Posts Tagged 'filsafat'

Kenapa Aku Benci Mario Teguh?

Kenapa aku benci Mario Teguh? Karena dia jadi kaya dengan bacotan basinya; Kenapa aku muak dengan Mario Teguh? Karena dia semacam ustad yang mengeruk keuntungan dari ceramah gak mutunya.

Aku tidak akan membenci Mario Teguh jika dia gak punya pengikut banyak sedemikian sehingga dia gak kaya dan tak mampu dapat uang darinya; Aku gak akan muak dengan bacotan Mario Teguh, jika saja Mario Teguh itu cuma selevel temen-temenku yang musti kerja keras untuk dapat sesuap nasi dan musti susah payah beli pulsa untuk sekedar nulis status di facebook.
Lanjutkan membaca ‘Kenapa Aku Benci Mario Teguh?’

Apakah anda Percaya Islam agama yang paling benar? Ya, jawab saya

Saya berandai andai jika seseorang bertanya kepada saya tentang keimanan saya terhadap sesuatu, semisal kejadiannya begini. Ada yang tanya kepada saya,”Apakah kamu percaya Mangkok Terbang?” dan saya jawab,”Ya, saya percaya”.

Nah ada hal yang menarik disini, ketika saya ditanya dan ketika saya menjawab dan “kemungkinan” kelanjutan dan kasus diatas. Jikalau sang penanya meneruskan, “buktikan kepada saya kalau kepercayaanmu itu benar?”. Disini, saya sesungguhnya tidak memiliki kewajiban untuk membuktikan kepercayaan saya kepada sang penanya, saya sekedar ditanya dan menjawab dan tidak memaksakan kepercayaan saya kepada sang penanya. Jadi tidak ada kewajiban bagi saya untuk membuktikan kepercayaan akan Mangkok Terbang saya. Toh kepercayaan saya tidak mengganggu si penanya, dan ini adalah kepercayaan pribadi saya sendiri.

Sebagaimana jika saya ditanya, “Apakah anda percaya Mangkok Terbang?” dan saya jawab, “Tidak, saya tidak percaya”. Saya juga disini tidak memiliki beban pembuktian atas ketakpercayaan saya pada Mangkok Terbang. Akan berbeda jika ketidak percayaan saya ini saya paksakan kepada orang lain atau membikin saya berhak membunuh, menyakiti, memenggal sesama saya.

Lanjutkan membaca ‘Apakah anda Percaya Islam agama yang paling benar? Ya, jawab saya’

Dogmatisme: Sebuah System atau Cara Pandang (Dogmatism)

Dalam beberapa kesempatan di blog ini, saya beberapa kali menggunakan term “Dogma” untuk merujuk pada “sesuatu” yang kita (baca: saya) terima apa adanya tanpa mampu melakukan justifikasi secara menyeluruh. Yang cukup menarik adalah, ternyata dalam beberapa kesempatan, penggunaan istilah Dogma ini di gugat oleh sebagian orang dikarenakan “sesuatu” yang diterima apa adanya tanpa bisa dibuktikan (misalnya), itu belum tentu sebuah dogma, or tidak mau dikatakan sebuah dogma.

Waktu itu memang saya memilih kata “Dogma” secara alamiah saja, jadi saya gak menelusuri seluk beluk atau ruang lingkup kata “Dogma” itu dimana saja digunakan or diperbolehkan digunakan. Saya hanya bingung saja ketika ingin menamai hal hal yang “tidak mampu or tidak mungkin dibuktikan kebenarannya” tapi kita terima sebagai sebuah kebenaran, entah karena terpaksa or karena emang udah jadi keyakinan kita sendiri.

Beberapa hal yang saya sebut dogma (selain tentunya dogma agama yang emang sudah sering “digunakan” dan “diterima” sebagai peruntukan kata itu) adalah aksioma matematika, dasar dasar fisika seperti waktu, ruang, sebab-akibat (kausalitas) dan entitas sesuatu, dan beberapa hal lainnya yang jarang sekali disebut sebagai dogma.

Lanjutkan membaca ‘Dogmatisme: Sebuah System atau Cara Pandang (Dogmatism)’

Menolak Klaim Tuhan Tidak Ada, A-ateis (A-atheist)

Banyak hal yang ternyata membuat diriku dari tidak tahu menjadi tahu. Dulu–mungkin 4 tahun yang lalu–, pemahaman saya tentang atheist (kadang ditulis juga dengan ateis aja) cuma simple; Orang yang Percaya Tuhan Tidak Ada. Ternyata seiring berlalunya waktu dan pembacaanku terhadap ide ini semakin luas, saya mulai paham bahwa banyak orang atheis yang memposisikan dirinya bukan sebagai sebuah Kepercayaan, tapi sekedar penolakan.

Penolakan terhadap klaim Bahwa Tuhan Ada (Kepercayaan Tuhan Ada). Lebih lanjut, mereka mengatakan bukan merupakan sebuah “paham” or “isme” tapi sekedar sebuah posisi akan penolakan sebuah ide. Sebagaimana anda menolak ide tentang nyiroro kidul, tentang gendruwo, tentang kuntilanak dan sejenisnya. Dan sepertinya para atheis nyaman dengan posisi ini yang “tanpa paham or ideologi”.

Lanjutkan membaca ‘Menolak Klaim Tuhan Tidak Ada, A-ateis (A-atheist)’

Mencari Kebahagiaan – Sebuah Renungan Filsafat

Sekilas saya teringat pada sebuah judul film yang dibintangi will smith ketika saya memikirkan atau lebih tepat sedang menuliskan judul dari artikel ini: The Pursuit of Happiness. Jujur, saya belum pernah nonton film ini, cuma pernah beli vcdnya dan belum sempat saya tonton karena tidak bisa diputar di laptop saya. Saya tidak tahu isinya, walaupun ketika memikirkan tentang “Kebahagiaan” saya sering teringat tentang judul film tersebut.

Kembali ke topik.

Sekilas mengenai Kebahagiaan

Kebahagiaan dalam arti paling sederhana adalah RASA MANUSIA. Maksudnya adalah kebahagiaan adalah suatu kondisi dimana seseorang insan manusia mengalami “perasaan – (perasaan)” atau “emosi – (emosi)” bahagia. Dalam pengalaman “pribadi” saya sebagai manusia, identitas rasa ini selalu saja merupakan entitas yang temporer, dengan demikian kebahagian juga memiliki suatu rentang periode tertentu. Bahagia adalah bagian dari rasa. Bagian dari manusia.

Pelabelan “rasa tertentu” yang mengada dalam diri manusia menjadi nama “bahagia”, saya pikir lebih pada sebuah proses kategorisasi. Rasa atau emosi dalam diri manusia secara holistik adalah “SATU”, namun ia mengejawantah dalam berbagai bentuk yang “oleh kita” sepertinya berbeda beda. Perbedaan perbedaan inilah yang kemudian kita namai berbeda beda. Sedih, Haru, Tawa, Takut, dan sebagainya adalah bentuk bentuk dari RASA yang satu.

Senang, Suka, Gembira, merupakan penamaan penamaan dari beberapa pengejawantahan perasaan / emosi. Bahagia merupakan sebuah hal yang unik (sejauh dari pengalaman bahasa saya), yang menempati posisi yang levelnya lebih tinggi dari sekedar senang, suka, enak, atau gembira. Bahagia secara personal memiliki tingkat yang lebih tinggi dari sekedar senang. Bahagia bisa mencakup senang, gembira, suka, namun senang belum tentulah merupakan hal yang seseorang rasakan sebagai “kebahagiaan”.

Penggunaan kata bahagia dalam kesehari harian tidak pernah (jarang sekali) dinisbahkan pada peristiwa peristiwa yang temporer (memiliki periode yang singkat). Contohnya ketika kita mendapat sebuah kejutan dari sahabat, kita akan mengatakan bahwa perasaan kita senang, atau gembira, atau suka, tetapi penggunaan kata bahagia kurang tepat dalam peristiwa tersebut.

Bahagia digunakan lebih pada penghayatan atau penilaian kehidupan yang telah ditempuh atau akan ditempuh (dalam rentang yang cukup panjang). Dia lebih bersifat umum dan lebih mendalam.

Apakah engkau Bahagia? Pertanyaan seperti ini, sering kali ditanyakan bukan karena adanya sebuah moment tertentu. Ia bersifat mempertanyakan “kehidupan” yang telah dijalaninya. Bahagia adalah sebuah taraf yang rasa dari kumpulan kumpulan rasa.

Mencari Kebahagiaan?

Lanjutkan membaca ‘Mencari Kebahagiaan – Sebuah Renungan Filsafat’

Filsafat Kisah Sebuah Blog Terlantar

filsafat wordpress blog

Mungkin 3 tahun yang lalu, sejauh yang saya ingat, ketika dalam bulan bulan awal saya membuka atau membikin blog haqiqie.wordpress.com ini, saya termotivasi oleh sesuatu hal yang menjadi hobi saya. Motivasi saya waktu itu sungguh muluk: ingin membuat blog atau website yang sepenuhnya berisi tentang FILSAFAT. Karena waktu itu saya sedang cinta cintanya dengan wordpress.com atau bahkan saya seperti menemukan “kehidupan” atau “pelampiasan” dengan cara ngeblog di wordpress.com, saya kemudian bermaksud membuat blog filsafat tersebut. Hasilnya adalah subdomain filsafat.wordpress.com tercipta.

Hari ini selang lebih dari 3 tahun, saya baru teringat kembali dengan moment itu. Moment terciptanya Blog filsafat.wordpress.com – Belantar Filsafat hanyalah sebuah moment singkat. Sampai 3 tahun lebih lamanya blog itu tidak terisi. Kesibukan saya (atau sekarang lebih tepat kemalasan saya), menjadikan blog itu hilang dari ingatan selama itu.

Akhirnya setelah 3 tahun lamanya, saya berusaha menyempatkan menulis sebuah post pengantar untuk blog itu: Filsafat = Berfilsafat. Sebuah quote mungkin lebih mengena untuk mengantarkan Kisah Sebuah Blog yang terlantar itu.

Saya lebih suka mengatakan bahwa filsafat adalah sebuah proses atau sebuah perjalanan. Dengan mengatakan filsafat adalah sebuah proses maka akan lebih tepat jika disebut dalam bentuk kerja: BERFILSAFAT. Sejauh yang saya pahami, berfilsafat adalah sebuah aktifitas manusia: memikirkan dunia. Memikirkan dunia disini mengandung segmen unik: memikirkan dunia oleh dunia itu sendiri. Dunia itu sendiri disini sebenarnya adalah diri kita sendiri. Ketika kita berfilsafat, memikirkan dunia, dalam arti tertentu adalah mengejawantahkan diri kita sendiri dihadapan dunia yang diri kita sendiri berada dalam bagiannya

Kematian, Kembalinya sebuah Ketakutan

He, beberapa kali memikirkan tentang kematian, hasilnya selalu saja kegugupan, ketaktentuan, ketakpastian dan akhirnya sebuah ketakutan.

Sebagian orang dapat menghapuskan ketakutan ini dengan menyuntikkan keimanan akan kehidupan setelah mati ataupun keimanan tak ada kehidupan setelah mati, tetapi saya sudah tidak lagi mempan dengan dogma dogma seperti itu. Saya masih tetap ada ketakutan bahwa tak ada kehidupan setelah mati, sebagaimana saya juga ketakutan andai ada kehidupan setelah mati. Tanpa Kehidupan setelah mati, I’m useless, nothing, dan seperti tenggelam dalam nihilisme. Dengan kehidupan abadi, juga sama saja, ketakpastian kemana hidup abadi, bahkan ketakutan surga neraka, karma, reinkarnasi tetap saja ada.

Berkawan dengan Ketakutan, hanya itu sebuah upaya terakhir yang bisa ku lakukan

Aku Sang Kebenaran Sejati (Narasiku)

Bagi yang pernah membaca postingan puisiku yang berjudul AKu Sang Kebenaran Sejati, mungkin anda akan menerjemahkan sesuai dengan pemikiran dan wawasan anda. Mungkin pemahaman yang anda bangun bisa sama dengan apa yang saya maksudkan dan inginkan, tetapi kemungkinan bahwa pemahaman atau terjemahan anda pada puisi ngawurku tersebut berbeda dengan pemahaman atau maksud yang saya inginkan, juga sama besar. Artinya anda bisa sama dengan maksud saya menulis puisi tersebut, tapi bisa juga tak sama.

Sesungguhnya, apa yang saya maksudkan dari puisi tersebut (sebagaimana sebuah note dibawahnya yang saya samarkan dengan warna putih sesuai background sehingga tidak bisa terbaca langsung) berawal dari pemahaman saya akan wawasan dari Rene Descartes.

Lanjutkan membaca ‘Aku Sang Kebenaran Sejati (Narasiku)’

AKU, Sang Kebenaran Sejati

Kebenaran Sejati adalah AKU
AKUlah Sang Kebenaran

Tidak diragukan Lagi
Tidak Tersanggahkan Lagi

AKU adalah Kebenaran Sejati

Rene Descartes Mode: ON


Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis