mbak mbak, mas mas, tante tante, nenek kakek, bapak ibu. Saya tentu gak akan nulis sembarangan mengenai waktu jika hal itu tidak berhubungan dengan judul atau isi tulisan.

Yang lalu menjadi pengalaman pengalaman ingatan. Yang sekarang itu Mengalami dan Yang Akan datang itulah apa yang disebut Keinginan atau Imaginasi. Artinya disini adalah Masa Depan sesungguhnya merupakan merupakan entitas kosong atau hampa bila ditinjau dari Kesekarangan. Tidak ada Pengalaman Ingatan Masa Depan, Tidak ada Pengalaman Mengalami Masa Depan. Masa Depan itu hanya Imajinasi kita berdasarkan pada urutan Waktu Tradisional.

“Mengetahui” masa depan sesungguhnya hanyalah sebuah upaya hipotesa. Masa Depan di hadapan Kesekarangan adalah Perkiraan: Entah itu bayangan, imajinasi, ramalan dan sebagainya. Batu yang dilempar keatas akan jatuh. “Akan Jatuh” disini memiliki dimensi kesekarangan yang dimasukkan ke perkiraan atau hipotesis Masa Depan. Jatuh belumlah memiliki Pengalaman. ia hanyalah Potensi dari sekian banyak potensi yang diperkirakan atau dimunculkan oleh hipotesis atau pemikiran kita. Ketika Jatuh batu itu baru menjadi Pengalaman Ingatan atau Pengalaman Kesekarangan.

Apa hubungannya dengan Doa dan Harapan?

Nah ketika Emosi kita dirajut dengan Perkiraan atau hipotesis masa depan yang belum terjadi, dialah yang kemudian menjelma menjadi Harapan. Harapan adalah gabungan antara emosionalitas kita dengan Perkiraan. Hipotesis hanyalah hipotesis nalar. Tetapi ketika hipotesis tertentu itu di berikan sebuah tingkatan tertentu dalam emosionalitas manusia ia akan Menjadi Harapan atau Keinginan.

Harapan dan Doa

Jika saya, secara pribadi, mendefinisikan Doa sebagai keinginan mendapatkan atau memperoleh atau “proses sejenisnya” akan sesuatu yang ditujukan kepada sesuatu, maka terjadi perbedaan antara Harapan dan Doa. Ini tentunya menurut definisi diatas. Harapan adalah insting manusia alamiah manusia. Dengan demikian ia hadir atas nama manusia dan bisa jadi seluruh manusia mempunyai harapan harapan. Sedangkan doa itu unik. Doa itu sesuai definisi diatas musti di tujukan kepada sesuatu. Dengan demikian Doa haruslah kepada sesuatu: Entah itu Alam, Tuhan, Roh dan sebagainya. Doa itu mustilah Harapan tetapi Harapan belum tentu Doa.

Pandangan Saya

Sedangkan menurut pandangan saya sendiri, tidak ada perbedaan nyata antara Harapan dan Doa secara psikologis. Hanya saja kalau secara definisi mungkin akan berbeda. Doa secara singkat yang ditujukan kepada entitas tertentu adalah sebuah hasrat akan ketakmampuan kita dalam mencapai keinginan sehingga melepaskan atau menharapkan keinginan tersebut dipenuhi oleh sesuatu yang lain yang diyakini mampu. Entah apapun entitas itu: Alam, Tuhan, Imaginasi kita sendiri, bahkan dirikita sendiri yang tidak kita sadari bisa menjadi objek tujuan Doa. Harapan sendiri yang manusiawi mendorong adanya kegiatan Doa semacam ini alias mengharap kepada entitas diluar diri sendiri yang memiliki harapan (contoh: harapan diri sendiri yang disadari ke diri sendiri yang tak disadari). Dengan demikian yang mengklaim Beragama, Yang mengklaim Tak beragama, yang Mengklaim dirinya Bertuhan dan Tak bertuhan, tetap memiliki Harapan atau bahkan Doa.

Yang perlu diberi catatan disini adalah, karena emosionalitas kita juga dipengaruhi oleh bentukan atau hasil dari proses “komunikasi” sadar dan tak sadar dengan lingkungan tempat kita (ingat hanya salah satu lho), maka emosionalitas harapan akan berbeda-beda dimasing masing pribadi. Tergantung dari Pengalaman hidupnya.

Apakah mungkin seseorang tidak memiliki harapan? Sejauh dia hidup saya yakin dia masih memiliki sebuah keinginan atau harapan. Makan minum dan hidup itu sendiri merupakan sebuah harapan sadar dan kadang tak sadar dari diri kita.

Bagaimana menurut anda?

Mohon Koreksinya dan Pendapatnya, dengan senang hati saya akan menerima masukan anda

Sekedar Berbagi

Haqiqie Suluh

Iklan

20 Responses to “Tentang Doa dan Harapan – Renungan Filsafat”


  1. 1 ***** Kamis, 11 September 2008 pukul 10:20 pm

    Weh tulisane, keren :-)
    Hidup akan selalu mecipta harapan entah itu kecil sedang atau besar terhadap sesuatu yang sangat diinginkan dan ditujukan.
    Lah sudah komplit, nganti aku gak bisa banyak komen, heeee
    sms aku yo nomer dirimu brother, hilang semua contact di memori hapeku. terimakasih :-)

  2. 2 Rindu Jumat, 12 September 2008 pukul 12:14 am

    Selama napas masih dititipkan ALLAH, selama itu pula harapan pasti kan ada…

  3. 3 Aisha Rabu, 17 September 2008 pukul 8:39 pm

    Menurutku sabar itu dalam arti pengontrolan emosi diri manusia mas .Banyak manusia yang lepas kontrol diri mereka,yaitu;terjadinya pertengkaran, pembunuhan,mabuk-mabukan, bunuh diri dan lain sebagainya,Kejadian seperti ini adalah karena sebab dari manusia yang tidak sabar dalam menerima kenyataan kejadian yang mereka alami.

    Haqiqinya memang manusia itu hanya bisa berusaha, berharap dan berdo’a,selebihnya yang Kuasalah yang mengatur masa depan hidup manusia sampai dimana.Dalam arti manusia ini makhluk yang tak berdaya dan tak mampu:)

  4. 4 Suluh Kamis, 18 September 2008 pukul 8:45 am

    @aisha: saya tidak membicarakan tentang sabar keknya…

  5. 5 Dee Jumat, 19 September 2008 pukul 3:27 pm

    kalo menurut pendapat aku sih, harapan itu yang cita-cita kita terus hidup, dimulai dari sebuah mimpi, atau apa ya..angan-angan, nah terus tergantung dari sejauh mana desire atawa hasrat kita untuk mewujudkan angan-angan ini, kalau lumayan kuat maka kita jadikan cita-cita dan akan berusaha menggapai cita-cita ini. Dari usaha-usaha yang kita lakukan mulailah kita membuat ekspektasi-ekspektasi, nah pada tahap selanjutnyalah dimana peran agama sangat penting. Dalam upaya kita mencapai ekspektasi kita, kita sebagai umat beragama mengembalikan fitrah kita sebagai manusia yang hanya bisa berusaha dan meminta Tuhan untuk memuluskan usaha kita, inilah yang disebut doa, proses dialog antara sang makhluk dengan Khaliknya. Kita meminta izin, melalui doa kita agar harapan dan cita-cita dapat terwujud. Gitulah kira-kira., hehe. OOT ga sih mas suluh, kalo iya mohon dimaklumi soalnya lagi blagu mode:p . Lam kenal yaw mas

  6. 6 Suluh Jumat, 19 September 2008 pukul 5:30 pm

    @lam kenal juga Dee. angan angan mimpi itu bagian dari harapan :)

  7. 7 Aisha Sabtu, 20 September 2008 pukul 10:03 pm

    @suluh ooo nggak membicarakan tentang sabar yah.Faham saya anda lagi nyindir kepada orang-orang yg memberi nasehat kepada sesama untuk bersabar heheh.
    Sabar om om, mbak mbak, mas mas, tante tante, nenek kakek, bapak ibu.<<< la ini kan termasuk bagian dari harapan dan do’a anda?

  8. 8 Suluh Minggu, 21 September 2008 pukul 8:48 am

    @aisha: ya itu harapan yang sejatinya lebih kearah bentuk nasehat atau perintah halus.. dan sepertinya saya masih mengganggap bahwa saya gak membicarakan tentang Sabar!

  9. 9 Aisha Senin, 22 September 2008 pukul 6:32 am

    @ suluh Yub lupakan pembicaraan tentang sabar.saya setuju dengan pandangan anda tentang harapan manusia. Menurutku harapan itu adalah bagian dari emosi manusia alam bawah sadar. Tetapi beda dengan do’a . Do’a itu adalah bagian dari iman dan keyakinan manusia kepada Tuhan atau sesuatu yang mereka imani yang merujuk pada harapan.jadi menurutku doa itu hanyalah penguat, pemupuk keyakinan akan tercapainya tujuan harapan tersebut.Tentu saja hasilnya proses dari usaha manusia itu sendiri. Disini yang mau aku tanyakan, apakah orang -orang yang tidak mempunyai keyakinan seperti atheis misalnya, itu mempunyai doa juga? kurang tahu nih, bagaimana menurut anda?

  10. 10 melati Selasa, 14 Oktober 2008 pukul 11:59 am

    suluh …..salam kenal ya
    aku punya harapan – harapan yang sangat tinggiiiiiiiiiii sekali, tapi apakah harapan2ku itu akan terwujud dan aku tak bosan2nya berdoa memohon kepada Allah agar cpt dikabulkan. tapi aku manusia biasa yang kadang2 aku sabar dan kadang2 juga gak sabar.
    cape dech………..

  11. 11 amir Senin, 20 Oktober 2008 pukul 9:11 am

    nah mumpung berharap itu free gak kena biaya ya…aja sungkan sungkan tuk berharap. trus aja klalen berdoa. doa sing bener bener insyaAllah akan ada jalan keluar tuk mencapai harapan kita. asal kita mau berusaha keras tuk mendapatkannya. namanya juga manusia, dikasih satu minda dua. dikasih dua minta tiga. doa gk dikabul eee….maksa. tuhan kok dipaksa. kata ustadz “sabar ntu gk ada batesnya, klo ada batesnya berarti ente gk sabar”. Allah lebih mengetahui sedang kita gk tahu. manusia boleh berharap dan berencana tapi Allah penentu segalanya.

  12. 12 Ruby Afsa Jumat, 24 Oktober 2008 pukul 3:18 am

    Terimakasih Informasinya. Blog/Web ini memang Luarbiasa. Semoga Menjadi yang terbaik.
    Salam kenal dari:Ruby Afsa

  13. 13 satpam Selasa, 6 Januari 2009 pukul 4:37 pm

    rabiah al adawiyah bersyair bahwa jika ibadahnya semata mengejar surga, maka lebih baik surga itu dibakar saja.

    doa, pertama, adalah proses pendekatan, baru kemudian pengharapan.

  14. 14 Herman Ginzel, M.Th Jumat, 17 Juli 2009 pukul 6:43 am

    Doa dan harapan tentu berbeda. Doa adalah sesuatu yang mempunyai alasan dan tujuan, karena lewat kesadaran ‘eksistensi’ akan keterbatasan, ketergantungan maka manusia harus mencari sesuatu di luar dirinya yang sense of power (Tuhan) untuk dapat membantunya. Doa menjadi media sarana untuk mengkomunikasikan diri (manusia) dengan yang dipercaya dalam kesadaran akan keberadaan dan Sang Being “Pencipta”. Dalam doa ada harapan, dibalik harapan sisipkan doa, agar tercapai harapan maka harus disampaiakan dalam Doa agar terkabul apa yang diminta. Semua manusia merindukan hidup bahagia (sehat, kaya, mempunyai pengetahuan yang tinggi) nah Doa adalah jembatan penting untuk mengantar manusia dapat sampai pada titik-titik harapan yang menjadi “khayalan, mimpi, angan-angan dan cita-cita”. Doa dapat memberikan sugesti bagi manusia untuk lebih mengenal diri, dapat mengoreksi diri, dapat mengartikan hidupnya bagi diri dan orang lain” Doa menjadi kekuatan pendorong bagi manusia untuk bekerja lebih keras dan sunguh-sungguh untuk dapat terwujudnya harapan dan tentunya “Doalah” sarana komunikasi dengan Tuhan sehingga apa yang Tuhan mau buat hidup kita, bukan apa yang kita mau buat yang Beig itu….

  15. 15 icKe dJ Kamis, 10 Desember 2009 pukul 7:28 pm

    wah maKacih ea Q biZa krjaen tgaZ aK guRu. . .

    :)

  16. 16 faliha Selasa, 31 Agustus 2010 pukul 1:34 am

    salut dengan analisanya..namun, jika harapan dan tujuan..apa perbedaannya? (tolong bantu analisa) hehe..terimakasih

  17. 18 Paul. Rian Juliansyah Selasa, 13 November 2012 pukul 9:28 am

    Saudaraku yang cerdas. Refleksi anda tentang doa amat mengagumkan. Terlebih ungkapan yg menarik bagiku ialah “doa adalah juga harapan, tetapi harapan belum tentu doa”.
    Tetapi aku ingin mengoreksi sedikit saja. Marilah kita bertolak dari definisi doa yang benar. Bisa pula dilihat dlm kamus. Bahwa doa adalah komunikasi dengan sang wujud tertinggi yg kita sebut Allah. Oleh karena itu seorang yg tidak mengenal Allah mungkin saja memiliki harapan, tetapi ia tidak memiliki doa. Karena ia tidak atau belum meyakini adanya Allah, dan olehnya ia tak dapat berkomunikasi dengan Allah.

  18. 19 amirul Rabu, 9 Januari 2013 pukul 6:02 pm

    wuiiiii… cakeppppp,,, keren abis mas,,,

    hampir mati kutu gw tadi di tanya masalah perbedaan doa dan harapan,,,

  19. 20 iyam Selasa, 21 Oktober 2014 pukul 4:42 pm

    doa merupakan bentuk komunikasi antara hamba dengan Tuhannya, maupun manusia dengan sesuatu hal yang diyakininya, diyakini lebih berkuasa, lebih tinggi daripada dirinya.

    well then that’s my opinion.
    saya juga lagi mikirin tentang perbedaan doa dan harapan, iseng saya googling trus nemu deh tulisan ini hehe. sharing opinion is always fun. keep writing dude hehe.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: