Ritual

Haqiqie Suluh at BorobudurSuatu ketika saya berkunjung ke candi buddha terbesar di Indonesia (Katanya sih juga di Dunia): Candi Borobudur. Saya tidak akan mengupas akan kekaguman dan kemegahan Borobudur sebagaimana sering diceritkan dan ditularkan oleh sebagian orang. Saya juga tidak akan mengungkap atau menularkan hal hal mengenai Borubodur. Saya hanya tertegun ketika Kemarin Kamis tanggal 21 Mei 2008 Saya kembali mengunjungi Candi Borobudur tersebut. Tiba tiba, sebuah rasa dan pikir ketika menyimak Stupa Puncak Borobudur bergelantungan di otak dan indera rasaku.

Ingatan saya waktu itu kembali ketika saya ke Borobudur tahun lalu. Ingatan saya membekas ketika seorang wanita China or Hongkong or Tiongkok or entah dari mana melakukan ritual tertentu di Stupa Puncak itu. Dia menyentuhkan tangannya ke bagian pinggir stupa itu dan kemudian memutarinya. Sebuah ritual yang agak asing tapi juga sempat mengingatkanku waktu nonton televisi mengenai Biksu Tibet yang juga suka mengitari kuil or sejenisnya. Saya agak lupa.

Yang unik dan menarik dalam diriku adalah, saya ingin mencoba melakukannya, saya ingin menirukannya, walaupun saya juga tahu bahwa saya secara historial bukanlah orang yang menyukai dan menyenangi ritual ritual yang kek gituan. Saya malah sering menolaknya. Tetapi waktu itu ada hasrat yang timbul yang entah dari mana yang membisikan dalam rasa dan pikirku bahwa saya ingin meniru perbuatan tersebut. Kadang kadang saya juga memikirkan efeknya sekaligus juga meragukan efek tersebut benar benar karena kausalitas ritual itu atau tidak.

Ya, saya akhirnya mendaki tangga tangga dan menuju puncak stupa, dan melakukannya walau sayangnya saya agak menyesal karena tangan saya sekali dua kali tidak sempuran menyentuh stupa karena ada orang orang yang duduk di atasnya dan mengharuskan saya mengangkat tangan saya dan tidak menyentuh batu stupa tersebut.

Sempat kala itu saya berfikir, Borobudur adalah sebuah tempat peribadatan yang jadi sebuah alat kepuasan. Puas di duduki oleh manusia manusia yang tak sama imannya yang menganggapnya seonggok barang antik yang pantas di injak injak, di duduki dan dipoto demi sebuah Visual Memori Narsis Mereka (Terus terang saya Juga Sering Melakukannya: He he he). Jika saja misalnya, tempat ibadat mereka di injak injak, dan dilakukan seperti itu, pastilah mereka akan meradang juga: bersandal ke tempat ibadah adalah sebuah penghinaan bagi mereka. Sayang karena minoritas, hati “borobudur” kalah dan pasrah.

Kembali ke ritual saya tadi. Disini sebenarnya saya hanya ingin membagi sebuah pandangan atau pemikiran mengenai sebuah ritual or sesuatu yang sakral atau mistis (dalam pandangan umum). Bagi saya sendiri, melakukan ritual yang tak saya kenal dan tak tahu pengaruhnya seperti itu dan dilakukan dengan suka rela serta kehendak hati dan pikiran saya sendiri adalah sesuatu yang luar biasa perubahannya. Artinya adalah hal itu merupakan sebuah pengalaman yang benar benar baru.

Tujuan saya dalam tulisan ini sebenarnya ingin mendokumentasikan perubahan yang terjadi dalam perasaan, dan pengalaman serta pemikiran saya waktu itu ketika hendak, akan dan telah melakukan ritual “yang berbeda” yang “tak ada dalam pengalaman doktrinase saya”. Sebuah hal yang membuat “hati jadi hangat” dan “deg degan”. Tapi sepertinya usaha saya menuliskan pengalaman tersebut disini gagal.

Saya juga mengerti perasaan ini adalah sebuah kondisi psikologis dari seorang manusia yang normal dan wajar ketika berinteraksi dengan sebuah pengalaman ritual yang baru yang tak pernah ada dalam doktrinasi masa lalu. Siapapun orangnya, dapat mendapatkan sebuah “rasa” tersebut, terutama jika orangnya bersifat “terbuka” dan mahfum akan ritual orang lain.

Dari Hati yang Hangat

Haqiqie Suluh

4 Responses to “Ritual”


  1. 1 Aisha Minggu, 24 Mei 2009 pukul 8:01 am

    kok sama sih, saya juga pernah merasakan deg-degan di saat duduk di batu yang paling atas itu.Tapi deg-degan saya, takut kalau jatuh,hanya itu aja.Tinggi banget begitu dan semuanya batu,wah hancur deh kalau sampai jatuh di situ hehe

  2. 2 Iwan Absen Kamis, 25 Juni 2009 pukul 4:01 pm

    Mas Iwan Ireng…

    Sekarang dah ikutan jadi member narsis.com yah :D
    Poto potonya dah banyak yang tebar pesona euy :))

    Piss,

  3. 3 bageurman Senin, 13 Juli 2009 pukul 2:14 pm

    Status Facebook anda Haqiqi Sulus :

    Islam itu Ngarab sama artinya anda tidak tau Islam itu seperti apa.
    Saya rasa itu tampilan kebodohan asli anda dalam menilai islam.

    Sebaiknya anda tulis saja anda non muslim tak tau tentang islam, Jadi jangan bicara tentang islam apalagi mengartikan islam bila tak tau sama sekali dengan islam.

    Sebaiknya status Facebook anda tak layak dipublikasikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: