Antara Agama, Sekte, Ideologi, Aliran, Ide, Pemikiran Dan Sejenisnya: Mengelola Perbedaan

Realitas di sekeliling kita selalu saja menyuguhkan sebuah fakta bahwa yang aku, dan bukan-aku, yang anda dan bukan-anda, yang kami dan bukan-kami, atau yang kita dan bukan-kita, berwajah dan berperilaku sama dan bukan-sama. Kebhinnekaan dalam ruang tunggal selalu saja menerobos masuk ke dalam ruang privat, ruang pikir, ruang keluarga, ruang emosi, ruang rupa, maupun ruang-ruang yang lainnya dalam satu kekontinuan waktu sadar kita. Seberapapun hebat, seberapapun ternama, seberapapun suci, seseorang atau sebuah organisasi, yang ingin menanamkan dalam benak kesadaran ku dan bukan-aku, bahwasanya realitas beda disekeliling kita, merupakan sebuah imajinasi semu, atau mungkin sebuah kepalsuan, atau bahkan bukan sebagai kebenaran, ia tidak akan mampu mengubah keyakinanku dan mungkin keyakinan bukan-aku. Kejamakan, kebernekaan, kewarnawarnian dunia adalah fakta indera sekaligus fakta logika.

Tentunya kebernekaan dan kewarnawarnian itu berimbas pula ke masalah keyakinan atau ideologi; Entah itu agama, aliran, sekte, madzab, suku, ras, atau yang lainnya. Pertanyaannya disini adalah: Bagaimana mengelola yang beda itu agar dapat hidup berdampingan dan selaras tanpa menimbulkan ketaknyamanan atau ketaktenangan hidup/ Beda kadang dan juga sering menimbulkan pergesekan. Ragam rupa kadang juga sering memecah pertikaian. Warna hati juga teramat sering memicu merah darah di retina kita. Secara naluri pribadi Aku tidak menyukai hal ini. Aku mengatakan secara pribadi disini dengan maksud bahwa tidak jarang terdapat orang yang memang menginginkan sebuah setuasi yang terlalu chaos atau yang bersifat menghancurkan semisal; pertumpahan darah.

Disini Aku juga siap mengakui bahwa (baca: kita) chaos atau perselisihan atau sejenisnya bukan hal yang benar-benar kita musnahkan. Sejauh kesadaran Aku, perselisihan, dan gesekan-gesekan, dan sejenisnya bukan hanya merupakan realitas indera dan kesadaran kita tetapi juga merupakan sebuah kebutuhan akan perubahan yang lebih maju. Maksudnya adalah tanpa adanya umpan balik dari sebuah kesalahan (berupa kritik, perselisihan, pertikaian, gesekan) kita tidak akan mampu membuat kemajuan. Berawal dari dasar bahwa manusia (baca:kita) bisa salah dan tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa benar, kita kemudian menggunakan kritik atau fakta dari perselisihan untuk mengubah kearah yang lebih baik (tidak berarti benar atau lebih benar).

Kedamaian an sich, merupakan sebuah utopia. Kedamaian pada dasarnya bukan merupakan tujuan utama. Jika kedamaian dalam dirinya sendiri dijadikan tujuan utama secara membabi buta (walaupun ini Aku pikir merupakan kemustahilan menciptakan kedamaian yang berarti kestatisan dan kemandegan) akan menjadikan kita berhenti menempuh kemajuan. Kedamaian bisa menjadi slogan, tetapi tidak ada yang namanya kedamaian abadi atau kedamaian yang tetap. Kedamaian yang abadi atau tetap akan menjadikan diri kita sebagai manusia tidak lagi menjadi manusia. Kedamaian akan menjadikan diri kita mandeg dan statis. Entah itu damai dalam arti seperti damai di hati, damai di raga, damai di suasana, atau damai dalam arti yang luas. Sekali lagi Aku menegaskan bahwa karena fakta dari realitas bahwa beda atau keanekaan akan selalu memicu chaos ke ranah yang nyata (dengan beda kita juga sudah memicu chaos dalam diri kita: pikir, atau emosi), maka kedamaian yang abadi (kedamaian utopia) hanya merupakan slogan gombal yang tiada mungkin diciptakan. Aku disini sangat yakin jika kedamaian utopia ini dijadikan tujuan utama, maka usaha-usaha untuk mewujudkannya harus mengeliminir atau memusnahkan entitas “beda atau keragaman”, yang ini juga berarti akan membuat tragedi yang lebih mengerikan (Pemusnahan massal misalnya).

Lalu yang menjadi pertanyaan kemudian adalah jika kita telah mengetahui bahwa konflik atau pertikaian atau kritik atau sejenisnya juga merupakan sebuah agen yang berperan penting pada kemajuan kita, apakah ini berarti kita harus melestarikan peperangan, pembunuhan dan sejenisnya? Aku jawab: Tidak, sama sekali tidak demikian maksudnya. Pertikaian atau konflik harus ditangani agar tidak menimbulkan kerugian atau ketakmanfaatan yang banyak. Namun konflik ini juga harus dinilai sebagai umpan balik positif yang berguna bagi pemelajaran kita. Kita hidup dalam rentang tidak sampai satu abad (pergenerasi), generasi selanjutnya membutuhkan pengetahuan kita akan konflik untuk mengelolanya. Konflik akan selalu terjadi. Dan kedamaian hanya bisa diwujudkan dalam istilah “Damai dalam hentakan”. Maksudnya adalah menciptakan kedamaian tidak berarti memusnahkan setiap konflik atau pemicunya tetapi mengusahakan agar damai damai “kecil” terus berlangsung dalam keberlanjutan, sehingga damai menjadi hentakan paling ketara di dunia. Damai dalam ruang waktu merupakan entitas yang akan selalu mendominasi “chaos-chaos”, bukan memusnahkan chaos-chaos itu sendiri.

Untuk itu hal yang terpenting agar mencapai suatu kondisi penuh umpan balik ini adalah dengan cara mengeliminir kejahatan-kejahatan terburuk atau terkejam dalam waktu dan situasi terkini yang ada terlebih dahulu sebagai prioritas utama. Perlu dibangun pula sebuah sistem yang bisa mengelola perbedaan dalam tingkat logika atau kesadaran. Maksudnya perbedaan atau konflik dalam tingkat kesadaran bisa dikelola sekaligus digunakan sebagai aspek umpan balik. Salah satu contoh pengelolaan akan yang beda dalam keragaman ini, yang menurut Aku sangat berhasil adalah sistem “demokrasi”.

Ah, Aku jadi tambah bingung. Kok rasanya logikanya berputar-putar gak karuan.

Salam Damai

Haqiqie Suluh

Iklan

4 Responses to “Antara Agama, Sekte, Ideologi, Aliran, Ide, Pemikiran Dan Sejenisnya: Mengelola Perbedaan”


  1. 1 vio_koe Sabtu, 22 September 2007 pukul 10:44 am

    kok aq juga jadi ikutan muter-muter juga ya mas.. puyeng niy.. mungkin hrs dibaca berulang2 biar mudheng.. :)

    ngomong-ngomong, keren2 juga tulisanya mas.. ajarin dong.. :))

  2. 2 eko Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 10:59 am

    perbedaan itu indah….. lihat sebuah taman yang tumbuhi bunga berwarna warni akan lebih indah dari pada suatu taman yang ada hanya satu macam warna misal hijau saja…… atau jagad raya ini hanya di isi oleh warna hijau saja atau hitam saja pastilah tidak menarik…..
    demokrasi atau “demon crasy” perbedaan yang di landasi keinginan yang bermacam-macam dan keinginan untuk berkuasa pastilah akanterjadi dominasi antar satu dan lainnya… yang benar adalah perbedaan dalam arti yang di landasi oleh pengetahuan yang jernih dan kejujuran serta keikhlasan dalam menerima perbedaan…..

  3. 3 Joni Minggu, 28 September 2008 pukul 11:24 pm

    Teori manajemen masa kini juga menyatakan bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari adalah mengendalikannya agar menjadi konstruktif. bukanya teori lama yang menyatakan bahwa konflik harus dihindari. jadi perbedaan adalah hakekat yang melekat dalam setiap ciptaan dan tidak mungkin dihilangkan oleh manusia itu sendiri. perbedaan harus dikelola sehingga menjadi sinergi yang positif. contoh gampang, pas lebaran, yang Islam pada mudik, biarkan orang kristen, katholik, budha dan yang lain lembur. nah ntar gantian pas natal, atau waisak. itu contoh kecil yang paling gampang tetapi sangat mulia dan agung.

  4. 4 donny ws Sabtu, 28 April 2012 pukul 10:51 pm

    Saya setuju dengan pendapat Eko bahwa “perbedaan itu indah”. Dalam hal agama atau ideologi jangan cari perbedaan, tetapi carilah persamaannya. Jangan jadikan perbedaan sebagai sarana untuk menebar kebencian satu sama lain, orang yang tidak mencintai perbedaan ialah orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: