Posts Tagged 'baca'

Filsafat Kehidupan: Penggalan Cerita Silat “Sepasang Pedang Iblis” karya Kho Ping Hoo

1. Im-yang Seng-cu membelalakkan matanya dan tersenyum lebar. “Sudah begitu jelas masih belum mengerti dan perlu kuterangkan lagi? Segala peristiwa yang terjadi dalam penghidupan semua manusia merupakan perputaran yang berporos pada ke AKU-an itulah. Apa yang menyebabkan kita pada saat ini berkumpul di sini? Memilih seorang bengcu (pemimpin rakyat)? Menggelikan! Tentu sebelum terjadi pemilihan sudah kautangkap dan dianggap pemberontak! Tidak, mereka itu semua malu-malu untuk mengakui bahwa sasaran utama bukanlah perebutan bengcu, melainkan untuk memperebutkan pusaka-pusaka keramat yang kabarnya lenyap dan berada di pulau ini! Benar tidak? Dan semua datang memperebutkan karena terdorong oleh ke-AKU-annya itulah! Siapa yang dapat membantah?”

2. “Nah, apa bedanya itu? Manusia selalu mementingkan ke-AKU-annya. Diriku, negaraku, rajaku, dan lain sebagainya, yang berporos kepada AKU. Kini terjadi perebutan tidak mau saling mengalah, tak lain tak bukan karena masing-masing membela ke-AKU-annya itulah! Ha-ha-ha-ha! Hapuslah kata-kata AKU dan dunia akan aman, manusia akan hidup penuh damai, tidak akan terjadi perebutan karena lenyap pula istilah milikku, hakku dan aku-aku lain lagi.”

3. “Ha-ha-ha-ha! Sudah kukatakan tadi bahwa penyakitku juga sama dengan penyakit kalian, yaitu penyakit AKU. Penyakit yang sudah mendarah daging sehingga tidak terasa lagi oleh manusia yang sakit, mempengaruhi setiap gerak-gerik dan sepak terjang dalam hidupnya. Ini pula yang menimbulkan watak manusia yang amat licik dan rendah. Kalau senang, ingin senang sendiri. Kalau susah, ingin mencari kawan, bahkan kesusahan menjadi ringan seolah-olah terhibur oleh kesusahan lain orang. Lanjutan…[Betapa rendah…]

Saya Masih Balita: Tolonglah Diri Saya untuk Menjadi Dewasa

Dalam beberapa postingan terakhir saya atau malah dalam banyak postingan saya selalu saja tak mampu melanjutkan proses penulisan sampai tuntas. Entah kenapa ketika mulai menginjak pembahasan yang memerlukan “otak lebih” saya kemudian seakan-akan ingin berhenti. Saya tidak tahu mengapa? Akhirnya yang terhasil dari proses penulisan saya di blog ini hanyalah sebuah coretan yang pendek dan tak dalam. Hanya keluhan-keluhan dan pertanyaan-pertanyaan. Saya memang jarang meluangkan waktu untuk menulis secara intens (berjam-jam dengan studi literatur dan kurasan otak). Saya menulis ketika saya mampir di warnet sembari brownsing, chatting dengan teman-teman di room yogyakarta:20 dan ngasih koment kesana kemari. Dengan demikian saya seperti terbagi-bagi dan tak fokus dalam menulis. Tentunya semakin lama saya di warnet semakin naik bayaran yang musti saya keluarkan. Oleh sebab itu saya mohon maaf jika tulisan-tulisan saya masih “bayi atau balita” dan belum sampai pada “kedewasaan”. Saya jarang sekali…

To Magee; A Great Thank from Me

schopenhauer 2.jpg

Tidak diragukan lagi pada diriku bahwasanya salah satu buku yang paling mempengaruhi dan mengilhamiku dalam memahami serta mengarungi kehidupan di dunia ini terdapat dalam Memoar-nya Bryan Magee. Kejernihan serta kecerdasannya dalam mengemukakan argumen dari para filosof dan kegeniusannya dalam mengantarkanku kepada pemikiran-pemikiran para filosof itulah yang menjadi tolak dasar dari pengakuanku tersebut.

Sebelum menyimak apa yang dikemukakan Magee, tiga tahun terakhir dalam kehidupan pemikiranku, aku cenderung menganut pandangan realisme empiris. Artinya adalah segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi atau sedang terjadi selalu saja aku cari penjelasannya dengan menggunakan cara pandang sains atau yang aku pandang sebagai sains. Aku tidak menyakini selama kurun waktu tersebut hal-hal yang bersifat transendental atau yang bersifat imajinatif yang tidak memiliki kaitan dengan penyelidikan ilmiah. Namun kini, aku menyadari bahwa penyelidikan ilmiah empiris dengan pengetahuan yang diperolehnya lewat cara-cara yang disebut dengan cara-cara sains ternyata tidak dapat menemukan kepastian atas persoalanku, yaitu persoalan memahami dunia. Kecenderungan kausalitas yang diusung sainslah yang menimbulkan kesulitan dalam memahami dunia ini.

Dalam bab-bab awal Bryan menceritakan atau lebih tepatnya memerikan pemikiran-pemikiran filsafat yang telah berkembang selama ini. Pemikiran yang paling banyak ia kupas di bab-bab awal adalah pemikiran tokoh-tokoh positivis logis serta analisis linguistik. Untuk rentang waktu tertentu, aku pernah begitu terpesona juga dengan pemikiran tokoh positivis logis seperti Bertrand Russel. Walaupun aku juga mengetahui bahwa Russel tidak suka digolongkan dengan golongan positivis logis ini (Beberapa buku karangan Russel sempat menjadi gairah pembacaanku sekaligus menghuni koleksi bukuku). Namun demikian corak filsafat yang dikembangkan Russel yang bercirikan kepastian model matematis, menjadikanku percaya bahwa Russel termasuk tokoh yang merintis kearah filsafat analitis logis ini. Dua prinsip verifikasi yang diusung oleh kaum positivis logis sempat mempesonakan pemikiranku. Seperti Descartes, kaum positivis logis mencari sebuah upaya untuk menemukan garis demarkasi antara sebuah pernyataan yang bermakna dan yang tidak bermakna. Aku menganggap juga pencarian ini merupakan salah satu dari hasrat pencarian akan kepastian atau kebenaran. Demikian pula dengan kaum analisis linguistik juga mengemban suatu pencarian akan kepastian juga.

Pencarian akan kepastian atau kebenaran ini sempat juga menjadi hasrat keinginanku yang pernah aku sampaikan kepada teman-temanku seangkatan di Teknik Fisika—yang sayangnya, hasilnya tidak memberikan suatu kontribusi yang memadai kepadaku, malah kemudian berakhir dengan debat kusir serta munculnya pernyataan-pernyataan yang penuh emosional yang ditujukan kepadaku. Namun, lewat pembacaanku atas Memoar-nya Bryan, ternyata selama ini yang aku cari telah melenceng jauh dari jalan yang benar. Tujuan dari pencarianku bukanlah menemukan suatu epistimologi kepastian atau kebenaran melainkan upaya sadar untuk memahami dunia serta memahami diriku sendiri sebagai bagian dari dunia yang memiliki suatu kesadaran atau kehendak bebas yang unik dan penuh misteri.

Dari Bryanlah aku kemudian memahami filsafatnya Kant dan Schopenhaeur, dua buah nama yang oleh Russel selalu saja dikesampingkan (Baca History of Western Philosopy-nya Russel). Walaupun akses ke buku-buku yang dikarang oleh Kant sangat mudah aku dapatkan (berbeda dengan karya Schopenhaeur) namun upaya pemahamanku terhadap filsafat Kant sangatlah sulit. Sampai detik ini saja pemahamanku pada filsafat Kant dan Schopenhaeur selalu saja harus melewati Bryan. Melalui Bryan pula aku menumbuhkan hasrat untuk membaca karya-karya masterpiece dari tokoh-tokoh filsafat yang ada secara langsung dari sumbernya.

Namun, aku juga merasa bahwa keyakinan-keyakinan yang aku ambil dari proses pembacaanku pada Memoar-nya Bryan pasti akan berubah seiring dengan perkembangan hidup dan pemikiranku. Secara tidak langsung aku telah menuliskan beberapa pemikiranku yang bercorak Kantian-Scopenhauer pada tulisan-tulisanku sebelumnya. Orang yang sudah akrab dengan dunia filsafat mungkin akan sangat mudah mengetahui kesamaan karateristik yang aku sampimages.jpgaikan dalam sebagian tulisan-tulisanku yang aku post di blog ini. Hal tersebut sangat berbeda dengan tulisan-tulisanku yang aku kirim beberapa waktu yang lampau, kepada teman-temanku di Teknik Fisika yang sangat bercorak Russelian atau Aristotelian. Bahkan aku juga sempat menggunakan analisis Aristotelian ini untuk menganalisis perilaku kita atau emosionalitas kita. Suatu hal yang aku anggap keliru saat ini.

Komik-komik favouritku

Anda pencinta komik? Jika jawabannya ‘ya’ berarti anda satu hobi dengan aku. Aku juga merupakan salah satu penggemar komik, terutama sekali komik yang bercerita tentang dunia persilatan atau pun dunia misteri. Untuk alasan pribadi tertentu aku tidak begitu menyukai komik yang bercerita mengenai percintaan.

Untuk hobi ini aku sempat mengoleksi satu judul komik yang memiliki kualitas gambar yang cukup lumayan. Komik yang aku koleksi ini berjudul Impaccable Twin (IT). Hanya saja IT yang aku koleksi merupakan IT I (Pertama) sedangkan IT II (Kedua) walaupun pada seri-seri pembukanya cukup membuat gairah kekomikanku namun selanjutnya terasa kering sehingga aku tidak memutuskan untuk mengoleksinya. Sayangnya haya IT tersebut sajalah komik yang menjadi koleksiku. Sedang judul-judul komik yang lain aku baca dari hasil sewa di persewaan Komik.

Beberapa judul yang menjadi favoritku adalah Legenda Naga, Ruler of The Land, Pendekar Hina Kelana, Detektif Conan, The Picher, Dandoh, Death Note, Pedang Maha Dewa dan beberapa judul yang lainnya. Judul-judul yang aku sebutkan di atas merupakan judul komik yang sekarang (setidaknya saat tulisan ini dibuat) masih beredar dan bersambung. Sedangkan dulu juga aku sempat menyukai komik seperti Breakshoot, Kungfu Boy, dan beberapa yang lainnya.

Suatu saat mungkin aku akan menuliskan pengalamanku terhadap pembacaan komikku dan pengaruhnya terhadap imajinasi maupun pemikiran atau pengalamanku bahkan mungkin pergaulanku atas ketertarikaku pada komik tersebut. Bagaimana dengan anda? Mari berbagi denganku soal Komik? Anda memiliki referensi tentang komik yang bagus? Silahkan hubungi aku.

Melalui Dosa Kita Bisa Dewasa

Melalui dosa kita bisa dewasa….

(Soebagio Sastrowardoyo)

Aku teringat dengan syair tersebut sewaktu membaca sebuah blog yang di post oleh seorang wanita (Indonesia tentunya) dalam bentuk puisi rintihan jiwa. Ia menyuarakan aib dan kesalahan dirinya. Dalam sekejap aku dilintasi oleh kilatan potongan syairnya Soebagio tersebut. Sebelum pergi, aku sempat juga menorehkan komentar dengan mengutip frasa kalimat tersebut (walaupun ternyata aku salah mengigat penciptanya). Sesungguhnya, potongan sajak tersebut aku temukan pertama kali sewaktu membaca tulisan-tulisannya Goenawan Mohammad di kumpulan esainya Catatan Pinggir (Seorang yang di masa mudanya dikenal sebagai seorang penyair namun kini, ia lebih dikenal sebagai sebagai penulis dan cendekiawan Indonesia).

Iseng-iseng karena teringat oleh puisi tersebut aku membuka kembali Catatan Pinggirnya Goenawan;

—“Melalui dosa kita bisa dewasa”. Kunci katanya adalah ‘melalui’: kita tidak terperosak di sana. Itulah benih harapan: rasa bersalah menyebabkan kerendahan hati, tanah subur di mana akan tumbuh nilai yang kuat tentang apa yang buruk dan baik. Tanpa itu, kita hidup dalam keliaran yang buas—

Sejenak aku hening. Merenung, menghikmati, kemudian menginsafi, bahwa dari kesalahan-kesalahan yang membuat hati kita menduka dan menyesal, dari sanalah akan terbit kearifan dan kerendahan hati. Namun semua itu dengan syarat: dosa hanyalah sebuah persinggahan bukan peristirahatan. Kita hanya melalui tanpa terjerusmus. Di Benakku aku bergema, “Ya !! (sambil terhenyak):

MELALUI DOSA KITA BISA DEWASA !!”

Karya Pram dalam Pembacaanku

Beberapa minggu yang lalu aku sempat dikejutkan oleh peristiwa meninggalnya sastrawan yang cukup terkenal di Indonesia, sekaligus merupakan sosok yang aku kagumi karya-karyanya. Orang itu adalah Pramoedya Ananta Toer. Perkenalanku dengan karya-karya Pram dimulai ketika salah seorang temanku yang belajar di Sospol mengenalkanku pada karya-karya Pram. Novel Pram yang pertama kali aku baca, seingatku adalah Jejak Langkah.

Dari proses pembacaanku terhadap novel tersebut, aku dikenalkan pada suatu gaya penulisan yang penuh dengan intrik atau perjuangan sosial yang mengingatkanku pada novelnya Ayu Utami yang pertama, yaitu Saman. Hanya saja dikemas dengan nuansa yang sedikit berbeda. Dari Jejak Langkah inilah aku kemudian mencoba untuk menelusuri karya-karyanya yang lain. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca, yang menjadi suatu rangkaian utuh dari Tetralogi Pulau Buru-nya Pram dan sempat juga akhirnya aku tamatkan. Satu hal yang selalu aku ingat setiap menyebut ke-empat karya Pram dari Tetralogi ini adalah cuplikan dari Tokoh Minke yang merenungkan tentang keadilan. Kalau tidak salah ingat, ia selalu mengatakan,”Adilah sejak dalam pikiran!” Sebuah ungkapan yang selalu saja menyergahku dan menggetarkan hatiku.

Sebenarnya karya Pram yang paling aku sukai bukanlah Tetralogi Pulau Buru melainkan karya seperti Gadis Pantai-nya atau Arus Balik-nya. Dari Gadis Pantai aku bisa mengetahui dan menerima gambaran yang sangat kaya akan kultur yang berkembang dalam masyarakan Jawa Kuno. Sebuah etos jawa yang sangat murni dan kental hadir dalam cerita tersebut. Sedang Arus Balik-nya sangat menyegarkanku akan rasa nasionalisme, bukan sebagai sebuah pemikiran atau landasan ideologi tetapi sebagai sebuah rasa atau perasaan rindu.

Dan yang paling menonjol yang aku rasakan ketika membaca karya-karya Pram adalah adanya kekuatan karakter dari masing-masing tokoh yang terlibat dalam ceritanya. Kemampuan elaborasi karater yang unik dalam kalimat dari penulisan Pram selalu membuat aku merasa rindu untuk membaca kembali karya Pram tersebut. Kerinduan serupa pernah aku rasakan ketika aku terpesona oleh gaya penulisannya Dewi Lestari dalam novel Supernova-nya. Tetapi kerinduan yang aku rasakan berlainan dengan yang dimunculkan oleh karya Pram. Pada karya Dewi kerinduanku lebih disebabkan oleh kemampuan elaborasi diksi atau permainan kata yang dimilikinya. Dewi aku rasa sangat senang bereksperimen dengan jenis-jenis kata. Namun hal tersebut kemudian kusadari malah menjenuhkanku sehingga karya-karya Dewi yang lain tidak menarik bagiku. Serupa dengan Dewi, walaupun dengan intensitas yang lebih kurang, aku juga mengalami degradasi rindu ketika membaca karya Ayu Utami. Hal tersebut sangat terasa sewaktu aku membaca karya keduanya Ayu yaitu Larung.

Kembali ke Pram. Karya-karyanya Pram aku memang sangat mengagumi dan merindukannya, akan tetapi dari segi perjalanan hidup maupun sikap hidupnya aku tidak begitu menyukainya. Lewat kesaksiannya Goenawan Mohammad (Baca salah satu artikelnya Goenawan di Catatan Pinggir), aku mengetahui bahwa Pram selama hidupnya suka mengumbar Polemik yang menyakitkan bahkan sering menyebabkan kekacauan. Kekacauan dari komentar-komentarnya tidak hanya berimbas pada kekacauan ide melainkan juga kekacauan suasana politik dan keamanan. Dalam menghalau pihak lawan, ia sering bersikap seenaknya saja dalam mengomentari atau mencemooh lawannya. Ketika kekacauan bahkan pembunuhan terjadi di tataran massa, ia hanya berkomentar dengan entengnya kalau ia hanya ingin berpolemik saja. Suatu sikap yang cenderung tidak mau bertanggung jawab.

Pram telah meninggal tetapi karyanya akan selalu dibaca dan dibaca. Entah dengan penuh curiga atau dengan penuh kekaguman. Selamat tinggal Pram….

Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia

Nalar, sebagaimana selama ini kita memuja akan keunggulan dan kelebihannya, ternyata di tangan Donald B. Calne hanyalah sebuah piranti alat bagi manusia untuk melangsungkan kehidupannya. Melalui terjemahan dari bukunya yang diusung oleh KPG dengan judul Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia, ia memerikan dengan gamblang sebuah kenyataan bahwasanya nalar yang dimiliki manusia hanyalah sebuah instrumen yang tidak berbeda jauh dengan pedang ataupun palu. Sebagai sebuah alat, nalar tidak dapat menentukan arah dan tujuan ia digunakan oleh si empunya alat yakni manusia. Dengan demikian, seperti sebuah pedang nalar juga memiliki dua buah sisi yang bisa berlawanan bila digunakan. Nalar bisa menjadikan manusia, sang pemilik nalar, menjadi seorang manusia perusak dan penghancur sebagai mana pedang bisa digunakan untuk membunuh sesama manusia. Sebaliknya nalar dapat digunakan oleh manusia untuk menjadikan dirinya seorang manusia pembangun dan pelindung. Lanjutkan membaca ‘Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia’

Dilarang Mencintai Bunga-bunga

Baru saja aku menemukan sesuatu. Membaca sesuatu yang sifatnya atau cara penyampaiannya terlalu bertele-tele dan panjang ternyata membutuhkan kesabaran yang cukup tinggi. Dan rupanya kesabaran ini belum dapat aku miliki sepenuhnya. Aku disadarkan pada kenyataan ini ketika berusaha membaca kembali kumpulan cerpennya Kuntowijoyo yang berjudul Dilarang Mencintai Bunga-bunga.

Perasaan yang muncul ditengah-tengah proses pembacaan tersebut adalah kelekasan atau perasaaan terburu-buru untuk menyelesaikan proses pembacaannya itu. Ada kesan yang sangat kental dalam diriku yang mengakibatkan muncul sifat kesusu atau tergesa-gesa. Banyaknya informasi atau tambahan ide atau situasi di dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga tersebut yang menjadi pemicu munculnya perasaan tersebut. Ternyata perasaan seperti ini telah diketahui oleh pemberi pengantar dari kumpulan cerpen tersebut. Dan secara cukup jelas ia mengatakan bahwa kesan yang akan diterima oleh pembaca novel tersebut memang demikian.

Dari proses pembacaanku terhadap dua buah judul dalam kumpulan cerpennya Kuntowijoyo tersebut ku temukan aroma filosofi kehidupan yang cukup kental dan lumayan berat. Pertarungan identitas antar tokohnya cenderung dilakoni oleh suatu tokoh utama sebagai unsur pembentuk cerita. Dalam cerita Dilarang Mencintai Bunga-bunga ditampilkan suatu arketipe maskulinitas dan feminim yang bertarung dalam diri seseorang dan bagaimana menyeimbangkan keduanya. Sosok kerja dan bunga yang direpresentasikan oleh ayah dan ibu serta kakek dan diseimbangkan melalui cara yang terlalu rasional bagi seorang anak kecil.

Di judul cerpen keduanya, Anjing, ditekankan secara berlebihan sosok wanita yang berperan sebagai seorang isteri yang emosional dengan tokoh utama seorang suami yang rasional. Kedua sifat ini ditemukan dalam menerjemahkan suatu kejadian dan menanggapi setiap kejadian yang ditimbulkan dalam novel tersebut. Bagaimana kedua sifat tersebut bertarung dalam sebuah rumah tangga yang hidup di sebuah flat. Banyak makna yang bisa diambil memang, seperti rasionalitas yang keliru dan emosionalitas yang keliru juga. Walaupun keduanya menghadapi satu fakta yang sama.

Kayam, Tohari dan Jawa

Aku tidak ada keraguan sedikitpun untuk mengatakan bahwa Novel Para Priyayinya Umar Kayam merupakan suatu gambaran masyarakat jawa yang paling elaboratif dari karya yang lain yang pernah ada. Namun hal tersebut dengan sedikit catatan bahwa penilaianku tersebut berada pada gambaran kalangan menengah dari masyarakat jawa. Kenapa aku mensyaratkan hal tersebut? Karena aku juga mempunyai penilaian lain mengenai gambaran masyarakat jawa pada level yang paling merakyat yaitu pada level masyarakat bawah (dusun), level rakyat jelata. Untuk penggambaran masyarakat bawah ini aku lebih memilih Ronggeng Dukuh Paruknya Mohammad Sobari Ahmad Tohari. Bahkan novelnya Sobari Tohari ini juga memiliki akses ke bahasa asli Jawa jelata itu sendiri yaitu novel dengan bahasa dan dialek Banyumasan.
Lanjutkan membaca ‘Kayam, Tohari dan Jawa’


Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis