Dualitas Dogma Psikologis Kognitif dan Konflik Manusia

Ada sesuatu yang secara dogmatik psikologis kognitif (artinya campuran antara dogma, kejiwaan atau emosi kita, dan juga pemikiran kita) membuat saya sering tersenyum.

Seorang teman mengatakan padaku Tuhan itu Ilusi Bro, Tuhan itu Karangan Manusia, dan lain sebagainya. Dan yang membuat saya tersenyum kemudian adalah, ternyata temenku ini secara sadar (dan atau tak sadar) membipolarkan Tuhan. Jika Tuhan itu Ilusi, maka Tuhan itu Tidak ada, mari kita mengambil sebuah Kepercayaan lain. Disini, bipolar adalah ketika sebuah kepercayaan itu tidak dipercayain, maka kepercayaan yang sebaliknya (yang menggugat Tuhan misalnya) seolah-olah sebagai Pemenang dan secara dogmatik di ambil sebagai Kepercayaan Berikutnya.

Ini namanya loncatan Iman. Jika tak percaya yang ini, maka yang sebaliknya secara tak sadar di percayai. Semisal dia kemudian mengatakan dengan lantang bahwa Saya Percaya dunia ini Black and White. Dunia ini seimbang dalam konsep Hitam dan Putih (Ya mirip Ying dan Yang lah). Aku Yakin ini, sebagaimana Orang Islam menyakini Muhammad itu Nabi, Allah itu satu-satunya Tuhan, demikian kata temenku

Menggugat Kepercayaan yang satu tetapi tidak Kritis atau masih Mendogmai Kepercayaan lain merupakan sesuatu yang Kontra Kognitif. Artinya dia hanya melepaskan egonya untuk menyerang yang lain, tetapi lupa bahwa dirinya juga mempunyai kepercayaan (yang tak bisa dibuktikan juga alias hasil Dari Proses Dogmatik).

Semisal Orang Islam Menyerang Kepercayaan Orang Kristen, ia sebenarnya rentan pada Kepercayaannya Sendiri. Ketika Kerpecayaannya digugat BalikĀ  bukan argumen yang kemudian muncul, tetapi Emosi, atau rasa Dihina atau bahkan merasa dilecehkan. Kekerasan dan Pembunuhan jadi solusi, kata mereka. Demikian pula sebaliknya, Kepercayaan Kristen Menyerang Kepercayaan Islam, sesungguhnya ia rentan pada Kepercayaanya Sendiri. Ketika dia punya Dominasi, Kristenpun akan Melakukan Kekerasan dan Pembunuhan sebagai Solusi. Hindu pada Islam di India. Kristen pada Protestan dan sejenisnya. Tetapi ingat, Merekapun bisa melakukan Perdamaian. Hidup Berdampingan, tanpa serang menyerang Keyakinan.

[Saya jadi ingat temen saya lagi ketika dengan semangatnya dia mengatakan: Kitab Suci itu diapus aja, bikin sengasara, bikin gerah aja. Padahal secara tidak sadar dia juga mempunyai kita sucinya sendiri, Sebuah dogma tak tertulis tentang Black and White. Sebuah serangan pada Agama tanpa menyadari dia juga memiliki kepercayaan juga. Ketika saya mengatakan Kitab suci itu hampir Mustahil untuk dihilangkan, dia mengatakan tidak ada yang mustahil, semua itu hasil pendidikan. Saya jawab, itu sebuah utopia, sejauh pemahaman saya tetang utopia yang “emosional” seperti ini, hasilnya adalah sebuah kekacauan dan juga pembunuhan massal, dan mustahil diwujudkan (tragedi kemanusian yang dibayar dengan jutaan bahkan miliaran kematian). Kumpulan Manusia tidak sesederhana bangunan rumah or sebuah toko atau perusahaan. Dan ternyata secara spontan kemudian teman saya ini bilang, “Musnahkan aja manusia tinggalkan 2 orang saja”. Saya hanya menjawab, Picik benar pikiranmu. Emosi, benci, sering menghasilkan sebuah analisis pemikiran yang begitu dangkal, sederhana, dan terlalu simplistis dan yang paling mengerikan adalah hal seperti ini sangat BERBAHAYA jika berhasil diwujudkan.]

Secara Wajar ini jelas merupakan Proses Psikologis Sosial. Agama atau Kepercayaan memang ADA. Agama mengandung potensi konflik, tetapi juga mengandung potensi damai, karena Agama itu esensinya pada Perilaku Manusia. Tanpa Manusia, Agama itu Mati. Agama itu perilaku Manusia. Manusia itu mengandung potensi Konflik (Marah, Takut, Benci, Dendam) tetap juga menyenangi Kedamaian (Senang, Indah, Nyaman, Aman). Tinggal bagaimana kita “menanganinya”.

Artinya apa disini, tanpa Agama dengan Agama, tanpa Kitab Suci dengan Kitab Suci, Potensi KOnflik itu akan selalu ada, juga Potensi Damai. Karena kita itu Manusia.

Sedikit Cuplikan dari Sejarah Tuhan karya Karen ArmStrong:

Manusia tidak bisa menanggung beban kehampaan dan kenestapaan; mereka akan mengisi kekosongan itu dengan menciptakan fokus baru untuk meraih hidup yang bermakna. Berhala kaum fundamentalis bukanlah pengganti yang baik untuk Tuhan; jika kita mau menciptakan gairah keimanan yang baru untuk abad kedua puluh satu, mungkin kita harus merenungkan dengan seksama sejarah Tuhan ini demi menarik beberapa pelajaran dan peringatan

Saya juga mengangguki pernyataan Popper mengenai Prioritas Masyarakat. Yang terpenting itu adalah mengurangi Kejahatan Terbesar di masyarakat (karena tidak mungkin kejahatan itu dihapuskan), bukan menciptakan sebuah Utopia. Saya juga setuju bahwa Masyarakan Sosial itu lebih baik berproses Seperti Bongkar Pasang, Trial Error, FeedBack Loop, bukan cetak biru bangunan.

Sekedar Merenungi

Haqiqie Suluh

16 Responses to “Dualitas Dogma Psikologis Kognitif dan Konflik Manusia”


  1. 1 joyo Minggu, 23 November 2008 pukul 8:35 am

    oalah bro2…kita itu selalu terjebak dalam bahasa…ketika aku bilang “hapuskan saja kitab suci”, itu cuma kelakar, kamu terlalu serius ah, tiap orang bicara dianalisa, diteliti…

    soal kepercayaan…saya PERCAYA inherently manusia itu builtin software PERCAYA 1.2 Service Pack 2 dst, so apa yg salah dengan Kepercayaan, dan saya sadar akan Percaya nya saya.

    btw you too serius ah…sampe bikin tulisan diskusi kita yg sepenggal2 dan hanya lewat YM.

    PS. genosida itu mungkin terjadi, hanya masalah teknis saja yg perlu di rancang supaya elegan :))

  2. 2 Suluh Minggu, 23 November 2008 pukul 8:58 am

    emang lagi serius, so what gitu loch :smile:

  3. 4 Attar Kamis, 27 November 2008 pukul 3:51 pm

    Coba deh di bahas masalah yang lebih mendasar agar pemahaman terhadap kenyataan itu lebih lurus dan tidak terlalu spekulative, umumnya pembahasan yang nyrempet-nyrempet filosofis agak bersifat egois alias ego sentris dan spekulatif apalagi yang masuk kewilayah filsafat ini lebih spekulative banget. arena itu sebaiknya dicoba pembahasan yang mendasar misalnya bagaimana kita mendapat pengetahuan sampai menjadi keyakinan yang subyektive apakah kenyataan diluar, seperti Agama, pendapat orang, benda atau apapun yang bersifat objective yang mempengaruhi kita atau kita sudah memiliki asumsi asumsi sendiri atau bahkan pengetahuan bawaan yang dari sononya sudah ada dst dst….karena pembahasan anda diatas sangat spekulatif dan subyektif.

  4. 5 Suluh Kamis, 27 November 2008 pukul 6:25 pm

    @attar: kalau subjektif jelas iya, lah wong jelas jelas itu pendapat dan pemikiran saya… kalau spekulatif? maksudnya apa ya?

  5. 6 Attar Jumat, 28 November 2008 pukul 9:15 am

    Ketika kita berhadapan dengan variabel yang beragam dan bamyak biasanya keputusan yang kita ambil tidak fucus dan cenderung tanpa pijakan yang jelas, seperti dalam permainan saham dan aksi penimbunan BBM illegal yang keputusan untung ruginya lebih diserahkan pada keadaan psca kejadian yang tak bisa di prediksi dengan pasti, itulah yang saya maksud spekulative. Beda dengan ilmu matematika yang berpijak pada aksioma-aksioma yang niscaya kebenaranya dan bisanya disebut kebenaran aksiomatis, seperti satu tambah satu hasilnya dua, keseluruhan lebih besar daripada sebagian, itu hampir tidak dapat diperdebatkan kebenaranya. Demikian yang saya maksud.

  6. 7 Suluh Jumat, 28 November 2008 pukul 10:29 am

    @attar: soal pijakan pasti adalah, walau pun rapuh atau sekedar keyakinan or pendapat pribadi… (coba tembak aja yang mau dikritik bagian mana mas, biar jelas :smile: )

    tulisan ini kan opini, pendapat, bukan penelitian ilmiah :lol: jelas debatable :lol: mungkin anda salah masuk web, ini blog mas, bukan kumpulan data penelitian or aksioma atau rumus matematis….

  7. 8 Attar Jumat, 28 November 2008 pukul 11:10 am

    ya sudah kalau begitu, nyuwun pamit mas, biar saya jadi penikmat tulisan sampeyan dan tmen-temen lain. aja. Wong hidup di dunia ini cuma sekali kok dibikin repot, bener juga anda tks

  8. 10 satpam Selasa, 6 Januari 2009 pukul 4:29 pm

    singkat saja;

    “tuhan itu tidak ada”

    subyek mengafirmasi bahwa tuhan tidak ada
    otomatis subyek, di sisi lain/in silencio, juga mengafirmasi bahwa tuhan itu ada, yang kemudian menjadi dasar bagi penegasiannya.

  9. 11 sophie Selasa, 27 Januari 2009 pukul 2:17 am

    Tuhan itu ada, namun kondisinya dari jaman dulu hingga sekarang tidak ada keseragaman pengertian tentang Tuhan… masing2 individu memiliki hal-hal yang beda dalam mendefinisikan Tuhan. Agama hanya membawa kita dalam pengertian Tuhan yang kaku, namun konsep keTuhanan agama sangatlah penting guna menjaga gejolak agar keanekaragaman pemahaman tentang Tuhan dapat ditenangkan.

    Jadi fungsi agama hanya pil penenang sejenak tentang kelelahan manusia dalam proses pencarian Tuhan… bisa dikatakan agama adalah tempat peristirahatan para musafir pencari Tuhan, dan suatu saat nanti agama akan ditinggalkan seiring dengan perjalanan musafir tersebut dalam mencari Tuhan.

  10. 12 Wahyu Fahmy Jumat, 22 Mei 2009 pukul 11:46 pm

    Waaaah… Kerennn, setuju bro… Salam kenal yach… ^^

    Awak suka sama artikel ini…. \(^o^)/

    Masing2 punya kepercayaan kok… Yang ga percaya dengan Tuhan, itulah kepercayaannya… ^^

  11. 13 jo Selasa, 2 Maret 2010 pukul 11:43 am

    ya, aku pernah di tanya, kalau kamu tahu Tuhan itu adil, mengapa kamu sendiri(terlalu banyak masalah) dan bagaimana kamu tahu kalau Tuhan itu ada, kamu tidak pernah melihat Tuhan, dan terakhir di bilang aku Munafik….

    hmmmmm….sebenarnya sempat binggung jg,ternyata, ada manusia yang begitu sombong…dan jadi tertawa sendiri.tp terlepas dari itu, aku jadi berpikir kembali…

    dan aku cuma mennjawab pada saat itu…tidak semua hal yang di dalam dunia ini perlu di ketahui.Tuhan itu ada atau tidak, dia tetap lah Tuhan.dan tidak akan pernah terlepas dari itu semua…

    aku tak tahu apakah dia mengerti atau tidak.itu urusan dia saja…

    yang penting bagi aku, saya tidak pernah mau mempertanyakan, Tuhan itu ada dimana, Dia berada dimana, Tinggal dimana, bagaimana bentuknya, ada atau tidak ada…

    sama saja bukan…anggap saja Tuhan adalah ilusi,tapi mengapa manusia menciptakan ilusi dengan nama Tuhan?

    yang penting, aku tidak perlu tahu Tuhan itu ada atau tidak ada, saya cuma tahu saya Takut,malu,kalau saya melakukan suatu kejahatan dan tindakan yang tidak baik. sebut saja…nama Tuhan itu pengontrol diri untuk selalu ingat jangan berbuat jahat dan tidak benar…

    kalau ada yang baik,pasti ada yang jahat…dalam diri qta sendiri pun,tidak bisa di bilang qta itu baik saja,ada jahatnya..cm mungkin tidak sebanyak orang2 yang kita bilang jahat…dan bagaimana mengontrol supaya baik tetap selalu berjalan di jalan yang baik,dan jahat bisa berjalan ke arah yang lebih baik…^^

  12. 14 rumus Senin, 23 Mei 2011 pukul 1:03 pm

    Manusia itu banyak yang sombong n takabbur, baru kuliah S1 sudah mau membahas Tuhan…Padahal waktu lahir kedunia, bergerakkpun harus dibantu….hehee

  13. 15 Chen's Blog Selasa, 13 Desember 2011 pukul 4:36 pm

    Apa pun itu, keyakinan itu bisa menumbuhkan energi positif

    daripada yang tidak memiliki keyakinan hidupnya pasti terombang ambing. apalagi yang dualisme alias percaya 2 keyakinan, 1 agama 1 dukun.

  14. 16 eman Kamis, 25 Juli 2013 pukul 10:34 am

    ketika tergugah untuk menghindar kehampaan disaat datangnya rasa ketertarikan demi menemui dogma kebahagiaan,kenyamanan, ketentraman yang terbungkus dalam istilah kedamaian yang dihiasi oleh suasana rasa aman tenteram tanpa adanya perselisihan,lantas kemana harus mencari dan adakah sesuatu yang harus di yakini bahwa ada sesuatu kekuatan yang mampu memberi dan mengasihi bukankah begitu perjalanan kehidupan bagi jiwa manusia itu sendiri yang hanif.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: