Posts Tagged 'estetika'

Antara Agama, Sekte, Ideologi, Aliran, Ide, Pemikiran Dan Sejenisnya: Mengelola Perbedaan

Realitas di sekeliling kita selalu saja menyuguhkan sebuah fakta bahwa yang aku, dan bukan-aku, yang anda dan bukan-anda, yang kami dan bukan-kami, atau yang kita dan bukan-kita, berwajah dan berperilaku sama dan bukan-sama. Kebhinnekaan dalam ruang tunggal selalu saja menerobos masuk ke dalam ruang privat, ruang pikir, ruang keluarga, ruang emosi, ruang rupa, maupun ruang-ruang yang lainnya dalam satu kekontinuan waktu sadar kita. Seberapapun hebat, seberapapun ternama, seberapapun suci, seseorang atau sebuah organisasi, yang ingin menanamkan dalam benak kesadaran ku dan bukan-aku, bahwasanya realitas beda disekeliling kita, merupakan sebuah imajinasi semu, atau mungkin sebuah kepalsuan, atau bahkan bukan sebagai kebenaran, ia tidak akan mampu mengubah keyakinanku dan mungkin keyakinan bukan-aku. Kejamakan, kebernekaan, kewarnawarnian dunia adalah fakta indera sekaligus fakta logika.

Lanjutan…

Rembulan, Aku, Dan Dinginnya Yogya Bulan Juli

Saya tahu bahwa mencitai dan dicintai (kasmaran atau emosi cinta) sering kali membuahkan sesuatu yang tidak biasa. Demikian pula diri saya sendiri yang sedang mencintai. Kadang kala apa yang saya lakukan atau apa yang rembulan saya lakukan benar-benar membuat diri saya kagum atas kemampuan atau manifestasi dari emosionalitas cinta. Kadang sesuatu yang telah membikin atau membuat tubuh berada di ambang batas kelelahan baik itu jiwa dan raga, masih mampu juga bertahan. Saya menyukai perasaan saya ini. Saya mencintai rembulanku. Tulisan ini saya dedikasikan untuk rembulanku yang kemungkinan tidak akan lagi bertatap muka lagi dalam setengah tahun lebih ke depan.

Lanjutan…[Saya tahu…]

Cerita Cinta Seorang Teman

Dalam keterharuan akan cinta yang kau persembahkan untukku, ku bersimpuh padamu sembari kupersembahakan sekuntum mawar “terima kasih” atas kepercayaanmu dan ketulusan hatimu untukku.

Ketika Salam Rindumu menyapaku di pagi, di siang, di malam, dan disemua waktu yang berjejal dihidupku, kumersakan kesyahduan melodi cinta yang tak kunjung sirna di sanubariku.

Ketika kau persembahkan hatimu dan kaupasrahkan segala emosi sayangmu kepadaku, aku berurai air mata di hati atas segala yang kau berikan kepadaku, sampai aku pun tak tahu harus mengukir kata apa di hatiku karena kebuncahan rasa sayangku padamu.

Kala moment lahirku…

Sakura-sakura itu Menunggumu

Engkau melangkah dalam diam menuju sakuramu dan perlahan juga menjauh dari pandangku.
Engkau dengan sendu melepas segala rindu dengan sejenak keinginan akan randevous.

Aku tahu Sakuramu menunggumu dan pilu pun memijit-mijit rasaku.
Aku mengerti Sakuramu adalah jalan kedewasaanmu yang mungkin juga akan mendewasakanku.

Entah Sakura itu telah gugur atau layu, aku juga tak tahu.
Dalam Solitude Rasa akan Detik Kepergian Rembulanku

Haqiqie Suluh

Dream Theater Lyric Metropolis Part II: Scene From Memory

Pertengahan 2000 dulu saya mengenal Dream Theater lewat tangan seorang teman kos. Dan waktu itu saya dikenalkan lewat album ini. Yang paling mengena di sanubari dan pikiran saya adalah sewaktu saya mendengar dan menyimak lagu Through Her eyes. Dari sanalah kecintaan saya akan Dream Theater dimulai. Namun hanya albut Metropolis Part II: Scene From Memory inilah yang masih selalu saya dengar dan simak. Saya sangat menyukai syair dan musik Dream Theater dalam Album ini. Terutama yang Through Her Eyes dan Spirit Carries On. Dan bagian ini yang begitu saya sukai:

I’m learning all about my life
By looking through her eyes

Serta,

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond?
And what lay before?
Is anything certain in life?

Lanjutan…[Saya begitu…]

Indera Kita dan Pengetahuan Kita: Problem Tentang Persepsi dalam Filsafat

Kita bisa menciptakan alat bantu untuk mengukur kecepatan kendaraan. Kita bisa menciptakan alat bantu untuk melihat isi perut maupun tulang-tulang kita. Kita bisa menciptakan alat bantu untuk melihat aktifitas elektromagnetik yang berada di otak kita. Kita bisa menciptakan alat bantu untuk mendengarkan frekuensi rendah yang diluar batas ambang pendengaran kita. Akan tetapi satu hal yang tidak bisa kita lepaskan dari diri kita untuk mengetahui aktifitas maupun benda-benda dunia, yaitu indera kita.

Mata kita bisa kita gunakan untuk melihat. Telinga kita untuk mendengar. Tangan kita untuk meraba. Pikiran kita untuk memahami dan menganalisis. Hati kita untuk merasai dan mengalami emosi-emosi. Dan masih banyak lagi. Pertanyaannya adalah, “Apakah benar-benar apa yang kita rasa, kita lihat, kita dengar, dan sebagainya memiliki korespodensi atas dunia nyata?” Apakah memang benar apa yang kita, jilat, kita sentuh, sama dengan yang real di dunia nyata?

Lanjutan… [Kita tahu bahwa…]

Yang Irasional, Yang Hanya Bisa Disimbolkan, Yang Benar-benar ADA

IA tak terpahami oleh nalar. Dengan demikian IA merupakan sesuatu yang sebenarnya tak terjangkau. IA bisa diperoleh dengan sesuatu yang rasional, akan tetapi IA dalam dirinya sendiri adalah sesuatu yang IRASIONAL. Segala macam penalaran bahkan sesuatu yang memiliki kecerdasan logika yang luar biasa, tidak mampu memahami secara keseluruhan atas keberadaan DIRINYA. Jikalau usaha-usaha untuk memahaminya dilakukan tanpa henti, hasilnya adalah kegilaan alias kematian.

IA hadir di kehidupan kita. Di bangunan-bangunan megah kita. Di pematang sawah. Di sepanjang jalan raya yang melingkupi dan menjadikan kita mudah bermobilitas. Di papan tulis maupun buku pelajaran. IA hadir dimana-mana selama disitu ada Ruang dan Waktu.
Bagaikan hantu yang tak kasat mata, IA ADA sekaligus tak mampu DICERNA dan DILIHAT.

Sekali lagi, IA IRASIONAL. Dengan kemampuannya yang benar-benar tak bisa dipahami tersebut IA kemudian disebut oleh banyak orang dan banyak ilmuan sebagai sesuatu yang IRASIONAL. Tak terpahaminya dirinya di kehidupan pemikiran kita menjadikan DIRINYA hanya bisa DISIMBOLKAN. Pengejawantahan dirinya tidaklah mungkin dalam bentuk yang bisa dicerna mata, hati, dan pikiran. Walaupun IA berasal dari sesuatu yang rasional, namun dari yang rasional tersebut IA mampu menjelma menjadi yang TAK RASIONAL alias IRASIONAL.

Tanpa banyak KATA lagi, saya persembahkan bagi anda sesuatu YANG IRASIONAL tetapi benar-benar ADA. Inilah DIA:

Mari Mengalami, Mari Berpuisi

Kenapa seseorang lebih suka mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan dalam media puisi dibandingkan media narasi atau prosa? Saya ingin mengabaikan kemungkinan semisal bahwa dengan berpuisi orang dapat menyembunyikan fakta yang ingin diungkapkan atau beberapa kemungkinan yang lain yang tidak saya sebutkan ditulisan ini. Saya lebih mengagendakan untuk membahas kemungkinan bahwa dengan berpuisi orang lebih ekspresif dan lebih mampu mengungkapkan kegundahan hati ataupun emosionalitas ataupun pengalaman personalnya lebih dalam dibandingkan dengan cara berprosa.

Struktur kata dalam puisi yang seringkali tidak mengikuti aturan baku atau umum merupakan salah satu indikasi bahwa berpuisi lebih membebaskan dan ekspresif. Dengan mengambil bentuk puisi sebagai ungkapan pengalaman (emosi maupun yang lainnya) maupun pemahaman seakan-akan penyampai atau pencipta puisi lebih mampu mengelaborasi maupun mengeluarkan segenap pengalamannya secara lebih mendalam dan lebih bebas. Pengambilan bentuk diksi….


Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis