Posts Tagged 'pernikahan'

Moralitas, Kekerasan, dan Pernikahan: Renungan untuk Seorang Kawan

Prolog

Secara definitif, saya tidak mampu untuk memberikan suatu penjelasan mengenai “apa itu yang dimaksud dengan Moral atau Moralitas?”. Moralitas sejauh pemahaman saya merupakan “penamaan atau labeling” terhadap suatu aksi atau perilaku “keseharian manusia”. Moralitas juga tidak terlepas pada “labeling atau penamaan” yang lain, yang menjadi sejenis “hukum diri atau hukum tak sadar manusia” (yang lebih dekat dan banyak pada proses psikologis dibandingkan kognitif), yang disebut dengan “nilai-nilai, aturang-aturan tak sadar, norma-norma, dan sejenisnya”.

Kekerasan secara definitif juga merupakan sesuatu yang berada dalam wilayah “abu-abu atau samar”, ini menurut saya, entah kalau anda. Kekerasan disini, dalam tulisan ini, berlaku dan hanya berlaku dalam wilayah perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama manusia ditinjau dari aspek fisikal. Artinya, yang dimaksud dengan kekerasan disini mengarah pada perilaku manusia kepada manusia lain yang menyebabkan manusia yang menjadi penderita kekerasan mengalami suatu gangguan fisik atau badaniah: memar, lecet, sobek, pingsan, koma, patah tulang, dan sejenisnya. Kekerasan disini juga berlaku dalam batas hukum sebab akibat. Batasan apa yang dimaksud dengan kekerasan sendiri sering terselubungi dengan suatu nilai atau norma tertentu, yang menjadikan kekerasan fisikal mungkin menjadi sejenis pemakluman dalam diri penderita maupun pelaku.

Lanjutan….[Sedangkan Pernikahan…]

Untuk Kawan Yang Mau dan Ingin Menikah; Harapan dari Seorang Sahabat

Ketika menyatu dua jiwa yang beda, antara laki dan wanita, laksana dua sayap yang menerbangkan merpati, sinergikanlah keduanya agar tubuh yang satu bisa terbang lepas tinggi ke angkasa.

Ketika hati terpaku pada yang lain, biarkanlah ia mengaliri langkah hidupmu, seindah cinta itu bersemi dan menggelora di jiwamu, karena itulah warna hidupmu.

Ketika getar pertama menyambut di pintu rumahmu, sapalah ia dengan cinta dan mesra. Laksana rumput menyambut embun dan sepoi angin, yang memberinya kesejukan dan keindahan.

Ketika pelaminan mendebarkanmu, ingatlah bahwa dari sanalah kehangatan kasihmu menyatu dengan dirimu. Sebagaimana sang ruang menyapa waktu.

Bukan kamu yang takluk kepada kasihmu, bukan pula kasihmu takluk kepadamu, karena cinta tak mengenal itu, cintalah yang hadir di hatimu dan di kasihmu.

Betapa aku ingin sepertimu.. Tunggulah sahabatmu ini, kawan.

Tulus dari hati yang terdalam

(Haqiqie Suluh, 16 Maret 2006)

Nikah Gratis: Sakinah Mawadah wa Rohmah

Kalau lagi kehajatan pernikahan atau kalau lagi dapat undangan pernikahan, ada satu kalimat yang sering kita dengar diucapkan maupun dituliskan di kesempatan tersebut. Apakah kalimat itu? Tanpa berpanjang lebar aku katakan kalimat tersebut terwakili dengan tiga buah kata: Sakinah, Mawadah dan Rohmah. Nah kalau dalam kalimat biasanya di ungkapkan seperti ini,”Semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah wa Rohmah.”

Berawal dari sebuah tayangan televisi yang menggambarkan dua orang insan yang sedang ingin melaksanakan pernikahan namun tidak memiliki biaya, untuk kemudian diberikan suatu kesempatan melaksanakan pernikahan secara gratis. Program yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta tersebut diberi nama “Nikah Gratis”. Apa hubungannya tayangan Nikah Gratis ini dengan ungkapan yang aku sampaikan sebelumnya. Lanjutkan membaca ‘Nikah Gratis: Sakinah Mawadah wa Rohmah’

Tentang Pasangan Menikah; Gelora Kegelisahanku

Sering kali aku berpikir tentang masa depan menyangkut pasangan hidup yang akan aku pilih. Pemikiran ini seringkali berujung pada rasa yang bimbang dan ragu berkaitan dengan jenis pemikiran pasanganku. Secara sadar aku mengakui bahwa jenis pemikiran yang aku miliki dan jenis keyakinan yang aku imani bukan merupakan jenis yang umum di masyarakat Indonesia. Masyarakat indonesia lebih cenderung bersifat agamis atau memiliki kepercayaan agama yang begitu kuat sedangkan diriku, walaupun dibesarkan dalam lingkungan keagamaan yang sangat kental ternyata berkembang dengan menganut pemikiranku sendiri yang sangat berbeda dengan pemikiran keagamaan, walaupun dalam laku kehidupan sehari-hari aku masih mengikuti tradisi keagamaan tersebut.

Pemilihan pasangan hidup, salah satu pertimbangan yang diambil adalah adanya kecocokan dalam pemikiran dan pribadi. Jika pemikiran dan kepribadianku yang tidak cenderung agamis menjadikan pilihan yang tersedia menjadi sangat sedikit. Hal ini menjadikan juga kesulitan yang teramat besar bagiku dalam menemukan pasangan hidupku kelak. Namun ada sejenis perasaan yang mengatakan bahwa walaupun segala kenyataan yang aku beberkan diatas tak dapat aku hindari namun aku akan mampu menemukan gadis atau perempuan yang cocok dengan pimikiranku. Jikalau tidak cocok pun aku yakin akan menemukan perempuan yang dapat bersikap demokratis dan toleran terhadap setiap pemikiran-pemikiran yang aku miliki.

Menikah: Tujuan dan Pertanyaan

Kenapa sebuah pernikahan harus dipertahankan dan dilanggengkan? Pertanyaan itu muncul dalam kepala sewaktu menyaksikan tayangan infotainment yang sedang menayangkan proses perceraian yang terjadi antara Nia Paramitha dengan Gusti Randa suaminya.

Pernikahan itu sendiri sesungguhnya memiliki tujuan apa sih. Pertama yang aku ketahui adalah (aku jadi teringat Bertrand Russell) seperti yang dikemukakan St Paulus bahwa pernikahan itu untuk menghindari zina. Kedua pernikahan itu untuk mewujudkan penerus atau fungsi keturunan. Ketiga, menurutku adalah fungsi seksual. Keempat adalah fungsi penyatuan cinta. Kelima fungsi legalisasi formal. Dan yang paling penting dari semua itu adalah mewujudkan suatu kebahagian hidup.

Kenapa sebuah pernikahan terjadi? Kenapa seseorang menikah?

Lingkaran Perempuan dalam Laku Hidupku

Dalam beberapa hal menyangkut pertemananku dengan seorang perempuan, selama ini selalu saja aku mendapati bahwa seorang teman perempuanku yang berparas cantik memiliki suatu kelemahan dari segi intelektualitas. Sedangkan beberapa temanku yang tidak begitu cantik malah memiliki kemampuan intelektualitas yang lebih.

Walaupun demikian saya juga menyadari bahwa di luar lingkungan pertemanan saya, harus diakui pengalamanku tersebut tidaklah benar. Aku menemukan dalam literature maupun dalam dunia pertelevisian bahwa banyak perempuan cantik yang memiliki kemampuan intelektualitas yang tinggi. Katakanlah penyiar televisi seperti Najwa Shihab, Sandrina Malakiano, Virgie Baker, dan Valerina Daniel yang memiliki kecantikan diatas rata-rata juga memiliki kecerdasan yang lumayan tinggi.

Kenyataan yang berlawanan ini tidak luput juga akan fakta bahwa aku lebih suka berkawan atau lebih nyaman berkawan dengan perempuan yang tidak begitu memiliki daya tarik kecantikan yang menawan. Lanjutkan membaca ‘Lingkaran Perempuan dalam Laku Hidupku’


Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis