Posts Tagged 'dialog'

Apakah anda Percaya Islam agama yang paling benar? Ya, jawab saya

Saya berandai andai jika seseorang bertanya kepada saya tentang keimanan saya terhadap sesuatu, semisal kejadiannya begini. Ada yang tanya kepada saya,”Apakah kamu percaya Mangkok Terbang?” dan saya jawab,”Ya, saya percaya”.

Nah ada hal yang menarik disini, ketika saya ditanya dan ketika saya menjawab dan “kemungkinan” kelanjutan dan kasus diatas. Jikalau sang penanya meneruskan, “buktikan kepada saya kalau kepercayaanmu itu benar?”. Disini, saya sesungguhnya tidak memiliki kewajiban untuk membuktikan kepercayaan saya kepada sang penanya, saya sekedar ditanya dan menjawab dan tidak memaksakan kepercayaan saya kepada sang penanya. Jadi tidak ada kewajiban bagi saya untuk membuktikan kepercayaan akan Mangkok Terbang saya. Toh kepercayaan saya tidak mengganggu si penanya, dan ini adalah kepercayaan pribadi saya sendiri.

Sebagaimana jika saya ditanya, “Apakah anda percaya Mangkok Terbang?” dan saya jawab, “Tidak, saya tidak percaya”. Saya juga disini tidak memiliki beban pembuktian atas ketakpercayaan saya pada Mangkok Terbang. Akan berbeda jika ketidak percayaan saya ini saya paksakan kepada orang lain atau membikin saya berhak membunuh, menyakiti, memenggal sesama saya.

Lanjutkan membaca ‘Apakah anda Percaya Islam agama yang paling benar? Ya, jawab saya’

Menolak Klaim Tuhan Tidak Ada, A-ateis (A-atheist)

Banyak hal yang ternyata membuat diriku dari tidak tahu menjadi tahu. Dulu–mungkin 4 tahun yang lalu–, pemahaman saya tentang atheist (kadang ditulis juga dengan ateis aja) cuma simple; Orang yang Percaya Tuhan Tidak Ada. Ternyata seiring berlalunya waktu dan pembacaanku terhadap ide ini semakin luas, saya mulai paham bahwa banyak orang atheis yang memposisikan dirinya bukan sebagai sebuah Kepercayaan, tapi sekedar penolakan.

Penolakan terhadap klaim Bahwa Tuhan Ada (Kepercayaan Tuhan Ada). Lebih lanjut, mereka mengatakan bukan merupakan sebuah “paham” or “isme” tapi sekedar sebuah posisi akan penolakan sebuah ide. Sebagaimana anda menolak ide tentang nyiroro kidul, tentang gendruwo, tentang kuntilanak dan sejenisnya. Dan sepertinya para atheis nyaman dengan posisi ini yang “tanpa paham or ideologi”.

Lanjutkan membaca ‘Menolak Klaim Tuhan Tidak Ada, A-ateis (A-atheist)’

Noumena Ejawantah

Noumena Ejawantah

Noumena Ejawantah

Kediri, 11 Agustus 2010 Jam 2 Pagi

KAMI PERCAYA INTEGRITAS SRI MULYANI INDRAWATI: Sebuah Dukungan

Masih ingat tentang sejuta facebooker yang mendukung Bibit dan Chandra kemarin? Selagi heboh hebohnya berita tentang hal tersebut dan banyaknya kawan di facebook saya yang berusaha mengundang saya untuk menjadi salah satu pendukungnya, saya ternyata memilih bersikap DIAM. Alasannya sederhana: Saya tidak cukup yakin tentang apa yang akan saya dukung waktu itu.

Nah kali ini saya ternyata berbeda mengambil sikap. Dari banyak uraian bacaan di internet dan di group2 facebook, ditambah lagi dengan siaran langsung tanya jawab Pansus Century (bukan narasi brita yang dipotong gak lengkap) saya mengambil sebuah keputusan bahwa Ibu Sri Mulyani Indrawati, selaku ketua KSSK dan Menteri Keuangan saat itu telah mengambil langkah yang DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN dari banyak aspek.

Saya tidak akan menguraikannya disini, hanya saja setelah merenung sejenak akhirnya untuk pertama kali saya join Group Dukungan atas Ibu Sri Mulyani di group facebook: KAMI PERCAYA INTEGRITAS SRI MULYANI INDRAWATI

Jika anda yakin dan telah cukup mengumpulkan pemikiran dan analisa anda tentang keputusan Bailout Bank Century oleh LPS silahkan berkabung bersama kami!

Menggugat Yang Maha, Menjernihkan Istilah?

Suatu saat (kira-kira 7 tahun yang lalu seingatku), dalam perjalanan pembacaanku terhadap kata pengantar sebuah buku (Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, karya: Jujun S. Suriasumantri), yang kemudian juga ditambah dengan perjalanan tanya jawab maupun diskusi-diskusi, Aku menemukan sesuatu yang dulu cukup mengguncangkan pikiranku. Sesuatu yang mengguncangkan itu merupakan sebuah proposisi atau pernyataan yang berbunyi,

Kalau Tuhan Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut.

Supaya tidak menimbulkan efek yang terlalu mengguncang bagi anda yang memiliki kepercayaan tertentu, Aku akan mengubah subjeknya menjadi lebih berkenan di emosi keimanan,

Kalau Superman Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut.

Aku pikir banyak orang yang telah menghadapi pertanyaan “sensitif” seperti ini, dan aku juga merasa sudah cukup banyak juga orang “yang merasa” mengetahui jawaban atau setidaknya memiliki kemampuan menjawab atas problem tersebut diatas. Akan tetapi aku harap anda menyimak apa yang akan aku sampaikan berikut ini.

Lanjutan… [Analisis…]

Antara Tuhan dan Alam: Sebuah Renungan Filsafat

Untuk mendahuluhi tulisan pendekku ini, Aku ingin memberikan sebuah pernyataan bahwa apa yang Aku tuliskan dan ungkapkan serta pikirkan disini, murni merupakan tanggung jawabku dan tidak bermaksud untuk melecehkan, merendahkan, menghinakan suatu kelompok keyakinan manapun. Jikalau dalam tulisanku ini mengandung suatu kesesuaian ide dengan pemikiran orang atau yang lainnya, Aku tidak akan mengklaim bahwa ide tersebut belum pernah kubaca atau kupikirkan, atau ide tersebut murni orisinil dari ideku sendiri. Bisa jadi ide atau isi dari tulisanku ini merupakan ide yang pernah ditulis dan ditorehkan oleh orang lain, akan tetapi Aku disini hanya berniat untuk memahami sekaligus memperdalam aspek pengetahuan atau wawasanku. Aku cukup percaya, bahwa melalui media tulisan dan bahasa, Aku menjadi cukup intens dalam perenungan-perenungan maupun pemahaman-pemahamanku.

Tuhan dan Alam: Prolog

Dimulai dari rentetan sebuah aksioma atau postulat “sebab-akibat” (kausalitas). Kenapa sebab-akibat Aku sebut aksioma? Kausalitas sejauh yang Aku renungkan bukan merupakan sebuah pengetahuan yang terbukti dalam dirinya sendiri (self evident). Konsep sebab-akibat pada dasarnya terbit dari kehampaan yang tidak diketahui dan tidak bisa dijustifikasi secara holistik. Konsep sebab akibat juga tidak mungkin dilepaskan dengan konsep waktu. Sebab-akibat akan selalu membutuhkan “waktu sebab” dan “waktu akibat” yang masing-masing dipisahkan dalam rentang periode tertentu: entah menit, detik, mili second, atau nano second. Aku menendang bola, sedetik kemudian bola itu terpental sejauh 100 meter. Menendang bola selalu mendahului bola yang terpental. Sebab selalu “mendahului” akibat. Kapan waktu menendang bisa mengakibatkan terpentalnya bola sejauh 100 meter? Detik keberapa? Kita bisa mengukurnya dengan alat: tetapi kita tak akan pernah bisa memastikan secara filosofis kebenarannya. Apakah sebab akibat merupakan kekontinuan sehingga tidak ada yang namanya jeda atau detik perubahan ataukah tidak merupakan sesuatu yang kontinu? Aku tak cukup mengerti akan hal ini. Namun, kita tahu waktu juga tidak bisa dilepaskan dari konsep ruang. Konsep sebab-akibat juga tidak bisa dilepaskan pada konsep “keberadaan sesuatu” (eksistensi)..

Lanjutan…

Antara Agama, Sekte, Ideologi, Aliran, Ide, Pemikiran Dan Sejenisnya: Mengelola Perbedaan

Realitas di sekeliling kita selalu saja menyuguhkan sebuah fakta bahwa yang aku, dan bukan-aku, yang anda dan bukan-anda, yang kami dan bukan-kami, atau yang kita dan bukan-kita, berwajah dan berperilaku sama dan bukan-sama. Kebhinnekaan dalam ruang tunggal selalu saja menerobos masuk ke dalam ruang privat, ruang pikir, ruang keluarga, ruang emosi, ruang rupa, maupun ruang-ruang yang lainnya dalam satu kekontinuan waktu sadar kita. Seberapapun hebat, seberapapun ternama, seberapapun suci, seseorang atau sebuah organisasi, yang ingin menanamkan dalam benak kesadaran ku dan bukan-aku, bahwasanya realitas beda disekeliling kita, merupakan sebuah imajinasi semu, atau mungkin sebuah kepalsuan, atau bahkan bukan sebagai kebenaran, ia tidak akan mampu mengubah keyakinanku dan mungkin keyakinan bukan-aku. Kejamakan, kebernekaan, kewarnawarnian dunia adalah fakta indera sekaligus fakta logika.

Lanjutan…

Humanisme dalam Pikiranku: Apakah itu?

Apakah itu yang dimaksud dengan paham humanisme? Sejauh pemahamanku yang kupikirkan dan kupelajari, yang dimaksud humanisme, secara sederhana (baca: menyederhanakan), adalah suatu sikap yang konsisten dalam membela kelangsungan dan keberadaan hidup manusia agar manusia tidak tenggelam dalam kehancuran atau kebinasaan. Memberi makan orang yang kelaparan merupakan suatu sikap yang humanis karena dengan mengkonsumsi makanan manusia memperoleh energi yang berguna untuk beraktifitas. Mengobati orang yang terkena penyakit merupakan perbuatan humanis karena dengan kesembuhan dari penyakit manusia bisa kembali berkerja menghidupi dirinya. Memberi dan membangunkan tempat tinggal bagi mereka yang tuna wisma merupakan sikap yang humanis karena rumah dapat digunakan untuk melindungi manusia dari hawa dingin dan curah hujan serta perlindungan yang lainnya.

Lanjutan…

The Mighty of Lying: A Confession

Suatu ketika saya jalan jalan ke sebuah agen informasi yang paling populer di dunia. Katakanlah Agen Informasi tersebut bernama PT Guut and Geel. Nah sewaktu saya tengak tengok ke index katalog mereka saya menemukan sebuah alat yang sangat menarik bagi diri saya. Jadilah saya akhirnya “mencuri” alat tersebut. Dan saya pun mencoba sekenanya. Pertama gagal dan lama-lama juga berhasil namun tidak seperti yang saya harapkan. Saya tahu bahwa alat tersebut sangat disukai dan dicari oleh siapapun juga, kalau ditilik dari namanya alatnya. Dan saya juga mengetahui bahwa kebanyakan para pencari alat tersebut merupakan orang-orang atau komunitas yang berbau kemesuman, kepornoan, dan penuh hasrat seksualitas. Saya kemudian berniat mengerjain mereka dan pengen juga mengetahui sejauh mana sebuah informasi mampu membuat orang terkesima dan terpukau, entah itu benar atau tidak. Saya agak takut pertamanya, tetapi saya kemudian memberanikan diri mengerjain komunitas tersebut. Suatu saat pasti mereka akan tahu kebenarannya dan mereka kemungkinan akan marah atau kecewa berat. Ah itu resiko.

Lanjutan….


Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis