Posts Tagged 'orang'



Antara Tuhan dan Alam: Sebuah Renungan Filsafat

Untuk mendahuluhi tulisan pendekku ini, Aku ingin memberikan sebuah pernyataan bahwa apa yang Aku tuliskan dan ungkapkan serta pikirkan disini, murni merupakan tanggung jawabku dan tidak bermaksud untuk melecehkan, merendahkan, menghinakan suatu kelompok keyakinan manapun. Jikalau dalam tulisanku ini mengandung suatu kesesuaian ide dengan pemikiran orang atau yang lainnya, Aku tidak akan mengklaim bahwa ide tersebut belum pernah kubaca atau kupikirkan, atau ide tersebut murni orisinil dari ideku sendiri. Bisa jadi ide atau isi dari tulisanku ini merupakan ide yang pernah ditulis dan ditorehkan oleh orang lain, akan tetapi Aku disini hanya berniat untuk memahami sekaligus memperdalam aspek pengetahuan atau wawasanku. Aku cukup percaya, bahwa melalui media tulisan dan bahasa, Aku menjadi cukup intens dalam perenungan-perenungan maupun pemahaman-pemahamanku.

Tuhan dan Alam: Prolog

Dimulai dari rentetan sebuah aksioma atau postulat “sebab-akibat” (kausalitas). Kenapa sebab-akibat Aku sebut aksioma? Kausalitas sejauh yang Aku renungkan bukan merupakan sebuah pengetahuan yang terbukti dalam dirinya sendiri (self evident). Konsep sebab-akibat pada dasarnya terbit dari kehampaan yang tidak diketahui dan tidak bisa dijustifikasi secara holistik. Konsep sebab akibat juga tidak mungkin dilepaskan dengan konsep waktu. Sebab-akibat akan selalu membutuhkan “waktu sebab” dan “waktu akibat” yang masing-masing dipisahkan dalam rentang periode tertentu: entah menit, detik, mili second, atau nano second. Aku menendang bola, sedetik kemudian bola itu terpental sejauh 100 meter. Menendang bola selalu mendahului bola yang terpental. Sebab selalu “mendahului” akibat. Kapan waktu menendang bisa mengakibatkan terpentalnya bola sejauh 100 meter? Detik keberapa? Kita bisa mengukurnya dengan alat: tetapi kita tak akan pernah bisa memastikan secara filosofis kebenarannya. Apakah sebab akibat merupakan kekontinuan sehingga tidak ada yang namanya jeda atau detik perubahan ataukah tidak merupakan sesuatu yang kontinu? Aku tak cukup mengerti akan hal ini. Namun, kita tahu waktu juga tidak bisa dilepaskan dari konsep ruang. Konsep sebab-akibat juga tidak bisa dilepaskan pada konsep “keberadaan sesuatu” (eksistensi)..

Lanjutan…

Antara Agama, Sekte, Ideologi, Aliran, Ide, Pemikiran Dan Sejenisnya: Mengelola Perbedaan

Realitas di sekeliling kita selalu saja menyuguhkan sebuah fakta bahwa yang aku, dan bukan-aku, yang anda dan bukan-anda, yang kami dan bukan-kami, atau yang kita dan bukan-kita, berwajah dan berperilaku sama dan bukan-sama. Kebhinnekaan dalam ruang tunggal selalu saja menerobos masuk ke dalam ruang privat, ruang pikir, ruang keluarga, ruang emosi, ruang rupa, maupun ruang-ruang yang lainnya dalam satu kekontinuan waktu sadar kita. Seberapapun hebat, seberapapun ternama, seberapapun suci, seseorang atau sebuah organisasi, yang ingin menanamkan dalam benak kesadaran ku dan bukan-aku, bahwasanya realitas beda disekeliling kita, merupakan sebuah imajinasi semu, atau mungkin sebuah kepalsuan, atau bahkan bukan sebagai kebenaran, ia tidak akan mampu mengubah keyakinanku dan mungkin keyakinan bukan-aku. Kejamakan, kebernekaan, kewarnawarnian dunia adalah fakta indera sekaligus fakta logika.

Lanjutan…

Humanisme dalam Pikiranku: Apakah itu?

Apakah itu yang dimaksud dengan paham humanisme? Sejauh pemahamanku yang kupikirkan dan kupelajari, yang dimaksud humanisme, secara sederhana (baca: menyederhanakan), adalah suatu sikap yang konsisten dalam membela kelangsungan dan keberadaan hidup manusia agar manusia tidak tenggelam dalam kehancuran atau kebinasaan. Memberi makan orang yang kelaparan merupakan suatu sikap yang humanis karena dengan mengkonsumsi makanan manusia memperoleh energi yang berguna untuk beraktifitas. Mengobati orang yang terkena penyakit merupakan perbuatan humanis karena dengan kesembuhan dari penyakit manusia bisa kembali berkerja menghidupi dirinya. Memberi dan membangunkan tempat tinggal bagi mereka yang tuna wisma merupakan sikap yang humanis karena rumah dapat digunakan untuk melindungi manusia dari hawa dingin dan curah hujan serta perlindungan yang lainnya.

Lanjutan…

The Mighty of Lying: A Confession

Suatu ketika saya jalan jalan ke sebuah agen informasi yang paling populer di dunia. Katakanlah Agen Informasi tersebut bernama PT Guut and Geel. Nah sewaktu saya tengak tengok ke index katalog mereka saya menemukan sebuah alat yang sangat menarik bagi diri saya. Jadilah saya akhirnya “mencuri” alat tersebut. Dan saya pun mencoba sekenanya. Pertama gagal dan lama-lama juga berhasil namun tidak seperti yang saya harapkan. Saya tahu bahwa alat tersebut sangat disukai dan dicari oleh siapapun juga, kalau ditilik dari namanya alatnya. Dan saya juga mengetahui bahwa kebanyakan para pencari alat tersebut merupakan orang-orang atau komunitas yang berbau kemesuman, kepornoan, dan penuh hasrat seksualitas. Saya kemudian berniat mengerjain mereka dan pengen juga mengetahui sejauh mana sebuah informasi mampu membuat orang terkesima dan terpukau, entah itu benar atau tidak. Saya agak takut pertamanya, tetapi saya kemudian memberanikan diri mengerjain komunitas tersebut. Suatu saat pasti mereka akan tahu kebenarannya dan mereka kemungkinan akan marah atau kecewa berat. Ah itu resiko.

Lanjutan….

Tentang Bahasa dan Filsafat: Sebuah Renungan

Apa makna sesungguhnya dari makna? Apa makna sesungguhnya dari apa? Begitu banyak bahasa yang sesungguhnya kita gunakan sehari-hari merupakan sebuah konsep yang sepenuhnya merupakan konsep yang praktis. Banyaknya bahasa yang dipergunakan oleh manusia sesungguhnya merupakan ungkapan simbolik yang dipergunakan untuk alasan praktis dalam hal berkomunikasi. Pada akhirnya bahasa hanyalah merupakan alat yang dipergunakan manusia untuk memahami, menjembatani, dan mengkomunikasikan hal-hal dari dalam pengalaman kemanusiaan manusia itu sendiri.

Lanjutan…[Sehingga amat…]

Aku, Glacial, Doktrin Pecinta Alam dan Kenangan Masa Lalu

Aku sudah lama sekali tidak berkomunikasi dengan teman-teman seperjuanganku ketika kami dulu pernah membangun sebuah idealisme cinta alam. Baru beberapa minggu kemarin aku mengikuti perkembangan milis kita. Glacial alias Gladiool Pecinta Alam (Organisasi Resmi Pecinta Alam SMU 1 Magelang) memang pernah menjadi pergulatan dan arena pematanganku sebagai seorang manusia. Disitu pula aku memperoleh indoktrinasi mengenai alam. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku tidak menyadari bahwa mencintai alam merupakan sebuah doktrin juga yang tak pernah aku pertanyakan.

Lanjutan…

Aku, Bukan-Aku dan Kesombongan Ide: Sebuah Renungan Hidup

Ternyata bersikap konsisten dalam berpikir dan berlogika tidaklah semudah yang ku bayangkan. Untuk menjadikan sebuah pemikiran konsisten dari awal sampai akhir dibutuhkan beberapa premis atau asumsi dasar yang kokoh seperti sebuah postulat atau hukum apriori. Disinilah letak kelemahanku dalam berfikir. Pengetahuan dan pengalamanku sangatlah sedikit untuk dapat menyusun sebuah asumsi dasar yang kokoh dan tak tergoyahkan. Setiap kali aku berusaha menyusun argumen dan pemikiran yang konsisten ternyata aku menemui kesulitan karena adanya fakta atau data baru yang menyanggah atau menyangkal asumsi dasarku.

Lanjutan…

Agama, Matematika, Fisika, dan Segala Keyakinan atau Pemahaman Kita: Jejak-Jejak Dogma

Tuhan bersabda dengan segala kemahakuasaannya agar para umatnya menyembah dan mengikuti aturannya. Tidak ada kata enggan atau kata tidak. Tunduk atau patuh adalah inti dari ketertundukan pada kemahakuasaannya. Nabi atau Orang suci bersabda atau berkata, dan dia harus dituruti dan dijalani segala petuah atau petunjuk atau larangannya. Dan dogma-dogma muncul dari dalamnya. Landasan agama (entah itu yang memiliki aspek ketuhanan atau teologis, maupun yang tidak memiliki aspek tersebut) meletakkan dasar atau fondasi kepatuhan dan kepercayaannya pertama kali pada dogma: Tiada Tuhan Selain Allah. Yesus adalah Putra Allah. Ikuti ajaran Buddha.

Lanjutan…

Logoterapi:Pencarian Makna Hidup sebagai sebuah terapi neurosis (Psikoterapi)

Sering kali saya berfikir dan merenungkan apa yang saya lakukan atau tuliskan mengenai ide-ide atau bahasan-bahasan seputar psikologi, ilmu sosial dan filsafat yang notabene bukanlah merupakan bidang studi yang saya terjuni secara akademik atau lewat institusi formal pendidikan. Akan tetapi saya selalu memiliki ketertarikan kuat kepada bahasan-bahasan tersebut dikarenakan psikologi maupun filsafat ataupun yang lainnya, juga menerjunkan diri dalam membahas siapa diri saya dan dunia itu sendiri. Dengan demikian saya, dalam intutusi kehidupan lewat universitas atau sekolah kehidupan, digerakkan untuk memahami dan mengikuti bahasan-bahasan yang dibangun oleh mereka. Saya juga meyakini bahwa setiap pengetahuan atau ilmu itu membahas sesuatu yang “satu”, yaitu dunia itu sendiri termasuk diri saya sebagai manusia yang berkelindan di dalam dunia itu dan menjadi bagiannya. Apakah yang saya lakoni demikian merupakan sesuatu yang salah? Akakah ilmu-ilmu sosial, psikologi, filsafat dan sebagainya hanya milik para pelajar atau mahasiswa yang terdidik di institusi formal jurusan masing-masing? Saya tidak tahu. Yang pasti saya pengen belajar-dan belajar. Mungkin darinya saya bisa menemukan makna hidup.

Lanjutan…


Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis