Perdamaian dan Senjata

Apakah Mungkin Perdamaian Dunia (atau Perdamaian Massive) bisa tercapai Tanpa Senjata?
Mengingat Sejarah dan Karateristike Personalitas Manusia maka Jawabannya adalah MUSTAHIL

Dalam Negara: Tentara ada
Dalam Kota: Polisi Ada
Dalam Mall: Satpam Ada
Dan Tentunya Berbagai Macam Bentuk Senjata bersama mereka.

Sebenernya secara psikologis, senjata ataupun alat perang disini merupakan sebuah potensi ancaman. Ancaman disini bisa digunakan untuk Meredam atau untuk Menyerang. Nah manakah yang akan kita pilih? Silahkan Renungi.

Senjata itu Ancaman
Ancaman itu Ketakutan
Ketakutan itu Meredam Tindakan
Jadilah Proses Perdamaian

dan Sesungguhnya Emosi Takut itu INTI dari Perdamaian
Damai Situasional bukan Damai Psikologis Personal

12 Responses to “Perdamaian dan Senjata”


  1. 1 Nurhadi Minggu, 7 Desember 2008 pukul 8:46 am

    menurutku, senjata –apa pun bentuknya, fisik/nonfisik– tetep dibutuhkan untuk upaya perdamaian. tinggal “man behind the gun”-nya lah yg kudu bisa mengendalikan diri.

  2. 2 soerdjak Minggu, 7 Desember 2008 pukul 2:07 pm

    biasanya buat kesetimbangan ada penjahat ada polisi. emang udah hukum alam ketesimbangan kali ya..just my opinion :D

  3. 3 Blog Cantik Kamis, 11 Desember 2008 pukul 12:22 pm

    So, senjata justru menciptakan perdamaian?
    Kenyataan, senjata memicu pertikaian…!

  4. 4 Blog Cantik Kamis, 11 Desember 2008 pukul 12:25 pm

    Salam…, kita sesama simian people!

  5. 5 Aisha Senin, 15 Desember 2008 pukul 11:10 am

    Setuju dengan blog cantik.kenyataannya, senjata justru, menciptakan peperangan.contah perang di AS sama Iraq, perang Israel sama palestine terbentuknya teroris,dan masih banyak lagi.Menurut saya perdaimaian tercapai hanya dengan confren perundingan iktifaqia (persetujuan ).
    uuu lama nggak join blog ini…makin ngetop ni blognya.

  6. 6 lovepassword Selasa, 16 Desember 2008 pukul 12:02 am

    Jika aku punya senjata dan dia punya senjata maka sebenarnya kedua belah pihak sama2 kehilangan nilai senjatanya. Sama-sama rugi karena sumberdaya bisa dipakai hal lain.

    Jika aku tidak punya senjata dan dia punya , maka aku jadi tidak aman.
    Jika aku punya dan dia tidak punya maka aku aman.
    Jika kedua-duanya tidak punya ya aman

    Hal yang masuk akal adalah jika aku punya senjata karena aku aman. Tetapi di sisi lain jika pihak yang berseberangan juga berpikiran sama , maka senjata itu justru kehilangan lagi nilainya. Demikian seterusnya – sehingga yang terjadi justru perlombaan senjata.

    Tapi ini bukan cuma masalah perang saja. Di sadari atau tidak bahwa berpikir mikro dan berpikir makro memang kadang sulit dikompromikan.

    Kita tahu bahwa kalo ada banyak orang membeli barang maka harga akan naik. Tetapi karena kita tidak bisa mengontrol orang lain, mau tidak mau kita malah menimbun barang, beras atau minyak goreng misalnya. Dengan alasan harga akan naik karena langka – padahal kita sendiri malah ikut berkontribusi menyebabkan kenaikan harga itu.

    Dari sisi ekonomi makro : Semua perusahaan semestinya tahu kalo tanpa ada konsumsi maka ekonomi tidak akan bergerak sehingga krisis berkelanjutan
    Dari sisi mikro : Perusahaan cenderung melakukan penghematan ketika terjadi krisis, karena mereka takut ambruk pertama kali.

    INILAH dunia manusia. Manusia sebagai individu atau kelompok tertentu versus manusia sebagai keseluruhan.

  7. 7 Suluh Selasa, 16 Desember 2008 pukul 8:58 am

    @lovepassword:

    Jika aku punya senjata dan dia punya senjata maka sebenarnya kedua belah pihak sama2 kehilangan nilai senjatanya. Sama-sama rugi karena sumberdaya bisa dipakai hal lain.

    Tidak sesederhana ini mas. Senjata punya potensi, punya kekuatan yang berbeda, punya kekuatan ancaman yang berbeda, jadi anda punya senjata saya punya senjata bukan sama sama rugi bisa jadi saya lebih terancam karena senjata saya kalah “kekuatannya”.

    Jika kedua-duanya tidak punya ya aman

    Anda kurang memikirkan kontinuitas atau ketahanan di masa depan. Jika ada salah satu yang bisa “menciptakan” senjata, maka langsung yang satu jadi tidak aman. Saya kira logikanya bukan logika A maka B tetapi logika situasional yang jelas faktor faktornya lebih komplek dan banyak..

  8. 8 lovepassword Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 6:15 am

    Yang saya maksud itu pada dasarnya ketika ada perlombaan senjata, hanya karena terkait “potensi” dan “potensi” itu toh tidak terpakai ketika tidak terjadi perang, maka semua pihak rugi karena sumberdaya untuk itu bisa dipake untuk hal lain.

    Tetapi di sisi lain, karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain, kita tidak percaya pada orang lain. Maka perlombaan senjata atau berpikir secara mikro tampaknya menjadi yang paling realistis. Yang paling aman meskipun bukan yang paling ideal. Yang ideal itu teorinya ya adanya saling percaya, sehingga setiap pihak berpikir menyeluruh, bukan cuma untuk kepentingan sendiri.

    Tetapi sekali lagi masalah yang paling mendasar adalah manusia tidak selalu bisa mengendalikan orang lain. Manusia tidak bisa selalu percaya pada pihak lain.

    Ada rasa kuatir : Jika saya berkorban orang lain berkorban maka kondisi ideal akan tercapai. Saya tahu itu. Krisis akan cepat selesai dsb. Kita berpikir secara makro.

    Tetapi pertanyaannya adalah : Saya tidak percaya orang lain. Mengapa saya harus berpikir kalo orang lain juga mau berkorban? Iya kalo mereka mau, kalo nggak ??? Saya yang mati pertama, karena berkorban duluan.

    Dalam kasus perang, kondisinya saya rasa juga seperti itu.
    Senjata tidak akan berguna jika tidak terjadi perang.
    Ketika terjadi perlombaan senjata yang berimbang, pada dasarnya senjata itu tidak ada gunanya. Kecuali memang jika bisa diupayakan satu pihak menang posisi. Dan itu agak sulit terjadi – karena kalo toh ada satu pihak menang, dengan cepat pihak lain berusaha menyusul, bahkan bergabung mengeroyok.

    Tetapi biarpun demikian adanya senjata memang tidak bisa dihindari karena siapa yang bisa menjamin negara lain tidak mencaplok negara saya. Saya agak lupa2 ingat, mungkin ini istilahnya adalah dilema tawanan.

    Jadi JIKA kita harus memilih diantara dua pilihan, hasilnya biasanya adalah yang terpilih bukan yang ideal tetapi melibatkan faktor lain, tetapi sebisa mungkin kita memilih faktor yang paling aman yang masih bisa kita kendalikan. Kita memilih tidak tergantung pada “kebaikan pihak lain” meskipun hasil akhirnya kita tahu sebenarnya tidak ideal.

    Jadi dilemanya gini :

    IDEAL terjadi – jika ada kerjasama – berarti kita harus percaya dengan pihak yang kita ajak kerja sama. ( BERPIKIR MAKRO )Bahkan bila perlu kita harus berkorban lebih dulu. RESIKO : Jika ternyata pihak yang kita percayai ternyata tidak sesuai harapan, kita akan menderita paling dulu.

    TIDAK IDEAL tapi aman bagi kita – karena tidak tergantung dengan kerjasama dengan pihak lain. (BERPIKIR MIKRO)

    SALAM

  9. 9 lovepassword Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 6:22 am

    Gambarannya ada cerita begini, Mas Suluh :

    Alkisah ada tiga pengembara kesasar di suatu daerah kering. Mereka nemu sumur ada pompanya. karena pompanya itu model jaman dulu, maka perlu dipancing dulu airnya biar keluar.

    Mereka masih punya bekal minuman meskipun sudah sangat tipis. Mereka tahu bila air minum mereka diguyurkan untuk menjalankan pompa, maka mereka akan mendapatkan air yang berlimpah. Tetapi masalahnya adalah : Air minum siapa yang mau dimasukkan ke pompa untuk memancing pompa bisa berjalan ???

    Ini dilema.

    Kondisi yang paling ideal ya kalo mereka bisa menjalankan pompa dan mendapatkan air berlimpah. Ini perlu pengorbanan.

    Tetapi kondisi yang aman ya mereka mempertahankan bekal minuman masing-masing, sambil berharap orang lain yang berkorban lebih dulu.

    SALAM

  10. 10 Suluh Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 11:35 am

    @lovepassword: yang anda bilang ideal itu sebenarnya malah gak ideal, karena menafikan sifat manusia. Yang anda anggap gak ideal itu malah sesuatu yg MUSTI dilakukan. Yang dicari itu bukan ideal apa tidak ideal, tetapi apakah langkah yang diambil berkaitan dengan kebijakan senjata itu “menguntungkan” secara strategis dan situasional atau tidak terhadap keberlangsungan dan ketahanan “komunitas” itu. Sekali lagi, ini masalah kebijakan situasional, bukan A maka B.

  11. 11 lovepassword Minggu, 28 Desember 2008 pukul 8:00 am

    Yah itulah masalahnya, karena bagi banyak orang yang ideal itu tidak realistis, karena melibatkan rasa percaya kepada pihak lain. Tidak tergantung pada diri sendiri saja. Karena itulah banyak orang yang memilih solusi paling masuk akal yang bisa mereka lakukan yaitu tidak memilih yang ideal tetapi memilih yang realistis. Yang sesedikit mungkin melibatkan kepercayaan kepada pihak lain. SALAM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: