Yang Objektif itu Tak Tersentuh

Tak ada Yang Objektif
Tak ada Yang Objektif

Semua Subjektif
Semua hasil Pencitraan

Lewat Mulut
Lewat Mata
Lewat Gendang Telinga
Dan Sebagainya

Yang Objektif itu “Disana”
Sendirian
Tak Terperikan
Tak Tercitrakan

Yang Terlihat hanya Pantulan
Yang Tersentuh hanya Kiasan
Yang Terkecap hanya Ilusi Perasaan

Semua hanya Cermin

Yang Mungkin hanya Ilusi

25 Responses to “Yang Objektif itu Tak Tersentuh”


  1. 1 satpam Selasa, 6 Januari 2009 pukul 4:15 pm

    semua itu obyektif
    produk dari subyek yang juga obyektif, segera setelah ia terlahirkan dalam bentuk
    “siapa memandang siapa?”
    …siapakah dia yang berkata-kata itu?

  2. 2 lovepassword Selasa, 6 Januari 2009 pukul 5:47 pm

    Saya pernah diskusi sama karl Karnadi pemikir bebas admin atheis Indonesia Wiki. Dia bilang Tuhan itu tidak ada karena tidak objektif. Saya bilang bagaimana bisa mengukur Tuhan itu dengan objektif karena objektif itu tidak ada.
    Apakah batasan dari objektif itu ??? 3 orang apakah objektif? 100 orang? 1000 orang? Abstrak sekali bukan. Alhasil tidak ada kesepakatan antara kami. SALAM Mas Haqiqie.

  3. 3 Suluh Selasa, 6 Januari 2009 pukul 8:49 pm

    @satpam: “siapa memandang siapa?” inilah citra mata
    …siapakah dia yang berkata-kata itu? inilah citra telinga

    Semua hanyalah citra…

    @lovepassword: yang saya maksud objektif disini emang “sesuatu dalam dirinya sendiri”… Jadi jelas tak objektik ketika telah “mengada” dalam pandangan subjek… Jadi emang gak ada yang objektif menurut saya… Semua hasil pencitraan subjek. Semua jadi subjektif tergantung dari hasil pencitraan… Termasuk Tuhan…

  4. 4 satpam Rabu, 7 Januari 2009 pukul 9:51 am

    @suluh
    apakah “memandang/mendengar” harus terbatas indera?
    introspect..
    read Mehdi Yazdi on reading Suhrawardi/Illumination

    @love password
    read Mehdi Yazdi on reading Suhrawardi/Illumination

  5. 7 satpam Rabu, 7 Januari 2009 pukul 2:23 pm

    lha kan dah saya tulis

    INTROSPECT

  6. 8 kenuzi50 Rabu, 7 Januari 2009 pukul 8:19 pm

    Subyektif dan obyektif harus di bahas dalam ruang dan waktu yang sama. Kalau bicara tentang hal yang ghaib, ruang dan waktu kita harus dialihkan ke ruang dan waktu yang ghaib juga. Disanalah nilai obyektifits dan subyektifitas dibicarakan…. (nyambung gak yah… jadi bingung…)

  7. 9 Satpam Kamis, 8 Januari 2009 pukul 10:24 am

    Ruang dan waktunya sama lah, mas Ken, soale kan kita cuma bisa di sini n sekarang.

  8. 10 joyo Kamis, 8 Januari 2009 pukul 6:21 pm

    apa itu objektif? apa itu subjektif?
    :D

  9. 12 Aisha Jumat, 9 Januari 2009 pukul 7:30 am

    @suluh
    “yang Objective itu ada”disana” sendirian.Kata “disana” ini berarti ada dong, bukan tak ada.Walaupun sendirian.

  10. 13 satpam Jumat, 9 Januari 2009 pukul 10:39 am

    @aisha

    maksudnya suluh, ada pembedaan gitu, dunia indra sama dunia “sana/ideal”, model2 Platonik gitu, seharusnya pembacaannya jangan terhenti di situ, lanjut sampai Aristotle, sang Guru Pertama.

  11. 14 OKEKU Jumat, 9 Januari 2009 pukul 2:33 pm

    semua emang ilusi..
    tapi indah dikenang, belum tentu enak dirasakan

  12. 15 evan Jumat, 9 Januari 2009 pukul 2:39 pm

    dengan cermin kita bisa melihat diri…

  13. 17 Aisha Jumat, 9 Januari 2009 pukul 8:57 pm

    @satpam

    Saya tidak menggunakan atau mencontoh opini dari buku atau dari manapun.Menurut opini saya sendiri, kata”disana”,entah itu dimana, entah itu siapa, entah itu apa, entah itu bagaimana,entah itu di alam mana,secara tidak sadar kata ini (disana)menunjukkan bahwa objectif itu ada.

  14. 19 Suluh Sabtu, 10 Januari 2009 pukul 4:22 am

    @aisha: ya yang objectif itu ada (entitas) dari sudut pandang “dirinya sendiri” tetapi tidak ada yang objectif (sifat) dari sudut pandang “yang memandang” (alias semuanya subjektif). Itu maksudnya. makanya saya bilang Yang objectif itu tak tersentuh tapi hanya tercitrakan lewat indera.

    @satpam: guru pertama bukan aristotle saya kira… :smile:

  15. 20 Satpam Sabtu, 10 Januari 2009 pukul 2:05 pm

    @suluh
    at least 4 me, bro…hehehe

  16. 22 april198 Kamis, 5 Februari 2009 pukul 8:56 pm

    hmm ko ga dicantumkan penulisnya mas suluh :P

    akankah yg obyektif menjadi subyektif? dan yg subyektif menjadi obyektif?

  17. 24 Wahyu Fahmy Sabtu, 23 Mei 2009 pukul 12:04 am

    Setujuuu… Dunia ini adalah objek. Manusia juga objek. Objek ketika melihat objek lain, itulah subjektifitas. Sebab hak akses objek tidak dimiliki oleh objek lain… =P

  18. 25 purti Rabu, 28 Maret 2012 pukul 3:43 pm

    saya setuju mbak..
    keren benget nih mbak kata-katanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: