Emosional vs Kognitif

Sedih yang tak berujung… dan sejenisnya sesungguhnya merupakan sebuah ungkapan Emosional…. Jika di nalar logis per kandungan kata, maka sensasi emosionalnya akan hilang dan menghasilkan sebuah argumentasi yang gak logis: sedih gak mungkiin tak berujung… toh kita pasti mati, itu akhir kesedihan… dan sejenisnya…

Beda kalau di kaitkan dengan keemosionalan kalimat “sedih tak berujung” yang mengandung maksud bahwa seseorang sedang mengalami kesedihan yang dalam sehingga merasa sedihnya seperti tak punya ujung atau tak memiliki perhentian…

Atau lebih tepatnya itu sebuah ungkapan yang “menyajak” atau “mempuisi” bukan ungkapan “argumentasional”… lebih merujuk ke “hati” dibading “otak”, lebih merujuk ke emosi dibading kognisi..

Sekedar merenung

Haqiqie Suluh

9 Responses to “Emosional vs Kognitif”


  1. 1 lovepassword Jumat, 17 April 2009 pukul 9:08 am

    Mencoba tetap memakai nalar dalam kesedihan :)

  2. 2 kopi cina Senin, 20 April 2009 pukul 3:34 pm

    ujungnya itu gak mesti diukur waktu dong, bisa aja batasan lain, bukan temporal, tapi spasio aja.

  3. 3 shpujono.blogspot.com Rabu, 22 April 2009 pukul 10:48 pm

    1. “sedih yang tidak berujung” …. kalau terungkap dalam puisi ya wajar lah namanya aja puisi kata, ungakapn atau istilah bisa di create sesuka yang nulis tanpa harus tunduk pada tatanan bahasa yang baik, logika yang normal.. ya to, ungkapan yang lain : “Sepi tak bertepi” …. dll.

    2. tetapi juga fakta banyak yang menunjukan kehidupan orang lebih didominasi dengan kesedihan : “ketulo-tulo sak umur-umur”, mungkin ada tawa diantara kesedihan hidupnya, mungkin juga tak pernah sempat tertawa hingga, tidak mustahil. Artinya memang sepanjang kesadarn hidupnya di dunia didominasi sedih.

    3. Tetapi banyak Rasionalis yang tanpa disadari bahwa dirinya menganut faham “NIHILISME”, “Materialisme”, ujung kehidupan adalah mati. Maka kesedihan hidup pun berhenti pada kematian. Dengan MATI selesai semua urusan. Maka orang-orang ini tak mengenal ungkapan sedih tak berujung. Karena hidup hanya sekali, tidak ada kehidupan lain, maka waktu hidup dimaksimalkan, apa yang lakukan lakukanlh.

  4. 4 Aisha Minggu, 26 April 2009 pukul 11:56 pm

    saya suka menikmati lagu itu “sedih tak berujung” :)

  5. 5 adeesign Selasa, 28 April 2009 pukul 5:45 am

    Buka mata, buka hati, buka pikiran biar ga sedih terus….

  6. 6 jumeno ganteng tiada taranya Senin, 4 Mei 2009 pukul 2:42 am

    yang punya blog dah bosen posting di sini…
    blog yang bagus banget ini kliatan terbengkalai dan kayak ngga asri lagi kek kemaren dah… sibuk nyari apaan yah mas suluh ini… apa jangan-jangan dah punya banyak cewek jadi bingung jadi ngga sempet posting :)

  7. 7 Pargodungan Rabu, 6 Mei 2009 pukul 8:25 am

    Loh, ada apa dengan haqiqie.com mas suluh?

  8. 8 yanti lesmana Minggu, 10 Mei 2009 pukul 12:51 pm

    Mungkin betul ungkapan tsb, krn saya tahu ada org yg MERASA hidupnya sedih terus. Beliau adalah kakak saya. Padahal menurut saya dan kelg, hidupnya stabil dan tdk ada masalah yg sgt berarti. Anak 2 org, hidup mapan semua. Scara materi kakak cukup. Tapi dia selalu merasa hidupnya penuh kekecewaan, kecewa pada alm suami,anak2nya, mantu. Rasanya tiap org mengecewakan dirinya. Padahal org2 disekitarnya menyayanginya. Ada apa dg org macam begi
    ni.Bergaul dg org diluar kelg, gak mau. Kakak tdk suka bersosialisasi, sering menceritakan masalah kelg dg org lain yg tdk seharusnya mengetahui.Tidak mau mendekatkan diri pada Tuhan, padahal usia sdh lanjut.Saya pikir dia ada masalah dg kepribadian nya. Tdk pernah mensyukuri dg segala yg diberi Tuhan. Melihat hidup dari sisi negative. Inilah usia lanjut, 75th tapi tdk dewasa
    secara emosi. Gimana ya cara menghadapi dia spaya mau bangkit dr rasa kekecewaan, keterpurukan, supaya hidupnya punya semangat meski sdh tua. Saya capek deh menghadapinya.Anak2,mantu, cucu sering kesal dan minta tlg utk mengatasi. Capek deh. Tlg bantu dong. Txs.

    • 9 Suluh Kamis, 2 Juli 2009 pukul 8:53 pm

      Saran saya sih biarin aja mas, gak usah susah susah kasih perhatian. Be normal aja. Dia susah jangan anda juga jadi susah. Be Happy aja

      Sori saya bukan psikolog (kalau psikolog mustinya diterapi) saran dengan kata kata jelas gak mempan untuk menghadapi persoalan seperti itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: